
Seharusnya Gerald dan Shara kembali ke Amsterdam, tapi karena mood mulai tidak baik, mereka menunda bulan madunya lagi.
Garry dan keluarga juga kembali pulang dengan menggunakan pesiar. Kabarnya Margens di tolak cintanya. Gerald masih tak habis pikir, kenapa mafia sekelas Margens menyukai wanita bercadar.
Sejenak kita lupakan kapal pesiar yang telah berlalu.
Pagi yang cerah, Shara telah cantik dengan rambut ikalnya, dia duduk di sisi suaminya setelah menyuguhkan sarapan pagi pada piring lelaki tampan berjas hitam itu.
Senyum manis tertampil di bibirnya, ada hal yang membahagiakan wanita cantik ini tentunya.
Sesekali Gerald melirik curiga, sudah pasti kebahagiaan ini ada hubungannya dengan kasus Zif yang mulai mendapatkan titik terang.
Sudah dua hari Gerald tak mengajak istrinya berbicara, Shara pun hanya diam saja membiarkan Gerald meredam kecemburuan.
Mungkin Shara bingung mau memulai darimana kata-katanya jika Gerald saja terus acuh padanya.
Namun tidak untuk hari ini, entah kenapa, Shara tak pernah melupakan sunggingan senyum manis nya sedari mandi tadi.
Garry yang curiga bertanya pada akhirnya. "Kamu kenapa Shara?"
"Nggak apa-apa Daddy," Geleng Shara menyengir. "Oya, Shara boleh ikut mobil Daddy? Pagi ini Shara mau ke rumah sakit." Ujarnya.
"Boleh dong." Angguk Garry. Biasanya Garry masuk ke rumah sakit sekedar untuk memantau pasien-pasiennya.
Gerald meletakkan sendok garpu di tangannya lalu meraih tisu dan mengelap bibir. "Aku berangkat." Pamitnya. "Akhir-akhir ini Shara sering mengunjungi rumah sakit, pasti ada hubungannya dengan Zif." Batinnya.
"Loh, Abang belum selesai sarapan." Shara meraih lengan suaminya.
"Ada pertemuan penting pagi ini, aku buru-buru, kan kamu yang nyuruh aku kerja. Aku bukan pemuda bebas seperti dulu lagi. Sekarang waktuku lebih banyak di kantor dari pada di rumah bukan?"
"Iya." Angguk Shara menunduk pelan.
Di lihat dari ucapan Gerald sepertinya lelaki itu menyesal telah meninggalkan masa kebebasannya demi menikah dengan dirinya. Shara tahu, tidak mudah menjalankan bisnis sementara passion Gerald adalah bernyanyi.
Ini resiko menikah dengan pewaris tahta yang manja dan terbiasa bebas dengan kehidupannya.
"Aku berangkat." Shara berdiri untuk menerima kecupan manis dari suaminya tapi Gerald sudah lebih dulu pergi tanpa meninggalkan apa pun.
Kembali Shara duduk dengan sendu menatap punggung gagah suaminya berlalu. "Bang Gerald tidak seperti biasanya. Dia acuh padaku dua hari ini." Lirihnya.
Garry mengusap lengan Shara. "Sudah, biarkan dia hidup semau nya sendiri. Dunia tidak berhenti hanya karena Gerald tidak mau bicara baik padamu. Sekarang lanjutkan sarapan." Tuturnya.
Shara mengangguk. "Iya Daddy."
Sengaja Garry tak menegur putranya, biar saja Gerald dewasa dengan pemikirannya sendiri. Sedari awal Garry memberikan wanti-wanti agar siap dengan situasi ini.
Shara janda muda yang cantik, Zif mantan suaminya masih sangat menginginkannya. Garry terus mewanti-wanti untuk siap dengan kondisi ini tapi nyatanya Gerald tak jua siap.
...••••••••••••...
Siang hari yang kian terik, Shara turun dari mobil mewah miliknya, kendaraan itu fasilitas dari Garry setelah menjadi bagian dari keluarga Van Houten.
Shara berjalan sambil tersenyum, menenteng paper bag kecil ditangannya. Tak mudah memberikan sesuatu kepada pewaris tahta yang telah memiliki segalanya. Tapi Shara masih berharap, hal kecil ini akan mampu memperbaiki kualitas hubungannya.
"Selamat siang Nyonya muda." Tegur sapa para karyawan kantor pusat Jack group.
"Siang." Senyum Shara ramah. "Tuan ada kan?" Tanyanya.
"Ada, Tuan muda di ruangannya." Wanita itu menundukkan wajahnya sopan.
"Terimakasih." Shara memasuki lift untuk sampai ke lantai empat, di sana lah Gerald memimpin divisi keuangan.
Kendatipun Gerald owner kedua perusahaan ini, tetap CEO nya adalah Nathan Ellard Jackson yaitu putra pertama Dylan Jackson.
__ADS_1
Langkah gontai Shara ayunkan, setelah keluar dari lift. Dia sentuh pintu kaca suaminya dan terbuka otomatis.
