Dendam Sayembara Cinta

Dendam Sayembara Cinta
Wasiat Mama


__ADS_3

" Tapi bibi minta maaf sebelumnya ya non karena sudah lama merahasiakannya karena bibi menunggu waktu yang tepat " menggenggam kedua tangan Via


Via merenung sejenak mendengar ucapan bi Imah. Ia berpikir bagaimana mungkin bi Imah tidak terbuka dengan semuanya sedangkan Via selalu menceritakan semua kehidupannya tanpa menutupi sedikitpun.


¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤


" Bicaralah bi. Katakan semuanya walaupun buruk sekalipun aku menerimanya " menggenggam kembali tangan bi Imah


" Ini tentang wasiat mamamu non " ucapnya serius


" Wasiat apa lagi bi? " ucap Via penasaran


Bi Imah menceritakan bahwa selain kebun bunga dan beberapa tabungan adalagi warisan yang di berikan mama Via kepadanya. Rumah bi Imah yang di tempatinya sekarang adalah milik Via. Bi Imah tidak menceritakannya terlalu cepat karena takut ibu tiri Via mengambilnya.


Kebun bunga saja ia beritahukan ketika Via memutuskan tinggal di kota melanjutkan kuliahnya. Via meminta bi Imah untuk merawat kebunnya karena kebaikannya selama ini dan untuk menolong warga sekitar yang membutuhkan pekerjaan. Semua kepemilikan itu di tutup rapat oleh mereka agar sang ibu tiri atau siapapun yang berusaha mengambilnya tidak mengetahuinya. Kini ia tahu lagi bahwa rumah bi Imah adalah miliknya wajar saja bi Imah membuat kamar khusus sendiri untuk dirinya. Dan Via memberikan semua keputusannya kepada bi Imah agar ia selalu tak merasa bersalah.


" Bibi ambil saja rumah ini untukmu karena kebaikanmu selama ini aku tidak bisa menebusnya bi dan juga tak mungkin rumah ini aku tinggalin sendiri bi. Yang penting kamarku tetap milikku. Bibi telah mengurus semua kebun bunga dengan baik dan sekarang sudah menjaga rumah ini juga dengan baik " tersenyum kepada bi Imah


" Tapi ini hak mu non " mencoba menolak permintaan Via


" Bibi mama memberi ini semua pasti ada maksud bi. Ia tahu pasti aku merasa kesepian. Siapa lagi yang bisa jadi keluargaku selain bibi. Aku mohon bibi tidak menolaknya."


" Bibi hanya menjaga wasiat itu saja non. Ini tetap rumahmu dan bibi hanya merawatnya saja " jawab bi Imah dengan pasrah menerima pemberian Via


" Terserah bibi saja yang penting aku tetap berkumpul bersama keluarga bibi di rumah ini " memeluk bibi Imah dengan erat


" Sebenarnya ini satu lagi non. Bibi yakin non sudah bisa memilih mana yang baik dan buruk " memberikan selembar surat kepada Via


Via membuka surat tersebut dan membacanya


*To : Viani Putri anak kesayanganku


Viani Putri anak wanitaku satu satunya. Mama yakin kau membuka surat ini saat kau sudah dewasa dan bisa menerima semuanya.


Mama mohon kepadamu terima semua permintaan papamu walaupun itu membuatmu tersakiti. Mama yakin pilihan papamu pasti yang terbaik untuk kehidupanmu.


Suatu saat papamu akan memberitahukan kebenarannya kepadamu dan kau tak boleh membenci siapapun. Mama selalu menyayangimu dimanapun mama berada.


Jaga selalu papamu dan sayangi dia


From : Mama Tia tersayang*


Via menangis membaca surat pemberian mamanya dan terobati sedikit kerinduan terhadap mamanya.


" Surat ini di buat oleh mama non saat dirinya terkena kanker dan memberikannya kepada bibi bersama seluruh wasiatnya. Tapi surat ini hanya boleh di berikan ketika non telah bisa melewati semuanya " ucap bi Imah mengelus punggung yang sedang menangis


" Bibi boleh aku tanya sesuatu. Aku mohon bibi jujur " pinta Via menggenggam tangan bi imah


" Apa non? "


" Rahasia apa yang terjadi di antara papa dan mama? " tanyanya penasaran


" Maaf non bibi tidak berhak menjawabnya biarlah papa non yang menjawabnya sendiri "


Via hanya diam meninggalkan bi Imah begitu saja dan mengurung dirinya di kamar


Rahasia apalagi yang harus aku tunggu. Meñgapa mereka semua selalu ingin menyiksaku ucapnya menangis memikirkan surat yang ia baca tadi.


