Dendam Si Cantik "Kembalinya Istri Buruk Rupa"

Dendam Si Cantik "Kembalinya Istri Buruk Rupa"
Hilangkan waras


__ADS_3



Tak henti Garry beserta keluarganya berucap syukur kehadirat illahi Rabbi, sudah sedari tahun-tahun yang lalu pemuda itu di minta menikah dan jawabannya selalu belum siap, tapi bersama Shara dia luluh lantak.


Suasana meriah dari pesta pernikahan Gerald Van Houten dan Shara cukup elegan, tamu undangan bergerombol sesuai dengan lingkaran pertemanan nya masing-masing sambil menikmati jamuan, juga suasana romantis.


Untuk supaya tidak menimbulkan keramaian yang membludak, undangan di bagi menjadi beberapa hari, sesuai tema dan kelas tamunya masing-masing.


Setelah keluar dari acara para tamu juga bisa memasuki bar, karaoke, kolam renang, tempat permainan seperti biliar dan lain sebagainya. Tamu juga harus bergantian masuk, sebab aula pernikahan memiliki kapasitas terbatas.


Semua tamu laki-laki dan perempuan memuji-muji kecantikan mempelai wanita, tak lupa pula para gadis menyerukan kalimat kagum teruntuk pengantin prianya.


Acara hari ini di mulai dari pukul lima sore. Gerald sempat di buat pangling dengan wajah cantik istrinya, kalo kata orang Jawa riasan pengantin Shara mangliingi.


Meskipun masih merasakan sakit di bagian intinya Shara mampu mengembangkan senyum manis kepada para tamunya.


Tepatnya di pukul sepuluh malam, Gerald membawa istrinya kembali masuk ke dalam kamar pengantin.


Gerald memasuki kamar mandi untuk kemudian membersihkan diri sementara Hanum dan Shandra membantu Shara melepas gaun pengantin juga merapikan bekas makeup di meja rias.


Shara meraih handuk kimono putih yang lalu dia pakai, rambut telah di gerai indah, namun riasan elegan ala pengantin nya belum terhapus.


"Ya sudah, kami keluar, kamu gak papa kan kami tinggal?" Shandra bertanya pada Shara.


"Iya gak papa kok." Jawab Shara.


"Semoga berhasil malam pertamanya!" Bisik Shandra tersenyum.


"Apaan sih!" Shara menggeleng menatap punggung Hanum dan Shandra keluar dari kamar miliknya. Ia lantas berjalan menuju kamar mandi, menunggu keluarnya sang suami.


Ceklek.....


Pintu kamar mandi terbuka. Gerald tersenyum menatap istrinya "Sayang." Dia raih pinggang Shara lalu menundukkan wajahnya memagut lembut bibir Shara hingga sebagian listrik bold Shara berpindah padanya.


Shara terdiam tak memberi perdamaian.


"Baby marah padaku? Dari siang Baby belum mau ngobrol dengan ku, maaf soal siang tadi, Abang janji gak kan minta dulu sebelum luka lecetnya sembuh." Gerald pikir Shara marah padanya karena insiden penjebolan gawang.


Shara masih terdiam tak merespon sedikit pun "Sayang, kita sudah menikah bukan? Kenapa masih ada tembok ngambek di antara kita?" Protesnya.


Shara giliran menatap protes suaminya "Bukan hanya itu, tapi rahasia juga masih ada di antara kita. Tidak sadarkah Abang?" Tukasnya.


"Hah?" Gerald terperangah mendengar cetusan kata istrinya "Rahasia?" Tanyanya bingung.


"Yah, rahasia, ini sangat tidak adil, apa pun yang terjadi dalam hidup ku sudah Abang ketahui, demi membuat mu tak merasa cemburu aku blokir semua kontak Zif. Tapi kamu? Masih menyimpan nomor mantan-mantan kekasih mu, bahkan rahasia tentang Zif juga kau sembunyikan dariku!" Tuding Shara panjang lebar.


Sedari siang ingin sekali merutuki suaminya malam ini baru memiliki kesempatan untuk itu.


"Rahasia apa?" Tanya Gerald berkerut kening.


"Tidak apa, mungkin hanya perasaan ku saja." Mengusung raut datar Shara melangkah kan kakinya melewati tubuh tinggi suaminya.


Gerald tahu ranah pembicaraan ini sudah mencapai ke titik mana "Oke, Abang minta maaf." Dia tarik tangan mulus wanita itu agar kembali menghadap padanya.


"Maaf, maaf, maaf. Abang memang belum menghapus satupun nomor teman lama ku. Tapi bukan berarti Abang sering menghubungi mereka." Sanggah Gerald.


"Semua butuh di bicarakan bukan? Kita baru menikah, kesalahpahaman seperti ini mungkin wajar, karena kita sedang mencari letak cocoknya kita." Tambahnya.


"Tolong kasih tahu Abang, rahasia apa yang Baby maksud?" Cecarnya.


"Abang pura-pura tidak tahu? Zif menjadi terdakwa kan? Dan Abang menutupi nya dariku?" Tukas Shara kecewa.


