
"Obat-obat untuk Parkinson ini mengaktifkan jalur sinyal untuk dopamin neurotransmitter, yang merupakan kunci untuk fungsi otak seperti motivasi, kesenangan, kontrol motorik halusinasi, belajar, dan memori. Karena itu, agonis dopamin dapat menyebabkan efek samping utama seperti kehilangan memori, kebingungan, delusi, dan perilaku kompulsif."
Penjelasan ringkas itu di terangkan oleh seorang psikiater. Claudia, adalah nama dokter jiwa yang Shara, Mei dan Karla datangi.
Mengetahui adanya kejanggalan yang terjadi pada mental Zif, mereka berkonsultasi pada ahlinya.
Zif telah melakukan visum, rupanya Zif positif mengonsumsi obat-obatan yang di sebutkan oleh Claudia barusan.
Setelah mengetahui kebenaran itu, Shara sering melamun tak jelas, menyesali apa yang terjadi pada Zif. Orang sebaik Zif harus mengalami kesialan seperti ini. Padahal itu semua juga terjadi atas kesalahan Zif sendiri.
Desir angin dari barat melayangkan surai ikal milik Shara yang duduk di atas bangku taman halaman belakang rumah besar Garry.
Gerald mengusap lembut paha wanita itu, dan seketika membuyarkan lamunannya. Shara terjaga, rupanya sudah ada Jho dan Damar yang duduk di sisi Gerald.
"Kamu terus melamun? Tidak sadar ada suami mu di sini." Keluh Gerald.
"Maaf." Ucap Shara.
"Apa yang terjadi pada Zif? Sampai istriku ini menjadi sering melamun begini?" Sambung Gerald.
Shara meraih tangan Gerald. "Apa Abang tidak cemburu aku ceritakan?" Tanya nya.
Gerald menggeleng. "Tidak, Abang tahu kau sekarang milikku." Ujarnya.
Shara tersenyum kecil, ternyata Gerald sangat pengertian. "Kemarin. Dokter Claudia bilang, Zif positif mengonsumsi obat-obatan terlarang. Padahal Zif tidak pernah mengonsumsi begituan."
"Oya?" Sela Gerald terkejut. "Jadi ada kemungkinan besar Indar yang memberikan nya begitu?" Imbuhnya.
"Sepertinya begitu." Angguk Shara.
Jho menyahut tanpa melepaskan pandangan matanya pada layar laptop canggihnya.
"Kalian mau tahu? CCTV yang aku temukan saat Zif dan Indar tidur bersama?" Ujarnya.
Gerald mengernyit menoleh lelaki genius itu. "Kau mendapatkan nya?" Tanyanya.
Jho menoleh. "Ini di ambil dari perangkat Zif sendiri, tapi, sudah berhasil terhapus, entah kapan video ini di hapus, tapi aku yakin bukan Zif yang menghapusnya, dan aku berhasil memulihkan video ini." Terangnya.
"Video Indar dan Zif?" Sambar Shara protes, dia merasa keberatan dengan ucapan Jho, biar bagaimanapun juga Zif berhak memiliki privasi.
__ADS_1
"Tenang saja, ini tidak seperti yang Nona pikirkan, ini bukan video asusila, justru ini yang terlihat aneh, Zif tidak melakukan apapun di dalam video ini, bahkan, dia menolak saat Indar merayunya, setelah itu Indar pergi keluar menemui Hardika." Jelas Jho.
"Mereka pasti mengatur siasat." Sambung Gerald.
Jho menggeleng. "Bukan. Tapi, ini sangat memalukan Tuan muda." Ucapnya.
"Maksudmu?"
"Kalian lihat sendiri saja video nya, ini juga yang akan memberatkan Hardika dan Indar, sekaligus bisa meringankan Zif dari tuduhan." Jho memperlihatkan layar laptopnya pada Shara dan Gerald.
...Kilas balik...
Beberapa bulan yang lalu. Di apartemen milik Zif, Indar masuk ke dalam kamar utama dengan membawa gelas berisi air hangat yang sudah di bubuhi obat-obatan racikan dokter.
Indar sengaja membuat Zif sedikit oleng agar bisa lepas kendali dan tanpa sadar memakan dirinya. Sudah sering kali Indar mencoba cara itu dan belum berhasil sampai saat ini.
Di pojokan ranjang Zif duduk bersandar, masih dalam kondisi tertekan, sampai detik ini Zif tak jua mampu menemukan istri tercintanya, seribu sesal masih menggerumut, entah seperti apa Shara saat ini, Zif terus memikirkan hal itu.
Indar mendekat, duduk di sisi ranjang menghadap lelaki itu. "Minum dulu Zif." Tawarnya. Zif menerima dan perlahan meminumnya.
