Dendam Si Cantik "Kembalinya Istri Buruk Rupa"

Dendam Si Cantik "Kembalinya Istri Buruk Rupa"
Berita perjodohan


__ADS_3

Dalam kamar yang di dominasi warna putih abu-abu, disain kontemporer menjadi pelengkap ruangan mewah itu.


Angin sore menembus kulit-kulit berbulu halusnya. Senja menyapa dengan semburat jingga nya.


Zif termenung menatap foto-foto wajah lama Shara, kenyataan pahit telah datang bertubi-tubi, dari mulai hilangnya Shara, di tipu ayah dan istrinya, lelaki itu masih setia dengan bayangan masa lalu.


Apakah dia juga korban? Sepertinya begitu.


Palu telah di ketok, Zif di nyatakan tidak bersalah setelah tim Gerald mampu membuktikan kebenaran yang ada.


Kepolisian meringkus seluruh tersangka dan memberikan hukuman sesuai undang-undang. Hardika di jatuhkan hukuman penjara seumur hidup.


"Aku tidak bersalah! Aku tidak menghamili mantuku! Aku tidak menzolimi anakku! Aku tidak mengkhianati istriku!"


Masih terngiang teriakan Hardika yang memekakkan telinga, Hardika menggenggam jeruji besi seperti ingin menjebolnya saja.


"Keluarkan Papah dari sini Zif, Clara, Papah tidak bersalah!" Zif mengingat bagaimana ayahnya memberikan tatapan tajam dengan teriakan memohon.


Zif pasrah tak mampu berbuat apa-apa, lagi pun, karena ayahnya Zif kehilangan istrinya, cinta pertamanya.


Masih ada sesal bagi Zif, namun semuanya telah berlalu, mungkin jodoh Zif bukan Shara. Zif pun menjalani terapi, agar otaknya kembali semula, meskipun tak mudah untuk memulihkan nya tapi Clara yakin Zif bisa.


"Zif, ..." Clara memanggil adiknya dengan senyum manis di bibirnya, bukan mudah untuk bisa tersenyum seperti sekarang ini.


Sebenarnya berat menjadi Clara, di usianya yang masih sangat kecil dia menyaksikan ibunya meninggal karena meminum racun perkara ayahnya sering bermain serong.


Clara sengaja tinggal di luar negeri agar tidak lagi melihat wujud ayahnya yang membuatnya benci, bukanya bersedih Clara justru bahagia melihat jatuhnya sang ayah di dalam jeruji besi.


Ini tidak sebanding dengan apa yang Hardika berikan untuk ibunya, meskipun di sisi lain Clara sangat menyesali, adiknya menjadi korban keserakahan ayahnya juga.


Adanya Mei di hidup mereka menggantikan posisi ibu untuk Zif, Mei menggugat cerai Hardika dan sudah dalam proses perceraian.


Meskipun sudah tidak memiliki status pernikahan yang harmonis dengan Hardika, Mei masih menjadi ibu yang baik untuk Clara dan Zif.


"Iya." Zif menoleh pada Clara.


Clara duduk di sisi Zif. "Undangan sudah aku pesan, kalau kamu cocok dengan jodoh pilihan ku acara pertunangan dan pernikahan nya akan segera kita langsungkan, kamu setuju yah aku pilihkan jodoh untuk mu, dia gadis yang baik dari keluarga baik-baik, kalian sudah sama-sama dewasa, menikah saja."


"Siapa?"


"Nanti sore kita ketemu di cafe saja." Ujar Clara.


"Terserah, aku menurut saja." Lirih Zif. Sudah tidak ada keinginan untuk mencari istri lagi, jika masih ada yang mau dengan dirinya, Zif terserah apa kata Clara saja.


...••••••••••••...

__ADS_1


Satu Minggu kemudian. Siang yang terik menyingsing begitu agresif. Burung-burung peliharaan bernyanyi sahut menyahut menciptakan suasana asri di sekitar rumah besar ini.


Shara dan Gerald duduk di atas ayunan besar yang dahulu menjadi favorit ibunya Gerald.


Mereka mengobrol santai, bercanda, bermesraan, bahkan mengobrol serius meluangkan waktu liburan di hari Minggunya.


Di sofa sana. Ada Jho yang tengah asyik memandangi laptopnya, entah kapan Jho memiliki waktu libur, Jho senang dengan kesibukannya.


Ada Garry juga yang duduk di bangku taman halaman belakang nan jauh di sana bersama seorang tamu.


Entah siapa, Gerald, Jho dan Shara tak bisa melihat wajah tamunya tapi sepertinya tamu itu sangat penting.


Ngomong-ngomong masalah kehamilan Shara, Garry bahagia mendengar berita dari menantunya, dan sebenarnya Gerald adalah orang kedua yang mengetahui Shara hamil.


Sebelumnya Shara sudah memberi tahu Garry saat di rumah sakit. Syukuran kecil-kecilan pun telah di lakukan kemarin malam.


Semua orang datang memberikan doa dan selamat teruntuk Shara dan Gerald si suami posesif.


Shara juga memberitahukan Gerald, tentang informasi yang dia curigai dari Damar. Keputusan terakhir adalah, Gerald akan membantu istrinya memecahkan misteri ini.


