Dendam Sayembara Cinta

Dendam Sayembara Cinta
Telah Usai


__ADS_3

" Cepat bawa dia ke rumah sakit Ren " jawab sinta cemas melihat Via yang tak kunjung bangun


Reno menelepon Bobi untuk mempersiapkan dokter keluarga di rumah sakit terdekat dari apartement Via dan menggendong Via keluar dari apartement ke parkiran segera menuju ke rumah sakit bersama Sinta.


¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤


Reno mondar mandir di depan ruangan IGD dan Sinta duduk merasa cemas dengan keadaan Via serta bertambah pusing melihat Reno seperti gosokan.


" Ren bisakah kau tenang. Aku bertambah pusing melihatmu " ucap Sinta segera membuat Reno terdiam berdiri di depan pintu


Terlihat pintu ruangan IGD terbuka dokter dan para perawat keluar bersamaan dari ruang IGD


" Dok bagaimana keadaan Via " ucap Reno kepada Dokter Bram


" Dia hanya kelelahan karena pola hidup yang tak sehat dan kurang makan dengan teratur. Seŕta ia mengalami sedikit trauma hingga membuat psikisnya lemah "


" Aku boleh masuk " ucap Sinta dengan cemas


" Silahkan nona " ucap Dokter Bram


" Awas aku juga ingin masuk Bram " meminta Dokter Bram menjauh dari hadapannya


" Ren beri dia waktu sedikit biarkan temannya yang menemuinya dulu " jawab Dokter Bram menghentikan langkah Reno


" Tapii "


" Jangan membuatnya bertambah lemah dengan keadaannya sekarang. Berikan ia waktu sejenak dari pingsannya tadi " menepuk bahu Reno


Reno menuruti permintaan dokter bram karena benar yang di katakannya tak mungkin Via langsung menemuinya setelah luka yang ia buat. Sinta segera masuk ke dalam ruang rawat menemui Via dan melihat Via terbaring lemah dengan jarum infus di tangannya.


" Vi kau baik baik saja? " berlari mendekat ke ranjang Via dan melihat sahabatnya tersenyum lemas kepadanya


" Ehmmm " menggelengkan kepalanya dan tersenyum ke arah Sinta


" Siapa yang membuatmu hingga pingsan di lantai? " tanya Sinta penasaran


" Aku tidak tahu Sin. Ia menutup wajahnya dengan masker dan terlihat samar ketika aku mulai kehilangan kesadaran " menundukkan pandangannya ke bawah


" Iya sudah jangan di pikirkan lagi yang penting kamu selamat Vi. Aku beli makanan dulu buat kamu ya "


" Oke " jawab Via datar


" Reno yang membawamu kesini dan sekarang ia di luar menunggumu dengan cemas " ucap Sinta melangkah menuju pintu


Via hanya terdiam mendengar perkataan Sinta yang telah hilang di balik pintu. Sinta mengisyaratkan Reno segera masuk ke ruangan menemui Via. Pintu ruangan terbuka kembali dan ia melihat sosok yang ingin ia lihat selama ini. Ia hanya berusaha tenang dan membuang pandangannya. Air matanya mengalir dengan deras.


" Kau baik saja " ucap Reno berdiri di samping tempat tidur Via


" Ehmmm " masih membuang wajahnya dan menangis tanpa alasan


" Jangan menangis lagi. Maafkan aku " ucap Reno mengelus rambut Via


" Kau jahat " teriak Via dan membalikkan wajahnya menatap Reno tajam


" Benarkah " ucap Reno meledek Via dan menghapus air mata Via yang berjatuhan


" Aku tak ingin melihatmu " perlahan duduk dan memukul bidang dada Reno menggunakan tangan sebelah kanan yang tak berdaya


" Pukullah jika itu membuatmu puas honey " membiarkan wanitanya memukulnya


" Aku benci kau Reno Wijaya " menghentikan pukulannya dan menyender ke dada bidang Reno


" Maafkan aku honey " duduk di tepi ranjang dan memeluk Via melepas rasa rindunya selama ini


Pelukan yang sangat Via rindukan sekarang telah berkurang. Ia membiarkan Reno memeluknya dan ia tertidur di pelukan Reno karena obatnya mulai beraksi. Reno yang sedikit mendengar dengkuran halus dari mulut wanitanya segera membaringkannya dengan perlahan di atas kasur dan menyelimutinya. Reno tersenyum melihat wanitanya yang sangat ia rindukan selama ini dan merasa bodoh terjebak dalam permainan Kiran selama ini. Di tambah Bobi menambah bukti sedikit tentang Kiran yang membuat ia bertambah benci dengan cinta pertamanya itu. Pintu ruangan terbuka ketika Reno menatap Via yang tertidur pulas tanpa melepaskan tangannya yang menggenggam erat tangan Via.


