
Zif menoleh pada asisten pribadi nya "Hans, beritahu padanya, apa kesalahannya?" Ujarnya.
Hans menunduk "Nyonya Indar bersekongkol dengan Tuan besar untuk menyiram air keras pada Nyonya Shara." Jelasnya.
"Apa?" Indar terkesiap mendengar ucapan Hans, 'sejak kapan Zif tahu?'
Melihat raut bingung Indar, Zif tersenyum getir "Jangan bingung dari mana aku tahu." Katanya.
Satu bulan terakhir, Indar memang sering menceritakan kegusaran dan kecurigaannya terhadap Cantik pada Hardika lewat chat.
Kebetulan, Zif tak sengaja membuka dan melihat riwayat obrolan mereka, mungkin sudah waktunya Zif tahu, maka mudah saja Zif menemukan sela.
"Rupanya kau dalangnya! Pantas saja istri ku terus mengincar mu!" Tuduh Zif melotot.
"Istri yang mana? Aku istri mu!" Sanggah Indar ketus.
"Sssutt," Zif mendesis dengan jari telunjuk yang dia tempel geram pada mulutnya "Aku harus memberi informasi padamu, istri ku hanya satu, Shara saja dan kau tidak lebih dari boneka ku." Ujarnya.
"Brengsek!" Indar meronta.
Zif tertawa getir "Beruntung lah kau melibatkan Papah. Aku tidak akan melaporkan perbuatan kalian ke polisi, tapi, aku ingin Shara menuntaskan balas dendam nya, mungkin dengan begitu, dia tidak marah lagi padaku."
Zif mengasong tangannya pada Hans, dan Hans memberikan satu botol kaca padanya.
"Malam ini juga, akan aku berikan kesempatan pada istri ku. Menyiramkan air ini padamu! Tapi berdoalah. Semoga saja Shara mengasihani mu dan tidak akan pernah merusak wajah mu." Ucap Zif.
...••••••••••••...
"Abang, tolong Cantik. Cantik mau pulang." Gerald mengepal tangannya mendengar suara rengekan isak tangis Shara dari earphone miliknya.
Beberapa Minggu sebelum Gerald memberikan cincin berlian pada Shara. Jho menyematkan penyadap pada benda cantik nan mahal itu.
Sebelumnya Jho sudah menduga, sengaja atau tidak akan ada kelengahan seperti yang terjadi sekarang ini, dan kenyataannya terjadi pula.
Sedari tadi, Gerald bisa mendengar semua yang Shara katakan, bahkan ikut merasakan kesedihan Shara dari bagaimana gadis itu mengadukan nasibnya pada cincin pemberiannya.
Sayangnya GPS yang di sematkan pada cincin tidak memberikan informasi yang akurat, mungkin karena beberapa faktor cuaca yang mempengaruhi terbaca atau tidaknya lokasi Shara saat ini.
__ADS_1
Untuk itu, Gerald perlu bantuan Ethan agar mau membujuk Juhie memberikan alamat rumah baru Zif. Sudah pasti Zif mengambil properti dari perusahaan Juhie sebab mereka memang berteman dekat.
Terbukti, daerah terakhir yang terlacak adalah hunian properti milik perusahaan Juhie.
Awalnya Juhie tak mau memberi tahu, tapi setelah mengetahui duduk perkaranya, Juhie menurut untuk memberikan informasi tempat tinggal baru Zif.
Tempat yang sangat jauh dari perkotaan, Zif memang memesan hunian mewah di lingkup pedesaan agar Shara lebih bisa tenang. Menjadi istri yang baik tanpa gangguan dari orang-orang Hardika.
Dogol membingkai hati, Gerald duduk di jok penumpang bagian depan, sementara Jho pada kursi bagian kemudi. Beberapa orang dia hubungi untuk menemaninya menjemput Shara dari tempat penyekapan.
"Lebih cepat lagi Bang Jho. Aku takut Shara kenapa-kenapa." Gerald menoleh gerah pada Jho.
"Emm." Jho tak menyangkal sebab dia sendiri pun merasa khawatir pada Nona nya.
...🖋️••••••••••••🖋️...
Di tempat lain. Zif kembali menaiki anak tangga, menuju kamar yang dia pakai untuk menyekap istrinya, Zif akhirnya tenang bisa menemukan kembali Shara.
Mayat perempuan yang di temukan, rupanya bukanlah siapa-siapa. Meski dirinya sempat meyakini bahwa mayat itu adalah Shara tapi bukti-bukti yang Zif kumpulkan menyingkap tabir kebenaran yang sesungguhnya.
