
Bicara soal pernikahan, setiap orang pasti memiliki keinginan dan impiannya masing-masing, terlepas dari bisa atau tidaknya hal itu diwujudkan.
Setiap pasangan pasti menginginkan yang terbaik dan berusaha memberikan yang maksimal kepada tamu undangannya.
Mulai dari budget, baju pengantin, dekorasi, undangan, seragam, souvenir, pengisi acara, sampai hal-hal detail pasti akan dipersiapkan dengan sebaik mungkin.
Acap kali Rumah dokter Garry ramai di kunjungi beberapa karyawan wedding organizer, mengurus acara pernikahan yang di langsungkan dua Minggu lagi, dalam kapal pesiar termewah di dunia.
Maklum, Gerald tak mengizinkan calon istrinya mengayunkan satu langkah pun untuk keluar dari rumah besar nya, maka semua yang bersangkutan dengan persiapan pernikahan harus di urus dalam rumah saja.
Dalam kamar pribadi yang terang benderang milik Shara, Shandra sang desainer tengah membantu klien nya mengenakan gaun pengantin.
Hari ini Shandra harus memastikan gaun yang dia rancang khusus untuk Shara pas ukurannya, untuk itu Shandra membawa gaunnya supaya bisa di coba sang pemilik.
"Aku sesak Ka Shandra." Shara pada akhirnya mengatakan keluhannya. Sedari tadi Shara terus menahan napas, rupanya gaun yang dia pakai sesak di tubuhnya.
"Sesak, iya, aku rasa berat badan mu naik Shara." Timpal Shandra "Kenapa bisa?"
Shandra terheran-heran, secepat itu Shara naik berat badan. Padahal Shandra menggunakan ukuran tubuh Shara dua Minggu yang lalu.
Shandra memang sengaja membuat gaun itu secepat kilat, di bantu karyawan handal tentunya.
Lalu apa ini? Dalam waktu dua Minggu saja Shara naik berat badan sampai tiga kilogram.
"Gimana dong Ka Shan, dua Minggu lagi, apa bisa turun?" Shara merengut, pasalnya pernikahan ke dua nya sudah dua Minggu lagi dari sekarang.
"Tentu saja tidak semudah itu, tapi, coba saja diet, setidaknya saat acara gaun ini masuk ke tubuh mu." Sambung Shandra.
Sebenarnya bisa saja kalau Shandra merombak ukurannya, tapi kemungkinan akan berkurang seninya. Membuat gaun yang indah juga memerlukan perumusan yang tepat bukan.
"Iya, aku memang perlu diet, tadi pagi, berat badan ku naik tiga kilogram." Ucap Shara lirih. Akhir-akhir ini Shara memang lebih banyak makan.
Shara memang memiliki kebiasaan lapar saat stress. Tak di pungkiri acara pernikahan dadakan ini cukup membuatnya kepikiran.
"Buat apa diet?" Dari arah pintu Gerald berjalan mendekati kedua gadis yang sedang sibuk dengan kegiatan fitting tersebut.
__ADS_1
Shandra menoleh "Gaunnya sesak, kasihan Shara pasti tersiksa nantinya, dua Minggu saja dia naik tiga kilogram, aku takutnya di hari H nya lebih dari ini." Jelasnya.
"Loh, kenapa harus Shara yang diet? Harusnya kamu buat cadangannya, buat baru dari sekarang, dengan ukuran yang kira-kira pas di tubuh Shara dua Minggu lagi." Sanggah Gerald.
"Buat baru lagi?" Sambung Shandra.
"Iya, buat baru lagi saja, dengan model yang sama, tapi ukuran yang berbeda. Gampang kan?" Enteng Gerald. Baginya uang bukan masalah, terpenting Shara mendapatkan yang terbaik.
"Tidak perlu Abang!" Shara menggeleng, Gerald lantas beralih pada calon istrinya "Kenapa?" Tanyanya.
"Kalo bikin baru lagi, berarti akan ada kemungkinan salah satunya tidak terpakai dong? Mubadzir Bang." Jelas Shara.
Satu gaun saja hampir satu miliar, Shara bukan orang yang rela menghabiskan banyak uang untuk hal mubadzir. Dia ingat dari mana dia berasal. Dahulu satu miliar sangat teramat berarti, sekarang pun masih sama.
"Ka Shandra benar, aku memang perlu diet, lihat lah, aku tambah gemuk sekarang kan?" Imbuh Shara merengut.
Gerald menggeleng.
