Dendam Si Cantik "Kembalinya Istri Buruk Rupa"

Dendam Si Cantik "Kembalinya Istri Buruk Rupa"
Tempat gelap


__ADS_3

Shara baru saja merasakan sapuan jemari seseorang yang sangat asing baginya, suara beberapa perempuan terdengar di telinganya, entah sejak kapan, nyenyak sekali ia tertidur.


Shara mengernyit, mencoba membuka perlahan netra indahnya "Nona sudah bangun?" Sapaan yang membuat Shara membelalak terkejut.


Ini situasi yang sama seperti dahulu, saat dirinya di culik oleh suaminya. Ia mengedarkan pandangan ke segala arah lalu menatap sekujur tubuhnya.


Yah bedanya kali ini dia masih memakai piyama pendek berwarna merah muda yang semalam menjadi pengantar tidurnya.


"Siapa kalian? Dimana aku?" Shara menoleh ke arah jendela sama seperti dahulu ia memastikan keadaan sekitar, rupanya sudah terik.


Shara menggeleng cepat mencoba mengingat kembali, 'sejak kapan dia tertidur pulas di ranjang asing ini? Perasaan malam tadi dia tidur di kamar miliknya sendiri'.


"Ini tempat calon suami Nona." Kata satu wanita berseragam pelayan itu tersenyum.


Shara melotot "Apa kalian suruhan Zif?" Celetuknya. Tak salah lagi, ini pasti ulah Zif, keadaan ini sama persis seperti saat dirinya di culik mantan suaminya.


"Pakai lah gaun ini Nona, kau akan tahu siapa yang membawamu ke sini." Pelayan lainnya menawarkan gaun cantik padanya, lembut.


PLAK!


Shara tepis gaun itu sampai terjatuh "Aku tidak mau! Di mana Zif, beraninya dia menculik ku lagi, pengecut, dia bilang tidak akan pernah memaksa ku!" Berang nya melotot.


"Tolong pakai lah gaun nya, lalu turun ke bawah, Tuan muda sudah menunggu mu Nona." Sambung sang pelayan menunduk segan.


"Aku tidak sudi!" Gegas Shara beranjak dari posisinya, ia melangkah arogan melewati ketiga pelayan yang entah suruhan siapa.


Dia langkah kan kakinya keluar dari kamar, mengedarkan pandangan dan berjalan perlahan menuruni anak tangga.


Seisi rumah temaram, seperti sengaja di buat remang-remang, hanya ada tanda panah yang memandu langkah penasarannya. Kosong, sunyi sepi, begitulah suasananya.


"Ada apa ini? Di mana Zif?" Shara berpegangan pada railing tangga menuruni ambalan terakhir anak tangga itu.


Ia menilik ke arah jemari miliknya, di mana dahulu ada cincin yang menjadi media untuk dirinya mengungkapkan ketakutan tapi kali ini tidak ada "Abang, Cantik takut." Ujarnya lirih.


Kendati demikian Shara tetap melanjutkan langkah menuju ruangan yang sepertinya lebih gelap dari ruang lainnya. Terlihat jelas dari dinding kaca transparan yang mengelilingi seluruh ruangan.


"Masuk lah sayang, aku menunggu mu di dalam." Ada plang bertuliskan kalimat itu yang menyambut kedatangannya.


Shara berkerut kening, tapi penasaran dengan apa yang ada di dalam ruangan gelap itu, kalau memang benar ini ulah Zif, Shara yakin Zif tidak akan pernah menyakitinya.

__ADS_1


Kreeeeettt....


Shara dorong pintu tinggi bak gerbang istana itu dan benar-benar gelap, pekat, mencekam suasananya.


"Zif, ..." Panggil nya. Tak ada suara apa pun selain dari pada suara langkah pelannya.


"Zif." Shara memberhentikan langkah saat tak sengaja menabrak salah satu meja. Ada ketukan dari langkah pelan yang berderap dari belakang tubuhnya, mendengar itu Shara mengerling siaga ke arah kanan.


Sentuhan lembut merembet melingkari perutnya, mendekapnya erat dari belakang "Zif, lepas!" Tolaknya menepis namun pelukan itu semakin erat saja.


"Apa hanya ada nama Zif yang ada di otak mu hmm?" Shara terjaga, mendelik sempurna mendengar suara merdu itu.


"Abang!" Bersamaan dengan itu seluruh lampu benderang. Shara mengernyit sipit matanya, sensitif terhadap cahaya terang yang baru saja memancar.


Dia edarkan pandangan ke sekeliling. Rupanya dia sedang berdiri di tengah-tengah acara pesta yang entah milik siapa, Shara bingung dengan tempat megah yang di penuhi lampu gantung berhiaskan kristal ini.


Matanya masih berotasi, di mana banyak pasangan mata menatap ke arahnya, pakaian pesta elegan yang di sandang semua orang membuat Shara menatap kembali pakaian tidurnya "Apa ini?"


Shara beralih pandang pada wajah Gerald yang masih memeluknya erat dari belakang "Abang! Kamu, ..."


