
Dalam mobil yang baru saja melaju, Adelin menoleh ke arah jok di sebelahnya "Dompet ku?" Celetukan dari bibirnya saat menyadari tak ada benda berwarna hitam miliknya.
"Astaga! Aku meninggalkannya di rumah Gerald, untung belum jauh." Adelin mendadak memberhentikan mobilnya kemudian memundurkan kendaraan roda empat itu.
Baru saja keluar dari pekarangan rumah calon suaminya, tiba-tiba teringat dompet miliknya masih tertinggal di sana. Itu kebiasaan luput yang belum bisa dirubah.
Adelin turun dari mobil, berjalan memasuki pagar rumah dokter Garry kembali, pintu gerbang belum tertutup tapi tetap saja Adelin harus menyapa penjaganya terlebih dahulu "Permisi Pak." Ujarnya pada satpam yang tak mendapat jawaban.
Dua satpam itu terdiam, menatap ke arah yang sama yaitu pada sepasang insan rupawan yang tengah berkecukupan di bangku taman sana.
"Pak!" Adelin yang penasaran mengikuti arah pandangan dua orang pria itu, betapa matanya membulat sempurna melihat adegan tak biasa ini "Gerald, Shara." Lirihnya bergumam.
Adelin terhenyak, kasarnya kita katakan, Adelin menyaksikan langsung pergulatan bibir calon suami dengan calon adik iparnya, syok sudah pasti "Jadi mereka berhubungan?" Tak habis pikir, Adelin kembali bergumam.
Tanpa permisi lagi. Dia langkah kan kakinya menuju Gerald yang kini bergeming menatap adiknya masuk ke dalam rumah "Gerald!" Sapanya sinis.
__ADS_1
Dia lolos kan tatapan tusukan yang lumayan membuat Gerald membulatkan mata saat menoleh padanya "Adel."
"Jadi kalian berhubungan? Lalu untuk apa kamu meminta Daddy mu menghubungi aku?" Tukas Adelin ketus. Sifat dokter cantik itu memang lugas.
"Ini, ..." Gerald bingung harus mengatakan apa. Gerald tahu ini pasti mengecewakan Adelin, tapi sungguh bukan maksud hati Gerald mempermainkan perasaan Adelin.
Adelin mengangguk cepat "Cukup tahu, kau tidak serius padaku, ternyata sikap playboy mu masih sama, tak pernah berubah dari dulu, bahkan adikmu sendiri kamu pacari Gerald?" Tuding nya.
"Aku, ..." Sulit sekali Gerald mengungkapkan sesuatu pada dokter itu. Ada sisi dimana ia ingin menunjukkan bahwa Shara memang kesayangannya.
Adelin melangkah cepat, masuk ke pintu utama, dengan wajah berang dia lanjutkan langkahnya menuju sofa ruang tamu. Sedang Gerald mengikuti Adelin sedikit gagap.
"Aku bisa jelaskan, Adel. Aku, ..." Gerald berusaha meyakinkan bahwa adiknya tak serius mencumbu dirinya, tapi apa akan ada yang percaya bahwa ciuman itu hanya media untuk Shara menularkan virus? Tidak masuk akal!
Di lihat dari bagaimana Shara memainkan indera perasannya saja sudah lain. Di tambah lagi Gerald yang tak menolak bahkan terkesan menikmati.
__ADS_1
"Tidak perlu! Semuanya sudah jelas Gerald, kau barusan mencumbu adik mu!" Sela Adelin menyembilu.
Gerald menggeleng "Shara, memang suka sekali iseng, aku, ..." Kalimatnya terputus.
"Cukup Ger, aku harus pulang." Adelin menyatukan kedua tangan, memohon pengertian Gerald "Barusan aku merasa nyaman mengobrol dengan mu, hanya dalam waktu singkat. Aku kecewa padamu!"
"Maaf, tapi, ..."
Adelin melangkah pergi keluar dari rumah meninggalkan Gerald dengan geming hening nya. Sesekali melirik kecil ke belakang, berharap Gerald mengejar dirinya, namun tidak, Gerald seolah pasrah dengan keadaan "Kau tidak serius meyakinkan aku." Batinnya kecewa.
_
_
...Bersambung.... Dan akan langsung menyusul lanjutannya.... Jangan lupa Like dulu sebelum melanjutkan Bab berikutnya.... Bantu Ayu naikin karya ini yah gais.... Yang belum Like semua bab boleh like dulu.... ...
__ADS_1