Dendam Si Cantik "Kembalinya Istri Buruk Rupa"

Dendam Si Cantik "Kembalinya Istri Buruk Rupa"
Romantis


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, Shara membuka pintu balkon kamar dan terang sudah ruangan miliknya, senyuman manis nya menandakan bahwa dirinya telah beranjak dari flu, sepertinya obat dari Garry sangat mujarab.


Tak perduli dengan kekacauan yang dia perbuat semalam. Sebelum tidur dia minum obat dan paginya langsung sembuh.


Hari ini Shara memakai pakaian kasual serba pendek, blouse pendek dan celana mid-length shorts yang membuat kakinya terlihat lebih jenjang.


"Loh, Nona sudah sembuh?" Satu pelayan sedikit terkejut. Baru kemarin wajah Shara tak keruan lalu sekarang cerah sekali.


Di pagi hari, mbak memang selalu datang membereskan setiap kamar padahal sudah beres sebab Shara sendiri yang lebih dulu membereskan sebelum mbak masuk ke dalam kamar nya, itu hanya ritual mbak saja agar terkesan ada pekerjaan.


"Iya Mbak, Shara sudah enakan." Jawab Shara tersenyum.


"Wah, Non Shara sembuh, malah Den Tuan muda Gerald yang sakit. Penyakit memang susah hilangnya, sembuh sama Non, pindahnya ke Den Tuan muda Gerald." Sambung Mbak nya.


Shara mengernyit "Sakit Mbak?" Tanyanya, perasaan tadi malam wajahnya masih ceria, apa lagi setelah bertemu dengan Adelin, apa secepat itu virusnya berpindah pada Gerald.


"Iya, demam, pilek. Kasihan, padahal katanya hari ini ada rapat direksi penting." Sambung Mbak nya.


"Masa sih?" Shara melangkah melewati Mbak, keluar dari kamar dan menuruni anak tangga.


Suasana rumah masih sepi. Sepertinya Garry masih belum beranjak dari kamar, atau mungkin sudah berjalan-jalan di sekitaran taman.


Shara melanjutkan langkah menuju pintu yang tak terkunci, pasti mbak sudah membereskan kamar Gerald terlebih dahulu sebelum datang ke kamar Shara "Abang." Panggilnya seraya masuk.


Terlihat di ranjang Gerald masih bergumul nyaman dengan selimut tebal hitamnya.


"Abang!" Shara duduk di sisi ranjang mengedut selimut yang masih menggulung tubuh abangnya "Bangun!" Titahnya. Dia kedut beberapa kali selimut abangnya.


Gerald berpaling arah membelakangi Shara "Aku sakit! Jangan ganggu aku!" Dia menarik kembali selimutnya, malas. Sesekali bersin dan bergumam dengan nada lengar.


"Bangun, Cantik mau kasih obat!" Ucap Shara memaksa.


"Pergilah, atau kau terkena virus ku lagi! Aku tidak seperti mu yang tega menularkan virus padaku!" Sanggah Gerald.


"Rasakan lah!" Umpat serapah Shara.


Gerald membalikkan badannya menatap tajam wajah Shara "Pergi atau ku pindahkan lagi virus ku padamu!" Ancamnya.


"Cara sembuh itu harus dengan minum obat dan sarapan dulu! Bukan memindahkan virus nya!"


Sempat terjadi gaya tarik menarik selimut dengan Gerald sampai pada akhirnya Shara terjungkal ke belakang saat Gerald melepas selimutnya.


"Abang!" Teriak Shara.


Belum benar-benar menyungsang ke belakang Gerald sudah lebih dulu menarik tangannya hingga terjatuh kedalam pelukannya.


Brugh!

__ADS_1


"Berisik, kalo begitu temani aku tidur!" Ucap Gerald pelan.


Bisa di rasakan embusan napas Shara yang menabrak lehernya, Gerald mendekap erat kepala Shara dan sedikit membuat gadis itu kehilangan akses pernapasan nya "Lepas Abang!" Pekiknya meronta.


"Tanggung jawab, gara-gara kau Shara, Adel marah padaku! Sekarang aku sakit, aku tidak bisa hadir di rapat direksi ku!" Ketus Gerald.


Gerald menggulingkan tubuh Shara hingga masuk ke dalam kungkungan nya, menggesekkan benda tegasnya pada paha mulus gadis itu "Bukan hanya aku. Tapi kau membangunkan junior ku juga!" Pekiknya geram.


"Lepas messum!" Shara meronta merasai ketegangan pagi hari singkong Afrika milik abang tak sedarah nya.


"Tidak akan! Aku membenci mu Shara!" Gerald geram dengan perlakuan sewenang-wenang Shara-nya, menolak cintanya tapi juga mengacaukan perjodohannya. Lalu kapan dia bisa move on?


"Aku lebih membenci mu!" Teriak Shara.


Gerald menggeleng dengan sedikit menekan separuh tubuhnya "Aku yakin aku lebih membenci mu, kau wanita aneh yang labil, kenapa sekarang tidak balikan saja dengan mantan suami mu, pergi dari sini, jangan kacau masa depan ku!" Racau nya.