Gerald juga sudah memanggil bibi Shara dan mereka mendapat pengakuan bahwa Shara hanya bayi mungil yang ditemukan di dalam kapal perjalanan dari Bali ke Surabaya.


Sudah sangat pasti, bahwa Shara bukan keponakan asli bibinya, tapi hanya anak pungut yang ditemukan di kapal tanpa ayah ibunya.


Shara menggeleng perlahan. "Terkadang Shara berpikir, untuk apa Shara cari tahu? Kalaupun iya orang tua Shara masih hidup, toh mereka tidak pernah mau menemui ku." Lirihnya.


"Tapi Baby penasaran kan? Kenapa Baby sampai tidak memiliki mereka?" Sambung Gerald.


"Iya." Angguk Shara.


"Bang Jho akan segera mendatangi rumah ayah Risha, sebenarnya tes DNA paling tepat untuk membuktikan Risha dan Baby saudara kembar atau tidak, tapi dengan membawa ayah Risha ke sini, Baby tidak perlu jauh-jauh menyatroni rumah mereka." Jelas Gerald.


Shara tersenyum memeluk suaminya penuh kehangatan. "Makasih calon Daddy anakku."


"Sama-sama istriku, jangan terlalu banyak memikirkan sesuatu, kasian Baby nya."


"Iya."


Jho memutar bola matanya. "Kemarin berantem, diem diem'an, sekarang lebay." Gerutunya dingin.


Langkah kaki terdengar mendekat, Gerald menoleh, rupanya Garry telah selesai mengobrol dengan tamunya. Garry datang membawa selembar kertas undangan.


"Barusan siapa Dadd?" Tanya Gerald.


Jho menutup laptopnya, menoleh pada Garry sambil meneguk air minum dari gelas miliknya.

__ADS_1


"Itu tadi ayahnya Shandra, dia mau kasih undangan pertunangan anaknya." Kata Garry.


"Uhuk-uhuk." Ada yang terbatuk-batuk setelah tidak sengaja menenggak minuman bersamaan dengan datangnya berita itu.


Garry mengelus punggung Jho "Hati-hati minumnya, tersedak juga bisa berbahaya." Tuturnya.


Gerald terkikik, Jho terbatuk-batuk sudah pasti karena berita yang Garry informasi kan barusan. "Jadi yang katanya Shandra mau di jodohkan itu, jadi Daddy?" Tanyanya pada Garry.


Jho mengusap bibirnya, berusaha memindai layar laptop kembali, tapi pikiran tak mampu fokus pada satu tujuan. Munafik nya mengatakan tidak lagi memikirkan Shandra tapi hati berlainan arah.


Garry mengangguk. "Iya, kita semua di suruh datang besok malam. Ini undangan nya." Garry memberikan undangan pada putranya.


Gerald menerima, dia buka undangan mahal berwarna gold itu. Sontak terkejut membaca nama laki-laki yang akan menjadi jodoh Shandra.


"Zif?" Celetuknya.


Shara mengernyit. "Apa, Zif?" Tanyanya.


Gerald menoleh pada Shara dan Jho secara bergantian. "Zif yang akan di jodohkan dengan Shandra." Jelasnya dan Garry mengangguk mengiyakan.


"Zif?" Sambar Jho terheran-heran.


Berapa kali saja ayah Shandra menjodohkan putrinya, mungkin selama ini Shandra menolak karena tidak cocok dengan pilihan ayahnya, tapi dengan Zif sudah pasti Shandra mau, siapa sih yang memungkiri ketampanan Zif.


Apa lagi Zif sudah terbukti tidak bersalah kemarin. Padahal, Jho lah yang membantu membersihkan nama Zif.


"Yah, baca saja." Gerald melemparkan undangan itu pada Jho yang lalu di tangkap dengan tangkas.


Jho menilik pada kolom berisikan nama Shandra dan Zif yang di satukan oleh gambar dua cincin berlian. "Semoga bahagia." Hanya doa yang bisa Jho lantunkan di sela getirnya kisah cinta tak sampainya.


Tanpa bersuara, Jho bangkit dari duduknya, berjalan tergesa-gesa meninggalkan tempat itu.


Gerald memanggil, "Bang Jho, ..."


"Sudah, tidak apa-apa, Jho hanya butuh waktu." Kata Garry.


"Gimana kalo kita carikan Bang Jho jodoh juga." Usul Shara.


Gerald menoleh. "Baby pikir Bang Jho tidak laku hmm? Di luar sana, penggemar Bang Jho banyak, hanya saja, dia pemilih dan sulit beralih dari Shandra." Ujarnya.


"Kasihan Bang Jho." Sambung Shara memelas. Jho pasti sakit seperti dirinya saat tahu Gerald akan di jodohkan dengan gadis lain.


Garry tersenyum. "Jodoh sudah di atur, bukan kita manusia, tapi Tuhan yang maha esa. Jho pasti mendapat kan jodoh yang terbaik. Lihatlah, dia selalu mementingkan kepentingan orang lain dari pada dirinya sendiri, semoga Jho mendapatkan jodoh yang terbaik di antara yang baik." Doa nya.


"Aamiin." Sahut Shara dan Gerald bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2