Tak terasa Via tertidur sendiri di kamarnya sampai pagi hari. Setelah terbangun via membersihkan dirinya dan memutuskan bersiap siap untuk kepulangannya ke kota. Via keluar dari kamarnya membawa barangnya menuju ke mobil


" Non sarapan dulu baru pulang " ucap bi Imah melihat Via mengemaskan barangnya ke mobil.


Bi Imah merasa bersalah tak bisa memberitahukan semuanya karena telah berjanji dengan papa dan mama Via tak akan memberitahukan rahasia mereka. Via menuruti perintah bi Imah untuk sarapan bersama setelah itu ia memutuskan segera pulang.


" Maafkan bibi non " ucap bi Imah melihat Via menaiki mobilnya


" Tidak ada yang perlu di maafkan bi. Aku mengerti keputusan bibi. Aku pulang dulu ya bi"


" Hati hati ya non. Selalu kunjungi rumahmu ini ya non "


" Pasti bi. Hanya bibi keluargaku satu satunya. Aku sayang bibi " menutup kaca jendelanya dan melajukan kemudi mobilnya


Baru keluar dari gerbang rumah bi Imah ia teringat bahwa kemarin ia tak jadi mengunjungi mamanya karena surat wasiat itu. Via memutuskan untuk mampir ke kebun bunganya sebentar mengambil beberapa bunga untuk mamanya.


Tempat Pemakaman Umum at 07.00


Via berjalan membawa bunga menyusuri pemakaman. Ia berjalan memakai kacamata hitam mencari tempat mamanya. Ia sampai di makam mamanya dan menaruh bunga yang ia bawa di dekat batu nisan mamanya.


Hai ma. Via datang. Maaf ya baru mengunjungi mama.


Hari hariku sekarang bertambah rumit ma. Doakan aku ya ma agar bisa melewatinya. Oh ya masalah surat wasiat mama semoga aku bisa menerima semuanya ya ma. Aku yakin aku kuat ma. Aku pulang dulu ya ma. Aku sayang mama.

__ADS_1


Via membuka kacamatanya untuk menghapus air matanya yang berlinang. Ia segera berdiri dan melangkahkan kaki pergi dari makam mamanya melanjutkan perjalanannya kembali ke kota.


Aku yakin aku bisa melewati semuanya. Pasti ada jalan terbaik dan aku bisa menerima apa yang sudah menjadi takdirku ucapnya berjalan meninggalkan pemakaman.


Toko Bunga TiV at 11.00


Siang hari mulai menunjukkan teriknya dan akhirnya Via sampai ke tokonya. Handphonenya berdering ketika ia baru sampai di deoan tokonya. Via memutuskan menerima teleponnya dahulu di dalam mobil


Drrrttt ddrtrtt


Kau kemana saja dua hari aku menghubungi tapi selalu tak bisa ucap sinta dengan kesal


Kau membuat telingaku sakit Sin ucap Via seadanya


Maaf maaf karena aku terlalu mencemaskanmu Vi jawab Sinta menurunkan volume suaranya


Aku menginap di rumah bibi dua hari sin. Aku merindukan mama jadi memutuskan untuk berkunjung


Oh ya maaf aku terlalu mencemaskanmu ucap Sinta merasa bersalah


Sebagai permohonan maaf bagaimana kalau kau mentraktirku makan bakso saja nanti malam pinta Via sedikit tertawa


Baiklah aku tunggu jam tujuh di tempat bakso biasa ya


Oke see you


tuutttt tuuutt


Setelah selesai menerima telepon dari Sinta Via segera masuk ke dalam toko bunga miliknya. Ia membuka pintu tokonya dan segera masuk. Ketika ia melangkahkan kakinya terlihat seorang pria yang sedang menunggu kedatangannya. Via sedang tak ingin menemui pria itu segera berbalik badan membuka kembali pintu toko dan segera keluar. Pria tersebut melihat Via menghindarinya segera berlari mengejarnya.


