
Tepatnya di sisi anak tangga Gerald menurunkan tubuh Shara yang kini menatapnya protes "Turunlah, kenapa hari ini berat sekali. Di kasih makan apa sama suami mu hmm? Perasaan kemarin masih ringan!" Gerutu nya.
"Aku bahkan belum makan apa pun!" Shara merengut. Wanita memang paling sensitif terhadap kata ejekan seperti gemuk dan lain sebagainya.
Gerald memutar bola mata "Sudahlah. Tidak ada waktu manja-manja begitu, kita cepat turun dari sini." Gerald menarik pergelangan tangan Shara, keduanya berlari menuruni anak tangga.
Rupanya Jho sudah menunggu di lantai bawah dengan beberapa antek-antek handalnya "Kita pulang!" Ajaknya.
Gerald mengangguk, mengikuti langkah Jho yang bersiaga penuh dengan pistolnya, mereka kembali menuruni anak tangga kedua, tiba di lantai dasar ketiganya keluar dari bangunan. Berlari menuju mobilnya.
"Kita harus cepat sebelum Zif mendapat bantuan dari tim ayah nya!" Kata Jho.
Gerald membuka pintu mobil, mempersilahkan Shara masuk lebih dulu sebelum kemudian dirinya ikut duduk di sebelah gadis itu.
Sementara Jho mengambil alih kemudi. Segera, Jho menyalakan mesin dan melajukan mobilnya.
Napas ketiganya masih berderu, namun sudah sedikit lebih lega, akhirnya mereka mampu keluar dari rumah besar yang di jaga puluhan manusia kekar.
Shara menoleh pada Gerald, ia menyentuh kening abangnya yang tergores debu kristal pecahan kaca "Abang berdarah." Ucapnya perduli.
"Tidak apa. Menjauh lah!" Gerald meraih tisu dari atap mobil kemudian mengelapnya sendiri. Gerald juga melepas jaket jeans miliknya. Banyak sekali pecahan kaca yang tersangkut di serat kainnya, Gerald tak ingin membuat kulit Shara terkena beling halus itu.
"Pasukan sudah mundur!" Satu laporan terdengar di telinga "Syukurlah." Ucap Jho dan Gerald bersamaan. Kali ini mereka sangat lega.
Margens dan yang lainnya telah meninggalkan tempat Zif. Beruntung, tidak ada yang terluka parah karena kekacauan ini.
Mobil Jho melaju cepat, mulai memasuki jalan raya. Pemandangan pun mulai beralih dari yang pepohonan menjadi kelap-kelip lampu perkotaan. Tak terasa malam telah menyambut mereka.
Kruyuk!
Di tengah keheningan Gerald menoleh pada Shara "Kamu serius belum makan hah?" Tanyanya ketus.
Shara menggeleng "Belum, Cantik cuma sarapan roti tawar sama selai kacang pagi tadi sama Daddy." Jelasnya.
"Kenapa tidak makan, lemot? Aku yakin suami mu tidak akan meracuni mu! Besok-besok kalo sampe di culik lagi, jangan berlagak mogok makan, PAHAM!" Bentak Gerald menekan kata terakhir dalam kalimatnya.
__ADS_1
Shara mengernyit "Abang kok doain Cantik di culik lagi? Abang suka Cantik di culik?" Tukasnya.
"Bukan doain, tapi prediksi, kalo kamu lemah seperti ini, pasti besok-besok Zif gila mu itu akan berhasil menculik mu lagi, mengerti! Entah apa yang akan Zif lakukan padamu setelah itu, astaga!" Sela Gerald.
Gerald menjadi berang melihat banyak tanda kepemilikan di area leher, dagu, dan tulang selangka gadis itu. Cemburu lagi-lagi menguasai dirinya.
"Aku sudah kuat, aku tidak lemah lagi! Mereka saja yang terlalu licik! Memperdaya ku dengan bius!" Sanggah Shara tak terima.
"Oya? Mana ada wanita kuat merepotkan begini?" Tampik Gerald mencibir.
Shara menautkan alisnya "Oh, jadi Abang merasa kerepotan menolong ku? Lalu kenapa juga harus menolong ku hah? Aku juga tidak butuh pertolongan mu!" Pekiknya.
"What?" Gerald ternganga "Tidak butuh pertolongan? Lalu apa tujuan mu, merengek, 'Abang aku mau pulang, Abang tolong aku!' Apa tujuan mu mengatakan itu hah?" Tanyanya dengan nada menyebalkan.
"Dih! Siapa yang mengatakan itu?" Sanggah Shara polos.
"Ini!" Gerald mencekal tangan mulus adiknya, menunjukkan cincin yang masih melingkar di jemari manis Shara.
"Abang bisa dengar rengekan kamu dari sini! Di balik kemilau cincin berlian ini, ada penyadap di dalamnya. Tentu saja Abang bisa mendengar semua ucapan mu! Kau pikir dari mana Abang tahu keberadaan mu kalo bukan dari penyadap ini hah?" Terangnya berang.
