Dendam Si Cantik "Kembalinya Istri Buruk Rupa"

Dendam Si Cantik "Kembalinya Istri Buruk Rupa"
Persidangan.....


__ADS_3

Dari apartemen milik orang tua Gerald Jho langsung membawa sang Tuan ke bandara untuk segera melakukan penerbangan.


Garry, Dylan dan keluarga lainnya masih betah di negara itu, rencananya mereka masih akan pulang lagi menaiki kapal pesiar.


Di bandara Margens menatap kosong ke sembarang arah, pikirannya terbagi dengan wanita bercadar yang masih berada di dek bersama Shandra.


"Kamu kenapa?" Jho menepuk pelan pundak lelaki itu.


Margens menoleh "Aku tidak ikut pulang yah, aku masih belum bisa mendekati gadis ku, kalian pulang duluan saja." Ujarnya.


"Iya. Semoga berhasil." Ucap Jho mengepal tangan di depan wajah Margens.


Margens mengangguk "Berhasil tidak berhasil, aku sudah harus menikahinya sebelum kembali ke Indonesia." Batinnya.


"Kita pulang bro!" Gerald menepuk pundak Margens sebagai tanda perpisahan dan terimakasih pada sahabatnya.


"Hmm," Angguk Margens "Oya Jangan lupa kondisikan junior mu, pesawat yang akan kau tumpangi ini bukan hanya kau saja menumpanginya, jangan sampai kau melakukannya di atas sana juga, kemarin aku menemukan kemeja mu di bar, celana bokser tersangkut di dek kapal, sampai bra istrimu mengambang di kolam renang, astaga, sembarangan sekali kalian ini!" Gerutunya.


Gerald terkikik "Maaf, suka ga sadar tempat kalo lagi mode on." Katanya cengengesan.


Jho hanya menggeleng.


...••••••••••••...


_


_


_


Dua hari setelahnya, di Indonesia.


Tepatnya hari Senin pukul sebelas siang Zif duduk di depan meja hakim, di saksikan oleh keluarga termasuk Shara mantan istrinya.


Selama menjadi terdakwa Zif di dampingi kuasa hukum nya, harus wajib lapor dan tak di izinkan bepergian ke luar kota ataupun keluar negeri.


Lagi pun, Zif sudah pasrah pada nasib, Zif yakin Zif tidak akan di penjarakan sebab dunia kepolisian sekarang tidak lah buta.


Jaman sekarang CCTV di mana-mana dan pasti akan ada yang bisa membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah.


Benar saja, melalui tim intelejen terbaik, Gerald mampu meringankan tuduhan yang dialamatkan kepada Zif Prabaswara.


Rupanya masih ada rekaman video yang menyatakan bahwa setelah bertemu dengan Zif Risha berhasil lari dan pergi dari lelaki itu.


Di lain tempat ada rekaman CCTV yang membuktikan bahwa Risha di cegat oleh dua orang pria berbadan besar dan memasukannya ke dalam mobil kemudian membawanya ke rumah kosong yang ternyata usut punya usut, milik Hardika Prabaswara.

__ADS_1


Baru-baru ini kepolisian mendalami surat kepemilikan properti kosong yang Hardika beli secara sembunyi-sembunyi bahkan tanpa di ketahui keluarganya sekalipun.


POV Zif.


Sebuah sesal yang mendalam ketika mendengar "Nyonya Shara hilang Tuan muda." Dari laporan para antek-antek ku di malam ke sepuluh setelah pernikahan ku bersama Shara.


Aku keluar dari kerumunan teman-teman elit ku, bahkan Indar ku tinggalkan di resort sendiri tanpa adanya pamit, aku mencoba mengejar kemana perginya istri tercinta ku saat itu.


Ku sisir setiap pelosok desa di kota Bali ini dan hanya frustasi yang ku dapati. Aku pulang ke Jakarta karena masih ada banyak pekerjaan yang ku tinggalkan di kota kelahiran ku.