Di sisi lain, Zif juga kehilangan cinta dan kepercayaan wanita tercintanya. Terlebih saat Shara terus menyebutkan Abang, Abang dan Abang.
Zif membuka pintu dan masuk ke dalam kamar, terlihat di ranjang, Shara sudah mengenakan baju kemeja miliknya yang menjadi dress di atas lutut.
Melihat Zif Shara beranjak "Zif, biarkan aku pulang Zif. Aku mau pulang." Gadis itu menghiba pada suaminya, Zif memutar bola matanya, sesak.
"Zif, antar aku pulang. Daddy pasti mengkhawatir kan aku." Shara pukul beberapa kali dada bidang suaminya "Antar aku pulang." Desak nya.
"Cukup Shara, ini rumah mu, rumah kita, kamu hanya punya aku. Tidak ada keluarga lain selain aku." Zif mencekal kedua tangan Shara, menatapnya ironi.
"Hiks." Shara mendorong tubuh Zif hingga terlepas cekalannya "Kamu egois Zif. Egois!" Berang nya.
"Aku memang seperti ini, tapi silahkan kamu buktikan, aku lah orang yang paling mencintai mu Shara. Hanya kamu. Pertama dan terakhir bagiku."
"Bulsyiittt!" Histeris Shara "Penipu, kamu sudah menikahi wanita lain, bahkan menghamilinya, masih berani kau mengatakan hal menjijikkan itu. Cih!" Dia berdecih kesamping.
"Aku menikahi Indar hanya untuk mu, supaya kau bisa menuntaskan balas dendam mu. Mungkin dengan begitu, kau tidak lagi marah padaku!"
__ADS_1
"No!" Sergah Shara "Balas dendam ku terbalaskan atau tidak, kau tetap kebencian ku. Kau tetap suami yang tidak menganggap ku. Kau tetap laki-laki yang ingin aku cerai. Kau tetap bukan siapa-siapa ku, Zif!" Teriaknya.
Zif lagi-lagi terenyuh "Sesakit itu kah luka yang ku berikan padamu Yank?" Tanyanya lirih.
"Yah, bahkan lebih sakit dari luka bakar yang dulu melenyapkan wajah lama ku Zif!" Tampik Shara.
Zif bergeming.
"Pergi, pergi dari sini!" Shara melepas cincin pernikahannya lalu melemparkannya pada dada bidang Zif "Ambil, ambil itu Zif. Aku tidak sudi memakai cincin mu lagi!" Berang nya.
Zif justru baru menyadari bahwa ternyata ada dua cincin berlian yang singgah di jemari isterinya "Yank." Dia tarik tangan Shara lalu menatap tajam cincin berlian pemberian Gerald.
"Apa ini? Apa ini hah? Jadi kau memakai dua cincin padahal kita belum bercerai?" Tuding Zif.
"Kita akan segera bercerai Zif!"
"SHARA!" Zif melayangkan tangan ke udara, bersiap menampar namun wajah ketakutan istrinya terus menerus meluluhkan hatinya. Zif urung dari niat. Tangannya perlahan turun dengan sendirinya.
Napas bergemuruh "Lepas cincin nya, atau aku akan membawa mu lari dari negara ini. Takkan ku biarkan, kau bertemu lagi dengan keluarga barumu! Apa lagi laki-laki lain, jangan pernah berpikir untuk mengkhianati ku Shara." Zif melenggang pergi meninggalkan isterinya, kembali ia keluar dan mengunci pintu bilik.
"Zif!" Teriakan Shara yang berhasil membuat Zif menitihkan air mata, sesaat setelah menutup pintu kamar istrinya "Kenapa hubungan kita menjadi seperti ini Shara?" Gumamnya.
Zif mengusap air mata, ia meraih ponsel dari saku celananya, melayangkan panggilan telepon pada seseorang. Tak butuh waktu lama, panggilan terhubung.
📞 "Selamat sore Tuan."
"Atur penerbangan kilat ke Amerika, untuk ku dan istriku. Segera!" Titahnya semudah itu.
📞 "Baik Tuan."
Zif mematikan panggilan secara sepihak kemudian menuruni anak tangga, menemui Hans yang masih menjaga Indar di lantai bawah.
...🖋️••••••••••••🖋️...
...Bersambung..... Terimakasih atas dukungan nya semuanya..... Ayu Love you......❤️...
.
__ADS_1
.