Dendam Si Cantik "Kembalinya Istri Buruk Rupa"

Dendam Si Cantik "Kembalinya Istri Buruk Rupa"
Lamaran resmi


__ADS_3

Shandra yang cantik dengan rambut bersanggul modern, gadis itu duduk menunduk tepat di sisi kanan ayahnya, sementara di sisi kanannya lagi ada Sachi yaitu istri Nathan 'CEO Jack group' dan Shara istri Gerald 'owner ke dua Jack group'.


Shara dan Sachi sengaja datang lebih awal untuk menemani Shandra menerima lamaran dari Jho.


Gaun malam panjang berbahan woll peach berwarna baby pink mereka kenakan dengan model pundak terbuka yang sama yaitu di buat oleh Shandra sendiri.


Malam ini adalah acara resmi lamaran Jho teruntuk Shandra. Pria tampan itu juga duduk dengan posisi tubuh sempurna. Sedari tadi pandangan Jho mengarah pada wajah cantik Shandra.


Jas hitamnya slim fit rancangan kekasihnya. Shandra yang mengirimkan stelan jas untuk Jho pagi tadi. Setidaknya malam ini netra Shandra di manjakan dengan ketampanan hakiki milik Jho.


Orang tua Jho masih utuh, tapi berpisah rumah dan sama-sama tinggal di Singapura karena Jho memang asli warga sana, Jho yang genius merantau ke Jakarta dan tidak sengaja di tarik oleh kerajaan Jack group untuk menjadi tameng perusahaan mereka.


Selama ini Shandra pikir Jho sebatang kara dan di pungut oleh keluarga Dylan Jackson yang dermawan. Rupanya, orang tua Jho masih utuh hanya belum bisa hadir saja.


Sejatinya Jho andil dalam perusahaan dan kebahagiaan rumah tangga keluarga besar Dylan Jackson, karena sebelum Gerald yang dia persatu kan dengan Shara, ada Nathan yang lebih dulu di satukan dengan Sachi.


Sekarang, Jho mendapat dukungan penuh dari keluarga konglomerat itu. Banjir hadiah untuk pernikahan yang sebentar lagi mereka laksanakan.


"Jadi, maksud kedatangan ku ke sini, mau melamar Shandra keponakan ku untuk Jho anakku." Dylan sebagai tetua tentu yang bijak mengambil alih peran orang tua Jho meskipun sampai detik ini dia selalu mengaku belum tua dan sering menjadi perdebatan antara beliau dengan Sachi menantu somplak nya.


Bram terkikik geli. "Kalau kau yang melamar, apa aku harus menolaknya? Kalian keluarga perebut istri orang." Ejek nya.


Semua orang tertawa renyah melihat dahi yang berkerut di wajah tampan Dylan Jackson.


Memang tidak salah lagi, predikat Pebinor sudah melekat di keluarga mereka. Bahkan tertanam sebagai lencana kebanggaan.


Dahulu Dylan merebut Jelita dari Brandon, lalu menurun ke Ethan yang meniduri istri Nathan kakaknya meskipun tidak di sengaja.


Nathan sendiri merebut Sachi dari Edric, dan Garry juga dahulu merebut cinta ibu Dylan sebelum berpisah dengan ayah Dylan, menurun pada Gerald yang merebut Shara dari Zif. Lengkap sudah.


"Hayys, satu kata penolakan lagi, aku tebalikkan rumah mu!" Dylan menggebrak meja dengan raut tidak terima.


"Ayolah Dylan, kau sedang menjadi wali pelamar, maka bersikap lebih sopan sedikit padaku!" Sela Bram. Garry hanya menggeleng kepalanya ringan.


"Ya Tuhan, sejak kapan Dylan bersikap sopan? Aneh kalau sampai terjadi." Sanggah Dylan lagi. Acara ini tidak seperti acara lamaran tapi lebih mirip percobaan pembegalan.


"Daddy mertua." Sachi menggeleng menatapnya dengan memberikan kode etik pada lelaki paruh baya itu.


Jangan di tanya perdebatan sengit Sachi dan Dylan yang sudah seperti kucing dan tikus di rumah besarnya. "Ini bukan waktunya mencari ribut." Bisiknya dari arah depan. Meski tak bersuara, kecumik bibir Sachi dapat Dylan baca.


Semua orang hanya terkikik kecil, sudah hapal sekali bagaimana perangai Dylan dan Sachi yang meski tak terlihat sependapat tapi saling menyayangi.

__ADS_1


"Baiklah, demi mantu ku yang lagi hamil lagi, malam ini aku tidak mencari ribut dulu." Ngalah Dylan pada akhirnya.


Sachi memang sedang hamil lagi setelah melahirkan secara normal putra pertamanya setengah tahun yang lalu.


"Jadi gimana? Kapan acara pernikahan Jho dan Shandra di langsungkan, aku yang akan menggelarnya." Kata Dylan kemudian.


Bram melipat bibir. "Bulan depan saja, bagaimana pun, aku masih harus mengurus ini dan itu."


Dylan manggut-manggut. "Baiklah, jadi lamaran Syah di terima kan?"


"Iya. Tentu saja. Tapi karena karena kau yang menjadi wali Jho, aku meminta seserahan yang banyak." Ujar Bram.


"Itu kecil." Ujung kuku Dylan tunjukkan pada Bram dengan wajah songong. Bagi Dylan uang tidak menjadi masalah meskipun Jho melirik tidak enak padanya.


