
Di dalam ruangan khusus milik Abang tiri Gerald, Jho berdiri dengan keringat dingin yang mengembun menghiasi wajah.
Sepertinya itu memang sudah menjadi kebiasaan Jho saat berdiri berhadap-hadapan dengan pemilik pertama perusahaan Jack group yang terkenal bengis, dingin, dan kejam, siapa lagi jika bukan Dylan Jackson.
Beberapa saat lalu, Jho di panggil menghadap. Dylan tahu saat ini Jho sibuk dengan Tuan muda selain Nathan putranya. Maka itu, Dylan ingin mengintrogasi.
Dylan menatap Jho dengan tangan yang di cekal ke belakang "Kamu sekarang mengurusi urusan Gerald juga?" Tanyanya.
Jho mengangguk "Iya Tuan."
"Siapa gadis yang dia lindungi?" Dylan menaikan satu alisnya, penasaran. Jika sudah membutuhkan hacker sekelas Jho sudah pasti bukan perkara mudah.
"Seperti yang Tuan besar lihat, Tuan muda dengan Nona Cantik sudah menjadi Abang dan adik, yang sedang Tuan muda lindungi adalah adik angkatnya." Jelas Jho.
"Aku tahu status angkat mereka, yang ku tanyakan adalah, darimana asal usul gadis itu, kenapa mereka hanya berakhir menjadi Abang dan adik saja? Kenapa tidak menikah sekalian? Pasti ada sesuatu di belakang itu semua, bukan begitu?" Sergah Dylan ketus.
"I-iya Tuan." Jho mengangguk kikuk mendengar nada berang lelaki itu "Mereka belum bisa menikah. Status Nona Cantik masih istri orang. Sebenarnya kami sedang berurusan dengan keluarga Prabaswara." Terangnya.
Dylan mengernyit "Hardika Prabaswara si manusia licik itu?" Tanyanya lagi.
Jho mengangguk "Benar Tuan, Nona Cantik masih berstatus istri Zif Prabaswara, saat ini kami sedang mengurus perceraian mereka." Ungkapnya.
Cukup lama Dylan terdiam, sempat mengingat kelicikan hakiki yang Hardika Prabaswara lakukan demi mendapat kesuksesan di titik ini. Dylan sangat mengenal Hardika si pemburu harta, wanita dan tahta itu.
"Ingat Jho. Berurusan dengan keluarga licik seperti Prabaswara, jangan sampai lengah, aku tahu ini terdengar posesif, tapi lebih di perketat lagi pengawasan, kirim orang-orang ku yang tidak di ketahui Gerald, lindungi Gerald. Dan satu lagi, jangan sampai Gerald tahu, aku mengawasinya!" Ujar Dylan.
"Baik Tuan." Angguk Jho.
"Kau boleh pergi." Dylan mengibas-ngibas kan tangannya, Jho menunduk segan sebelum kemudian ia pamit undur.
Jho keluar dari ruangan sang tuan, menuruni anak tangga menuju pintu keluar utama, hari ini Dylan dan Nathan mengizinkan dirinya fokus terhadap permasalahan yang di hadapi Gerald.
Pesta telah usai, untuk itu, mereka pun harus segera pulang. Masih banyak urusan lain yang harus Jho kerjakan.
"Ka Jho!" Dari arah kanan seorang wanita bergaun putih, berwajah oriental memanggil dirinya. Jho pun menoleh pada suara yang tak asing bahkan masih akrab dalam sanubari.
"Iya Nona." Jho menundukkan wajahnya dengan khidmat. Berdiri berhadapan dengan si pemanggil namanya.
Shandra, dialah perempuan cantik yang masih saudara dekat dengan keluarga Jackson, seorang Nona muda yang dahulu pernah menolak Jho.
Sejatinya keduanya masih saling menyukai tapi sejak hari penolakan itu hubungan mereka menjadi renggang, Jho lebih memilih mundur secara teratur, sadar akan posisinya yang hanya seorang asisten, bukan Tuan muda.
__ADS_1
"Nona? Sejak kapan Ka Jho memanggil ku Nona? Panggil aku seperti biasanya, Shandra." Kata Shandra protes.
Jho tersenyum getir "Kita tidak sederajat Nona, tidak selayaknya saya memanggil Nona, hanya dengan nama saja. Memanggil dengan sebutan Nona. Ini hukum yang wajib dilakukan oleh hamba sahaya sepertiku."
Dia sengaja menyindir, sebab dahulu saat menolak, Shandra menyebutkan alasannya, Shandra mengatakan dia takut tidak mendapat restu dari ayahnya kendati status sosial yang berbeda kasta.
"Ka Jho masih marah padaku?"
Bukannya menjawab Jho justru melirik ke arah lain, di mana ada beberapa antek-antek ayah Shandra yang mengintai mereka.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi Nona. Permisi, saya sudah harus pergi, Tuan muda Gerald sudah menunggu ku." Pamit Jho lalu melanjutkan langkah.
"Tapi, ..." Shandra mengikuti langkah Jho dengan kening yang mengerut "Jadi segini saja perasaan mu Jho?" Akhirnya Shandra meninggalkan sebutan Kakak nya "Kamu tidak benar-benar menyukai ku, buktinya tidak ada usahanya sama sekali, padaku!" Ketusnya.
"Usaha hanya boleh dilakukan untuk seseorang yang mengharapkan ku, bukan seseorang yang tidak sama sekali menginginkan ku, apa lagi meragukan kemampuan ku, apa Nona lupa, Nona sendiri yang menolak ku." Jho berkata dingin sembari mempercepat langkahnya.