Pandangan Gerald berubah nanar, jadi karena itu Shara marah padanya, tidak masuk akal.


"Iya, Abang memang serakah, Abang mau Baby tidak memikirkan Zif lagi. Karena kau milik Abang, haram bagimu mencemaskan laki-laki lain, salahnya Abang di mana?" Tanyanya berang.

__ADS_1


Shara terdiam, jika di pikir lagi untuk apa dia tahu menahu tentang keadaan Zif yang dulu pernah menyakiti bahkan membuatnya frustasi. Tentu saja Gerald pantas cemburu padanya.


Panas hati Gerald saat ini. Dia langkah kan kakinya menuju meja rias, mengambil ponsel yang belum dia sentuh dari siang tadi, dia tahu, gawai ini lah alasan Shara marah padanya.


Gerald menoleh pada Shara yang hampir saja memasuki kamar mandi "Abang blokir semua nomor yang membuat mu marah padaku, kau tahu Baby, ini tidak sulit bagiku, tapi kau, sepertinya masih sulit melupakan kenangan mu bersama Zif." Ujarnya.


Gerald melangkah keluar dari kamar, menutup pintu sekeras-kerasnya, kembali menuruni anak tangga, entah kenapa hawa panas masih saja menyelubungi hatinya, bahkan setelah menikah kecemburuannya masih tak mau hilang.



Gerald masuk ke dalam bar khusus yang terletak di lantai bawah, mungkin segelas wine bisa meredam emosinya.


Di dalam sudah ada Margens dan Jho tengah asyik dengan minumannya masing-masing.


Gerald menjatuhkan duduk di sisi Margens masih dengan semburat kecemburuan, dia cekal gelas koktail milik Margens.


Namun, baru ingin menenggak minuman memabukkan itu Gerald mengingat wajah cantik istrinya yang mungkin akan lebih kecewa mendapatinya mabuk.


"Aghh!" Gerald hentakan lagi gelas wine milik Margens pada meja sampai habis terpercik tak bersisa "Kopi late satu!" Pintanya pada satu pelayan laki-laki yang bersiaga di sisinya.


"Baik Tuan." Angguk laki-laki itu.


Margens dan Jho hanya menggeleng menatap heran Gerald "Kenapa sih? Sensi amat? Kalo Kaka ipar lagi datang bulan, ya mengerti sedikit." Tudingnya.


Gerald menoleh sinis "Sialan. Pikiran mu cuma itu saja!" Berang nya.


"Lalu?" Tanya Margens.


"Shara tahu Zif jadi terdakwa, makanya dia marah padaku karena tidak memberitahunya." Gerutu Gerald.


"Oh, .." Margens manggut-manggut dengan santainya.


"Oh apanya? Istriku marah karena mencemaskan mantan suaminya, kau cuma bilang oh saja?" Tukas Gerald.


Jho menyela "Dia marah bukan karena mencemaskan mungkin. Lebih tepatnya tidak ingin ada rahasia." Katanya bijak.


"Aku selalu tahu jika itu tentang bahasa wanita." Ungkap Jho.


"Hieleh! Cinta mu saja di tolak!" Timpal Margens. Gerald memutar bola mata malasnya, kesal mendengar percekcokan kedua orang itu.


"Silahkan Tuan, kopi late nya!" Satu pelayan menyuguhkan pesanan Gerald tepat di hadapan laki-laki itu.


"Hmm." Gerald ambil cangkir kopi nya lalu menenggak nya tanpa sadar "Haass! Sial! Bbuiih! Panas sial!" Pekiknya.


Margens terkikik "Ya jelas panas, itu kopi bukan es boba, Gerald!" Cibir nya.


Jho tertawa elegan "Dari dulu cemburu Tuan muda kita selalu menghilangkan kewarasan!" Ejek nya.


"Sialan kalian." Umpat Gerald sambil mengusap bibir yang setengah melepuh "Oya, I-then kemana?" Tanyanya.


"Dia lagi deket sama Juhie, mana inget sama kita. Biar saja lah." Jawab Margens.


"Oh." Gerald manggut-manggut.


Tak berapa lama suara langkah mungil terdengar memasuki ruangan, Shara berdiri di sisi sofa sudah lengkap dengan baju tidur yang di balut kimono merah marun berbahan licin "Abang." Panggil nya.


Gerald menoleh begitu pun dengan Jho dan Margens yang langsung tanggap atas hal ini, sudah sewajibnya mereka mengalah, membiarkan pengantin baru itu berbicara empat mata.


"Oke, kita pergi dulu." Usul Jho menepuk paha Margens.


Margens mengangguk "Hmm, gimana kalo kita samperin Shandra, hehe, aku mau kenalan sama temannya yang pake cadar itu, dia cantik Bang Jho." Ajaknya antusias.


"Kau saja sendiri." Jho menaikan ujung bibir seraya beranjak pergi, bertemu dengan wanita yang menolak cintanya, Jho gengsi.


Margens mendengus pelan, mengikuti langkah kaki besar milik Jho keluar dari ruangan tersebut.


