Dendam Si Cantik "Kembalinya Istri Buruk Rupa"

Dendam Si Cantik "Kembalinya Istri Buruk Rupa"
Ending


__ADS_3

Dua bayi laki-laki itu memekakkan telinga setelah serangkaian peristiwa menegangkan. Putra Shara dan Gerald telah lahir, penerus sang mantan playboy kini launching.


Gerald sangat teramat bahagia, terlebih Gerry Van Houten. Akhirnya, putra satu-satunya peninggalan Ranti kini menjadi seorang Papa muda.


"Selamat Sayang." Gerry memeluk putranya dengan penuh kasih sayang, begitu juga dengan yang lainnya mereka bergantian memberikan ucapan selamat dan pelukan.


"Thanks Daddy, thanks semua." Gerald tersenyum haru.


"Jadi siapa namanya?" Jho menimpali pertanyaan, dan semua orang yang hadir di kamar pasien mewah itu juga bertanya-tanya.


"Arjuna, Dewanda." Sahut Gerald lantang. "Kita panggil saja Juna sama Dewa." Gerald menunjukkan kedua putra tampannya kepada semua orang.


Shandra istri Jho menyela. "Semoga nggak playboy kayak bapaknya ya Nak."


"Amit-amit." Shara tiba-tiba menyahut sambil mengetuk kepalanya. Hal yang membuat Gerald mengerling sinis.


"Aku biar playboy, cuma sama kamu bikin anaknya Yank! Suwer, Juna sama Dewa anak pertama suamimu." Katanya.


"Ya ya lah, sebelumnya Abang berhubungan sama istri orang, mana udah tante-tante lagi." Shara ketus tak mau kalah.


"Awas, baby blues Syndrome Gerald, saat ini kurangi berdebat sama Shara." Berbisik pelan di telinga, Gerry mewanti wanti putranya.


Dahulu Ranti istrinya juga memiliki kisah yang serupa dengan itu. Jangan sampai Shara juga menuruni almarhumah mertuanya.


"Hmm." Gerald mengangguk nurut. Wanita selalu punya cara untuk menyerampang statement suaminya.


Di dalam sana mereka mengobrol random, bercanda gurau, hingga terik mentari mulai merangkak naik.


Ini saatnya Arjuna kecilnya tuan muda Gerald harus dibawa perawat untuk dimandikan terlebih dahulu.


Mengingat sudah siang. Shandra, Jho dan lainnya juga keluar kamar satu persatu membiarkan Gerald dan istrinya beristirahat.


"Permisi." Tak lama dari perginya orang-orang, suara laki-laki terdengar dari arah pintu.


Gerry, Shara, Gerald menoleh. Rupanya Zif yang berdiri tegak dengan menenteng sebuket bunga mawar putih.


"Boleh aku masuk?" Senyum Zif begitu syahdu. Siapa pun wanita yang memandang mungkin akan jatuh ke pelukannya.


"Tentu saja." Gerry tersenyum menyambut kedatangan mantan saingan putranya.

__ADS_1


Shara tersenyum sesaat setelah mantan suaminya berdiri kian dekat bahkan memberikan bunga padanya.


"Apa kabar Zif?"


"Aku baik." Redup pelan suara Zif seperti biasanya. Sementara Gerald menghela napas dalam, berusaha kuat untuk tidak cemburu.


"Selamat Ger," Zif beralih pada perebut istrinya. Kemarin Zif dongkol pada laki-laki tampan nan muda ini, tapi mau bagaimana lagi, nyatanya jodoh tidak berpihak padanya dan Shara.


"Hmm."


Gerald bergumam singkat, yah meskipun Shara terlihat bahagia bersamanya, Zif tetap bukan lawan yang patut diacuhkan, terlebih sekarang Shara tahu bahwa Indar tidak hamil anak Zif melainkan anak ayah Zif.


Jika saja tidak ada insiden penyiraman air keras, tidak ada berita hoaks tentang kehamilan Indar, dan rencana busuk ayah Zif, mungkin saat ini Zif dan Shara bahagia.


"Gandengan mu mana?" Gerry menepuk punggung Zif pelan, membuat Zif menoleh dan tersenyum.


"Belum ada Om."


"Cari gih. Jangan lama-lama!" Gerald menyeletuk ketus. "Nanti jadi Pebinor lagi!" Sinis nya.


Zif terkekeh. "Asal kamu tahu, aku masih menunggu Shara mu, makanya jangan main-main dengannya." Pesannya.


