
Kasus tuntutan Shara juga masih berjalan bersamaan dengan tuntutan Damar. Kubu Hardika masih kuat maka sulit membuktikan bahwa tua bangka itulah dalang pembunuhan Risha.
Hanya bukti kasus penyiraman air keras saja yang sudah mendapatkan putusan tetap pengadilan. Bahwasanya, Hardika dan Indar resmi di nyatakan bersalah.
Beberapa CCTV hasil meretas, juga saksi kongkrit yaitu Deden sebagai penguatnya.
Penganiayaan berencana, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun. Oleh sebab perbuatan itu mengakibatkan luka-luka berat, maka Indar, Hardika dan pihak terkait dikenakan pidana paling lama tujuh tahun penjara.
Entah juga.
Tak mungkin selama itu, karena Zif akan melakukan segala cara untuk meringankan hukuman ayahnya.
Sejenak kita beralih pada kasus lainnya, yaitu kasus cinta yang masih tak terbalaskan. Cinta Gerald Van Houten yang di ragukan oleh Shara.
Mengalami patah hati memang tidak mudah. Orang yang sedang patah hati biasanya akan kehilangan motivasi untuk melakukan segala sesuatu, bahkan untuk hal-hal sepele dalam kehidupan sehari-hari.
Seperti yang di lakukan pemuda tampan satu ini. Gerald enggan melakukan apa pun dalam kantornya. Sedari pagi tadi Gerald hanya duduk malas berputar-putar di kursinya.
Baru saja Gerald mendengar berita menyakitkan dari orang-orang nya, bahwasanya kemarin Shara mengunjungi kontrakan lamanya, bukan hanya itu saja, Shara juga mendatangi kantor Zif yang entah apa tujuannya.
Setelah pengambilan akta cerai, Shara justru terlihat aneh, sering berbolak-balik tanpa mau di antar. Selama tiga bulan ini Gerald hanya mendapatkan informasi dari orang-orang suruhan yang setia mengawasi Shara.
Cukup tahu saja, sepertinya Shara sudah benar-benar tak menyisakan tempat untuknya. Setelah ciuman pertama nya malam itu, sampai sekarang tak pernah ada lagi kejelasan nya.
Cukup sudah Gerald menunggu, di acuh kan, bahkan tak di anggap serius oleh Shara. Mulai hari ini, Gerald ingin mencoba beranjak dari hati Shara-nya. Mungkin dengan begitu, dia tak lagi memikirkan keterpurukan yang tiada berujung.
Setelah melamun cukup lama. Gerald meraih ponsel miliknya lalu membuat panggilan telepon pada Garry.
Tuuuutt.....
📞 "Iya Gerald." Tak lama terdengar suara damai sang ayah.
"Daddy boleh pilih siapa pun wanita yang akan menjadi istri ku. Malam ini juga, Gerald mau menemuinya." Putus Gerald yang membuat Jho berkerut kening menoleh padanya.
📞 "Kamu serius?"
"Sangat serius." Ucap Gerald.
📞 "Baiklah, Daddy atur pertemuan kalian."
Gerald mematikan panggilan setelah Garry paham dengan maksud dan tujuannya menelepon, dia lirik Jho dengan seksama.
"Tuan muda yakin?" Jho menyeletuk.
__ADS_1
"Yakin seyakin-yakinnya. Kenapa memangnya?" Cetus Gerald.
"Bukanya Tuan muda menyukai Nona Shara? Kenapa tiba-tiba menerima perjodohan?" Sanggah Jho.
"Mungkin aku lelah." Dengan santainya Gerald beranjak dari duduk, berjalan keluar dari ruangan miliknya.
"Lelah?" Jho mengernyit heran menatap berlalunya sang Tuan.
Malam ini akan menjadi hari pertemuan Gerald bersama calon istri pilihan sang ayah, maka itu Gerald ingin membelikan sesuatu, mungkin di butik atau toko bunga.
Gerald tahu menerima perjodohan itu berat, tapi acap kali terdengar, bahwa seiring berjalannya waktu cinta akan tumbuh setelah terbiasa bersama, seperti cintanya pada Shara yang perlahan tumbuh setelah hampir satu tahun tinggal satu atap.
Kali ini Gerald ingin mencoba nya dengan wanita lain, wanita yang jelas-jelas ingin berjodoh dengan dirinya, tidak seperti Shara yang masih saja menggantung perasaannya bahkan terkesan masih menyukai Zif saja.
...••••••••••••...
Di tempat lain.
Shara masih asyik dengan laporan keuangan dari beberapa klinik pribadi milik ayahnya, seperti biasa, Garry bekerja di rumah saja di temani putri angkatnya.