Tak hentinya menggangguku. Moodku sangat berantakan hari ini gumam Via dalam hatinya


" Honey tunggu " berhasil menarik tangan Via


" Lepaskan tanganku " teriak Via kesal


" Aku tak akan melepaskannya " menggenggam kuat tangan Via


" Aku tak ingin lagi berurusan denganmu. Aku sudah tidak mempunyai hutang denganmu " mencoba berontak sekuat tenaga tapi Reno semakin kuat memegang tangannya


" Apa perlu aku mengancammu? " ucap Reno lebih mendekat ke arah Via


Reno segera melepaskan pegangannya karena melihat mata Via yang memerah ingin mengeluarkan tetesan air matanya


" Maafkan aku honey " memegang lembut kedua tangan Via dan meniupnya


" Aku tak peduli apa alasanmu mendekatiku tapi jangan menyakiti hatiku. Aku membencimu." berkata dengan suara parau menahan tetesan air matanya


" Maafkan aku Vi " segera memeluk Via yang menangis sejadi jadinya dan membelai rambut wanitanya


Karyawan Via hanya melihat dari dalam toko. Mereka tidak mau terlalu ikut campur karena tahu apa yang di rasakan oleh bosnya.


" Lepaskan pelukanmu aku bukan wanitamu dan aku akan memaafkanmu tapi ..." ucapannya terhenti dan melepaskan pelukan Reno dengan kuat


" Tapi apa honey? " tanya Reno penasaran


" Pergi dari hadapanku sekarang juga " teriak Via menunjuk ke arah sembarangan agar ia pergi


" Aku obati lukamu dulu ya " pinta Reno memaksakan kehendaknya


" Aku bilang pergi. Aku benci denganmu Re....."


ucapannya terhenti seketika karena pandangannya mulai hilang


Bruaakkk


Via jatuh ke tanah dan pingsan. Segera Reno membawanya ke dalam toko. Karyawannya yang melihat dari dalam segera membukakan pintu melihat Reno menggendong Via menuju pintu masuk. Reno membaringkan Via di sofa dan menelepon dokter keluarganya. Reno sangat cemas dengan keadaan Via


Apa aku tadi terlalu kasar sehingga ia seperti ini gumam Reno di dalam hatinya


Beberapa menunggu akhirnya Dokter Bram datang dan segera masuk ke dalam toko. Ia segera memeriksa keadaan Via.


" Dok bagaimana keadaannya? " tanya Reno dengan cepat


" Dia hanya pingsan karena terlalu stres dan kelelahan. Sepertinya dia baru dari perjalanan yang panjang dan kurang memperhatikan pola makannya. Sehingga daya tahan tubuhnya menurun. Ini resep yang harus di tebus di apotik " memberikan selembar kertas kepada Reno


" Terima kasih dok "


" Apa ini kekasihmu dari sayembara itu? " ucap dokter bram sedikit mengejek


" Bram aku sedang tak ingin berdebat denganmu " jawab Reno sedikit kesal

__ADS_1


" Ayolah Ren santai saja. Pantas saja kau jarang main ke klinikku untuk menggoda para perawatku ternyata kau telah menemukannya " ledek dokter bram lagi


" Bram itu hanya masalalu jangan mengungkitnya lagi. Urus saja kejombloanmu itu "


" Baiklah kalau begitu aku pamit pulang saja. Aku tak ingin mengganggu singa yang sedang lapar. Bisa bisa aku di terkam " goda dokter bram dan segera meninggalkan Reno yang bermuka masam


Dokter Bram merupakan sahabat Reno ketika ia masih kecil. Wajar saja dokter bram bisa santai menggoda sahabatnya tersebut.


Setelah kepergian dokter bram Reno meminta febri untuk menebus resep tadi ke apotik terdekat dan memberinya beberapa lembar uang untuk membelinya. Beberapa saat kemudian Via siuman dan memegang kepalanya yang terasa sedikit pusing.