Jho bahkan berlari kecil menuruni anak tangga pada teras rumah besar itu, berusaha menjauhi wanita tercintanya, dia mengayunkan kaki menuju mobil milik sang Tuan muda.
...🖋️••••••••••••🖋️...
Di tempat lain,
Garry menundukkan wajahnya pada jendela mobil berjenis MPV, menatap kedua anak rupawan yang saat ini sudah duduk manis di jok penumpang bagian belakang.
"Kalian hati-hati, ingat Gerald, Cantik adik mu, jangan coba macam-macam padanya!" Ucap Garry.
Shara mendorong wajah Gerald dengan mencubit hidungnya "Tuh, dengerin, di apartemen jangan messum, Abang!" Tukasnya.
Bukanya mengangguk Gerald justru menyerang Shara dengan menujumkan bibirnya "Tidak perlu di apartemen. Di sini saja kalo begitu!" Seringai nya.
"Abang!" Shara terdorong terpentok ke sudut jendela.
"Gerald!" Garry mendorong kepala putranya agar tak menyentuh putri angkatnya "Bisa dibilangin tidak kamu!" Pekiknya
"Mau kiss saja. Kenapa tidak boleh? Aku Abang nya, aku yang melindunginya." Sanggah Gerald.
"Astaga, benar-benar tidak bisa di percaya, bocah ini." Sambung Garry geram.
"Sana jauh-jauh!" Shara mendorong dada bidang Gerald dengan kaki yang membuat Gerald meringis karena ujung lancip dari hak sepatunya.
PLAK!
__ADS_1
"Ahh!" Shara berdesah saat Gerald menepis kaki mulus itu, melepas paksa sepatu heels milik Shara lalu membuangnya serampangan.
"Sakit Abang!" Pekiknya melotot.
"Kau lebih dulu!" Ketus keras Gerald menuding.
Shara menoleh pada Garry "Daddy, lihat, Abang kasar padaku!" Adu nya merengek.
Garry mendengus lemah, sebenarnya tingkat kenakalan Shara dan Gerald berkedudukan seri, sama-sama jahil dan tidak mau mengalah.
"Sudah-sudah, Jho sudah datang, sekarang kalian pulang, Daddy juga mau pulang. Ingat Gerald, Cantik adikmu, bukan istrimu!" Kata Garry.
"Iya, iyaa." Gerald memutar bola matanya, malas sekali mendengar Cantik adiknya, adiknya dan adiknya. Kapan menjadi istrinya?
"Tutup kacanya Cantik." Garry memberi titah pada Shara dan gadis itu mengangguk "Iya Daddy, bye. Daddy juga hati-hati." Ucapnya.
Setelah memberikan lambaian tangan pada Garry, Shara menaikan kaca penutupnya lalu Jho masuk dan duduk di jok bagian kemudi.
Brugh! Kasar sekali Jho menghentakkan pintu mobilnya. Tak ada sapaan basa-basi, tiba-tiba mobilnya bergerak tanpa perintah. Gerald sedikit aneh dengan situasi ini, Gerald yakin pasti terjadi sesuatu pada asisten handalnya.
Satu jam pun berlalu. Tak ada percakapan yang serius, di sela perjalanan sebab Jho yang biasanya menyela pembicaraan sang Tuan muda kini bergeming, tak ada yang menarik untuk di bahas selain dari pada Shara yang tertidur di pangkuan Gerald.
Tiba di parkiran basemen, dengan bridal style, Gerald menggendong tubuh Shara berjalan memasuki lobby. Langkahnya berlanjut sampai ke lift. Jho menekan tombol ke atas. Keduanya terlihat gagah dan tampan.
Sesekali Gerald menurunkan wajahnya, agar menyentuh hidung bangir Shara yang masih terlelap tidur, mumpung si empunya tidak sadar, Gerald memanfaatkan kesempatan.
Lantai delapan pintu lift terbuka, Gerald dan Jho keluar dari ruangan tersebut secara beruntun. Rupanya bersamaan dengan itu, pintu lift yang berseberangan dengan liftnya juga terbuka.
Wajah senyum Gerald memudar saat melihat sosok tampan yang akhir-akhir ini membuat dirinya gerah.
Zif berdiri tepat di hadapannya. Zif menatap tidak suka padanya, gadis cantik yang Gerald gendong lah yang mungkin menjadi alasan Zif melolong kan sorot tajam.
Gerald mengguncang tubuh Shara agar tidak melorot dari tubuhnya "Abang, sudah sampai belum hmm?" Dalam ruang bawah sadar Shara mengigau sembari mempererat kalungan tangannya pada tengkuk Gerald.
Zif semakin di buat dogol. Setelah Mei meragukan keaslian status keluarga mereka, Zif menjadi cemburu pada Gerald.
"Sssuutt, sebentar lagi." Gerald mendesis pelan lalu melanjutkan perjalanan menuju unit apartemen milik Shara. Jho masih setia mengikuti langkah kakinya.
Sementara Zif hanya menatap punggung dari tempatnya, mengamati wajah Shara yang bersentuhan dengan leher Gerald.
...🖋️••••••••••••🖋️...
__ADS_1
...Bersambung..... Terimakasih, buat yang kasih hadiah..... Terutama Like dan komentar nya..... Karya dan Akun ini masih merintis...... jadi aku sangat berharap partisipasi kalian..... Untuk merekomendasikan ke teman-teman kalian...... Dua bab lagi hari ini insya Allah.........