Seiring dengan berlalunya Jho dan Margens, Shara mendekati suaminya, duduk di sisi Gerald lengkap dengan senyum tipisnya, Shara tahu Gerald cemburu padanya yang terkesan masih memikirkan nasib Zif.

__ADS_1


Dia rapatkan duduknya, mengelus paha suaminya "Abang di sini?" Tanyanya.


Gerald mengalihkan pandangan, masih marah dengan kelakuan istrinya.


Shara mengusap lembut bibir Gerald yang masih nampak sisa lipstik darinya "Bibir Abang masih merah, Bang Jho sama Bang Margens pasti ngeledek." Ucapnya berbasa-basi.


Gerald mengusap bibir lalu menatap jemari merahnya, dia sendiri tak menyadari ada sisa lipstik Shara yang masih menempel di bibirnya. Raut wajahnya masih datar.


"Maaf kan aku, aku minta maaf, aku tahu sudah keterlaluan, harusnya aku tidak perlu bicara ketus padamu hanya karena masalah Zif saja. Aku terbawa emosi karena cemburu saat Tante Mei menelepon mu." Ucap Shara tulus. Shara bahkan membuka kerah kimono tidur nya agar lebih di perhatikan suaminya.


Gerald masih diam tak mau menatap ke arah istrinya, sebab, jika sedikit saja menatap tubuh Shara sudah bisa di pastikan dirinya tak kuat menahan sesuatu.


"Sekarang masuklah. Biar Abang tidur di sini malam ini." Usir Gerald.


"Gamau!" Shara menggeleng kekeuh, meraba dada bidang suaminya, bahkan tangannya menyelusup masuk ke dalam piyama tidur milik Gerald "Maaf kan aku, suamiku." Ucapnya.


Gerald menghela napas dan aroma wangi Shara menusuk indera penciuman nya, Gerald melirik protes pada wajah cantik istrinya "Apa Baby menggoda ku?" Tanyanya dingin.


"Memangnya kenapa? Bukankah kita sudah resmi menjadi suami istri? Lalu apa kau juga mengharamkan ku merayu mu?" Protes Shara cemberut.


"Kamu masih sakit Baby." Sergah Gerald.


"Sok tahu."


"Jadi?"


Cup!


Shara menjawabnya dengan kecupan lembut di bibir suaminya "Maaf kan aku, maaf." Ucapnya merayu.


Sekarang Shara ingin menjadi wanita yang pandai menjaga kesehatan rumah tangganya. Jika Gerald cemburu sudah seharusnya dia meredam kemarahan suaminya.


Jangan sampai ada kegagalan lagi dalam biduk rumah tangga yang baru seumur jagung ini.


Gerald tersenyum seraya menjatuhkan bibirnya pada bibir merona milik isterinya hingga terjadi belitan indera perasa yang memanas. Gerald bahkan menuntun Shara duduk di atas pangkuannya.


Satu mata Gerald masih bisa menangkap beberapa pelayan bar ekslusif ini yang masih siaga menjalankan tugasnya.


Kemudian dengan mengibas-ngibas kan tangannya Gerald mengusir semua orang.


Sejenak Gerald berpikir, sepertinya di sini tempat menarik untuk melanjutkan misi penjebolan gawang yang siang tadi terhenti.


Di sela aktivitas bibirnya, tangan nakal Gerald menyelusup masuk ke dalam kain tipis milik istrinya, menyentuh bahkan memilin sesuka hati hingga terjadi desah, lenguh, yang membuat Gerald semakin bersemangat.


Napas keduanya berderu, bertabrakan satu sama lain, ujung hidung yang silih menyatu itu menjadi bukti bahwa keduanya sama-sama menginginkan penyatuan raga kembali.


"Tunggu. Benarkah Baby sudah sembuh? Abang takut menyakiti mu lagi." Tanya Gerald.


"Pelan-pelan makanya." Jawab Shara.


Gerald mengangguk sembari tersenyum "Emmh." Dia buka kimono tidur istrinya lalu menjatuhkan punggung wanita itu pada permukaan sofa.


Shara menelan saliva saking gugupnya, sebenarnya ini cara yang salah, seharusnya dia cukup meminta maaf saja, tidak perlu merayu seperti ini. Tapi jauh di lubuk hatinya dia juga masih penasaran dengan rasa melayang saat miliknya di masuki benda keras suaminya.


Gerald melepas piyama tidur dan membuangnya serampangan. Kembali Shara menelan saliva menatap dada bidang suaminya.


"Tunggu Abang. Kenapa tidak ke kamar saja?"


"Di sini saja, nanti setelah satu ronde kita lanjut di kamar." Jawab Gerald dengan napas kacaunya.


"Apa?" Kejut Shara "Astaga, satu kali saja belum tentu aku sanggup sampai selesai, lalu bagaimana kabarnya jika sampai dua tiga ronde? Memangnya pertandingan tinju sampai ber_ronde-ronde?" Rutuk nya dalam hati.


"Kenapa? Baby keberatan?"


"Emmh, t-tidak tentu saja tidak!"


...••••••••••••...

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2