
Shara menoleh saat pintu kamar miliknya terbuka, dua orang pelayan memasuki ruangan, membawakan hidangan makanan kesukaannya.
"Permisi Nyonya, Tuan muda menyuruh." Belum lagi selesai ucapan pelayan itu Shara sudah lebih dulu menimpali "Letakan saja!" Titahnya.
"Baik Nyonya." Perempuan itu mengangguk, berjalan sedikit gugup meletakkan penampang pada meja nakas, sementara Shara beranjak dari tempatnya, mengincar pintu yang terbuka.
Satu pelayan mengingatkan "Nyonya."
"Jangan ikut campur, biarkan aku keluar! Aku harus menemui suami ku." Shara melirik sinis perempuan itu.
"Baik Nyonya." Pelayan itu menunduk.
Shara melanjutkan langkah keluar dari kamar, menuruni anak tangga, terlihat di lantai bawah penjaga tersebar di segala penjuru arah. Sepertinya Zif tahu siapa lawannya, maka Zif lebih memperkuat pertahanan tim nya.
Zif dan Hans sibuk dengan persiapan penerbangan kilatnya, mengurus paspor dan lain sebagainya untuk segera mendapatkan jet pribadi.
Masih ada Indar yang di ikat kaki tangannya.
Shara tak habis pikir, Zif yang dia kenal tega melakukan hal sekejam itu pada wanita yang tengah mengandung anaknya.
"Zif!"
Zif menoleh pada Shara, kening mengerut namun masih tak mampu berkata ketus "Sayang, aku suruh kamu makan dulu. Kenapa turun hmm?" Tanyanya.
"Kamu tega melakukan ini pada istri hamil mu?" Shara mendekati Indar, berniat melepas tali kecil yang membelenggu tangan wanita hamil itu.
Namun, belum apa-apa istri kedua suaminya sudah lebih dulu mendorong tubuhnya "Tidak usah mengasihani ku, plastik!" Sarkas nya berang.
Shara terkesiap, menatap nyalang wanita perusak rumah tangganya, masih bagus di kasihani "Plastik katamu?" Ekspresi wajah Shara berubah, dari yang tadinya iba menjadi murka.
"Kau tahu benar, bagaimana wajah ku sebelum kau buat cacat Indar! Aku sudah cantik dari lahir, kalo kau tak mengakuinya, kau takkan pernah merusak wajah ku." Tambahnya.
Kali ini Zif membiarkan Shara melampiaskan kemarahannya, semua orang juga terdiam menatap kearahnya.
Indar terkikik iblis "Ingat Shara. Kau tidak lebih dari sampah yang di buang suami mu Shara, Zif meniduri ku, tiga bulan setelah kau raib dari peredaran." Tawanya meremehkan.
Byur!
Shara menyiramkan air minum yang entah milik siapa pada wajah perempuan congkak itu "Aku ingat kan sekali lagi Indar. Berhenti membuat ku marah atau aku akan benar-benar menyakiti mu!" Ancam nya.
__ADS_1
"Apa Nyonya membutuhkan ini?" Hans menawarkan satu botol kaca. Shara tahu botol itu berisi air keras.
Shara tersenyum mencibir "Aku tidak memerlukan itu, dia sudah buruk hatinya, apa kabarnya kalo sampai di tambah dengan buruk rupanya? Tidak akan ada yang pernah sudi menolongnya." Ujarnya.
Indar terkikik "Jadi kau merasa beruntung karena di tolong seorang pangeran dari kerajaan Jack group begitu?" Cibirnya. Tapi Indar mengakui, setelah menelaah kembali Shara memang sangat beruntung.
"Dia menolong mu, hanya karena kasihan padamu, jika sekarang dia menyukai mu, itu karena wajah plastik mu."
PLAK!
Shara menampar keras pipi wanita itu, tak terima dengan ucapan busuknya "Aku di lahirkan yatim piatu. Tapi semua orang yang dekat dengan ku, pasti menyukai ku. Tidak seperti mu, yang meskipun anak orang kaya harus rela menghalalkan segala cara untuk mendapatkan perhatian. Miris!" Olok nya.
Dia tunjuk lurus wajah Indar. Emosi menguasai diri, tapi perikemanusiaan Shara masih menyelimuti, takkan tega ia melukai wanita yang sedang mengandung nyawa baru, kendatipun janin itu ada kerena perbuatan dosa yang menyakiti hati nya.
"Jangan pernah meragukan ketulusan keluarga ku, mereka tidak berhati iblis seperti mu, Indar!" Tambahnya.