" Ren, apa dia baik baik saja" ucap Sinta kebingungan melihat Via tertidur


" Iya dia tertidur. Bolehkah aku merawat sahabatmu ini Sin?" tanya Reno dengan perlahan


" Aku menunggu persetujuan Via dulu Ren. Aku tak ingin ia bertambah sakit " jawab Sinta datar


" Oke baiklah " ucap Reno sambil mengelus rambut wanitanya


Sambil menunggu sahabatnya bangun, Sinta menyantap makanan yang ia beli sambil melihat perlakuan Reno kepada sahabatnya yang penuh perhatian. Sinta bisa merasakan bahwa kedua orang tersebut saling mencintai tapi tak mau mengakui karena kesalahpahaman yang tak jelas. Reno yang sedikit lelah menunggu Via bangun akhirnya duduk tertidur di tepi ranjang Via dan tak melepaskan genggamannya. Via yang merasa tangannya sedikit berat terbangun perlahan dan menatap Reno tertidur di tepi ranjangnya. Ia membelai rambut Reno perlahan dan tersenyum.


" Ehmmmm " ucap Sinta menghentikan gerakan Via


" Sin, kamu daritadi di situ ya " jawabnya sedikit terkejut dan melepaskan tangannya dari rambut Reno


" Iya jadi obat nyamuk bakar " gerutu Sinta sedikit jutek


" Kamu disini aja ya Sin, temani aku " ucap Via perlahan

__ADS_1


" Tapi ..... " ucapan Sinta terhenti karena Reno segera menyambung pembicaraannya


" Aku saja ya honey yang menjagamu. Kasihan Sinta terlihat capek " celetuk Reno


" Ehmm iya Reno aja yang menjagamu ya Vi. Kebetulan aku ada janji dengan mama. Besok aku kesini lagi. Oke " jawab Sinta dengan tatapan serius


" Tapi Sin " berusaha menolak


" Vi pleasee. Berdamailah dengan hatimu. " ucap Sinta mendekat ke arah Via dan memohon


" Ehmm baiklah " jawab Via singkat dan menyerah


Sinta segera berpamitan untuk pulang ke rumahnya karena hari mulai terasa gelap dan meninggalkan Via berdua dengan Reno. Reno membuka kotak makanan yang di beli Sinta tadi dan menyuapi Via. Via menolak tapi di paksa oleh Reno dengan ancamannya seperti biasa. Di pertengahan makannya terlihat tiga orang masuk ke ruangan Via yang tak di harapkannya.


" Ren tetap di sini ya. Aku mohon bantu aku untuk yang terakhir " ucap Via menggenggam tangan Reno meminta bantuan


" Tenang honey. Aku sudah tau apa tugasku " mencium punggung tangan Via


" Ehmm sedang apa kau di sini " ucap Tn.Bambang menghentikan perbincangan keduanya yang seolah tak tahu kedatangannya


" Papa yang sedang apa disini " tanya Via kembali


" Papa khawatir dengan keadaanmu nak "


" Apa kau baik baik saja nak. Mama sangat mencemaskanmu " ucap Mama Lena sedikit berakting simpati


" Iya kak. Aku sangat mencemaskanmu hingga aku memundurkan jadwal pemotretanku " sahut Karin asal sebagai alasan di hadapan papanya


" Benarkah? Kapan terakhir kalian menghubungiku? " ucap Via tersenyum sinis


" Maafkan papa nak " ucap Tn.Bambang mengelus kepala putrinya


" Papamu baru pulang dari luar negeri jadi sedikit sibuk " celetuk Tante Lena membela suaminya


" Mengapa anda memutuskan pertunangan dengan putriku? " tanya Tn.Bambang


" Aku tak perlu menjelaskannya kepadamu. Bukankah putrimu ini tidak terlalu pentingkan? " celetuk Reno datar


