Dendam Si Cantik "Kembalinya Istri Buruk Rupa"

Dendam Si Cantik "Kembalinya Istri Buruk Rupa"
Tempat asing


__ADS_3

..."For you! Adik perempuan ku. Ingat, mulai sekarang kamu harus pakai cincin ini, kemana pun kau pergi!"...


Shara membaca surat kecil dari Gerald, subuh tadi seorang pelayan memberikan paper bag mini padanya, rupanya Gerald mengirim cincin berlian untuknya.


"Dia melamar ku? Apa mengancam ku? Tidak ada romantis- romantis nya!" Gerutu Shara.


Kendatipun demikian, Shara tetap memakai cincin dari Gerald, ia melingkarkan nya pada jari tengah sebab di jari manisnya masih ada cincin kawin yang dahulu pernah Zif sematkan.


Shara memang belum melepasnya. Setiap kali bertemu dengan Zif, selama ini, Shara hanya menutupinya dengan aksesoris lain.


Shara berjalan keluar dari kamar setelah menurut memakai cincin pemberian abangnya. Seperti biasa, Shara harus menemani ayahnya sarapan pagi.


Hari ini hanya berdua, sebab Gerald masih di luar kota, ada pabrik-pabrik yang perlu di kunjungi. Maka itu, Shara tak di biarkan kembali ke apartemen.


"Pagi Daddy." Sapa nya.


Garry telah duduk di kursi meja makan panjang nya "Pagi Cantik," Senyumnya.


"Daddy mau sarapan apa?" Shara memang selalu bertanya seperti itu, setiap paginya.


"Roti selai saja." Pinta Garry.


"Emm." Setelah mencuci tangan di wastafel dapur bersih, Shara duduk di sisi ayahnya mengambil satu helai roti tawar.


"Zif masih menghubungi mu?" Sambil menunggu Shara mengoleskan selai pada rotinya, Garry bertanya.


Shara menggeleng "Sudah tidak, Cantik sudah blokir semua kontaknya, Cantik nggak mau berurusan dengannya lagi, dia sudah menikahi Indar, dan tidak mau mempermudah jalannya perceraian, dengan begitu dia memilih untuk tidak berhubungan dengan Cantik lagi. Cantik mau terang-terangan, datang di sidang berikutnya sebagai Shara." Katanya.


"Syukurlah. Yang penting sekarang kamu hati-hati, tidak perlu kemana- mana sebelum Abang mu pulang." Tutur Garry.


"Iya Daddy." Shara meletakkan roti yang sudah di berikan selai pada piring milik ayahnya "Daddy makan lah." Titahnya.


"Terimakasih." Keduanya melanjutkan ritual sarapan pagi bersama dengan menu ala kadarnya.


...🖋️••••••••••••🖋️...


Siang harinya,


Shara baru saja merasakan sapuan jemari seseorang yang sangat asing baginya, suara beberapa perempuan terdengar di telinganya, entah sejak kapan, nyenyak sekali ia tertidur.


Shara mengernyit, mencoba membuka perlahan netra indahnya "Nyonya sudah bangun?" Sapaan yang membuat Shara membelalak terkejut.


Ia mengedarkan pandangan, tiga orang wanita tengah mengoleskan krim di sebagian tubuhnya, memijat kaki mungilnya, Shara beringsut, bukan mendekat tapi menjauh.


Lebih tersentak lagi ketika ia menyadari bahwa ternyata, dirinya hanya terlilit oleh handuk kecil saja, wajah asing, tempat asing, waktu yang asing.

__ADS_1


"Siapa kalian? Dimana aku?" Shara menoleh ke arah jendela, rupanya masih terik. Shara menggeleng cepat mencoba mengingat kembali, 'sejak kapan dia tertidur pulas di ranjang asing ini?'


"Ini tempat suami Nyonya." Kata satu wanita berseragam pelayan itu tersenyum.


Shara melotot sembari mempertahankan balutan handuk nya "Suami? Gila kalian hah?" Pekiknya.


Ketiga pelayan hanya mengangguk kemudian menunduk segan, terdiam.


"Di mana bajuku? Berikan bajuku!" Sentak Shara bernada berang.


"Tuan sudah membuangnya, Nyonya harus memilih salah satu pakaian ini." Satu pelayan berkata sembari menunjukkan helaian baju tidur tipis pada Shara.


"Tuan, Tuan, Tuan, Tuan siapa?!" Tampik Shara. Dia membuat baju-baju di tangan para pelayan terjatuh berserakan di lantai.


Wanita- wanita itu mundur "Tuan muda, ..."


"Zif Prabaswara." Sela seseorang yang baru saja memasuki ruangan. Shara beralih pandang ke arahnya, betapa terperanjatnya ia melihat sosok tampan yang beberapa hari ini dia jauhi.


