Dendam Si Cantik "Kembalinya Istri Buruk Rupa"

Dendam Si Cantik "Kembalinya Istri Buruk Rupa"
Posesif


__ADS_3

Sosmed aplikasi, gosip infotainment di televisi, bahkan rumpi emak-emak komplek, semuanya membicarakan tentang klarifikasi dokter Garry terhadap awak media.


"Apakah anda termasuk orang yang menyetujui pernikahan sedarah?" Pertanyaan orang-orang media saat itu pada Garry.


Sejatinya media sudah tahu status angkat Gerald dan Shara, hanya saja mereka sengaja mengorek untuk di jadikan bahan informasi di media-media nya.


"Yang belum banyak kalian tahu, Gerald, putra kandung pertama ku, dan Shara atau Cantik, dia putri angkat ku. Tapi, aku merestui hubungan mereka yang beranjak ke jenjang lainnya. Kalau memang cinta sudah melekat kenapa harus di perlambat? Mereka tinggal satu atap, untuk itu, saya akan segera meresmikan pernikahan mereka." Putus Garry dalam topik hangat siang ini.


Di dalam ruangan formal, Zif mengepal kuat tangannya, sorot mata tajam dia loloskan pada televisi miliknya, baru saja Zif melihat penjelasan dokter Garry yang menyakitkan hati.


"Sekarang siapa yang berkhianat? Tentu saja kau Shara!" Gumamnya sinis.


"Aku kira dengan melepas mu, kau bisa merindukan aku, kau mengingat kenangan lalu bersama ku. Rupanya tidak. Kau justru mengumumkan pertunangan mu!" Tambahnya.


Sakit sekali rasanya ketika cinta pertama, kekasih pertama, istri pertama, hanya berakhir di perceraian pertama.


"Permisi Tuan!" Pintu terbuka bersamaan dengan masuknya Hans "Hmm." Jawabnya.


"Ada kabar apa? Gimana sama Indar dan Papah?" Zif bertanya kabar keduanya yang masih berada di balik jeruji besi.


Tunggu, jeruji besi milik Hardika dan Indar tidak menyeramkan seperti maling jemuran. Zif menyewa lapas yang terbaik untuk ayah dan istri hamilnya.


"Kasus kedua Tuan besar masih menunggu sidang pembuktian." Jelas Hans.


Zif menoleh cepat "Kenapa bisa begitu? Kasus kedua Papah seharusnya tidak bisa di buktikan, bukanya orang-orang Papah sudah melakukannya tanpa meninggalkan satu pun bukti?" Tanyanya berang.


"Tapi bisa saja ada CCTV yang di retas oleh Jho. CCTV yang kita sendiri tidak ketahui, karena ternyata, mereka masih mengusut tuntas kasus ini." Sanggah Hans.


"Sial, kenapa Shara harus bertemu dengan keluarga bajingan itu!" Umpat Zif dengan rahang yang tegas. Jika saja lawannya hanya Damar si pemuda sederhana, tak mungkin sekuat itu pertahannya, tapi karena Jack group menaunginya maka Damar memiliki kekuatan yang setara dengan perlindungan hukum milik Zif.


"Lalu bagaimana dengan Indar?" Zif kembali bertanya, setelah cukup lama terdiam.


Meski tak mengakui keberadaan Indar, tapi Zif masih mempedulikan adanya darah daging yang mengalir dalam janin istrinya.


"Nyonya Indar mengalami pendarahan, dan sekarang Nyonya di rumah sakit ditemani kuasa hukumnya." Jawab Hans.


"What? Ceroboh sekali dia! Gimana keadaan janinnya?" Zif gusar.


Di usianya yang melebihi kepala tiga, sudah seharusnya Zif memiliki penerus. Saat ini hanya Indar istrinya, maka Zif berharap banyak dari janin tersebut.


"Janin Nyonya masih bertahan, hanya saja, kemungkinan rentan bayinya mengalami keguguran, ibu hamil tidak di perbolehkan strees, tapi tidak mungkin tidak stress, Nyonya sendiri sedang tidak mendapatkan banyak dukungan dari siapa pun." Kata Hans.

__ADS_1


Zif tersindir tapi tidak lantas ingin melakukan hal yang semestinya dia lakukan sebagai seorang suami, Zif bukan laki-laki yang bisa berpura-pura tidak membenci, padahal sangat teramat antipati.


Semua kehancurannya berawal dari Indar, jika saja Indar tak memulai kekacauan ini, tiada mungkin Zif meninggalkan Shara saat itu.


Kembali lagi pada hukum alam yang selalu menyeleksi siapa mereka yang tulus dan memberikan karma pada siapa saja yang berkhianat.


"Kamu urus Indar, berikan dia fasilitas yang terbaik, cukupi kebutuhan nya sampai melahirkan putra ku, baru setelah itu kamu urus perceraian." Titah Zif dingin.


"Baik Tuan." Angguk Hans.


...••••••••••••...


Di villa milik keluarga dokter Garry.


