
"Aku sakit karena mu, sekarang temani aku di sini!" Gerald meraih tangan Shara yang lalu di tepisnya.
"Ogah, kita belum suami istri."
"Oh, jadi menyindir, supaya cepat di halal kan begitu, hmm?" Gerald tersenyum nyengir. Tak peduli dengan hidung meler nya, setelah mendengar sedikit perasaan Shara padanya, Gerald sudah lebih baikan.
"Dah lah, terserah." Shara menaikan ujung bibir seraya berjalan melewat dan menutup pintu.
Gerald tersenyum-senyum setelah Shara keluar dari kamar miliknya, baru malam tadi dia dogol pada adik tak sedarah nya, lalu paginya di buat berbunga-bunga.
Rupanya Shara juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya, hanya saja enggan mengakui seperti dirinya. Jikalau malam itu Jho tak memanipulasinya, mungkin sampai saat ini dia takkan pernah berani mengungkapkan perasaannya.
Ceklek.... Suara pintu yang kembali terbuka.
"Tuan muda."
Mbak memanggil dari ambang pintu sana, Gerald menoleh menatapnya dengan senyum yang masih tertinggal "Ada apa Mbak?" Tanyanya.
"Tuan besar dokter memanggil Den Tuan muda ke kamar nya." Kata Mbak nya.
Gerald mengangguk "Aku ke sana." Sahut nya.
"Ya sudah, Mbak pergi lagi." Kata Mbak pamit.
Gerald mengangguk sembari mengemas selimut tebalnya. Tak perlu waktu lama, dia beranjak dari posisinya keluar dari kamar, berjalan perlahan menuju kamar milik ayahnya. Gerald tahu, setelah kekacauan malam tadi ada yang akan Garry sidang darinya.
Pintu bercat putih itu terbuka seiring dengan masuknya Gerald pada ruangan pribadi milik sang ayah. Terlihat di sisi jendela besar Garry mencekal tangannya ke belakang.
Ada rasa tidak nyaman karena ulahnya yang sudah pasti mengecewakan, kemarin meminta mempertemukannya dengan calon istri pilihan Garry.
Lantas besoknya semua orang membicarakan ciuman panasnya bersama Shara. Gerald yakin Garry sudah mendengar berita itu dari salah satu penjaga di rumahnya.
"Ekm-ekm." Dahaman Gerald membuat Garry menoleh padanya. Gerald menggaruk tengkuk tak nyaman, ada bersin sesekali tanda ia masih flu. Garry tahu itu terjadi karena apa, sudah pasti Shara penyebabnya.
__ADS_1
"Sebenarnya apa mau mu?" Garry menatap tajam putranya.
"Maksud Daddy?" Gerald berdiri menghadapi ayahnya, dengan tangan yang menggaruk sebelah lengannya.
"Katakan, kau mau apa dariku, kenapa sulit sekali serius dengan satu wanita?" Sambar Garry. Tatapannya masih mampu menusuk jantung hati sang putra semata.
"Mau ku menikah." Jawab Gerald.
Garry tersenyum sinis "Lalu kenapa mengecewakan Adelin?" Tukasnya.
"Kau tahu Adel bukan gadis sembarangan, setelah menikah dengan mu, dia bisa meneruskan klinik Daddy. Dia lulusan luar negeri yang kompeten di bidang spesialis bedah. Selama ini Daddy tidak memilih sembarangan gadis untuk mu. Semua gadis yang ku pilih anak baik-baik, cantik, berpendidikan tinggi. Tapi kau hanya bermain-main dengan nya. Kau tahu Gerald, Adel dan keluarga nya kecewa padaku? Mau sampai kapan kamu membuat ku malu begini?" Timpal Garry panjang lebar.
Gerald menggeleng "Aku tidak main-main Daddy, kemarin aku benar-benar ingin menjalani hubungan serius. Tapi, ..."
"Kau menyukai adik mu?" Garry menyela ucapan putranya.
"Yah." Secepat kilat Gerald mengiyakan dengan kepastian "Bukan hanya menyukai, tapi Gerald mencintai nya, ingin menikahi nya, menua bersama nya. Jodoh kan aku dengan nya." Pintanya.
Garry berkerut kening "Kau serius menyukai nya atau hanya karena terbiasa dengan nya? Kau tahu Gerald. Dia sudah seperti anakku, jangan karena kau menikahi nya lalu kegagalan kalian membuat kami merenggang nantinya. Pikir lagi, bagaimana perasaan mu yang sesungguhnya." Tutur laki-laki itu.
Garry menghela, bukan meragukan, hanya khawatir akan masa depan putra putrinya.
