Dendam Si Cantik "Kembalinya Istri Buruk Rupa"

Dendam Si Cantik "Kembalinya Istri Buruk Rupa"
Random


__ADS_3

Bukan cinta jika tidak pernah berusaha memilikinya, ungkapan cinta tak harus memiliki itu bagi yang sudah pernah melenggangkan langkah untuk menjemput sang terkasih.


Selama ini Jho hanya menerima dan tidak pernah berusaha lebih keras untuk mendapatkan cintanya. Dia sibuk mengejar karier sementara hatinya dia abaikan.


Kali ini, kasus Shara dan ayahnya Risha harus dia tunda, Jho juga mau membenahi urusan hidupnya.


Group Chat elit terus ber'dangdut saking banyaknya kalimat penyemangat untuk Jho, setelah dia sengaja meminta doa restu di sana.


[Semoga berhasil, Bang Jho.] Ethan Erland Jackson.


[Aku kasih mobil baru kalo kamu berhasil membawa pulang Shandra menjadi menantu ku.] Dylan Jackson.


[Rumah baru dariku.] Nathan Ellard Jackson.


[Penthouse dariku.] Gerald.


Setelah keluar dari mobil mewahnya, Jho melangkah pasti menuju pintu tinggi milik kediaman utama keluarga Zif Prabaswara. Dia tekan bel tanpa ragu. Tidak lama satu orang wanita membukakan pintu.


Kharisma seorang Jho masih sama, gagah berani namun terkesan manis layaknya sugar Daddy. Tentu saja, usia Jho sudah melebihi kepala tiga.


"Iya, selamat siang, mencari siapa?" Sapa sambutan dari seorang asisten rumah tangga pada Jho.


"Zif, panggil dia, bilang Jho datang menemuinya." Jho menyeletuk secara cepat.


Wanita itu mengangguk. "Baik, silahkan tunggu Tuan."


Belum sempat wanita itu membalikkan badan, Zif sudah lebih dulu mendatangi mereka.


"Jho." Zif memberikan tanda mundur pada asisten rumah tangganya kemudian beralih menatap Jho dengan sejumlah pertanyaan.


"Yah, aku." Kata Jho.


"Ada apa, tumben datang ke sini?" Sambung Zif.


"Ada yang perlu aku bicarakan."


Zif sempat terdiam sebelum akhirnya mengutarakan penawaran. "Masuk atau di taman?" Tanyanya.


"Di taman saja." Pilih Jho.


Keduanya berjalan beriringan menuju bangku taman, tak lupa Zif memerintahkan asisten rumah tangganya membuatkan minuman.


Jho duduk terlebih dahulu setelah Zif mempersilahkan. "Ada apa kamu mendatangi ku? Apa Tuan mu yang mengutus mu?" Tanyanya curiga.


Jho menggeleng. "Aku ke sini atas keinginan ku sendiri." Jawabnya.


"Untuk?" Zif teringat sesuatu yang telah Jho lakukan padanya, mungkin karena itu Jho menemuinya.


"Oya, aku belum sempat berterima kasih padamu, aku sangat berhutang budi. Terima kasih, karena mu aku di nyatakan tidak bersalah." Ujarnya.


"Sama-sama." Angguk Jho.


"Jadi kedatangan mu?" Sambung Zif lagi, bingung.


"Shandra."


"Shandra?" Zif mengerut kening, apa hubungan mereka?


Jho kembali mengangguk. "Yah, sebenarnya kami sudah pernah dekat dan sempat saling menyukai, tapi karena kasta kami berbeda aku menyerah dan dia pun sama." Jelasnya.


"Oya? Aku tidak pernah tahu berita itu." Zif tidak pernah menyangka akan satu kenyataan ini. Shandra calon tunangannya pernah menyukai seorang pria.


"Aku ke sini hanya ingin memastikan, apa kamu yakin bisa mencintai Shandra?" Tanya Jho.


Seketika Zif meredup tatapan. "Aku baru mau memulai dan mencobanya." Katanya lirih.


"Apakah akan ada kemungkinan bisa? Seberapa persen keyakinan mu?" Sergah Jho.

__ADS_1


Zif menggeleng. "Aku tidak tahu, kamu pasti tahu, sulit bagiku melupakan Shara. Anehnya lagi ada pikiran yang membuat ku frustasi, seandainya aku dan Shara masih bisa berjodoh, aku rela menunggunya sampai kapan pun." Lirihnya.


"Lalu kenapa kamu mau melamarnya?" Jho mengerut kening.


"Ayah Shandra sendiri yang menghubungi Clara, mereka membicarakan penyatuan kami. Dan kabarnya Shandra menyetujui." Jelas Zif.


Karena baginya tidak ada yang mampu membuatnya beralih dari Shara atau mungkin belum.


"Sekarang aku semakin tidak yakin, kamu mampu membahagiakan Shandra."