Shara melirik suaminya yang masih nanar menatap wajahnya, Zif tahu benar Shara menyindir dirinya, apa pun alasan Gerald menyukai Shara saat ini, Zif masih kalah satu langkah, setidaknya Gerald mau menolong istrinya saat masih buruk rupa.
"Antar aku pulang!" Mendengar itu Zif melangkah cepat dan meringkus tubuh Shara "Kita pulang, tapi ke rumah lain." Katanya.
"Zif!" Shara meronta dalam gendongan suaminya, semua orang menatap keduanya termasuk Indar yang menangisi perlakuan dominasi Zif pada Shara.
Zif meletakkan Shara di atas ranjang miliknya bersamaan dengan itu Shara beranjak mengejar pintu kembali.
Namun tak berhasil, Zif dengan cepat meraihnya dari belakang "Jangan memaksa ku berbuat kasar Yank!" Pekiknya.
BRAK
Zif menendang pintu hingga terkunci otomatis, meringkus Shara kembali dan menghempas nya pada ranjang "Zif!"
...••••••••••••...
Tepatnya pukul lima Gerald dan Jho telah sampai di alamat yang Juhie kirimkan lewat chat, keduanya bersiaga mengamati rumah besar yang di jaga puluhan bodyguard.
"Sial! Rupanya si gila sudah mempersiapkan peperangan dengan ku!" Umpat Gerald yang tak pernah mau menyebutkan nama Zif "Gimana cara kita masuk?"
"Sabar, kita tunggu yang lain datang!" Kata Jho.
Gerald terkatung menunggu antek-anteknya datang memberikan bala bantuan, lokasinya sangat jauh, tentu saja mereka telat datang.
__ADS_1
"Kalian lambat sekali, siput!" Pada akhirnya Gerald menyuarakan teriakan pada jaringan sistemnya.
"Kami sudah sedikit lagi sampai Tuan muda." Ada jawaban dari beberapa orang di seberang sana.
Gerald beralih pada Jho yang saat ini tengah menyelipkan pisau dan pistol kedalam sarung sabuk senjatanya. Berurusan dengan penguasa sekelas Zif Prabaswara harus siap dengan segala sesuatu nya.
"Apa setelah mereka sampai, kita akan berperang secara langsung? Apa tidak terlalu berbahaya?" Gerald masih saja memikirkan nasib antek-antek Zif yang mungkin memiliki anak istri.
"Cukup melumpuhkan lawan yang menghalangi jalan saja, tidak perlu membunuh, biasanya orang reflek angkat tangan saat kita menodongkan senjata. Dari lokasinya, sepertinya Nona muda di sandera di lantai atas. Kita perlu tahu letak kamarnya dulu baru setelah itu, kita akan lebih mudah mencarinya" Terang Jho.
"Hmm!" Gerald setuju.
Gerald turun dari mobilnya menanti beberapa pasukan terlatih Jack group yang segera datang.
Bersamaan dengan itu, angin tiba-tiba berembus kencang, Gerald menoleh pada suara bising yang terdengar dari arah kanan "Woy, Tuan muda tampan!" Satu orang memanggilnya dari atas sana.
"Bajingan tengik ini!" Gerald terkekeh melihat teman seper-kenalan nya duduk di atas jok helikopter sembari melambaikan tangan padanya. Siapa lagi jika bukan Margens the king of mafia.
"Bangsat, aku yang anak bangsawan saja tidak memiliki akses bebas mengendarai helikopter." Rutuk Gerald.
Gerald berjalan ke belakang mobilnya. Dia tegakkan berdirinya menyambut kedatangan Margens yang mendarat kan pesawatnya.
Berkacamata hitam Margens melompat turun lalu berjalan menemui Gerald "Kau butuh aku kawan!" Katanya berteriak, bising baling-baling helikopter masih membungkam suara dan menyibak rambut mereka.
"Bagus Tuan, lebih mudah lagi jika kita mencari tahu keberadaan Nona muda dengan helikopter saja!" Jho berlari menimpali teriakan Margens.
"Tidak perlu repot-repot, aku bisa menembus rumah itu dengan pasukan ku!" Tolak Gerald.
"Ini pilihan mu, jangan salahkan aku menyakiti mu!" Sedari tadi tak terdengar apa pun lalu tiba-tiba ada suara Zif dari earphone di telinga Gerald.
"Cantik!" Gerald membulatkan mata menekan lebih dalam lagi earphone miliknya mencoba mendengarkan suara Shara dengan seksama.
"Jangan Zif. Jangan!"
...Bersambung...
.
.
__ADS_1