Dendam Si Cantik "Kembalinya Istri Buruk Rupa"

Dendam Si Cantik "Kembalinya Istri Buruk Rupa"
Titian ketulusan


__ADS_3

Dingin malam yang menyergap merayap, menyelimuti kedua raga polos yang kini saling bertemu sentuh.


Indah, sangat indah kala sang cinta telah menemukan puncaknya, desiran angin laut yang masuk dari celah jendela seakan menjadi alasan utama mereka melakukan penyatuan raga.


Sebelumnya Gerald telah meminta Jho mensterilisasi tempat itu, agar tak ada manusia nyasar yang berlabuh pada bar ekslusif ini.


Biarkan mereka tenang menanam benih unggul menjadi Gerald junior yang lucu.


Gerald menderu dera napasnya, saat memagut butir empuk nan merah muda di ujung dada istrinya, menghisap, menyesap, meremas.


Berhati-hati sekali, yang dia lakukan kali ini. Menggali pelumas dari liang bahagianya, berharap tidak membuat sang pemilik kesakitan dibuatnya.


Sadar akan kelebihan ukuran roket ekslusif yang Tuhan berikan padanya, Gerald berusaha pelan-pelan menggesek, memberikan kenyamanan terbaik pada belahan ranum yang masih terasa nyeri akibat ulahnya siang hari tadi.


Buncahan gelora yang menggaung dalam sanubari, begitu mendorong, mendominasi rasa ingin cepat mengakhiri pencarian jalan masuk yang pasti.


Shara membantu menuntun jalan yang sepertinya sulit sekali Gerald lalui, licin yang dia rasakan saat menyentuh roket ekslusif itu, tentu saja licin, dirinya telah di buat meleleh beberapa kali oleh permainan jemari sang kekasih.


"Siap kah?" Gerald masih ragu untuk menujumkan pusaka bangsanya pada liang milik Shara.


"Emmh, lakukan saja, kenapa di tunda terus dari tadi?" Protes Shara. Entah kenapa rasanya ingin sekali merasakan sensasi yang lebih dari hanya sejentik erotisme laki-laki itu.


Gerald duduk masih dengan celana yang dia turunkan separuh lutut, lalu membiarkan istrinya yang memulai nya sendiri "Baby saja, Abang takut menyakiti mu." Ujarnya memelas.


Shara mengangguk, dia beranjak dari posisinya, melangkah pada pangkuan Gerald yang telah mencuatkan mercusuar nya.


Shara setuju untuk mencobanya sendiri, mungkin dengan begitu dia tidak merasakan sakit seperti siang tadi, pelan-pelan sekali dia mencari jalan pulang, dia sedikit bergerak ke kanan dan kiri agar bisa mengulum seluruh tongkat milik Gerald-nya.


Matanya membulat, mulutnya menganga eksotis saat desir aneh membuatnya meremang, begitu pula dengan Gerald yang ternganga lebar seraya memejamkan mata menikmati setiap detik yang terasa lambat ini.


Waktu jangan lah berlalu, jadikan ini malam yang panjang bersama pengantin ku.


"Abanghh!" Shara berdesah keras, kala jebol gawang nya, tembus seluruhnya menyentak bagian terdalam dirinya "Abang!" Napas kacaunya membuat Gerald semakin tertantang tapi sekaligus merasa kasihan.


"Sakit kah?" Tanyanya.

__ADS_1


Shara menggeleng "Tidak, ini lebih baik dari siang tadi, hhh." Ucapnya berderu.


Merasa lebih nyaman dengan gerakan, tanpa di minta Shara mengangkat, menjatuhkan, mengangkat kembali, lalu menjatuhkan lagi tubuhnya berkali-kali hingga menghasilkan pencapaian nikmat yang tiada henti.


Irama napas, desah, lenguh keduanya saling bersahutan seiring dengan keluar masuk nya sang mercusuar yang di telan liang nikmat itu.


Keringat menjadi bukti bahwa keduanya sama-sama merasakan panas yang membakar gairah mudanya.


"Sakit?" Tanya Gerald kembali, tangannya membetulkan rambut Shara yang menutupi sebagian wajahnya.


Shara menggeleng lagi dan lagi, tentu saja itu bukan bualan semata, tapi rasa yang Shara cecap saat ini adalah kenikmatan surga dunia.