" Jaga ucapanmu tuan sombong " ucap Mama Lena dengan kesal


" Kaya tapi tidak punya sopan santun " celetuk Karin menambah ucapan mamanya


" Lalu bagaimana hubungan kalian sekarang? " tanya Tn.Bambang mengalihkan pembicaraan istrinya dan ingin tahu dengan yang sebenarnya


Hanya sebatas teman. Hampir aku tertipu lagi gumam batin Via melepaskan pegangannya dari tangan Reno


" Lebih baik papa sekeluarga pulang saja. Aku mau istirahat dan tak ingin berdebat " ucap Via memalingkan wajahnya dari mereka semua


" Jika kau membutuhkan sesuatu hubungi papa segera nak. Sekali lagi papa minta maaf nak " ucap Tn.Bambang mengelus rambut Via serta mencium kepalanya


Tn.Bambang yang tahu perasaan putrinya saat ini segera mengajak istri dan anaknya pulang serta mempercayakan Reno yang menjaga putrinya. Via hanya terdiam tak ingin memandang Reno karena ia bingung harus bagaimana.


" Honey kau kenapa? " tanya Reno yang tahu pasti Via sangat kecewa dengan ucapannya tadi


" Ehmm tidak aku hanya ingin tidur kembali karena mataku terasa berat " memejamkan matanya tak peduli Reno di hadapannya


" Kau bohongkan. Apa kau tersinggung dengan perkataanku tadi? "


" Tidak " ucap Via pelan


" Sebaiknya kita berteman saja ya honey. Aku tidak bisa meneruskan hubungan ini lagi "


" Baiklah. Terima kasih telah menjagaku untuk hari ini saja " jawab Via dengan air mata yang tertahan


Malam terlewatkan tanpa sepatah katapun. Reno sibuk menatap laptopnya untuk mengerjakan pekerjaannya. Sedangkan Via hanya terbaring di kasur tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Cahaya mentari pagi masuk ke lubang jendela ruang rawat VIP tempat Via. Reno segera bangun dan mendekat ke tepi ranjang Via untuk memberinya sarapan.


" Ini honey sarapanmu " menyodorkan sesendok bubur ke arah mulut Via


" Biar aku saja Ren sepertinya kau lelah lebih baik membersihkan tubuhmu di toilet "


" Nanti saja sebentar lagi aku pulang setelah sarapanmu habis " memberikan semangkuk bubur di atas nampan agar Via menghabiskannya sendiri


" Baiklah Ren. Terima kasih telah menjagaku semalam " ucap Via menyantap bubur yang ada di hadapannya


" Anggap saja itu sebagai permohonan maafku karena tak pernah mendengar penjelasanmu " mengelap bibir Via dengan tisu karena ada makanan yang menempel


" Ren ada yang ingin aku tanyakan" memberikan nampan karena sarapannya telah usai


" Apa?" menaruh nampan di atas meja di sampingnya


" Hubungan kita telah usai bukan? " menatap Reno tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun


" Iya itu benar. Karena sebentar lagi aku akan melamar cinta pertamaku. Bukankah tugasku untuk balas dendam telah usai "

__ADS_1


" Semoga kau bahagia dengan pilihanmu Ren " tersenyum ke arah Reno menahan kekecewaan di hatinya


" Aku pulang dulu ya dan aku harap permohonan maafku sudah setimpal dengan menjagamu semalaman " ucap Reno berdiri dari duduknya


" Aku sudah memaafkanmu Ren. Terima kasih juga sudah membantuku kemarin "


" Baiklah. Aku pulang dulu ya. Aku takut wanitaku khawatir " ucap Reno berbohong melangkahkan kakinya menuju pintu


" Ren tunggu " ucap Via menghentikan langkah Reno yang sedang membuka pintu


" Ehmm " membalikkan badannya menoleh ke arah Via


" Aku hanya ingin berkata aku mencintaimu " tersenyum ke arah Reno dengan air mata yang berlinang


" Buang saja rasa cintamu itu karena aku sudah tak memiliki rasa itu lagi " tersenyum ke arah Via dan keluar dari ruangan meninggalkan Via sendiri


Via menangis melihat punggung Reno yang telah menghilang. Reno melihat Via dari kaca luar menutup matanya dengan kedua telapak tangan. Reno segera meninggalkan rumah sakit karena tak ingin Kiran mengetahui keberadaan Via di rumah sakit.