Bodohnya aku justru mengumumkan pernikahan ku bersama gadis lain yang tidak pernah aku cintai.


Malam itu, di klab malam bersama dengan Indar aku menemukan sosok Cantik yang ku yakini adalah Shara ku, ternyata bukan, dia wanita lain saat itu.


Paginya aku kembali melakukan perjalanan ke kota Bali, berusaha mencari sekali lagi istri ku yang hilang entah kemana ini.


Di tengah-tengah frustasi, masih ada secercah harapan bagi ku. Tepatnya di bawah lampu merah jalanan kota Bali, aku melihat wajah cantik istri ku berjalan menyeberangi zebra cross.


Tanpa ku pikir lagi, aku bergegas membuka pintu, mengejarnya "Shara!" Panggil ku yakin.


Wanita itu tak menyahut seruan ku, dia terus berlari membawa sebuket bunga sambil tersenyum manis sesekali seperti gadis yang sedang merasakan bahagianya jatuh cinta.


Ku kejar lagi dia hingga mobil ku tinggalkan begitu saja tanpa menghiraukan rambu-rambu lalu lintas ataupun klakson yang saat itu memekakkan telinga.


Di trotoar jalan. Aku meraih tangan mulusnya jantungku berdetak kencang saat melihat wajahnya sudah kembali cantik seperti sedia kala "Shara, sayang." Aku tersenyum haru menatapnya.


Dia mengerut kening bahkan mengusung tatapan bingung padaku "Siapa kamu?" Tanyanya.


Aku mengernyit "Aku Zif, tentu saja suami mu, Shara." Ucap ku.


"Shara?" Gadis itu tertawa geli "Aku bukan Shara, aku Risha! Maaf tapi kau salah orang!" Dia melewati tubuhku tanpa peduli kerinduan yang ku presentasikan padanya.


"Shara, jangan membuat ku marah, aku tahu aku salah padamu tapi ini sudah keterlaluan!" Ku tarik lengan nya dan dia menggigit tangan ku.


"Aaakk!"


"Kau penjahat! Pergi!" Dia berlari dariku entah kemana aku pun tak tahu, setelah itu aku tak lagi menemukan dirinya. Aku menyisir kembali seluruh pelosok kota ini sampai pada akhirnya aku tahu bahwa Shara telah benar-benar meninggalkan ku.


"Dia jahat!" Gumam ku kala itu. Aku kembali ke Jakarta satu Minggu setelah pertemuan ku dengan orang yang di duga bernama Risha itu.


Pertemuan ku bersama istriku justru berlanjut saat Shara berwajah baru muncul memainkan drama di hadapan ku, dia mengatur situasi yang membuat seolah aku berjodoh dengan dirinya.


Dia sangat seksi, sama persis seperti Shara ku, tentu saja karena dia memang Shara ku. Hanya saja saat itu aku tidak bisa mengenalinya lebih baik.


Aku mulai jatuh cinta pada Shara untuk yang kedua kalinya dalam bentuk Cantik anak bungsu dokter Garry, tapi rasa bersalah ku masih terus ada bahkan setelah Shara kembali hadir memakai wajah barunya.

__ADS_1


Setiap kali aku mendekati Cantik aku terus berhalusinasi, seolah Shara memaki diriku, mengumpat bahkan menyuruh ku untuk tidak mendekati Cantik lagi.


Aku terlalu gila pada wajah Shara sehingga aku tak mau menerima secuil pun perubahan yang terjadi padanya.


Psikolog, aku menjadi salah satu pria yang sempat mendatangi tempat tersebut hanya karena sifat labil ku mulai mengacau kan imajinasi ku.


POV Zif end.


Shara terenyuh mendengar satu persatu jawaban Zif yang di rangkai menjadi sebuah cerita pendek saat di tanya kesaksiannya oleh jaksa penuntut umum.