"Stop! Aku tidak mau dengar apa-apa lagi, pokoknya aku mau diet, Abang juga pasti nggak suka aku gemuk." Belum lagi mampu Gerald mengutarakan ketidak setujuan_nya Shara sudah lebih dulu mengakhiri protesnya.
"Sayang, ..."
Gerald beralih pada Shandra, memberikan kode supaya desainer cantik itu keluar dari kamar, ada yang harus dia bicarakan berdua saja dengan Shara.
"Ya sudah aku keluar dulu, sambil menunggu kalian rundingan dulu saja, maunya bagaimana." Pamit Shandra. Gerald mengangguk, kemudian Shandra keluar dari kamar sambil menutup pintu.
Gerald beralih fokus pada calon istri yang masih mengenakan gaun pengantin sempitnya, dia peluk Shara dari belakang menenggelamkan dagu pada pundak mulus gadis itu "Baby marah?" Tanyanya.
"Tidak."
"Lalu?"
"Aku kesal padaku sendiri, lihatlah, dalam waktu dua Minggu aku naik tiga kilogram, padahal aku belum hamil Abang, gimana setelah melahirkan nanti hmm?" Shara meleyot kan bibirnya, mengeluarkan kaca-kaca di matanya. Gemuk adalah hal paling di takuti oleh para kaum hawa.
"Kenapa memangnya? Justru bagus dong, tambah seksi." Senyum Gerald menenangkan.
__ADS_1
Shara melirik calon suaminya "Bukan itu yang kamu katakan setelah aku berubah jadi gemuk. Pasti nanti lain lagi. Kamu cari gadis lain yang, ..."
"Ssuutt." Gerald melepas pelukannya lalu membuat posisi mereka saling berhadapan, dia usap pipi mulus gadis itu dengan senyum kecil yang terlihat sangat tampan "Hentikan prasangka buruk mu. Aku sakit mendengar nya." Ujarnya.
"Dengar, aku tidak bisa berjanji ini itu, Baby rasakan dan buktikan sendiri saja, ketulusan hati ku. Tak peduli dengan tubuh ramping yang menggemuk, wajah cantik yang mengeriput, rambut hitam yang memutih, akan ku pastikan, aku hanya akan memiliki mu. Kau Shara ku, satu, untuk selama hidup ku." Ucap Gerald.
Shara mampu melihat ketulusan kata dari bibir Gerald. Ia tersenyum dengan getaran bibir yang mengurai haru biru "Aku takut. Aku takut Abang juga mencampakkan aku setelah menemukan perubahan ku, seperti Zif yang terlalu mencintai wajah ku, sampai tak mau mengakui ku setelah rusak wajah cantik ku." Katanya lirih.
"Jangan samakan aku dengan bipolar itu, dan jangan pernah mengungkit luka lama mu, sudah ku bilang, fokus saja dengan pernikahan kita, siap kan mental mu untuk menjadi milikku seutuhnya."
Gerald tarik pinggang Shara mendekat padanya. Ia raba tali silang yang menjerat punggung Shara.
"Tidak perlu diet, biar Shandra yang membuatnya lagi. Lepas gaun sempitnya, jangan siksa dirimu sendiri." Gerald kecup lembut kening Shara kemudian pergi setelah menarik tali-tali di punggung calon istrinya, sekedar memberikan kelonggaran gaunnya.
Shara tersenyum tipis, sebelum di halal kan, ternyata Gerald masih sanggup menahan diri untuk tidak berbuat lebih jauh lagi.
Klik....
Satu pesan teks menggetarkan ponsel Shara, Ia beralih pandang, berjalan dan meraih gawai tipis miliknya dari atas ranjang sebelum membukanya
📩 "Bisa kita bicara? Ada yang perlu aku bicarakan dengan mu." Zif.
Tak tersimpan nomornya tapi Shara tahu persis siapa yang memberinya pesan. Shara sempat melirik ke arah pintu, memastikan Gerald tak lagi ada. Jika sampai Gerald tahu, bisa di pastikan peperangan menyongsong di hadapannya.
📩 "Aku yakin kau tahu siapa aku. Balas Shara, aku harus bicara dengan mu." Satu lagi pesan dari Zif.
Kali ini Shara membalas.
📨 "Maaf Zif, sekarang aku sudah tidak lagi sendiri, tolong mengerti lah, kita bukan siapa-siapa yang perlu membicarakan apa pun lagi."
Shara memblokir nomor tidak di kenal itu, dan ini keempat kalinya dia memblokir nomor Zif. Sulit melupakan cinta pertama, tapi Gerald bukan laki-laki yang mudah di duakan.
...••••••••••••...
Bersambung.... Meluncur lagi insya Allah....
__ADS_1
_
_