Shara mengernyit "Jadi Abang mengusir ku?" Pekiknya.


"Yah, pergilah, aku membenci mu!" Kata Gerald berang.


"Aku juga sangat membenci mu, kau bilang menyayangi ku, tapi menerima perjodohan dari Daddy! Dasar playboy!" Sarkas Shara.


"Apa kau bilang?" Saking geramnya Gerald menaikan semua tubuhnya, dan Shara meringis menahan beban beratnya "Tidak malu kah kau mengucapkan itu hmm? Kau sendiri yang menolak ku, lalu setelah aku menerima perjodohan kau mengacaukan nya!" Teriaknya.


"Siapa yang menolak mu hah!" Sangkal Shara.


"Aku tidak pernah menolak mu! Kau saja yang menghindari ku! Aku yakin kau hanya bermain-main dengan ku! Buktinya setelah aku bercerai kau tak lagi mengatakan apa pun padaku!" Tuding Shara berteriak sekeras-kerasnya.


"Selalu saja meragukan ku! Itu lah dirimu Shara! Sekarang pergilah! Aku membenci mu, kembali pada mantan suami mu, bebaskan mertua mu dari hukuman!" Titah Gerald menyindir.


Napas Shara tersengal-sengal menahan beban tubuh bidang Gerald yang terus menindih dirinya, titah Gerald menyuruhnya pergi tapi terus mengungkung dirinya.


"Cih! Aku lebih baik menjanda seumur hidup dari pada menjadi menantu Hardika lagi!" Sarkas Shara.


"Lalu apa tujuan mu menemui Zif di kantor nya hah? Munafik!" Tuduh Gerald.


"Aku sudah jelas, aku pergi ke sana mengambil kalung ku, mengambil barang-barang ku yang masih di simpan Zif. Sedang kamu, apa? Kamu menerima perjodohan sementara dulu pernah mengatakan ingin menua bersama ku, kau pecundang!" Pekik Shara sarkas.


"Aaaaaa!"


Setelah berteriak bersamaan keduanya lemas di bantal masing-masing dengan deru napas kacau tentunya "Aku lelah, istirahat dulu ribut nya!" Ucap Gerald mengusul.


"Hmm!" Sahut Shara. Remuk redam raganya di tindih tubuh sebidang Gerald "Aku sakit-sakit!" Keluh nya sembari mengatur napas.


Tak lama kemudian.


Gerald menoleh pada Shara yang juga beralih pandang ke arahnya, setelah masing-masing saling melontarkan kalimat kekecewaannya keduanya cukup tenang.

__ADS_1


"Kau masih mencintainya kan?" Gerald menatap lekat wajah Shara dari tempatnya.


"Siapa?"


"Zif!"


"Tidak!" Shara menggeleng.


"Lalu, kenapa kau terus menangisi perceraian mu! Kau pasti masih mencintainya!" Tukas Gerald.


Shara meredupkan tatapan, jadi itu sebab kenapa Gerald acuh padanya, karena selama ini dia asyik menangisi perceraiannya bersama Zif.


"Dengar Abang! Wanita punya air mata untuk menghapus lukanya, dengan menangis aku bisa lebih percaya diri lagi menyongsong masa depan ku yang baru akan aku mulai." Lirih Shara menjelaskan.


"Lalu apa perasaan mu padaku? Kenapa kau mengacaukan perjodohan ku?" Gerald menyela ucapan Shara, tatapannya menajam sekarang.


"Apa harus di katakan?" Timpal Shara.


"Tentu saja! Aku sudah mengatakan aku mencintaimu, tapi kau belum, atau mungkin tidak sama sekali!" Tuduh Gerald lagi dan lagi.


Shara mengernyit "Kapan kau mengatakan aku mencintai mu? Apa seperti itu cara Abang mengungkapkan perasaan hah?" Berang nya "Tidak romantis!" Sisi batinnya.


"Lalu bagaimana lagi?"


"Setidaknya ada kejutan untuk ku! Kau senang bermain-main dengan perempuan tapi tidak tahu bahasa keromantisan!" Tukas Shara.


"Jadi kau mau yang romantis?" Gerald menggigit bibir bawahnya, memandangi seluruh tubuh Shara yang terlihat menggoda.


"Apa yang kau lihat?" Shara menyilang tangan, menutup bagian dadanya.


"Kita lakukan saja sekarang, kita romantis romantisan baru setelah itu menikah!" Gerald menindih tubuh Shara menggesekkan benda keramat nya pada paha gadis itu.


Takkk....


Shara menghempas dekapan hangat pemuda itu dengan memukulkan vas bunga kayu dari lemari nakas. Mendorong tubuh Gerald hingga terlentang.


"Sakit Shara!" Memegangi kepalanya, Gerald melotot protes.


"Kau tahu Abang! Romantis dan erotis itu berbeda! Dasar otak messum! Tahu nya cuma itu saja!" Gerutu Shara.


_


Bersambung.....


_


_

__ADS_1


__ADS_2