Terlihat di mejanya, Gerald sibuk dengan beberapa laporan keuangan. Ketampanan paripurna telah menjadi bagian dari tubuh tinggi bidang lelaki itu.
Shara tersenyum seraya mendekat. "Abang." Panggil nya.
Gerald mendongak menatap Shara yang tak biasanya datang ke kantor. "Kamu kenapa ke sini?" Tanyanya.
Shara mengernyit. "Apa aku perlu alasan untuk menemui suamiku?"
"Tidak biasanya saja." Sanggah Gerald datar.
"Abang bosan padaku?"
Gerald mendengus. "Ayolah. Jangan drama, jangan membalik keadaan, apa aku terlihat bosan padamu, sementara kamu yang sudah jelas-jelas bosan padaku."
"Kalo Abang menolak diragukan, makanya tumbuhkan kepercayaan, tepati janjimu dan hilangkan sikap yang membuat orang meragukan Abang." Baru saja ingin memulai perbaikan hubungan, Gerald mengajaknya berkelahi.
"Sekarang pulang lah, aku masih ada beberapa pertemuan penting." Gerald bangkit dari duduk menyelipkan ponselnya pada saku bagian dalam jas nya.
"Apa aku tidak penting?"
"Shara."
Shara mendengus. "Yah, baiklah, maaf mengganggu." Wanita itu duduk bersandar pada sofa.
Gerald mengernyit. "Untuk apa duduk? Aku akan lama, kau pasti bosan menunggu ku." Katanya.
Lagi, Shara mendengus. "Iya, aku pulang setelah duduk lima menit. Kaki ku lelah naik ke lantai ini."
Setelah cukup lama terdiam menatap istrinya kelelahan. Gerald keluar dari ruangan, entah kenapa, cemburu nya masih tak mampu dia kendalikan.
Baru kali ini Gerald mencintai seseorang hingga benar-benar menggilainya. Sementara Shara sendiri sudah pernah mencintai Zif dengan tulus. Ini tidak adil bagi Gerald.
"Menginginkannya atau tidak, kamu perlu tahu berita ini Bang." Gumamnya lirih.
Shara mengusap butir butir jernih yang mengalir terjun membasahi pipi, ternyata masih secengeng itu dirinya. Gerald lelaki bebas, sebelum bersamanya entah berapa wanita yang pria itu pacari.
Shara tak menyesal meskipun nantinya dia akan menjadi salah satu istri yang di campakkan. Resiko memiliki suami tampan memang tidak jauh dari godaan.
Setidaknya sekarang Shara telah siap, sebab pengalamannya bersama Zif membekalinya kedewasaan.
Berwajah lesu Shara keluar dari ruangan suaminya, berjalan pelan menaiki lift yang terbuka. Semua sapaan karyawan tak dia hiraukan, Shara sibuk dengan pertentangan batinnya.
Melihat Shara menaiki lift, Gerald kembali memasuki ruangannya. Perdebatan kecil yang tak ingin dia hadapi membuatnya lebih memilih menghindar.
Gerald duduk pada kursi kebesarannya, menyandar dan mengusap bibirnya, mendengus dan perlahan memejamkan mata. Sejenak dia berpikir, dirinya sudah sangat keterlaluan pada istri tercintanya.
Seharusnya membuat nyaman, bukan malah menjauhinya dan memberikan sela kepada pria lain yang berpotensi mendekati Shara.
Kembali Gerald membuka mata, menatap paper bag kecil di atas meja kerjanya. Dia raih dan membuka isi dalamnya. Rupanya ada amplop yang tertera di sana.
...ʜᴀʏ ᴄᴀʟᴏɴ ᴅᴀᴅᴅʏ, ɪ ʟᴏᴠᴇ ʏᴏᴜ ꜱᴏ ᴍᴜᴄʜ....
Kartu ucapan yang Gerald baca dari tulisan tangan milik Shara. Gerald mengernyit saat membaca itu. "Calon Daddy?" Lirihnya.
Gegas dia buka kotak satunya, ada kertas hasil USG yang sudah pasti bisa Gerald baca. Dia lulusan kedokteran. Tentu saja tahu apa yang istrinya beritunjuk padanya.
...ᴍᴀᴀꜰ, ᴛɪᴅᴀᴋ ʟᴀɴɢꜱᴜɴɢ ᴍᴇᴍʙᴇʀɪᴛᴀʜᴜ ᴍᴜ ᴀʙᴀɴɢ, ᴛᴀᴘɪ ꜱᴇɴɢᴀᴊᴀ ꜱʜᴀʀᴀ ᴜꜱɢ ʟᴇʙɪʜ ᴅᴜʟᴜ ꜱᴜᴘᴀʏᴀ ʜᴀꜱɪʟɴʏᴀ ʟᴇʙɪʜ ᴀᴋᴜʀᴀᴛ....
