
"Lepas bajunya!" Gerald meraih satu kancing piyama paling atas milik Shara.
Brugh!
Shara mengambil alih posisi, dialah yang saat ini berada di atas abangnya "Jangan macam-macam Abang playboy!" Shara pukul beberapa kali wajah Gerald dengan bantal.
Ceklek!
Terdengar suara pintu yang terbuka, Garry mendelik mendapati adegan aneh putra putrinya "Shara, Gerald!" Sentak nya.
"Daddy!" Keduanya menoleh bersamaan.
"Apa-apaan kalian hah!" Garry memekik. Boleh saja melakukan hal seperti itu, asal perjelas dulu hubungan mereka. Shara belum resmi bercerai tak pantas bersikap seperti itu.
"Bang Gerald mau messum padaku Daddy." Adu Shara yang membuat Gerald tertawa renyah "Lihatlah, sekarang kau yang menduduki rudal ku! Kalo seperti ini siapa yang akan berbuat messum?" Sanggah nya.
Shara mendelik "Hah?" Sontak dia turun dari tubuh Gerald lalu berlari melewati ayahnya, keluar dari kamar "Aku tidak messum! Aku tidak sengaja!" Teriaknya.
Garry menggeleng kan kepala "Ya Tuhan, harusnya mereka tidak tinggal satu atap!" Gumamnya.
Lagi, Garry menutup pintu kamar putranya, membiarkan Gerald mengganti pakaian.
Sementara Gerald mendengus merasakan miliknya masih mengeras menginginkan sesuatu "Astaga. Aku harus kembali ke kamar mandi lagi? Padahal barusan sudah mandi. Dasar adik angkat penggoda iman!" Gerutu nya.
...••••••••••••...
Hari berganti seiring dengan merotasinya bumi, dan tibalah waktu yang Shara tunggu-tunggu, di mana dia ingin sekali mendengar putusan pengadilan yang adil dan seadil adilnya.
Hari ini Shara mendatangi pengadilan agama. Menyandang busana kasual, Gerald, Garry dan Shara keluar dari mobil yang sama.
Di parkiran langsung saja Zif menyambut isterinya "Shara." Panggil nya.
__ADS_1
"Zif." Setelah terdiam saling menatap, Shara mencoba menghindar namun Zif meraih tangannya "Ikut aku. Kita masih perlu bicara." Ajaknya.
Gerald melangkah maju tapi Garry menghalangi jalan putranya "Biarkan dulu Shara menyelesaikan masalahnya sendiri." Ujarnya.
Gerald mengepal tangan menatap nyalang Shara dan Zif dari kejauhan "Tetap siaga awasi Nona kalian!" Titahnya pada jaringan orang-orangnya lewat earphone.
Sementara Zif memberhentikan langkahnya, memposisikan diri untuk saling berhadapan dengan istrinya, ada kaca-kaca di mata Shara yang membuat Zif yakin akan perasaan cinta istrinya yang masih tertinggal.
"Kita masih harus bicara empat mata, aku yakin kita tidak perlu repot-repot mengurus perceraian. Kita masih saling mencintai. Iyakan?" Zif menggenggam tangan Shara yang terdiam pilu.
"Katakan kau masih mencintai ku, aku yakin kamu masih mengingat bagaimana tulusnya aku padamu. Selama enam bulan aku hampir gila mencari mu ke sana kemari Yank, aku tidak pernah bisa melupakan mu." Ungkap Zif.
"Bulsyiittt Zif." Lirih Shara menampik "Kau pernah bilang, Shara tidak lebih baik dari Cantik, kau bilang Cantik tidak akan bisa di banding kan dengan Shara. Itu membuktikan kau mudah mencintai wanita selain aku, selain istri mu Zif!" Sanggah nya.
"Itu karena aku marah padamu Shara, aku cemburu bahkan setelah kau di nyatakan meninggal!" Sergah Zif.
"Setelah orang-orang ku menemukan mayat mu. Ada pemuda yang mengaku-ngaku sebagai tunangan mu, ku pikir kau selingkuh dari ku Shara. Rupanya itu hanya mayat orang asing yang tidak penting." Tambah Zif nanar.
"Kita masih saling mencintai. Tolong pikirkan lagi. Aku sangat mencintai mu." Bujuk Zif.
