
Ini hari ke tujuh Gerald dan Shara berada di atas kapal pesiar mewah nya, beberapa jam lagi gawai besar itu menyandar pada dermaga.
Setelah perjalanan romantis nan erotis. Tibalah mereka di belahan Eropa yang terkenal dengan destinasi wisata nya.
Di buai angin laut sepoi-sepoi Gerald memandangi wajah Shara yang masih memejamkan mata setelah semalaman dia hujam dengan pergulatan ranjang panasnya.
Saking keseringannya mereka melakukan di sembarang tempat. Keduanya sampai tak sengaja tertidur di geladak kapal.
Untungnya, Gerald sengaja menyisakan tempat kosong di beberapa bagian dalam kapal untuk menjajagi pose kreatif saat bercinta. Gairah masih menggebu-gebu, maklum masih baru.
Gerald menyapu pipi mulus isterinya, menerbitkan senyum manis yang terlihat sangat tampan "Sayang." Bisiknya.
Shara membuka mata setelah beberapa kali mengerjap "Hmm?" Kecupan lembut mereka adu membuai erotisme nya.
"Sebentar lagi sampai. Kita langsung jalan-jalan yah, aku tunjukkan apartemen punya Mammi Daddy di negara ini." Ucap Gerald dan Shara mengangguk.
"Mandi gih." Titah Gerald. Shara beranjak dari posisinya, membetulkan selimut tebal yang menggulung tubuhnya.
Shara membantunya dengan menggendong secara tiba-tiba, dan Shara hanya tersenyum mengalungkan tangan pada leher Gerald.
...••••••••••••...
Malam harinya. Tepatnya di jam delapan. Kapal telah menyandar, Gerald dan keluarga membawa Shara menuju apartemen peninggalan ibu Gerald.
Kelap-kelip lampu perkotaan mulai menyambut kedatangan Shara yang baru pertama kalinya menyambangi negara lain.
Pernah ada cita-cita keliling dunia bersama dengan Zif, tapi itu hanya mimpi belaka, sebelum terjadi semua berubah menjadi petaka.
Di atas jok mobil limousine, Shara tersenyum menikmati waktu baru bersama suaminya, genggaman tangan Gerald tak pernah lepas, kecupan lembut pun selalu mendarat di pucuk kepalanya. Gerald memperlakukan Shara bak ratu sejagad.
Drreettt....
Getar ponsel milik Jho yang duduk di sebelah kanan sang sopir meminta perhatian, ia meraih alat telekomunikasinya dari saku jaket tebalnya, maklum di Amsterdam sudah memasuki musim dingin.
"Hmm?" Sahut Jho.
__ADS_1
"Iya Damar, aku langsung pulang setelah ini, kamu tunggu saja di apartemen ku." Tambah Jho kemudian menutup teleponnya dan melanjutkan komunikasi dengan Damar melalui pasan teks.
Jho pribadi yang genius dan baik, Damar sudah seperti keluarganya, sebenarnya beruntung sekali jika ada yang menjadi istri lelaki tampan itu, sayangnya sampai melebihi usia kepala tiga Jho masih belum memiliki gandengan.
Shara tahu kenapa Jho tak ingin mengatakan panjang lebar di depannya karena Gerald yang melarangnya.
Bukan perduli, sebagai seseorang yang pernah menyayangi dirinya, sudah pasti Shara memiliki rasa penasaran terhadap perkembangan kasus yang menimpa Zif Prabaswara.
"Bang Jho mau pulang? Sekalian tambah tiket untuk ku dan istriku, kita juga mau menghadiri sidang pembuktian Zif." Gerald menyeletuk membuat Shara dan Jho menoleh heran padanya.
"Pulang? Ke Indonesia?" Shara dan Jho menyahut bersamaan.
"Yah, setelah kita lihat apartemen Mammi Daddy, kita langsung terbang ke Indonesia, Abang mau urusan di sana selesai dulu baru kita kembali ke sini melanjutkan bulan madu." Kata Gerald.
"Abang serius?" Shara seperti tidak percaya Gerald mengatakan hal itu.
Gerald mengangguk "Emmh, sangat serius, Abang tahu Baby mengkhawatirkan Zif karena Baby yakin mantan suami mu tidak akan berani berbuat sejauh ini. Abang juga sependapat dengan mu, meskipun dia saingan Abang, tapi tetap saja, Abang mau Zif bebas dari hukuman penjara yang tidak seharusnya dia dapatkan. Abang mau memulai hidup baru bersama mu tanpa bayang bayang masa lalu, bahagia tanpa membuat orang lain tersiksa." Ujarnya.
"Terimakasih Abang." Shara menjatuhkan wajah pada leher suaminya, terharu dengan sikap dewasa Gerald-nya "Terimakasih sudah mau mengerti aku. Aku wanita paling beruntung yang mendapat suami seperti mu." Ucapnya.