"Tentu saja! Memangnya untuk apa lagi?" Jawab Gerald ketus.
Mengusung bibir yang di kerut Shara melepas cincin pemberian Gerald "Aku balikin saja kalo begitu! Ambil ini! Aku risih di awasi!" Gadis itu memalingkan wajah setelah melemparkan benda mahalnya pada Gerald.
Entah lah, tiba-tiba kecewa menyeruak ke dalam dada, pagi tadi dia sempat berpikir cincin itu tanda cinta Gerald padanya.
Rupanya benar kata Indar, tidak ada orang yang akan mencintai nya. Gerald menolong hanya karena iba padanya. Hanya karena dia anak yatim-piatu.
Tidak mungkin seorang pangeran tampan, kaya raya, pecinta seribu wanita menyukai kecantikan yang berasal dari plastik, di luar sana banyak gadis perawan berjejer menunggu Tuan pewaris itu bukan?
"Kenapa aku harus kecewa, apa urusannya?" Batin Shara, merasa bodoh.
Gerald mendengus sembari menyimpan kembali cincin berlian milik Shara "Kita cari restoran, biar Cantik makan dulu?" Titahnya pada Jho.
Cantik menyela "Tidak perlu Bang Jho, Cantik bisa makan di rumah! Daddy pasti sudah sangat mengkhawatir kan aku!" Ujarnya.
__ADS_1
"Rumah Daddy masih jauh!" Sergah Gerald yang lagi-lagi ketus.
"Aku masih kuat!" Potong Shara yang tak kalah ketus bahkan tanpa menoleh.
Gerald memutar bola mata "Ya Tuhan, anak ini! Keras kepala!" Ia memalingkan wajah ke arah jendela, gerah rasanya melihat cap-cap gigitan Zif yang terlukis di mana-mana. Bahkan di paha dan betis pun ada.
Tak ada percakapan setelah itu, Shara dan Gerald enggan memulai obrolan, keduanya sama-sama jengkel dengan perasaan dan pemikirannya masing-masing.
Sedari tadi Jho hanya menyimak percekcokan mereka, sebagai laki-laki berperasaan peka, berotak encer, memiliki intellegence quotient di atas 140, Jho tahu apa yang Shara jengkel kan, dan apa yang membuat Gerald naik pitam.
Jho lebih memilih diam, membiarkan Gerald dan Shara mendinginkan suasana hati masing-masing.
Tibalah mereka di rumah utama dokter Garry, Shara segera turun dan berlari memeluk sosok ayah yang dia rindukan "Daddy!"
Gerald dan Jho menyusul turun, menatap ringan anak dan ayah angkat itu.
"Syukurlah, kamu baik-baik saja. Daddy khawatir." Garry melerai pelukannya "Kamu pasti belum makan?" Se_peka itulah naluri seorang ayah pada putrinya padahal hanya anak angkat.
Shara mengangguk "Iya, Cantik lapar. Terimakasih, Daddy sudah mengkhawatirkan Cantik." Ucapnya sendu. Shara terharu memiliki keluarga baru seperti Garry.
"Kamu ganti baju, mandi, Daddy suruh mbak buatkan makan untuk mu." Ucap Garry, merangkul putrinya.
Gerald mengerutkan kening, protes dengan perlakuan tak adil Shara "Lihatlah anak lemah itu, dia bahkan berterima kasih dan memeluk Daddy yang mengkhawatirkan nya! Tapi padaku yang mempertaruhkan nyawa, dia cuma bisa berkata ketus saja!" Rutuk nya.
Jho menepuk pundak Gerald "Bukan tidak berterima kasih, tapi belum." Tuturnya.
"Aku tahu Tuan muda cemburu, tapi saran ku, kurangi membentak Nona Shara, wanita paling tidak menyukai kata-kata ketus, apa lagi kasar." Tambah Jho dan Gerald diam menelaah setiap kata lelaki itu.
"Contoh lah Tuan Dokter, yang selalu berlaku lembut pada almarhumah istrinya, itu yang membuat wanita nyaman bersamanya, termasuk Nona Shara. Lihatlah, Nona Shara tak sungkan mengucapkan terimakasih atau pun maaf pada Tuan Dokter bukan?" Timpalnya.
Gerald menatap punggung Shara yang kini berjalan beriringan dengan ayahnya memasuki rumah utama "Bukan kah dia juga selalu ketus padaku?" Gumamnya.
...Bersambung..... Semoga bisa lanjut sahur nanti yah.... Terimakasih partisipasi komentar nya.... Oya yang mau ikut gabung Grup chat Ku boleh yah.... Siapa tahu menjelang lebaran akan ada give away ala-ala gitu kan.... Sekalian kita silaturahmi.... Kebetulan akun baru GC baru.......
.
__ADS_1
.