...ᴘᴀɢɪ ᴛᴀᴅɪ, ꜱʜᴀʀᴀ ᴘᴏꜱɪᴛɪꜰ ɢᴀʀɪꜱ ᴅᴜᴀ. ᴍᴀᴋᴀɴʏᴀ ʙᴀʀᴜꜱᴀɴ ꜱʜᴀʀᴀ ɪᴋᴜᴛ ᴅᴀᴅᴅʏ ᴋᴇ ʀᴜᴍᴀʜ ꜱᴀᴋɪᴛ ᴅᴀɴ ᴛᴇʀɴʏᴀᴛᴀ ʙᴇɴᴀʀ, ʜᴀꜱɪʟɴʏᴀ ᴘᴏꜱɪᴛɪꜰ....
__ADS_1
Gerald ternganga tak percaya. "Baby hamil?" Sontak dia beranjak dari duduknya, berjalan tergesa-gesa keluar dari ruangan.
Gerald berlari menuju lift menekan tombol ke bawah dan menunggu transportasi vertikal itu terbuka. "Semoga Shara belum pulang." Gumamnya.
Ada kebahagiaan, tapi sesal lebih mendominasi dirinya, "Bodohnya aku." Gerald menghela napas kasar.
Pantas saja Shara kelelahan naik ke lantai empat. Rupanya ada janin yang menyertai langkahnya.
Jangan sampai Shara bersedih di kehamilan trimester pertamanya, ini sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang janin.
Saat pintu lift terbuka, gegas Gerald masuk ke dalam, dan turun ke lantai lobby, dia berlari begitu pintu lift terbuka.
Semua orang menatapnya, tiba di pintu lobby Gerald celingukan mencari sosok cantik istrinya, beruntung Shara baru saja memasuki mobil.
"Sayang!" Panggil nya seraya berlari mengejar.
Shara menoleh polos. Gerald melanjutkan larinya hingga berdiri ngos-ngosan di sisi mobil istrinya. "Sayang." Dia masuk dan mengusir sopir pribadi istrinya.
Satu kali lagi, Shara mengerut kening polos memandangi suaminya. "Ada apa? Kenapa Abang lari-lari begitu?"
Gerald peluk kepala istrinya impulsif. "Maaf." Ungkapnya. "Maafkan Abang." Tambahnya.
"Untuk apa?"
"Untuk semua kesalahanku, atas semua kebodohan ku, dan semua kecemburuan yang kekanak-kanakan ku." Imbuh Gerald.
Shara tersenyum. "Cemburu diperlukan dalam sebuah hubungan, dan atas nama cinta, Shara juga minta maaf sudah membuat Abang cemburu." Ucapnya.
Gerald menggeleng. "Tidak perlu, aku tahu kamu punya hati nurani yang luhur. Semua orang kamu pedulikan, Bang Jho, Daddy, Damar, bahkan Zif yang sudah pernah menyakiti mu, aku yang bodoh karena belum bisa menetralisir kecemburuan ku, aku terlalu mencintaimu." Ucapnya memberi kecupan pada puncak kepala wanita hamil itu.
"Terlebih aku yang sangat mencintai Abang, semua milik Shara telah menjadi milik Abang, hatiku, bahkan ragaku, dan sekarang calon anakku."
Gerald mengangguk, dia lerai pelukan lalu mendaratkan kecupan memabukkan pada bibir merona istrinya. Jas hitamnya dia lepas sembarangan. Dasinya dia longgar kan.
Merangkum kedua pipi Shara, memperdalam pagutan bibirnya, merangsek pada bagian dalamnya.
Gerilya bibir itu beradu saling membelit satu sama lain. Sentuhan tangan mulai meremas sesuatu yang perlu dia remas.
Dua hari ini Gerald menahan hasratnya, rasanya ingin sekali melampiaskan inginnya siang ini juga.
"Sayang." Shara telah duduk di atas pangkuannya, menatap Gerald yang mengembang kempiskan dadanya.
Deru dera napas keduanya bergemuruh tak keruan, Gerald mulai menyingkap rok milik istrinya, memainkan sesuatu di dalam sana.
"O my God, Abang." Geleng Shara.
Gerald terjaga menatap lekat wajah cantik istrinya dari jarak yang sangat dekat. "Maaf, seharusnya jangan dulu, proses pembentukan dedek bayi kita baru akan dimulai." Lirihnya.
Shara mengangguk. "Tapi lihat, Abang sudah tegang loh."
Gerald terkikik pelan. "Biar Abang tangani sendiri." Katanya berbisik.
"Shara bantu." Shara duduk di sisi Gerald.
Sementara lelaki itu membuka gesper dan menurunkan celananya hingga ke paha, kali ini Gerald membiarkan istrinya memainkan pusaka bangsanya.
Mempertahankan perhatian, juga dapat sekaligus mempertahankan sebuah kepercayaan.
Tidak dipungkiri, rasa percaya dapat timbul dari sebuah kenyamanan. Dan perasaan itu dapat tumbuh seiring berjalannya waktu.
Namun, layaknya sebuah perasaan, kepercayaan juga dapat menghilang kapan saja.
Maka dari itu, jagalah kepercayaan sebagai bukti keseriusan dalam hubungan. Dengan begitu, rasa cemburu atau prasangka buruk lainnya akan lebih mudah sirna.
__ADS_1