Ritual wajib konglomerat saat berkumpul di acara pesta, acap kali mereka bersulang, menenggak wine dengan dosis rendah.


Kali ini Gerald tak ikut minum, di lantai atas ada gadis yang masih ingin dia jaga keperawanan nya.


Umumnya seseorang yang meneguk minuman beralkohol sudah bisa di pastikan hilang kesadaran. Gerald tak ingin menodai kesucian cintanya dengan cinta satu malam.


"Eh, eh. Lihat!" Ethan menyenggol siku Gerald, sambil menatap ke arah pintu masuk ballroom.


Semua orang pun ikut menyusul pandangan Ethan termasuk juga Gerald, rupanya Shara berjalan mendekat dengan gaun pilihan dari Gerald.


"Uaahh, cantik, seksi, mungkin ini definisi bidadari surga!" Celetuk satu tamu yang ternganga menatap Shara.


"Iya, aku juga mau dong di operasi, biar bisa dapet cowok tajir sekelas Tuan muda. Jadi gak perlu capek-capek rebut om-om buat dapetin tas branded ya kan." Sambung perempuan bergaun hitam itu dengan nada lenjeh.


"Eh, yang perlu di operasi tuh hati sama body lu Net! Nih gue kasih tau, bukan tanpa alasan Gerald tergila-gila sama adik angkatnya sendiri, liat dong Net, body nya mirip gitar Spanyol!" Kagum satu pria lainnya.


"Yang kayak gini nih, yang bisa bikin perpecahan antar teman. Saking cantiknya ni cewek, gak peduli ada status kawan, kalo dia mau gue tikung dari samping!" Sambar satu pria lainnya lagi seraya tergelak.


Bukannya bangga Gerald justru gerah dengan pujian yang terlontar dari mulut teman seper_dugeman nya.


"Tutup mulut kalian!" Bentak Gerald menceku. Semua orang benar-benar terdiam tanpa kata dan cengiran.


Gerald langkah kan kakinya menuju tunangan nya, tepat di depan Shara dia tarik pergelangan gadis cantik yang masih bingung dengan perlakuan tiba-tiba nya.


Shara terpaksa berputar haluan "Abang, kok kita keluar dari ruangan ini? Kan acara tunangannya baru mau di mulai." Shara bertanya polos sembari menyingsing ekor gaun di samping mata kakinya.


Sebenarnya setelah ini akan ada pengumuman, kapan dokter Garry memilihkan waktu dan tempat pernikahan mereka.

__ADS_1


Baru saja Shara mengganti pakaian agar acara bisa di mulai dengan baik. Gerald justru kembali membawanya menaiki anak tangga.


"Kok kita ke kamar lagi sih Bang?" Tanya Shara lagi.


Tepat di sisi pintu kamar Gerald memberhentikan langkah, menatap protes calon istrinya "Ganti gaunnya, Abang nggak suka sama gaun yang kamu pake sekarang! Terlalu seksi! Terlalu cantik di kamu!" Titahnya.


Shara mengernyit "Kan Abang yang pilih gaun nya, terus kenapa sekarang protes?" Sungut nya.


"Kemarin Abang lihat di katalognya, tidak terlalu seksi, tapi kenapa di kamu jadi begini, kamu jadi pusat perhatian teman-teman ku! Abang tidak suka!" Kata Gerald.


Tentu saja berbeda, sebab bentuk tubuh setiap orang berbeda, ada kelebihan lekuk Shara yang tidak biasa.


"Ganti, lalu ini, ..." Gerald mengelap lipstik di bibir Shara juga blush on di tulang pipi Shara.


"Jangan terlalu menor, tanpa make up saja kamu sudah sangat cantik, tolong jangan di tambah dengan ini, mereka akan lebih betah menatap mu!" Larang Gerald.


"Abang kok posesif nya berlebihan?" Polos Shara.


"Kamu nggak suka?"


Cukup lama Shara terdiam "Suka sih." Dia tersenyum sembari masuk ke dalam kamar miliknya sedang Gerald mengikuti langkah kaki gadis itu sambil tersenyum. Syukurlah Shara tidak memulai pertengkaran.


"Tunggu Baby." Gerald menarik lengan calon istrinya sembari menutup pintu kamar dengan sebelah tangan.


"Apa lagi?" Tanya Shara.


"Sebelum ganti, kasih dulu yang ini." Gerald menunduk dia labuh kan kecupan lembut pada bibir gadis itu sambil meremas tengkuk dengan sebelah tangan. Shara terdiam tak membalas atau pun menolak.


"Pernikahan kita sebentar lagi, jadi siapkan mental untuk menjadi milikku seutuhnya." Ucap Gerald.


Shara mengangguk setuju, lagi pun tak ada yang bisa dia ekspresikan selain menurut saja. Shara tahu semua yang Gerald lakukan kendati rasa cintanya.


"Sekarang ganti, Abang tunggu di luar." Titah Gerald pelan.


...••••••••••••...


Bersambung .... Satu bab lagi sedang OTW....


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2