Setelah permintaan demi permintaan Bram sampaikan. Acara pun di lanjutkan sampai pencarian tanggal pernikahan. Menghitung sesuai dengan kecocokan hari lahir mereka seperti tradisi pada umumnya. Seberapa pun bulenya mereka, ini Indonesia raya yang masih tidak lepas dari hal demikian.


Setelah acara serius tersebut, mereka semua berdiri bersamaan lantas menuju meja prasmanan. Mengambil hidangan lezat yang tersaji dengan rapi di sana. Ada sekitar dua ratus orang yang hadir di tengah-tengah kediaman Bram ini, itupun hanya saudara dekat saja.


Ada Ethan dan Margens yang berdiri menenteng dan meneguk minuman berwarna merah. Gerald berdiri di sisi Shara dan Sachi.


Dylan Garry dan para orang tua lainnya duduk melingkar di meja makan. Sambil memulai ritual makan malam bersama.


"Gimana kabar Bos?" Tanyanya.


"Aku baik-baik saja tanpa mu." Nathan tidak baik-baik saja, tapi untuk keluarga yang lain dia mengalah seperti perangainya selama ini.


Jho terkikik. "Terima kasih masih menganggap ku teman mu Bos." Ucapnya.


"Aku perlu orang-orang seperti mu, tolong cari beberapa lagi untuk perusahaan JG."


"Aku usahakan." Jho mengangguk setuju.


Masih ada kasus kecurigaan kembarnya Shara dan Risha yang masih perlu Jho selidiki. Mungkin Jho tidak bisa aktif di perusahaan dulu saat ini.


...----------------...


"Ibu hamil muda tidak baik terlalu banyak bergerak, biar aku saja yang ambil air hangat di dapur." Jho mengarahkan tatapan kepada wanita yang mengucapkan itu. Shandra berjalan menuju dapur sendirian.


Shandra memang tidak punya banyak pelayan seperti keluarga Jackson dah Garry. Shandra mandiri dengan usahanya, di rumahnya hanya ada beberapa pelayan saja itupun semuanya sibuk


Jho menepuk lengan sang Tuan. "Aku pamit sebentar Bos." Dan di jawab dengan anggukan kepala Nathan.

__ADS_1


Jho mengikuti langkah kaki Shandra yang memasuki sebuah dapur klasik modern dengan dominasi warna hitam putih dan gold.


Jho menoleh ke kanan dan kiri memastikan tidak ada yang melihatnya. Langkahnya dia lanjut setelah aman.


Bibirnya tersenyum saat memberikan kejutan kecup pada pipi dan pelukan hangat dari belakang tunangannya. Shandra menoleh seketika dengan mata yang membulat.


"Ka-Jho!"


"Sssuuuuutttt, mumpung mereka sibuk di depan. Nyicip sedikit boleh kan?" Jho terkikik pelan. Sesekali melirik ke arah depan masih memastikan keamanan yang masih terjamin.


"Keluar gih, nanti Daddy datang ke sini loh, terus kita nggak jadi di nikahin." Gerutu Shandra.


Meski demikian dia tetap menyambut sentuhan lembut Jho yang mengarah pada pinggang rampingnya untuk membalikkan tubuhnya mengarah pada Jho.


"Makanya sembunyi-sembunyi." Jho menekan pundak mulus Shandra seraya menempelkan bibirnya pada bibir merona tunangannya dan tidak ada penolakan.


Keduanya terpejam menikmati setiap detik yang terasa nikmat. Sosok mereka turun secara perlahan, menenggelamkan diri di balik kabinet dapur. Sepatu heels nya membuat Shandra terduduk di lantai hingga Jho terdorong dan menindihnya.


Ciuman itu kian memanas, dengan mata yang pejam keduanya hanyut dalam peraduan bibir erotis. Lama Jho tak mencium Shandra seperti ini, terakhir mungkin satu tahun yang lalu. Rindu membuatnya rakus.


Perlahan tapi pasti, Shandra merebahkan kepala pada lantai dan Jho menaikinya. Mata Shandra membelalak menyadari tekanan yang menusuk milik terlarang nya.


Kendati masih terbungkus rapi, ketegangan si Mas milik Jho sudah begitu mencekam. "Ka-Jho,"


"Hmm?" Tanpa beringsut dari tubuh Shandra Jho menarik kepalanya ke belakang menatap wajah cantik tunangannya.


"Kenapa sekeras ini?"


"Abaikan saja, dia akan bekerja di malam pertama kita, sekarang Ka-Jho cuma mau minta kiss saja, nggak neko-neko." Kembali Jho mendaratkan kecupan panasnya.


Saking enaknya, Jho dan Shandra sampai berguling-guling di lantai. Terkadang Shandra meminta di atas lalu kemudian Jho membaik posisi. Indah rasanya, gelora panas ini membuat mereka linglung sedang berada di alam mana.


"Ya Tuhan, pasangan bujang dan perawan akut ini! Benar-benar tidak kenal tempat! Bukanya ngambil air hangat malah guling-gulingan begitu!" Teriakan Gerald yang membuat Jho dan Shandra beranjak.


Segera Shandra memperbaiki pakaian dan dandanan yang sedikit acak-acakan. "Gerald!" Cemberutnya merengut.


"Satu bulan lagi, tahan!" Kata Gerald menggeleng pelan. Padahal dia tahu, saat tidak halal rasa ciuman terasa lebih nikmat.


...Visual Gerald, kangen banget sama dia akooh.🙈...


__ADS_1


__ADS_2