Dendam Si Cantik "Kembalinya Istri Buruk Rupa"

Dendam Si Cantik "Kembalinya Istri Buruk Rupa"
Syah.....


__ADS_3

...β€œπ•Άπ–†π–’π–š π–™π–†π–π–š π–π–†π–’π–š π–˜π–Šπ–‰π–†π–“π–Œ π–π–†π–™π–šπ– π–ˆπ–Žπ–“π–™π–† π–π–Šπ–™π–Žπ–π–† π–π–†π–’π–š π–™π–Žπ–‰π–†π– π–‡π–Žπ–˜π–† π–™π–Šπ–—π–™π–Žπ–‰π–šπ–— π–π–†π–—π–Šπ–“π–† π–π–Šπ–“π–žπ–†π–™π–†π–†π–“ π–†π–π–π–Žπ–—π–“π–žπ–† π–‘π–Šπ–‡π–Žπ– π–‡π–†π–Žπ– π–‰π–†π–—π–Ž 𝖕𝖆𝖉𝖆 π–’π–Žπ–’π–•π–Ž π–’π–š.”...


Seperti yang di katakan Dr Seuss, Shara dan Gerald pun mengalami hal yang sama, keduanya enggan memejamkan mata sebab sesuatu yang membahagiakan terdapat di hadapannya.


Setiap manusia tentu menginginkan pernikahan bahagia bersama terkasih. Melakukan ritual janji pernikahan yang dirayakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan sesuai dengan norma agama, norma sosial, dan norma hukum.


Bukan materi saja, doa restu orang tua pun penting supaya bahtera rumah tangga bisa dilalui dengan lancar, penuh keberkahan. Sebab, dalam menyatukan dua insan yang berbeda latar belakang, menjadi tantangan tersendiri.


Seperti hal nya pernikahan Zif dan Shara yang telah gagal lantaran Hardika tak mau memberikan doa restunya, bahkan tega mencelakakan Shara demi perpisahan keduanya, miris.


Itu semua masa lalu bagi Shara, terlepas dari apa pun hal yang menyakitkan, semua adalah jalan menuju pertemuan jodoh sesungguhnya yaitu Gerald, kalau di ingat kembali, tiada mungkin Shara bertemu dengan Gerald jika tidak terjadi hal mengerikan satu tahun yang lalu.


Sebab satu jam barusan keduanya melenggang ke jenjang pernikahan, resmi menandatangani buku nikah di saksikan banyak insan.


Syah! Yah, setelah melakukan beberapa prosesi sakral kini hubungan mereka telah di syah kan secara agama dan negara. Gerald Van Houten resmi mempersunting Shara-nya.


Tawa, senyum, tangis haru, semua terurai melengkapi ruangan yang di hiasi bunga berwarna putih ini.


Mereka melakukan akad di kediaman keluarga dokter Garry. Gerald dan Shara pun masih hanya memakai pakaian biasa saja, sebab setelah ini semua orang harus bersiap dengan resepsi pernikahannya di dalam kapal.


Dylan memeluk ayah tiri yang usianya hanya selisih tiga tahun saja "Selamat Daddy." Ucapnya bahagia.


"Emmh." Tak ada jawaban panjang yang mampu dokter Garry katakan, sesak haru tentu mencokol dalam dadanya.


Senyum manis tiada henti menghiasi wajah berjambang miliknya, akhirnya buah cintanya bersama Ranti telah meminang seorang gadis.


Garry menggiring putra-putri nya memasuki mobil pengantin, setelah memastikan kedua mempelai aman, Garry, Dylan dan istrinya memasuki mobil lainnya.


Begitu pun dengan mobil-mobil milik keluarga yang lain, mereka beramai-ramai mengiringi mobil pengantin berhiaskan bunga dan pita merah itu. Pawai pernikahan putri Duke saja kalah ramainya.


Sejenak kita beralih, pada mobil yang membawa kedua mempelai rupawan ini, setelah di syah kan.


Di atas jok penumpang bagian belakang, Shara dan Gerald justru merasakan canggung tiada berkesudahan. Jho yang menyetir, sementara Margens duduk pada jok penumpang bagian depan.


Untuk mengurangi kecanggungan kedua mempelai, Margens bersiul bahkan bersenandung kecil, bibirnya tersenyum menyindir. Jho tahu kecanggungan ini menggelitik.


Margens pada akhirnya mengambil dua boneka pengantin yang teronggok pada dasbor mobil.


"Wah, ini mirip sekali dengan dongeng cerita putri dan pangeran. Apa kau pernah mendengar dialog mereka Bang Jho?" Margens melirik sang sopir yang mengangguk kecil menghiraukan dirinya.

__ADS_1


"Aku lupa, memang bagaimana dialog nya?" Jho sengaja memancing Margens mencairkan suasana.


"Ekm ekm, begini, ..." Kata Margens sambil mengadukan kedua boneka pasangan pengantin itu.


"Putri, buka penutup wajah mu, aku ingin melihatnya, __ Tidak pangeran, aku malu, __ Ini malam pertama kita sayang, __ Iya aku tahu, tapi, aku, __ Kenapa? __ Datang bulan."