Tiba di depan apartemen mobil panjang itu berhenti dan satu pria membukanya dengan sigap.
Sapaan hangat nan khidmat tercurah pada Gerald dan istrinya, sepasang sejoli itu berjalan beriringan memasuki lobby setelah keluar dari mobil.
...••••••••••••...
Di Indonesia, tiga hari sebelum nahkoda menyandarkan kapal pesiar sewaan Gerald.
📩 "Aku dan Shara akan hadir di persidangan, semoga bukti CCTV yang menjerat Zif bisa di patahkan oleh pembuktian lain."
Mei tersenyum bahagia membaca pesan teks dari Gerald "Terimakasih Tuhan. Semoga tim Gerald bisa mematahkan dugaan dugaan kepolisian." Gumamnya dalam harap.
Kembali Mei memasuki kamar milik Zif, hari ini Zif tak ke kantor, seluruh pekerjaan sudah di ambil alih oleh Karla 'Kakak perempuan' yang sudah menikah dan memiliki dua anak di New York.
Sebenarnya Karla sendiri malas mengurus perusahaan, dia lebih tertarik di bidang seni musik, tapi karena darurat, mau tak mau Karla harus pulang ke Indonesia, menggantikan tugas adik semata wayangnya sampai masa yang tidak bisa di tentukan.
__ADS_1
Wanita cantik berusia 35 tahun itu menatap nyalang adiknya "Kau tahu Zif. Semua ini terjadi karena kau dan sifat lemah mu! Sudah ku bilang bukan? Jangan lemah, jangan lemah Zif! Kau ini laki-laki, tidak seharusnya terus bersembunyi di balik ketiak ibu mu! Lihatlah, begitu kau menikah mental mu terganggu! Hanya karena istrimu yang berubah buruk rupa!"
Zif hanya menunduk mendengar rutukan kakak kandungnya
"Sekarang apa? Kau harus memiliki anak dari wanita ular seperti Indar? Mau jadi apa nanti keponakan ku Zif? Kenapa tidak cukup Papah saja yang membuat ku muak dengan para wanita ularnya!" Timpal Karla berang.
"Sudah Karla, adikmu masih depresi, kau hanya menambah nya semakin depresi!" Mei menengahi ocehan Karla.
"Kapan kau berhubungan dengan Indar? Kau yakin anak Indar itu anak mu?" Karla tak mengindahkan ibu tirinya, dia justru menuding kan jari telunjuk nya pada wajah tampan adiknya.
Zif menatapnya "Maksud mu?"
"Aku tidak yakin Indar hamil anak mu, kau ingat tidak kapan kau menidurinya?" Cecar Karla.
Zif menatap kosong namun pikirannya berkelana mencari jawaban dari pertanyaan kakaknya "Setahu ku, Zif terbangun dan Indar sudah berada di samping ku. Aku hanya ingat, aku meracau kan nama Shara saat, ...."
Ucapan Zif terhenti ketika ia mengingat kejanggalan yang terjadi kala itu, seingatnya malam itu Zif berada satu kamar dengan Indar lalu di berikan minuman yang membuat dirinya tidak sadarkan diri sampai pagi.
Namun dalam ingatannya nama Shara yang selalu dia racau kan saat bersama wanita itu, tapi untuk memastikan dia benar-benar meniduri Indar sepertinya Zif masih butuh pembuktian lagi.
Zif sering berhalusinasi, maka sulit untuk membedakan apakah dia benar-benar berhalusinasi atau sedang dalam keadaan nyata.
"Kau lemah Zif! Kau berhasil diperdaya wanita ular tapi kau tak menyadarinya! Benar-benar luar biasa!" Karla bertepuk tangan dengan menyingsing senyum cibiran pada adiknya.
"Kau perlu tes DNA sebelum memasukkan bocah itu ke dalam kartu keluarga mu!" Setelah mengucapkan itu Karla pergi meninggalkan adik dan ibu tirinya.
Dia geram dengan semua tingkah Zif yang tak pernah sesuai keinginan nya, selalu saja menjadi laki-laki lemah tak berpendirian, selain dari mengurus kantor, Zif tak pandai mengatasi dirinya sendiri.
Mei mengelus lembut puncak kepala Zif yang masih bergeming dengan pergulatan batinnya.
"Kakak mu benar Zif, sebenarnya Mamah sendiri belum yakin Indar bisa secepat itu hamil anak mu. Satu kali melakukan dalam keadaan tidak sadar, apa iya bisa langsung jadi, menurut Mamah itu terlalu buru-buru Zif." Kata Mei dan untuk kesekian bulan Zif baru meragukan kehamilan Indar, itupun setelah Karla yang mencetuskan teori.
...••••••••••••...
Bersambung....
__ADS_1