
Setelah membantu istrinya membersihkan diri, Gerald keluar dari kamar pengantinnya.
Kebetulan Shandra dan tim nya sudah datang, maka Gerald berjalan menuruni anak tangga menuju kamar Margens yang terletak di lantai bawah.
Suara terompet kapal telah terdengar, tanda bahwa gawai besar nan menakjubkan ini sudah akan siap melaju.
Umumnya kapal pesiar yang menuju Eropa barat, berawal dari Singapura. Tapi bagi Gerald beserta keluarganya, semua bisa saja di lakukan. Pelayaran di mulai dari salah satu pelabuhan besar Indonesia.
Persiapan dekorasi pelaminan dan lain sebagainya sudah siap di aula kapal, setelah di rias, sore ini juga Gerald dan Shara harus duduk melanjutkan resepsi pernikahan.
Rupanya di depan kamar yang Gerald tuju, Jho dan Margens duduk dengan posisi siaga pada sofa masing-masing menghadapi kolam renang.
"Eeiiss, gimana pengantin baru, dah nabung belum?" Margens menyambut selonongan Gerald dengan cengiran gigi putihnya.
Tak ada jawaban Gerald selain dari wajah uring-uringan nya, Margens dan Jho berkerut kening menatap bingung Gerald yang kini memasuki kamar miliknya bahkan langsung menuju bilik mandi.
Margens menoleh pada Jho "Jangan bilang Kaka ipar datang bulan, makanya si Tuan muda kita lesu masuk kamar mandi?" Celetuknya berasumsi.
"Mungkin." Sahut Jho sembari menaikan kedua bahu.
"Kasian." Margens terkikik menertawakan nasib naas temannya.
Kurang lebih satu jam Gerald berada di dalam kamar mandi, dia lantas keluar sudah lengkap dengan pakaian kasual dan kacamata hitamnya. Ia berjalan lemah menuju salah satu sofa yang menghadap kolam renang.
"Kenapa lesu gitu?" Tanya Margens.
"Gak apa-apa!" Singkat Gerald sembari duduk merebahkan tubuhnya. Cuaca masih terik maka kacamata hitam masih mereka sandang berjamaah.
Jho menoleh pada Gerald "Sampai di Amsterdam aku harus langsung pulang ke Indonesia, sidang pembuktian kasus Risha sudah akan di mulai. Aku harus hadir menemani Damar." Katanya.
Sejujurnya Jho masih sibuk dengan kasus Damar yang mulai mendapatkan titik terang. Ada bukti rekaman dari obrolan terakhir Risha yang bisa di pulihkan pihak kepolisian. Juga CCTV terakhir Risha sebelum menghilang dan ditemukan tewas.
"Ngomong-ngomong masalah Damar. Apa benar Zif menjadi terdakwa baru dalam kasus kematian Risha?" Gerald pada akhirnya bertanya, pembahasan ini masih menggelitik rasa pemasarannya.
Sudah sedari malam kemarin berita itu dia dengar, tapi sengaja tak memberi tahu Shara agar tidak sampai mengacaukan rencana pernikahannya.
"Iya, Zif menjadi terdakwa karena adanya bukti CCTV yang menyebutkan bahwa sebelum menghilang Zif adalah orang terakhir yang Risha temui, ada juga bukti rekaman percakapan telepon terakhir Risha yang sudah di keluarkan pihak kepolisian." Terang Jho.
"Oya?" Gerald mengernyit "Lalu, siapa yang terakhir dia hubungi?" Tanyanya.
"Damar nomor terakhir yang Risha hubungi. Dari pengakuan Damar sendiri, saat itu, mereka memang sengaja ingin bertemu, tapi kemudian Damar mendengar almarhumah Risha berbicara dengan seseorang sebelum mematikan panggilannya." Sambung Jho.
__ADS_1
"Lalu?" Margens ikut penasaran, hal pelik seperti ini sering terjadi pada anggotanya saat menerima job kotor.
Penuh waspada Jho menatap Margens dan Gerald secara bergantian "Zif, ternyata suara Zif yang terdengar di sana. Ini memperkuat dugaan bahwa orang yang terakhir kali Risha temui memang benar-benar Zif." Jelasnya menggebu-gebu terbawa suasana.
"Dan Tuan ingat tidak, saat aku melacak riwayat penerbangan Zif, tepat di awal-awal kita membantu Nona Shara bertemu Zif di bandara?" Tanya Jho.
Gerald manggut-manggut mencoba mengingat kembali kejadian awal bertemunya Zif dengan Cantik di bandara Soekarno Hatta saat insiden tertukar nya koper.
"Iya ingat, Zif waktu itu bilang dari luar kota, memang dari kota mana dia?" Tanya balik Gerald penasaran.
"Hari itu, Zif datang dari Bali!" Cetus Jho.
"Bagaimana kalo ternyata, yang membunuh Risha justru Zif sendiri?" Sambar Margens sok tahu.
"Tapi aku tidak begitu yakin." Jho menggeleng secara spontan. Di lihat dari bagaimana Zif memperlakukan Shara, tak ada gelagat aneh.
Lagi pun, tak mungkin seorang Zif tega membunuh orang yang paling dia cinta. Jika saat pertemuan tak di sengaja itu Zif mengira Risha yang ditemui adalah Shara tak mungkin Zif melenyapkan Risha.