"Sekarang Daddy tanya padamu. Siap kah kamu menjadi suami Shara? Kau tahu, Shara tidak jelas asal usulnya, kemana paman bibinya, sampai sekarang kita semua belum tahu pasti dari mana datangnya, siapa orang tua nya." Jelas Garry.
"Belum lagi status jandanya. Kau tahu dia bukan gadis lagi. Siap kah kamu menerima Shara apa adanya?" Garry bertanya memastikan.
Sejatinya Garry tidak tahu-menahu bahwa Shara dan Zif belum pernah melakukan ritual penyatuan raga. Mungkin akan ada masalah jika Gerald tak menerima keadaan Shara sebagai janda nantinya.
Gerald mendengus "Kenapa aku merasa, aku sedang melamar putri dokter Garry? Sebenarnya siapa yang putranya?" Batinnya.
"Bagi Gerald status bukan masalah, Gerald tahu Shara hanya anak yatim-piatu, Gerald tahu dia pernah menikah, Gerald juga tahu kecantikan nya hasil operasi, Gerald tahu dia keras kepala, manja, lemah, labil, tapi Gerald serius mau menjadikannya istri, Gerald menyayangi nya, bukan hari ini tapi jauh sebelum dia bercerai dari Zif." Kata Gerald pasti.
"Bagaimana dengan perasaan Shara? Kau yakin dia juga menyukai mu? Dia pernah sangat tulus mencintai suaminya. Aku tidak yakin semudah itu Shara melupakan Zif." Sambung Garry.
__ADS_1
Oh sungguh, percakapan ini terdengar seperti negosiasi.
Gerald tersenyum cibir "Bukankah dulu Daddy juga menikahi Mammi yang pernah sangat mencintai Daddy kandung Bang Dylan? Apa Daddy yakin waktu itu Mammi sudah benar-benar melupakan suami pertamanya?" Tanya baliknya.
"Kami menikah setelah mantan suami Mammi mu wafat. Tentu saja Daddy yakin, Mammi mu tidak akan pernah di kacau oleh siapa pun. Tapi kamu, kamu memiliki saingan berat, Zif juga masih menginginkan Shara kembali. Kau pencemburu, apa siap nantinya menghadapi hidup rumah tangga tanpa pertengkaran, bisakah kau tidak termakan cemburu buta, pikir kembali Gerald." Sanggah Garry.
Gerald melongo, menelaah setiap kata yang terurai dari bibir ayahnya, jika di pikir lagi, Zif memang masih menjadi ancaman besar bagi hubungannya bersama Shara. Sementara sikap cemburu buta nya masih belum bisa dia hilangkan. Buktinya, kemarin dia meminta di carikan jodoh setelah merasakan cemburu tak berujung.
"Menikah itu, bukan hanya menyatukan dua insan saja Gerald. Suatu hubungan tanpa rasa percaya, bukanlah dua hati yang saling cinta, tapi hanya dua orang yang menghabiskan waktu bersama." Tutur Garry menerangkan.
"Cinta itu seharusnya mengajarkan kita bagaimana bisa saling percaya. Bukan untuk saling curiga. Kepercayaan adalah saat kita mampu membuat ikatan hati antara kita dan pasangan tuk saling percaya satu sama lain. Lalu siap kah mental mu, bersaing dengan Zif?" Tanya Garry.
"Apa nantinya kau mampu mempercayai istri mu? Dunia Penthouse kejam Gerald, mantan suami Shara juga bisa melakukan apa saja seperti yang kau lakukan selama ini. Kau harus ingat, Zif bukan laki-laki sembarangan." Peringat Garry.
Gerald mengangguk "Tentu saja Gerald tahu, Gerald ingat, Gerald pasti bisa menjaga Shara, Gerald hanya butuh restu dari Daddy saja. Kedepannya, Gerald yakin bisa menjadi suami yang baik." Cetusnya yakin.
_
Di balik pintu sana, rupanya Shara mendengar setiap kalimat percakapan Ayah dan Abang angkatnya, jadi status, masa lalu, bahkan latar belakangnya masih menjadi kebimbangan hati Garry.
Di lihat dari sisi manapun, Shara yakin, Garry meragukan keutuhan rumah tangga masa depan putranya.
Ternyata itulah yang menjadi alasan mengapa Garry selalu memprioritaskan orang lain untuk dijadikan menantu.
"Aku lupa, aku punya masa lalu yang mungkin bisa menjadi bumerang bagi hubungan berikutnya." Meski bergumam dalam nada lirih dan tidak percaya diri, tapi sikap gagah Gerald di dalam sana berhasil meluluhkan hatinya.
Apa pun yang terjadi, semua memerlukan proses. Shara yakin Gerald akan memperjuangkan dirinya.
...••••••••••••...
Bersambung.... Maaf cuma bisa satu bab....
_
__ADS_1
_