"Hahaha." Margens tergelak renyah setelah memperagakan dialog putri dan pangeran nya.


"Sialan!" Gerald hentakan tapak sepatunya pada sandaran jok milik Margens "Kau membuli ku hah?" Ketusnya, sementara Shara hanya diam tersenyum-senyum menatap ke arah jendela.


"Aku hanya sedang melawak!" Sanggah Margens. Dalam perjalanan, menuju pelabuhan, Margens terus membanyol, membuat Shara, Gerald dan Jho tertawa receh. Sungguh ketua sekte ini memiliki sisi humor yang tinggi.


Sesampainya di pelabuhan, Jho memberhentikan mobilnya tak jauh dari dermaga kapal.


Mereka berdiam diri di dalam sana. Menunggu para tamu undangan di cek body oleh para orang-orang Jack group.


Keadaan sekitar benar-benar sesak. Tamu undangan sangat banyak, maka pelabuhan sudah seperti lautan manusia.


Keamanan kali ini di perketat. Margens juga memerintahkan anak buahnya untuk mengawasi mata-mata atau penyelundup yang di curigai sebagai orang suruhan Zif.


Setelah Mei memberikan wanti-wanti, Gerald benar-benar memperkuat tim dan pengawasan. Syukurlah Mei masih mendukung dirinya.


Di tengah kediaman, Shara menarik-narik lengan jas suaminya, yah suami, sekarang Gerald adalah suaminya "Abang." Panggil nya.


"Kapan masuknya? Aku kebelet pipis." Sambung Shara merepek. Selalu saja kebelet saat dalam keadaan seperti ini.


Margens menoleh "Ya sudah kita masuk kapal saja, ada aku dan Bang Jho di belakang kalian." Dia memang ketua sekte nan kaya raya, tapi di hadapan Gerald, dia adalah teman yang solid.


Jho mengangguk "Iya, kita masuk saja, lagi pula, mereka yang masuk ke dalam kapal sudah di pastikan tidak membawa senjata." Katanya.


Gerald mengangguk "Yah, kita turun." Ajaknya.


Jho turun terlebih dahulu membukakan pintu untuk Shara dan Gerald, angin kencang dari lautan menerpa wajah mereka.


Setelah menghirup udara siang hari tepi laut, mereka berjalan beriringan memasuki dermaga. Melanjutkan langkah menuju kapal besar nan menawan itu.


Keempatnya melewati para tamu undangan yang sedang mengantri pengecekan sebelum di perbolehkan masuk kapal.


Senyum dan sapaan mereka kembangkan, sembari melambaikan tangan.

__ADS_1


Mengenakan kacamata hitam ala intel, Jho dan Margens menggiring kedua mempelai menuju kamar pengantin yang terletak di lantai atas.


Ini adalah bagian khusus yang hanya bisa di masuki oleh orang-orang tertentu saja.



"Ya sudah, aku tunggu di sini." Jho menghentikan langkah tepat di bawah tangga kamar milik Gerald.


"Ya iyalah, masa ikut? Mau nonton bioskop 10D Lu Bang, di dalem?" Sahut Margens tergelak.


Gerald menggeleng "Otak ngeres mu perlu di bersihin tuh!" Cibirnya pada Margens. Apa-apa di sangkut pautkan dengan adegan dua satu emplus.


"Gak mempan lagi, dah berkerak otak kotor nya!" Caci Jho menimpali.


"Tenang, masih ada harpyc, pembersih kerak membandel!" Cengir Margens.


"Astaga!" Gerald memutar bola mata malasnya.


Tak peduli dengan pikiran kotor Margens yang sudah berkeliling ke mana-mana, Shara tergesa-gesa memasuki kamar. Sepertinya dia sudah tak tahan lagi dengan desakan alaminya.


Klik....


"Bos. Ada wanita bercadar yang memaksa masuk ke dalam kapal, dia bilang make up artist Nyonya muda, sudah kami suruh membuka cadarnya, tapi dia tidak mau."


Margens mendengar informasi dari earphone yang masih menyangkut di telinganya, Jho juga mendengar, saat ini kedua orang itu saling pandang.


"Ada apa?" Gerald yang bingung menatap Jho dan Margens secara bergantian.


"Di luar sedikit ada kekacauan. Biar aku yang tangani, Bang Jho tunggu di sini. Sementara kau boleh nabung telinga di dalam, mumpung ada kesempatan, serang Kaka ipar." Kata Margens membagi tugas.


"Hayyyss! Bajingan tengik ini!" Gerald mengayunkan kakinya namun sayangnya sang bos mafia sudah ngacir dari tempat itu.


Jho menggeleng "Dasar buaya messum!" Umpat nya pelan.


Gerald beralih pada Jho "Ya sudah, nanti kalau Shandra ke sini, suruh masuk saja." Titahnya.


"Emmh." Jho mengangguk pelan.


__ADS_1


...Visual Gerald...


...Bersambung...... Dukung author dengan Like vote komen dan hadiah nya terimakasih 😘...


__ADS_2