"Tapi Zif menderita gangguan kecemasan, mungkin karena hal itu juga." Sambung Gerald berasumsi.
"Tidak-tidak, kalo masalah pembunuhan ini, aku masih mencurigai Hardika, Zif tertuduh hanya karena kebetulan, dia orang yang terakhir menemui Risha sebelum di nyatakan menghilang." Sanggah Jho seribu persen yakin.
"Tapi dengan begini, kita akan lihat bagaimana Hardika bertindak nantinya, apakah dia akan terus bersembunyi dari kasus ini, atau mengakuinya sendiri untuk menyelamatkan reputasi putranya." Sela Gerald.
Gerald dan Jho setuju dengan pendapat Margens kali ini.
...••••••••••••...
Di lain lokasi.
Tepatnya pada ranjang empuknya, Zif tengah bergeming dengan kepiluan, hari ini sang kekasih telah menjadi milik syah orang lain, sementara bersamaan dengan itu dirinya menjadi terdakwa.
Di ambang kehancurannya sudah tak ada pendukung lagi selain Mei saja, wanita itu mendekat mengusap lembut puncak kepala putranya "Kamu makan dulu, baru setelah itu kita ketemu Tante Karina." Ucapnya.
Karina yang Mei maksud adalah psikolog yang masih setia memberikan bimbingan konseling pada Zif.
"Perlu apa lagi bertemu Tante Karina? Kenapa tidak langsung ke psikiater saja? Rasanya Zif sudah semakin gila!" Sahut Zif lengar.
"Kamu tidak gila sayang, kamu hanya mengalami perubahan suasana hati, kamu hanya perlu Tante Karina, tidak perlu dokter jiwa." Sanggah Mei.
"Tapi sebentar lagi aku gila." Ucap Zif hilang harapan.
Mei mendengus pelan, sedikit frustasi dengan ucapan Zif, dia beralih pada satu pelayan dan beberapa pria kekar yang berdiri sigap mengawasi putranya.
__ADS_1
"Awasi Zif. Jangan sampai berbuat sesuatu yang membahayakan!" Titahnya.
"Baik Nyonya."
Mei keluar dari kamar milik Zif, lalu berjalan menuju meja makan panjang rumah besar suaminya, biarlah Zif bersama pengawalnya.
"Aku harus menghubungi Gerald lagi." Mei meraih ponselnya lalu melayangkan panggilan telepon pada kontak milik Gerald.
📞 ".........."
Tak terdengar suara apa pun, tapi Mei yakin Gerald lah yang mengangkat telepon darinya. Gerald memakai telepon satelit maka di mana pun tempatnya dia masih bisa mengangkat panggilan.
"Halo, Gerald, ini Tante." Ucap Mei.
"Tante tahu kau mendengar ku. Tante sudah membantu menenangkan Zif supaya tidak mengganggu resepsi pernikahan mu. Sekarang tolong cabut tuntutan pemuda bernama Damar itu." Pinta Mei.
"Kamu sudah mendapatkan Shara, kamu sudah bahagia bersama Shara, lalu untuk apa lagi kau meneruskan permusuhan ini Ger, bukankah kasus kematian orang yang mirip dengan Shara tidak penting? Mereka bukan siapa-siapa mu. Tolong Tante Ger, setidaknya biarkan Zif move on dari Shara tanpa ada masalah yang terus membuatnya semakin depresi. Tante mohon." Tambah Mei.
"Tante tahu Tante pernah menyakiti mu, Tante pernah membohongi diri sendiri, Tante memang munafik. Tapi apa pun yang Tante lakukan selama ini adalah untuk dirimu." Sambung Mei menghiba.
"Sekarang tolong cabut tuntunan mu, biarkan Zif bebas dari dakwaan nya, Tante yakin seratus persen, Zif takkan pernah melenyapkan nyawa seseorang. Dia laki-laki yang baik."
Tuuuutt..... Sambungan telepon terputus secara sepihak "Halo, Gerald!" Panggil Mei.
...••••••••••••...
Di seberang telepon sana, ada Shara yang bergeming dengan tatapan nanar nya, baru saja Shara memutuskan panggilan dari mantan mertuanya.
Di tengah kegiatan makeup nya, tak sengaja Shara melihat nama Tante Mei saat melirik pada layar ponsel milik suaminya, sepertinya Gerald lupa membawanya keluar.
"Jadi sekarang Zif menjadi terdakwa?" Gumam Shara pelan. Serapat apa pun Gerald berusaha menutupi, pada akhirnya Shara mengetahuinya pula.
"Ada apa Nyonya Shara?" Hanum yang masih menyapukan kuas makeup padanya bertanya.
"Tidak ada." Jawab Shara dengan senyum getir, kembali ia menatap ke arah cermin, masih dengan tatapan nanar.
"Kenapa masih ada yang Bang Gerald sembunyikan dariku?" Batin Shara merutuki suaminya.
...••••••••••••...
...Bersambung...... Terimakasih partisipasi komentar dan like juga vote nya...... Ada karya selingan ku masih baru....... Yang mau lihat silahkan klik profil ku..........
__ADS_1
*