
Shara keluar dari ruang persidangan, sesak masih dia rasakan melihat keheningan yang Zif paparkan.
Tak ada rencana apa pun setelah perceraian, saat ini Shara hanya ingin menjadi putri yang baik untuk Garry saja. Membalas budi pada Gerald dan Garry keluarga angkat kesayangannya.
Masih ada beberapa prosedur lagi untuk mendapatkan akta cerai. Setidaknya Shara lega Zif tak mengajukan banding kali ini.
Shara melanjutkan langkah menuju mobil milik ayahnya. Beberapa orang suruhan Gerald mengawasi meskipun Gerald sendiri masih belum mau bicara padanya.
"Shara!" Di sela langkahnya, Zif meraih lengannya kembali dan mereka saling berhadap-hadapan lagi.
Shara mengernyit "Ada apa lagi Zif?" Tanyanya.
"Kamu tidak mau aku mengajukan banding bukan?" Tanya balik Zif nanar.
"Tentu saja, bukanya kamu tidak mengajukannya, aku terimakasih padamu jika memang kau mau mempermudah jalannya perceraian. Karena lebih cepat akan lebih baik Zif." Sambung Shara.
"Baiklah aku turuti mau mu. Tapi, ku mohon, cabut tuntutan mu ke Papah. Kasihan dia Shara, biarlah Papah menyesal tanpa harus meringkuk di penjara, tolong aku. Aku yakin Papah pasti sudah menyesali perbuatannya." Lirih Zif.
Shara mengerut kening, jadi ini alasan Zif tak mengajukan banding, ada sesuatu yang ingin dia tawarkan padanya.
"Zif, kamu ajukan banding atau tidak, aku tetap akan menuntut Papah mu. Dia harus mendapatkan ganjaran yang setimpal. Gugatan ku sudah di kabulkan, satu langkah lagi, kita mendapatkan akta cerai. Aku bukan lagi istri mu. Dan Hardika Prabaswara bukanlah mertua ku. Tapi memang sedari dulu, aku bukan menantu Papah mu."
"Shara." Mei berdiri di sisinya menatap nanar wajahnya, menggenggam tangan Shara penuh harap "Tolong Mamah, cabut tuntutan mu." Ujarnya.
"Mamah?" Shara tersenyum remeh "Apa masih pantas aku memanggil mu Mamah? Suami mu sudah banyak membuat ku terluka." Tukasnya.
"Apa ada jaminan suami mu tidak mengincar ku setelah aku cabut tuntutan ku?" Tambah Shara.
"Kau tahu Tante, suami mu orang yang paling licik, dingin, kasar, ketus, semua kejahatan ada pada suami mu. Setelah ku cabut, aku yakin dia mengincar nyawa ku!"
"Shara!" Melotot, Zif menyela ucapan gadis itu. Tak terima dengan tudingan jandanya.
Shara beralih pada Zif "Memang seperti itu kenyataannya Zif. Papah mu tak pernah mau menerima ku. Bahkan setelah ku tuntut pun, aku yakin masih banyak siasat liciknya untuk ku."
"Shara." Sergah Zif.
"Percuma kalian membujuk atau pun mengancam ku! Sampai Indar dan Tuan Hardika mendapatkan hukuman! Aku tetap akan melanjutkan tuntutan ku."
Shara melangkah pergi setelah mengatakan itu, sementara Zif dan Mei bergeming menatap nanar menjauhnya punggung wanita itu.
__ADS_1
Dahulu hubungan mereka cukup baik, tapi karena pihak ke tiga yang mengacau, maka tak ada lagi keharmonisan di antara mereka.
Tak ada yang bisa di harapkan dari laki-laki lemah seperti Zif, dia selalu mengasihi keluarganya bukan Shara-nya. Bahkan setelah semua yang Hardika lakukan, Zif masih saja merengek ampunan.
Zif pikir nyawa seseorang bisa di jadikan mainan ayahnya, lalu setelah seperti ini semudah itu meminta maaf, merengek meminta ampun.
Shara kecewa, kata cinta yang Zif serukan hanyalah isapan jempol belaka.
Shara melangkah gontai menuju mobil milik ayahnya, di sana Garry sudah siap menyambut kedatangannya dengan senyum kedamaian "Kamu sudah janda Cantik." Katanya.
Shara mengangguk pilu "Iya Daddy." Jawabnya.
Janda kembang, sebuah gelar yang sangat memprihatinkan baginya, dua tahun menjadi kekasih Zif, hanya berakhir sebagai mantan saja. Dua tahun menjalani hubungan serius namun tak berangsur bahagia.
"Kita pulang." Garry menuntun Shara masuk ke dalam mobilnya, kemudian dirinya pun ikut menyusul duduk di sebelah putrinya, usapan lembut dia berikan pada kepala gadis itu "Semua akan baik-baik saja. Percayalah, Tuhan tidak tidur. Kamu akan mendapat suami yang baik setelah ini." Ujarnya.