Dua hari kemudian Via memutuskan untuk pulang ke apartementnya saja karena merasa telah baikan. Ia tak sanggup harus mengingat bayang Reno yang tinggal di ruangannya karena cintanya kini telah hilang di hati Reno. Ia tak mau hatinya bertambah tersakiti dengan harapan Reno yang penuh tipu daya baginya.


" Kau yakin sudah sembuh Vi " tanya Sinta sedikit khawatir


" Yakin. Bantulah aku melupakan semuanya Sin. Ia tak mencintaiku lagi dan memutuskan hubungannya denganku. Aku akan kembali seperti dulu lagi " tersenyum ke arah Sinta


" Baiklah. Tapi apa sebaiknya kau menginap di rumahku saja dahulu? "


" Percayalah aku baik Sin. Aku tak ingin bersedih lagi bukankah aku wanita yang kuat ? " ucap Via tersenyum


" Wahh sahabatku yang dulu telah kembali " mengacak rambut Via karena bahagia melihat sahabatnya kembali perlahan


Sinta mengurus semua administrasi sahabatnya dan mengantar Via pulang ke apartementnya. Reno yang sengaja hari ini untuk pulang kerja lebih cepat untuk mengecek keadaan Via hanya bisa kesal karena wanitanya memutuskan untuk pulang lebih cepat.


" Ahhh sial " meninju tembok di belakangnya


" Tuan ada apa ?" ucap Bobi melihat Reno sangat marah


"Bob apa kau sudah mendapatkannya " tanya Reno serius


" Maaf belum tuan " menundukkan kepalanya


" Cari secepatnya atau aku.... " ucapannya terhenti dan menarik kerah baju Bobi kesal


" Baiklah tuan "


Aku sudah mengingatkanmu tuan tapi kau di butakan oleh cinta pertamamu yang sangat licik itu gumam Bobi dalam hatinya


¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤


Terlihat ketiga wanita berbisa sedang merayakan kemenangannya telah mencampakkan gadis kampung yang sangat mereka benci. Rencana mereka tinggal selangkah lagi untuk mendapatkan yang mereka inginkan


" Mama sudah tidak sabar melihat Reno akan melamarmu di acara ulang tahunmu esok Ran"


" Iya ma aku sudah tidak sabar juga. Oh ya ma tau tidak Reno sudah memutuskan hubungannya dengan gadis kampungan itu " ucap Kiran


" Bagaimana kakak tahu? " sahut Bunga sedikit penasaran


" Aku menyuruh seseorang mengikuti Reno dan mendengar ucapan terakhir Reno " jawab Kiran dengan bahagia


" Wahh tante sangat senang akhirnya tante tidak jadi mendapatkan menantu sepertinya "


" Kalian bertiga dasar wanita berbisa " celetuk seseorang menghentikan pembicaraan mereka bertiga


" Ehh ada nenek bau tanah mau ikut campur ni kelihatannya " ucap Kiran dengan santai


" Kiran jaga ucapanmu itu mertuaku " bisik Mama Rosa sedikit cemas


" Kau tak pantas menjadi pendamping cucuku "


" Benarkah? tanya kepada cucumu nanti ya nek. Siapa yang di pilihnya dan jangan terkejut nantinya " tantang Kiran dengan melipat kedua tangannya


Nenek mona langsung meninggalkan mereka bertiga dan segera mendatangi cucunya di kantor. Dengan perasaan kesal nenek mona berjalan menuju ke ruangan Reno dan menanyakan semuanya tanpa basa basi


" Nenek " ucap Reno terkejut melihat ke arah pintu neneknya melangkah masuk tanpa aba aba dengan raut wajah penuh amarah


" Langsung jawab pertanyaanku. Benar kau akan melamar cinta busukmu itu? " menggertak meja di hadapan Reno dengan tatapan tajam


" Benar nek. Walaupun nenek menolaknya aku akan tetap melamarnya " jawab Reno datar


JANGAN LUPA LIKE TIAP EPISODE NOVEL AUTHOR YA


Maaf jika ada kesalahan dalam penulisan atau pun alur cerita karena author masih pemula 😊🙏


Salam peluk hangat dari author untuk kalian semua 😘

__ADS_1


__ADS_2