"Lalu apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus memberikannya padamu?" Tanya Zif.


"Bahagiakan dia untuk ku, tapi jika tidak bisa, biar aku saja yang maju." Jawab Jho.


Zif menunduk. "Aku tidak yakin Shandra akan bahagia tanpa cinta dariku, Shara saja tidak bisa aku bahagiakan meskipun kenyataannya aku sangat mencintainya." Ujarnya mengaku.


"Karena cinta juga perlu perjuangan, usaha mempertahankan, menerima apa adanya, dan bentuk tindakan lainnya yang tidak sama sekali menyakitkan, aku gagal melakukan hal itu." Imbuh Zif.


Zif menatap Jho. "Kalo kau memang mencintai Shandra, kejar sebelum di miliki orang lain, jangan sampai kau berakhir menyesal seperti ku." sudut bibirnya memberikan senyuman getir.


Jho mengangguk. "Aku tidak mau berakhir seperti mu. Sudah tidak bisa berusaha karena adanya orang ketiga. Terima kasih sudah membuka pikiran ku." Ucapnya tersenyum.


Zif menepuk pelan pundak Jho dengan bibir yang tersenyum. "Jangan biarkan gadis mu nyaman dengan pria lain, apa lagi pria yang salah seperti ku. Aku mungkin bisa menjadikannya istri yang ku sayangi tapi belum tentu bisa mencintai sepenuh hati seperti mu Jho."


...----------------...


Warna jingga terberai saat senja mulai manjat dengan segala pengharapan manusia di dunia fana.


Di bangku taman seorang wanita duduk termenung menatap ikan-ikan kecil yang sesekali menyembulkan mulutnya ke permukaan.


Udara segar nan damai, asri dan sangat nyaman untuk di singgahi di sore hari begini, tapi rupanya pemilik wajah cantik ini tak merasakan hal kenyamanan itu.


Hatinya bercelaru, pikir pilu memenuhi ruang memori yang meracau tak menentu.


Di jodohkan dengan beberapa pria sampai akhirnya nama Zif menjadi salah satu pilihan terakhirnya, Shandra lelah terus melakukan pertemuan perjodohan dan berakhir bubar.


Tidak menyentuh nya, tidak menuntut nya, tidak memaksa nya, itulah alasan Shandra menerima Zif.


Di sentuh dan di paksa mencintai laki-laki selain Jho, Shandra patah arang. Jika Zif yang menjadi jodohnya, mereka akan saling bisa mengekspresikan perasaan masing-masing.


Zif pasti mau mengerti dia, karena dia pun paham jika cinta Zif hanya teruntuk Shara seorang.


"Kenapa terus melamun?" Suara seseorang yang sangat tidak asing membuyarkan lamunan.


Shandra menoleh, bibirnya terbuka, dia tepuk tiga kali pipinya berusaha meyakinkan dirinya, mimpi atau nyata, bisa kedatangan tamu spesial hari ini?


"Ka-Jho."


Laki-laki yang sudah berbulan-bulan ini mengacuhkan dirinya kini hadir dengan senyum datar di hadapannya. Meskipun datar setidaknya ini terasa manis bagi Shandra.


"Kamu bahagia?" Tanya Jho dengan tatapan yang menyelami hati wanita itu.


Shandra menggeleng dengan bibir yang bergetar mengurai tangis kecilnya. "Tidak."


Jho menyeringai. "Bagus, tersiksa lah terus, karena kamu tidak akan pernah bahagia tanpa aku." Cetusnya.


Shandra menunduk pilu. "Aku rasa begitu." Lirihnya dan isakan kecilnya terdengar.


Jho melangkah maju, meraih tangan Shandra untuk di tariknya. "Biarkan aku melamar mu sekarang, atau kau tidak akan pernah bisa bahagia."


Shandra mengernyit. "Melamar?" Dia usap butir peluh yang terjatuh dari sudut netra nya, mengikuti langkah kaki gagah Jho yang memasuki sebuah pintu.


Awalnya Shandra menggeleng dan sempat menolak, tapi sepertinya langkah Jho sangat pasti sampai akhirnya Shandra berserah diri.


Rumah klasik modern yang di dominasi warna putih gold ini rancangan arsitek ternama. Jho mungkin bukan pria yang pantas tapi Jho yakin Jho mampu meminang putri istana ini dengan sebilah hati yang mencinta.


Di dalam sana Tuan besar rumah ini duduk melipat kaki sambil membaca artikel di koran yang sudah beralih digital.

__ADS_1


Bram nama ayah Shandra yang sudah menduda sepuluh tahun lamanya. Lelaki paru baya itu menoleh dengan melepas kacamata bacanya saat menyadari ada tamu tidak di undang masuk ke dalam ruang pribadinya.


"Selamat sore Om." Sapa Jho. Dia berhenti langkah tepat di depan ayah Shandra.