Shara memang menjadi asisten, sekertaris, sekaligus manager ayahnya. Semuanya ia rangkap sendiri.
Hari ini kondisi Shara kurang fit karena seharian kemarin dia kehujanan saat mengunjungi kontrakan lamanya. Bersin-bersin secara berulang, untungnya masih sanggup membantu memeriksa laporan.
Mendengar itu Shara menoleh "Syukur kenapa Daddy? Memangnya siapa yang menelepon?" Tanyanya penasaran.
Binar tak biasa nampak di wajah Garry saat ini, Shara juga ikut tersenyum.
"Abang mu, dia mau menerima perjodohan yang kedua, nanti malam kamu bantu Daddy siapin pertemuan mereka. Ok." Garry tersenyum antusias.
Dentuman yang kian memanas menyengat jantung hati Shara.
"Perjodohan?"
Semenjak mengatakan cinta, Gerald tak lagi hangat padanya. Jutek, judes, dingin, Shara pun tak mengerti dengan perasaan Gerald padanya. Lalu malam ini tiba-tiba Gerald memutuskan untuk menerima perjodohan? Shara terkesiap.
"Perjodohan?" Ulang Shara.
"Iya, barusan Abang mu, bilang, siap menerima perjodohan yang Daddy siapkan. Baiklah, sekarang Daddy mau telepon dokter Adelin dulu, kamu istirahat dulu saja Shara, minum obatnya." Ujar Garry seraya beranjak pergi.
Shara meredupkan tatapan dan senyuman, ada ketidak sukaan yang terbit di wajahnya "Adelin? Perjodohan Abang?" Gumamnya lirih.
Setelah perceraian nya bersama Zif. Tak ada komunikasi yang cukup baik diantara Gerald dan dirinya. Gerald terus menghindar dari Shara karena suatu alasan. Dan sungguh Shara tak mengerti apa alasannya. Gerald tak pernah mau bicara serius lagi setelah malam ciuman pertama mereka.
__ADS_1
"Jadi benar kan? Abang tidak pernah menyukai ku dengan serius." Tambah Shara semakin lirih.
...••••••••••••...
Malam harinya.
Seperti yang sudah di tetapkan, malam ini Garry menyiapkan jamuan makan dan lain sebagainya. Garry terlihat antusias sekali menjodohkan putranya dengan seorang dokter.
Beberapa wanita yang dia pilih selalu saja lulusan kedokteran. Kali ini Garry yakin Gerald menerima wanita pilihannya.
Shara hanya diam di sofa ruang tamu dengan selimut tebalnya, tak bersemangat, wajahnya semakin pucat.
Syal melingkar di lehernya. Ingus sesekali dia hela sedang matanya berkaca-kaca karena pilek yang tak kunjung sembuh.
Garry datang mendekat, sudah lengkap dengan pakaian sambutannya "Sudah minum obat belum?" Tanyanya pada Shara. Ada Gerald juga di sisi lainnya, menatap gadis itu dengan datar.
"Sudah. Mungkin besok sembuhnya." Shara mengusap hidungnya dengan tisu, menyandar pada sofa empuk itu.
Gerald berjalan mendekati sofa, duduk di sisi gadis itu, menempelkan telapak tangan pada kening Shara yang terasa semakin panas "Kenapa tidak di kamar saja istirahat nya?" Tanyanya peduli.
"Di kamar bosan." Shara menepis tangan abangnya lalu membetulkan posisi selimutnya, bukan bosan, Shara hanya penasaran dengan gadis pilihan ayahnya. Shara ingin melihat wajah calon kakak iparnya.
"Permisi Tuan. Dokter Adelin sudah datang." Satu pelayan mengatakan itu sembari membungkuk sopan.
Gerald beralih padanya "Biar aku yang buka."
"Tidak perlu Tuan muda. Aku bisa ke sini sendiri." Rupanya wanita cantik bernama Adelin itu sudah masuk terlebih dahulu, mengusung senyuman manisnya.
"Adel!" Garry menyambutnya dengan merentangkan kedua tangan "Bagaimana kabarnya? Gimana luar negeri? Betah di sana?" Tanyanya.
Adelin memeluk Garry seperti sapaan hangat dahulu saat Adelin masih kecil dan di bawa main ayahnya "Baik Om. Luar negeri best, tapi tetap Indonesia tercinta." Ucapnya tersenyum.
"Wah." Shara merengut melihat calon iparnya sangat cantik, dan yang pasti kecantikannya bukan operasi seperti dirinya.
...••••••••••••...
Bersambung.... Up lagi setelah ini tunggu review berhasil.... Komentar nya dulu boleh.....
.
.
.
__ADS_1