"Ini sangat menyakitkan Zif. Kau orang yang selalu mengatakan aku mencintai mu, aku orang yang paling menyayangi mu, tapi kenyataannya tidak Zif. Kau hanya bisa mengatakan saja, tidak mampu membuktikan apa pun. Aku yakin kau tahu, bahwa ayah mu berusaha melenyapkan ku. Tapi sampai detik ini kau tidak pernah melakukan apa pun." Imbuhnya.
"Kau tenang karena cinta mu pada keluarga dan reputasi mu lebih tinggi dari pada cinta mu padaku Zif. Seandainya kita kembali pun, kau akan terus seperti itu, kau tidak akan pernah bisa membuat ku merasa di cintai. Justru merasa tersudut karena kau harus selalu membela keluarga mu." Tambahnya.
Zif menggeleng "Berikan kesempatan, aku pasti bisa memperbaiki hubungan ini, semua orang berhak mendapatkan kesempatan ke dua bukan? Tolong kasih aku itu. Papah sedang dalam perkara hukum, perusahaan sedang mengalami penurunan, tolong jangan membuat ku semakin gila dengan menghilangnya kamu dari sisi ku Shara." Rengeknya.
Shara menggeleng "Aku tidak akan menghilang. Kita masih bisa seperti dulu, tapi bukan sebagai suami istri, kita masih bisa berteman. Tolong jangan persulit proses perceraian kita. Ini jalan terbaik untuk kita Zif. Kamu baik, sangat tampan, kaya, aku yakin kamu bisa mendapatkan wanita lain yang bisa di terima oleh hatimu dan keluarga mu."
"Tidak mungkin." Tepis Zif.
"Coba saja, ku mohon, lepaskan aku." Shara melepaskan genggaman tangan Zif lalu melangkah pergi. Tak tega rasanya melihat rengekan laki-laki itu.
__ADS_1
Sesak yang Shara rasakan saat ini, Kendati ini jalan terbaik yang dia inginkan, tapi tetap saja Shara seorang perempuan yang memiliki tingkat sensitivitas tinggi di hatinya.
"Sudah. Kita masuk." Tersenyum manis Garry menyambut putrinya dengan merangkul memberikan dukungan. Keduanya berjalan beriringan memasuki bangunan tersebut.
Sementara Gerald masih tak ingin mendekati adiknya. Entah lah, Gerald seolah tahu bahwa ternyata perasaan Shara masih betah teruntuk Zif saja. Terlihat jelas dari bagaimana Shara menangisi keputusannya sendiri.
Satu jam berlalu.
Kali ini Shara duduk pada kursi yang berhadapan dengan meja ruangan persidangan.
Majelis hakim langsung menempati posisinya masing-masing. Ketua majelis tentunya menempati posisi tengah di antara para anggota majelis. Meja kursi ‘singgasana’ mereka sengaja dibuat berbeda dan lebih tinggi dibandingkan meja lainnya. Sangat berwibawa.
Shara gemetar ketika melirik ke arah kanan mata Zif nanar memandang ke arahnya, seolah membujuk untuk rujuk kembali, tapi tidak mungkin dilakukan. Shara yakin perceraian lah yang terbaik bagi mereka.
Shara di temani beberapa kuasa hukum salah satunya Zain, ada beberapa saksi yang di datangkan olehnya di antaranya Gerald dan Garry.
Bukti-bukti terkait ketidakharmonisan rumah tangganya, Shara keluarkan dan lumayan memperkuat gugatan perceraian yang dia ajukan.
Kali ini Zif tak mampu menyangkal apa pun, semuanya sudah jelas, selama menikahi Shara, tak ada satupun tindakan yang membuktikan bahwa dia telah menjadi suami yang baik.
Tudingan demi tudingan Shara tak mampu ia tepis, memang begitulah kenyataannya, dia mengabaikan Shara di saat Shara membutuhkan dirinya, memalsukan berita pernikahan bersama wanita lain, tidak memberi nafkah lahir batin selama lebih dari tiga bulan.
Belum lagi berita kematian yang sengaja di palsukan Hardika sang mertua, masih dalam perkara lainnya.
Zif bergeming saat Hakim mengetok palu, bahwa mahkamah Syariah telah resmi mengabulkan gugatan cerai Shara.
Hans menepuk pundak bos nya "Kita masih bisa mengajukan banding, Tuan muda." Ucapnya.
Zif menggeleng "Apa masih bisa di terima banding ku, sementara Shara sudah tidak berniat kembali padaku, Hans." Lirihnya pilu.
.
__ADS_1
...••••••Bersambung••••••...
...Dukung author dengan Like vote komen dan hadiah nya terimakasih 😘...