Gerald menggigit bibir bawahnya menatap wajah erotis istrinya, satu tangan meremas gundukan padat di bagian belakang, semetara sebelahnya lagi meremas gundukan padat di bagian atas depan yang bergoyang bak agar-agar.


"Sayang, kamu amatir tapi pintar membuat ku senang." Celetuk bibir Gerald memuji kepandaian istrinya.


Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, bibirnya pun memagut bagian depan yang menganggur, cap merah terlukis indah pada seluruh liukan risa wanita itu.


Lelah dengan satu gaya itu saja, Shara menjatuhkan wajahnya pada ceruk leher sang suami "Kakiku keram!" Keluh nya memelas.


Gerald tersenyum memeluk tubuh istrinya dengan penuh cinta "Istirahat, ..." Titahnya.


Shara beranjak dari posisinya, membetulkan lingerie miliknya, meraih kimono tidurnya, membalut tubuhnya dengan kain merah marun tersebut.


"Loh, mau kemana?" Gerald terheran-heran menatap lekat istrinya.


"Ke atas, Abang mau tidur di sini kan? Ya sudah aku masuk sendiri saja." Jawab Shara enteng.


Gerald mengernyit protes "Sayang, ini belum selesai!" Dia angkat celananya agar tak menyulitkan langkahnya.


Mengejar Shara yang sudah keluar dari bar ekslusif ini "Sayang." Panggil nya. Dia bahkan melupakan kemeja yang masih tertinggal di bar tersebut.


Shara menaiki anak tangga dengan berlari, tak ada rasa nyeri yang dirasakan, justru ingin lagi dan lagi.


Shara masuk ke dalam kamar pengantin, Gerald pun menyusul, menarik lengannya secara impulsif "Jangan lari Yank." Titahnya.

__ADS_1


Gerald tutup pintu dengan punggungnya, dia tarik pinggang Shara dari belakang, menyibak rok lingerie merah nya keatas memulai kembali aktifitas fisiknya dari belakang.


Shara mendelik seraya ternganga, rasanya lain dengan rasa yang barusan dia dapati, ini lebih sulit di jelaskan.


Mengetahui kenyamanan istrinya.


Kali ini Gerald berani memaju mundur kan pinggulnya, tak ada keluh kesakitan seperti siang tadi, justru era.ng.an nikmat yang Shara presentasi kan.


Keduanya berjalan menuju ranjang tanpa melepas penyatuan tubuh intinya, Shara meraih, berpegangan bantal empuk saat Gerald semakin menghentakkan pinggulnya.


Kimono yang masih menyangkut, Gerald buang bahkan lingerie pun dia hempaskan, biar saja kali ini mereka tak menyisakan sehelai benang.


"Kapan berakhirnya?" Setelah mencoba berbagai macam jenis gaya, Shara pada akhirnya menyeletuk, menyerah.


"Sebentar lagi, janji." Gerald memposisikan Shara merebahkan punggung pada ranjang empuknya, agar nyaman saat dia sirami dengan benihnya.


Sejurus kemudian, era.ng.an terakhir yang keduanya gema kan menjadi akhir dari ritual pembenihan ini.


"Hangat!" Shara nanar menatap wajah tampan suaminya dari bawah.


Cup!


Kecupan lembut nan ringan Gerald labuh kan sebelum tumbang di sisi wanita tercintanya.


"Aku mencintaimu Shara." Ucapnya.


Shara menoleh pada pemuda itu, mengusap keringat yang menghiasi dahi suaminya "Terlebih aku yang juga sangat mencintai mu, Abang." Balas nya lirih yang terdengar tulus.


Gerald tersentuh mendengar jawaban itu, baru kali ini Shara mau mengungkapkan perasaannya secara gamblang setelah keringat mereka bercampur menjadi satu.


Gerald tarik istrinya menyelimuti tubuh keduanya, mendekap erat kepala Shara di belahan dada bidangnya.


"Jangan ada dusta diantara kita. Apa pun masalah nya, terbuka lah. Aku ingin mencintaimu seperti Daddy yang sangat tulus mencintai Mammi hingga ajal memisahkan." Ujar Gerald.


"Emmh." Shara menitihkan air mata bahagia kala mendengar ketulusan kata suaminya.

__ADS_1


...••••••••••••...


Bersambung..... Yang mau support karya baruku yok di tunggu..... Klik profil ku....


__ADS_2