Sekarang waktunya istirahat dari sidang yang tak berkesudahan ini, hakim dan yang lainnya juga manusia yang harus istirahat sholat makan setelah bekerja berjam-jam di ruangan pengadilan.


Setidaknya sudah ada beberapa bukti yang mampu melindungi Zif dari tuduhan pembunuhan Risha. Itu pun lagi-lagi keluar dari tim intelejen milik Jack group.


Shara keluar dari ruangan sidang, menatap lekat mantan suaminya yang terus saja bergeming di sisi kanan Mei dan kuasa hukumnya.


Melihat itu, Gerald mengelus punggung istrinya "Pergilah, berikan semangat untuk Zif. Tapi ingat, kau hanya milik ku." Ujarnya.


Shara tersenyum menatap syukur wajah Gerald "Terimakasih Abang." Ucapnya.


Untung lah Gerald bukan lelaki yang terlalu tinggi ego nya. Dia sudah bahagia lalu untuk apa terus mendendam pada Zif yang tak lagi mengacau hubungan mereka.


Shara berjalan perlahan mendekati Zif dan Mei memberikan kode pada kuasa hukumnya untuk membiarkan sepasang mantan suami istri ini berbicara empat mata. Mungkin dengan begitu, Zif tidak terus menerus kehilangan harapan.


"Zif." Panggil Shara.


Zif tak menyahut matanya terus menatap lantai meskipun suara mantan istrinya memanggil dirinya "Zif." Shara berjongkok, menatap dari bawah wajah mantan suaminya. Meraih tangan lelaki itu dengan senyum manis berusaha memberikan semangat.


"Aku tahu kamu kuat, selama ini kamu kuat menjadi dirimu sendiri meskipun tanpa dukungan ayahmu. Kamu jangan lupa, kamu CEO terbaik yang bisa memajukan perusahaan tanpa bantuan kongkrit ayah mu. Aku masih kagum pada kegigihan mu, kau melalui tahapan sidang hari ini dengan tenang, aku salut padamu." Ujarnya bangga.


"Kenapa kamu tersenyum?" Zif menyela ucapan Shara "Apa kau mau memamerkan kebahagiaan mu padaku?" Tanyanya.


"Kamu tidak bahagia melihat ku bahagia Zif?"


"Tentu saja aku bahagia, tapi rasa sakit lebih mendominasi ku, saat mengetahui kenyataan bahwa bahagia mu bukan dengan ku tapi bersama laki-laki lain." Jawab Zif jujur.


"Kau lebih bahagia bersama Gerald dari pada aku yang memiliki gangguan mental ini?"


Shara menggeleng "Tidak Zif, kamu tidak mengalami gangguan mental, hanya saja, kau terlalu banyak bergaul dengan Indar, aku yakin ini pengaruh darinya, coba kamu periksakan kondisi mu ke dokter, apa saja yang membuat mu sering berhalusinasi." Terangnya.


"Setahu ku, selama berhubungan dengan ku, riwayat mental mu baik-baik saja tapi berubah ketika kau berhubungan dengan Indar. Kamu perlu benahi kesehatan mu ke dokter yang tepat untuk keluhan mu ini." Saran Shara menimpali.


Mei dan Karla bergeming menatap lekat wajah Shara dari kejauhan, lamat-lamat mereka juga mendengar semua kata yang Shara ucapkan, sepertinya memang benar ada sesuatu yang lain ketika kedekatan Zif mulai intens bersama Indar.


Belum lagi, keaslian anak Indar yang masih menjadi tanda tanya besar bagi Mei dan Karla.

__ADS_1


"Aku harus bertemu dengan Claudia, dia pasti tahu apa yang membuat Zif mudah tertekan seperti ini." Ucap Karla.


Mei mengangguk "Iya Karla, Mamah setuju dengan usulan mu." Ujarnya.


__ADS_2