"Terimakasih." Tak ada curiga, sebab Indar yang Zif kenal adalah Indar yang sangat baik, tak pernah lelah mencinta nya meskipun beribu kali dia tolak.
Pandangan yang mulai mengabur Zif rasakan, halusinasi mulai dia tunjukkan, Indar tersenyum menatap Zif dan terlihat seperti Shara di matanya. "Shara." Ada dua Indar dalam bayang fatamorgana.
Indar menyentuh dada Zif dan lelaki itu mencekal tangannya. "Shara." Zif menderu dera napas, lalu mengungkung tubuh Indar dengan sebutan itu. "Shara."
Wajah senyum Shara menari-nari di hadapan Zif. "Aku mencintaimu." Kecupan frontal Zif berikan pada leher Indar yang berdesah menerima serangan darinya, tongkat ekslusif itu bergesekan dengan milik Indar yang hanya di balut dengan kain tipis.
"Zif, ahh, ..." Indar keceplosan.
Zif terjaga, suara Indar membuyarkan halusinasi nya. "Indar, kau, ..." Dia bangkit dan berdiri dengan tangan yang memegangi kepalanya. "Maaf, sekarang keluar, aku pasti sudah gila." Katanya lirih.
Menyentuh Indar bukan lah keinginannya. Zif masih waras untuk melampiaskan sesuatu pada wanita selain istrinya.
Indar menggeleng, dia bangkit dan berdiri mendekati Zif. "Kamu tidak gila Zif, ini normal, lakukan saja padaku, aku ikhlas."
"Pergi." Lirih Zif mengusir.
Indar menggeleng. "Zif."
__ADS_1
"Pergi kataku!" Bentak Zif.
"Hiks." Indar menitihkan air mata, bahkan di saat tidak sadar pun Zif menolaknya. "Kamu jahat Zif!" Berang nya.
Indar berlari keluar dari kamar dengan isakan kecilnya. Hardika yang baru saja tiba mengerut kening menatap Indar yang duduk di sofa dengan menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Indar. Ada apa?"
Hardika pandangi Indar dari atas hingga bawah, sungguh mulus tak berkekurangan. Dia lelaki normal, melihat Indar hanya memakai baju tipis seperti itu tentu tergoda imannya.
"Kamu kenapa?" Hardika duduk di sisi Indar, membelai lembut rambut Indar dengan tatapan predatornya.
Indar memeluk lelaki itu seperti biasanya dia lakukan, sedari kecil Indar memang sangat dekat dengannya. "Zif Om, Zif menolak ku." Adu nya.
Hardika menggeleng. "Bagaimana bisa dia menolak wanita secantik dan seseksi dirimu?" Bisik nya.
"Zif jahat Om." Isak Indar mengadu.
"Ssuutt." Hardika elus puncak kepala wanita itu, dia lerai pelukan dan memandangi seksama wajah Indar, saliva berhasil dia telan setelah bersusah-payah.
"Bagaimana kalau kita buat rencana lain?" Usul Hardika dengan siasat liciknya.
Indar mengernyit. "Maksud Om?"
Hardika menjatuhkan bibirnya pada Indar yang hanya pasrah tanpa perlawanan. Menolak Hardika sudah pasti pelanggaran baginya. Di Indonesia Indar hanya punya lelaki itu setelah kedua orang tuanya tinggal di Amerika.
Indar ingin menolak Hardika, tapi sentuhan lembut lelaki itu menghanyutkan. Lihai Hardika yang notabenenya adalah pria pecinta seribu wanita.
Melihat Indar hanyut, Hardika menarik Indar masuk ke dalam kamar lain dalam apartemen ini sehingga terjadilah pergulatan haram yang tidak seharusnya mereka ciptakan.
Pagi hari setelah itu, Indar terisak menangis di sisi ranjang, meratapi sesuatu yang tidak seharusnya dia relakan pada calon mertuanya.
Hanya mengenakan underwear saja Hardika memeluk Indar dari belakang. "Ini akan mempermudah mu mendapatkan Zif. Jika hamil, Zif takkan pernah melepaskan mu, kamu bilang saja ini ulah Zif." Ucapnya.
Lagi pun, Hardika tidak mungkin menikahi Indar, bisa-bisa Frans ayah Indar mengamuknya perkara telah berani menodai kesucian putrinya.
Indar mengangguk. "Om harus bantu Indar mendapatkan Zif." Pintanya. "Indar akan anggap semua ini tidak pernah terjadi di antara kita." Ucapnya.
"Pasti." Sahut Hardika.
__ADS_1
...Kilas balik selesai....