Shara mengangguk namun tak ada kata yang bisa terlontar dari bibirnya. Kelu sudah lidahnya, semua kalimat tak mampu ia runtut kan.
Di selingi lamunan Shara menatap kaca spion luar, terlihat di sana Zif masih menatap berlalunya mobil yang ia tunggangi.
...••••••••••••...
Sedari sore tadi, gadis itu tak makan dan minum, beberapa pelayan Garry kirim untuk memberikan makan tapi tak ada satu pun yang dia sentuh.
Bosan dengan pemandangan itu-itu saja, Shara beranjak keluar dari kamar, menuruni anak tangga dengan langkah gontai. Piyama panjang lah yang dia kenakan saat ini. Rambut terurai acak-acakan.
"Cantik." Garry memanggilnya dari meja makan.
"Iya Daddy." Sahut Shara seraya mendekat.
Di sisirnya seluruh orang yang duduk di meja makan, ada Jho, Garry, Gerald yang berwajah kecut, dan satu pemuda yang Shara tidak kenal.
"Kalian sedang diskusi apa?" Tanya Shara.
Gerald sibuk dengan gawai tipisnya, lumayan acuh, sedari siang tadi Gerald gerah dengan tangisan sesal adiknya, tangis itu seperti tanda bahwa Shara masih mencintai Zif saja. Sudah jelas, Gerald tak mendapat tempat di hati janda kembang itu.
Garry tersenyum kecil "Abang mu lagi mengurus kasus kematian misterius gadis yang mirip dengan mu, satu kasus lagi yang akan memberatkan Hardika, dan ini Damar, tunangan almarhumah Risha." Garry menunjuk satu pemuda berparas tampan yang duduk tepat di depannya.
Damar tinggal di Bali, bekerja di Bali, keturunan asli orang Bali. Pemuda tampan itu bekerja serabutan. Sederhana, tanpa fasilitas orang tua.
__ADS_1
Antek-antek Jho berhasil menemukan persembunyian Damar yang sedang dalam kejaran orang-orang Hardika, untuk di bunuh tentunya.
Lihatlah, Hardika akan melenyapkan siapa saja yang berpotensi membahayakan posisinya. Karena Damar berniat mengunggah video kecaman untuk itu Hardika mencarinya.
Namun, kali ini pendukung lawannya adalah Jack group yang memiliki orang-orang ber_intelligence quotient tinggi. Maka kehancuran sedang melambaikan tangan pada Hardika Prabaswara.
"Risha?" Shara mengingat kembali nama almarhumah perempuan yang dikabarkan meninggal dalam keadaan terjerat lehernya.
"Iya, Shara ingat." Shara duduk sembari menatap kalung yang melingkari leher pemuda itu "Kalung itu." Kembali Shara berdiri dan berjalan cepat menuju Damar "Ini kalung ku!" Cetusnya, berusaha menyentuh.
Damar mengernyit "Tunggu, jangan menyentuh nya!" Tepisnya spontan.
Shara mendelik "Itu milik ku, itu kalungku."
"Ini milik Risha!" Pekik Damar tak mau kalah.
"Kau salah paham. Hardika pasti mencuri kalungku dan meletakkan nya di leher tunangan mu, supaya Zif yakin bahwa mayat itu memang mayat ku." Sanggah Shara kekeh.
Damar menggeleng "Ini milik Risha ku, dia sudah memakai ini dari kecil. Aku saksinya!" Ungkapnya.
"Apa?" Shara mengernyit penasaran dengan inisial di balik liontin berbentuk bulat itu, seingatnya, sejak kecil dia juga sudah memakai liontin itu "Aku mau lihat sebentar, milikku, ada inisialnya." Ujarnya.
Damar melepas liontin dari lehernya lalu memberikan nya pada Shara, biasanya liontin itu tak boleh di sentuh siapa pun tapi melihat Shara penasaran, Damar memberikannya "Tentu saja ada inisial Risha." Katanya yakin.
Shara meraih liontin dari Damar, memindai benda mungil nan cantik berwarna silver itu "R?" Inisial yang Shara lihat di balik liontin berbentuk bulat tersebut.
Shara menggeleng "Milik ku berinisial S bukan R." Ucapnya lirih, secara tidak langsung Shara mengakui bahwa kalung itu bukan miliknya.
"Mungkin hanya kebetulan mirip, Shara. Kalung seperti itu bisa di pesan di mana saja." Celetuk Garry menengahi.
"Mungkin." Shara mengembalikan liontin pada Damar lalu berjalan perlahan menuju kursi yang terletak di sisi ayahnya "Berarti milikku masih di kontrakan lama ku." Lirihnya bergumam.
Gerald mengamati semburat sendu adiknya, sepertinya kalung itu sensitif sekali dalam hidup Shara. Terlihat jelas dari bagaimana Shara berusaha mengakuinya barusan.
.
...••••••Bersambung••••••...
.
__ADS_1
.