Zif masih sangat tampan meski nyatanya Gerald lebih segala galanya bagi Shara. Yah, rumput tetangga biasanya lebih hijau.


"Kamu ke sini mau cari ribut sama aku, apa jenguk istri ku?" Gerald kekanak-kanakan jika sudah berurusan dengan kepemilikan nya.


Zif menepuk punggung Gerald. "Aku tahu Shara setia. Tenang saja, dia tidak akan tergoda padaku." Bisiknya.


Gerald memutar bola mata malasnya.


...----------------...


"Papa, Mama." Arjuna dan Dewanda kecilnya tuan muda Gerald sudah pandai mengoceh. Hari-hari Gerald dan Shara terlewati dengan bahagia.


Gerald yang sekarang sudah menjadi pribadi yang lebih baik, bertanggung jawab, juga ikut andil dalam perusahaan besar keluarganya.


Para tuan muda Gerald kecil tumbuh kembang dengan baik. Shara dibantu banyak pelayan untuk mengurus pewaris Gerald Van Houten itu.


Sebab, Shara sendiri masih cukup disibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan di klinik pribadi ayah mertuanya.

__ADS_1


Sambil mengasuh kedua anak balita, Shara juga membantu mengelola keuangan sang mertua yang notabennya dokter ahli bedah terbaik.


...----------------...


Lupakan semua lelah dan duka masa lalu, karena malam ini pesta pernikahan bahagia Zif Prabaswara.


Yah, setelah dua tahun berlalu akhirnya Zif menemukan kembali tambatan hatinya.


Claudia, psikolog dan psikiater cantik nan sabar yang menjadi mempelai wanitanya.


Menjadi pasien Claudia, bertemu secara berkala dengan Claudia, rajinnya kontak intens dengan Claudia, rupanya berhasil menumbuhkan benih-benih cinta di antara mereka.


Di bawah temaramnya lampu kecil, di atas ranjang empuk berhiaskan kelopak mawar merah, sepasang suami istri baru saja menyelesaikan pergulatan ranjangnya.


Untuk yang pertama kalinya Zif melakukan penyatuan raga dan itu pun bersama wanita yang masih gadis. Dengan posisi menelungkup, Zif memandang wajah cantik istrinya yang terbaring lemas.


"Terima kasih untuk malam ini. Terima kasih untuk kesabarannya selama dua tahun terakhir kamu menjadi dokter dan penasehat ku." Ucap Zif.


Claudia tersenyum saat membelai pipi Zif, Claudia memang sesabar nan seperhatian itu pada suaminya. Zif beruntung mendapatkan gadis sepertinya.


"Terima kasih juga sudah mau meminang ku. Meski aku tahu bayang masa lalu masih setia mengusik rasa bersalah mu. Aku berharap, secepatnya kamu melupakan Shara dan kenangan buruk tentang ayah mu. Kamu berhak hidup bahagia Zif."


"Kamu juga berhak atas ku. Ingatkan aku, saat aku mulai menyimpang dari tugasku sebagai seorang suami." Kata Zif


Claudia tahu, tidak mudah bagi seorang Zif melupakan masa lalu pilu, tapi dia yakin cinta mereka akan semakin sempurna jika setiap saat bersama.


"Relax Zif, kita sempurnakan cinta kita secara perlahan-lahan saja."


Mendengar itu, Zif mengikis jarak hingga bertautan kedua bibir tersebut. Kecupan yang semula hangat menjadi panas setelah sesuatu yang di bawah kembali teracung.


Sekali lagi, di malam pertama yang dingin ini, Zif dan Claudia melakukan penyatuan raga.


Zif bahagia memiliki kesempatan untuk kembali menikah. Terlebih, jodohnya juga tidak kalah baik dari Shara mantannya.


"Biarkan aku mencintaimu, dari cantik mu hingga kurang mu." Tak seperti saat bersama Shara, Zif belajar banyak dari masa lalunya.


...--------The End--------...


...📣 Hey hello, last episode untuk cerita ini, maaf kalo tidak begitu menarik ceritanya....

__ADS_1


...Terima kasih semuanya... Maaf menunggu terlalu lama, tapi akhirnya Ending juga... Oya, kisah Margen tadinya mau aku up di judul baru, tapi aku tidak berani karena Hanum bercadar dan ternyata sudah banyak kisah mafia dan gadis bercadar, hehe, sekali lagi terimakasih semuanya........


__ADS_2