Gerald melepas pelukannya, menatapnya lekat dari depan "Aku mau melamar mu, aku mau menikahi mu, aku mau menua bersama mu, aku ingin hanya ada nama ku yang kau sebut dalam panik mu. Bukan nama pria lain." Ungkapnya.


Dahulu Zif melamarnya secara diam-diam bahkan menikah pun diam-diam. Apa pun selalu Zif lakukan secara diam-diam. Berbeda sekali dengan Gerald yang serba terang-terangan.


"Menikah lah dengan ku, aku memaksa nya!" Gerald tarik jemari tangan Shara lalu menyematkan cincin pink star diamond ternama padanya.


Cincin termahal di dunia, yah, itu yang sekarang melingkar di Jemari Shara saat ini. Shara tergagu bahagia menatap wajah tampan calon suaminya. Baru kemarin dia mendengar keraguan Garry lalu tiba-tiba saja Gerald melamarnya dengan cara seperti ini.


Tak ada jawaban yang harus Gerald tunggu, sebab Gerald tak mau adanya penolakan, seharian penuh dia mempersiapkan kejutan ini, berharap Shara menyukai lamaran ala romantis nya.


Lalu, apa barusan? Shara memanggilnya dengan sebutan Zif. Gerald tersentak mendengarnya, tapi perlu di ingat, mungkin caranya yang terkesan menculik membuat Shara menuding mantan suaminya.


"Sejak kapan Abang siapkan ini semua?" Tanya Shara "Kenapa tidak bilang Abang mau melamar ku hah? Lihatlah, aku baru bangun tidur, rambut ku acak-acakan, tidak memakai baju yang bagus, kau membuat ku malu!" Tambahnya protes.


Bukannya menjawab Gerald justru membahas hal lainnya "Kapan kamu melupakan masa lalu mu? Aku capek-capek menyiapkan ini untuk mu, tapi kau memanggilku Zif!" Protesnya.


Shara menggeleng "Aku tidak bermaksud begitu, Abang membuat ku curiga. Aku kira Zif yang menculik ku." Tampik nya.


"Tidak akan aku biarkan dia menyentuh mu lagi!" Gerald menempatkan Shara dalam dekapan hangatnya "Kau hanya milikku." Ucapnya mendominasi.

__ADS_1


Shara mendongak "Abang tidak bertanya, Shara menerima lamarannya atau tidak hmm?" Tanyanya.


"Tidak, aku memaksa mu!" Putus Gerald.


Shara tersenyum "Kau seperti psikopat yang ada di film-film trhiller." Sambung nya.


"Aku lebih menyeramkan dari itu, makanya jangan coba-coba mengkhianati ku, mengerti lemot!" Timpal Gerald.


"Abang melamar ku tapi ketus begini, aku sedih." Gerutu Shara merengut, ada titihan air mata haru yang mengurai di kemeja kasual Gerald.


"Kau sudah pernah merasakan kalimat semanis gula dari Zif, tapi tidak membuat mu bahagia bukan, jadi lebih baik, sekarang rasakan ego ku, rasakan dominasi ku, rasakan kecemburuan ku, rasakan cinta ku yang hanya berlabuh padamu." Gerald mempererat pelukan posesifnya "Kau hanya milikku!" Pungkasnya.


"Ciyeeee!" Semua orang berseru mendapati adegan romantis sepasang kekasih itu.


"Jangan berantem, mending cium ajah!" Usul Ethan menyeletuk.


"Iya, sikat! Nikah hulu dulu saja, biar malam ini bisa un boxing." Sahut teman yang lainnya mengompori.


Kira-kira ada dua ratus tamu undangan eksklusif yang hadir dalam acara lamaran dadakan ini. Semuanya kalangan elit yang rata-rata teman dugem Gerald Van Houten tentunya.


Shara menunduk malu "Aku risih, mereka melihat ku bangun tidur Abang!" Bisiknya pada Gerald.


"Kau cantik, kau cinta ku, dalam keadaan seperti apa pun, aku mencintaimu, bahkan, saat liur masih berserakan di pipimu." Kata Gerald tersenyum. Astaga, kalimatnya sudah seperti anak senja.


Gerald lepas pelukan hangat nya kemudian mencubit dagu manis gadis itu "Aku mencintai mu!" Baru saja mendaratkan bibirnya.


Garry sudah lebih dulu melerai "Kalian belum resmi menikah, tahan sampai halal!" Tegas nya.


Shara menoleh "Daddy juga di sini?" Tanyanya tak percaya, sejujurnya Shara belum yakin Garry merestui hubungan mereka.


Garry tersenyum "Tentu saja, putra-putri ku membuat acara, sudah pasti Daddy datang. Semoga bahagia kalian berdua." Ucapnya, mengusap lembut puncak kepala gadis itu.


Shara terenyuh "Terimakasih." Sahutnya, beralih memeluk ayah angkat sekaligus calon mertuanya.


...••••••••••••...


Bersambung..... Setelah ini Up lagi..... Eh ini di Group chat ku ada event nyanyi sholawat loh, yang mau ikutan yuk di tunggu gabungnya.....


__ADS_1


__ADS_2