" Kau sudah siuman honey. Istirahatlah dulu di sofa " membaringkan kembali tubuh Via


" Kami pamit dulu ya bu melanjutkan pesanan ibu istirahat saja dahulu " ucap mia dan membubarkan para karyawan agar bekerja kembali setelah melihat Via siuman


" Apa kau masih marah denganku honey? " duduk di sebelah Via


Via hanya termenung diam tak menjawab satu patah katapun ucapan Reno


" Maaf telah menambah beban pikiranmu dan membuatmu bertambah stress "


Tiba tiba febri datang membawa obat yang telah ia tebus dan memberikannya kepada Reno. Febri pamit kepada Via untuk melanjutkan pekerjaannya


" Minumlah dahulu obat ini agar kau merasa baikan " ucap Reno memberikan beberapa kapsul obat dan segelas air putih


Via mengikuti ucapan Reno dan meminum obat yang diberikan. Via memulai kembali pembicaraannya dengan Reno


" Aku boleh menanyakan sesuatu padamu? " menatap tajam ke arah Reno


" Jika menanyakan untuk memintaku menjauhimu aku tidak mau " jawab Reno menatap Via dengan tersenyum


" Aku tidak peduli dengan masalah yang itu karena kau memang benar benar keras kepala " ucap Via ketus


" Jadi apa honey ? " tanua Reno penasaran


" Jika kekasihku kembali apa kau tetap mengejarku? Walaupun aku akan selalu bersama kekasihku dan tak mungkin memilihmu? " tanya Via menatap bola mata Reno


Reno diam tak menjawab perkataan Via dan segera beranjak dari tempat duduknya untuk meninggalkannya


" Aku sudah tau jawabanmu Reno kau hanya ingin merusak hubunganku dan pergi sesuka hatimu. Kau memang jahat " teriak Via menangis kembali


Reno kembali mendekat ke arah Via dan duduk di sebelah Via


" Kau mau tahu jawabanku honey ? "


Via mengganggukan kepalanya tanda setuju


" Aku memang ingin merusak hubunganmu dan menyakiti hatimu. Aku akan segera memilikimu dan menyiksamu lebih sakit lagi " ucap Reno tersenyum sinis dan pergi meninggalkan Via


Via hanya diam mendengar semua ucapan Reno. Terlalu menyakitkan untuk di dengar dan hadapi.


Untung aku tidak terjebak dalam permainanmu Reno dan selalu setia dengan kekasihku ucap Via dengan kesal


Karyawan Via mulai mendekatinya dan memberikan dukungan kepada Via


" Bu untung saja ibu tidak terperangkap dalam jebakan pria jahat itu " ucap dini


" Lihat saja kalau dia kembali bu, aku akan memberikannya sakit hati yang luar biasa juga " sahut febri dengan tangan kemayunya


" Terima kasih atas dukungan kalian semua. Tolong jangan pernah katakan kejadian ini pada kekasihku ya. Aku tak ingin ia bermasalah dengan Reno " ucap Via memohon kepada karyawannya


" Tenang saja bu. Kami tahu selama ini ibu berusaha menjauhi pak Reno tapi ia selalu mengancam ibu " jawab mia


Mereka mengakhiri perbincangan karena waktunya pulang sudah tiba. Mereka bersiap siap menutup toko dan pulang kerumah masing masing


¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤


Setiap hari Via menanti kedatangan kekasih hatinya yang pergi sedikit terlalu lama dan Reno juga tak pernah lagi menemuinya setelah kejadian itu.


Hari ini Via memutuskan membantu karyawannya karena terlalu suntuk sendirian di atas. Via melamun menatap bunga bunganya di toko. Seketika lamunannya buyar karena seseorang memeluk dirinya dari belakang melepaskan kerinduannya


Wangi ini sepertinya aku mengenalnya batin Via


Pelukan tersebut terlepas sesaat dari tubuh Via dan segera membalikkan badannya. Betapa terkejutnya Via melihat sosok pria yang berdiri di depannya


" Kau ....... " terdiam menatap pria itu


JANGAN LUPA LIKE SETIAP EPISODE NOVEL PERTAMA AUTHOR INI YA 😊


Maaf jika masih terdapat kesalahan karena author masih pemula dan selalu membutuhkan dukungan serta komentar dari kalian semua 🙏


Salam peluk hangat dari author untuk kalian semua 😘

__ADS_1


__ADS_2