"Zif!"


"Kalian keluar!" Zif memberi titah pada semua pelayan nya dan wanita- wanita itu mengangguk sebelum kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut.


Shara mendelik "Jangan pergi kalian!" Teriaknya.


Zif meraih satu lingerie berwarna hitam yang masih tersangkut di tepian ranjang lalu menyodorkan nya pada Shara "Ini bajumu sayang." Katanya.


PLAK!


Shara menepis.


"Gila kamu! Ternyata benar Bang Gerald bilang, kamu tidak waras!" Umpat Shara. Sungguh tatapannya menusuk jantung Zif.


Zif merubah ekspresi wajah, dari yang penuh kasih menjadi getir "Kamu mengumpat ku hmm?" Tanyanya.


"Hanya orang tidak waras yang melakukan ini semua!" Sergah Shara menceku "Jadi rupanya kau menculik ku Zif? Kau berusaha memperdaya ku? Cih!" Decihan kecilnya.


Shara telah mantap ingin bercerai maka dari itu dia memblokir semua kontak Zif, dia bertekad untuk bertemu Zif di persidangan berikutnya.


Lalu, apa ini? Terakhir kali dia mengingat, dia masih menyirami tanaman peninggalan almarhumah ibu Gerald. Sekejap saja Shara berkedip, raganya telah berpindah di tempat lain.


"Menculik?" Zif tersenyum remeh "Siapa yang menculik siapa? Bukankah kita susah menikah?" Ungkapnya.


Shara terkesiap "Menikah? Omong kosong!"


"Shara, sayang, ...." Panggilan lembut Zif yang membuat Shara mengerutkan kening.

__ADS_1


Kembali Zif melangkah mendekat dan Shara terus mundur hingga tersudut di meja nakas yang terletak di sisi ranjang "Seharusnya aku yang menuntut keluarga baru mu, mereka menculik istri ku!" Pekiknya.


"Apa?" Shara membulatkan mata, 'sejak kapan Zif tahu?'


Zif terkekeh "Kau pikir, mau sampai kapan bisa bersembunyi di balik nama Cantik hmm? Aku paling hapal dengan aroma tubuhmu, kelembutan kulit dan keindahan bentuk mu." Ujarnya pelan. Tatapan predator Zif terusung begitu menyeramkan.


"Psikopat!" Sarkas Shara.


"Sayang!" Bentak Zif. Dia melanjutkan langkah mendekat, namun dengan cepat Shara meraih selimut tebal dan menggulung tubuhnya.


"Jangan mendekat Zif!" Teriaknya.


Zif menurut, langkahnya ia hentikan "Why?" Tanyanya berbisik bahkan hampir tak terdengar, hanya kecumik bibirnya yang menyuratkan itu.


"Kembalikan bajuku!" Shara histeris bahkan mengeluarkan buliran bening di pipinya.


"Bilang, bilang saja yang seperti apa? Akan aku belikan untuk mu. Stop menanyakan baju yang kau dapat dari laki-laki lain!" Berang Zif.


"Dia Abang ku, kau yang laki-laki lain Zif, kau!" Racau Shara.


BRAK!


Zif melempar kursi kayu yang teronggok di depan meja rias hingga hancur berkeping-keping.


"Berhenti menyebutnya Abang! Kau bahkan hanya memanggil ku Zif!" Pekik Zif protes.


Shara terduduk lemas, baru kali ini Shara melihat sisi lain Zif "Abang, tolong aku." Dia bahkan masih sempat memanggil Gerald dalam keadaan seperti ini.


Zif terenyuh miris mendapati isterinya kecanduan perlindungan laki-laki lain "Aku suami mu Shara! Aku." Lirihnya. Dia tunjuk dadanya penuh tirani.


Shara menggeleng "Kau bukan suamiku, kau sudah membuang ku Zif, kamu menikahi Indar, bahkan menghamili nya, kamu bukan lagi suamiku." Sanggah nya ketus.


"Lalu untuk apa kamu kembali! Bukankah kau ingin merebut ku dari Indar hmm?" Sela Zif.


"Aku kembali hanya untuk membalas mu!" Kilah Shara. Awalnya memang ingin meraih haknya sebagai istri syah, tapi setelah lama tinggal bersama Gerald hatinya perlahan goyah.


Rasa nyaman bersama keluarga utuh sudah cukup membuat Shara ingin menyudahi dendamnya, cukup sudah Cantik bermain-main dengan Zif. Shara ingin bercerai dan melanjutkan hidup normal sebagai wanita singgel.


...🖋️••••••••••••🖋️...


...Bersambung.... Tekan Like dahulu... Secepatnya ku lanjutkan...... Biar kalian enggak bingung kenapa Zif tahu......😎...


.


.

__ADS_1


__ADS_2