Bram berdiri menatap bingung putrinya, pertunangan sebentar lagi, lalu apa ini? Dia membawa seorang pria?


"Shandra, ada apa ini? Siapa yang kamu bawa?" Tanyanya. Jujur, Bram tahu siapa sejatinya Jho, tapi Bram lebih memilih bersikap seperti itu.


Jho bukan siapa-siapa, Jho hanya pangeran di hati Shandra. "Jho, dia yang sering Shandra bicarakan." Ujarnya menunduk. Sudah sejauh ini usaha Jho, maka Shandra pun ingin ikut berjuang.


Bram paham sekarang, jadi benar laki-laki di depannya ini yang membuat Shandra sering menolak lamaran putra koleganya.


"Untuk apa kalian berdiri di sini? Berdua, bergandengan tangan begitu?" Cecar Bram.


"Jho mau melamar putri Om." Tegas Jho.


Bram mengernyit. "Melamar?" Bram tersenyum getir. "Punya apa kamu melamar putri ku?" Tanyanya.


Genggaman tangan Jho eratkan untuk menguatkan keberaniannya. "Jho memang bukan laki-laki yang punya segalanya, tapi Jho mampu memberikan seluruh dunia untuk putri Om, Jho pastikan tidak akan pernah ada segelintir air mata pilu yang menetes dari ekor matanya, jika pun ada itu pasti peluh bahagia."


Shandra tersentuh mendengar jawaban Jho yang sangat berani. "Ka-Jho."


Bram menggeleng. "Shandra sudah akan bertunangan, aku tidak bisa menerima lamaran mu." Tolaknya.


"Daddy." Shandra menatap memelas ayahnya. "Shandra mohon."


Derap langkah kaki terdengar mendekat dan semua orang menoleh pada pemilik sepatu hitam mengkilap itu. Ada Zif yang berdiri dengan tegak menatap Bram.


"Aku menyerah. Maafkan aku Om. Zif tidak pernah bisa menyukai wanita selain Shara. Jika pun bisa, mungkin akan berproses lama. Dan selama proses itu, Zif tidak yakin Shandra akan bahagia bersama ku." Kata Zif.


Shandra tersenyum, dia lantas mendekati ayahnya bahkan mengusap lembut lengan lelaki tua itu. "Shandra sayang Ka-Jho," Rengek nya.


Bram mengalihkan pandangan, tak ingin rasanya melihat air mata putrinya. "Daddy, Shandra mohon." Pinta Shandra lagi.


Bukan soal uang dan kasta, tapi soal bagaimana Jho menunjukkan keseriusan nya, selama ini Jho tak pernah mau datang dan melamar Shandra dengan serius.


Padahal bukan tidak mau, tapi Shandra yang ketakutan sendiri sebelum Jho mendatangi ayahnya. Shandra takut Jho di hina ayahnya dan dia yang lebih merasakan kesakitan.


Terlepas dari kasta yang berbeda, Jho orang yang tepat untuk membantu Shandra mengurus perusahaannya. Bram mendengar sendiri bagaimana Dylan terus memuji pemuda genius itu. Jho laki-laki yang cerdas dan baik hati.


"Jho sangat mencintai putri Om, Jho tidak pernah menyukai wanita selain putri Om, bukan harta tapi hatinya yang mengalihkan dunia Jho. Maaf jika lancang, tapi perasaan ini tumbuh tanpa mampu Jho tepis kan."


Bram mengamati setiap detil kata yang terurai dari bibir pemuda tampan itu.


Cukup lama Bram dan semua orang terdiam, ruangan itu sempat hening beberapa saat sebelum akhirnya suara kembali terlontar dari mulut Bram.


"Bawa orang tua mu datang ke sini, tunjukkan keseriusan mu padaku." Bram melangkah pergi setelah mengatakan itu.


Mungkin ini satu-satunya jalan yang harus Bram tempuh agar putrinya mau menikah.


Dan group chat kembali ber'dangdut ria.


[Gimana usaha Bang Jho? Berhasil belum?] Ethan Erland Jackson tokoh utama pria di novel Sang Bodyguard. Belum di rilis.


[Palingan melempem lagi dia.] Gerald tokoh utama pria di novel ini.


[Kita asing kan saja setelah ini, asisten memang tidak berhak bahagia.] Nathan Ellard Jackson, tokoh utama pria di novel Simpanan Sugar Daddy Posesif.


[Bagus lah, kita nggak perlu belikan mobil baru, rumah baru, Penthouse baru.] Dylan Jackson tokoh utama pria di novel Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan.


[Tunggu, lamaran di terima dong] Jho Bastian.


[Bangkrut Jack group😩] Pasha Ayu.



__ADS_1


Eh kalian masih menikmati cerita ini enggak sih? Enggak kelar-kelar yah, aku sendiri bosen loh😩 Itu di atas tak kasih visual Jho biar enggak bosen.


__ADS_2