Dendam Si Cantik "Kembalinya Istri Buruk Rupa"

Dendam Si Cantik "Kembalinya Istri Buruk Rupa"
Transfer


__ADS_3

Gerald berdiri menyambut kedatangan Adelin dengan pelukan juga tentunya "Apa kabar Adel?"


Dia memang sudah mengenal baik seluk beluk keluarga Adelin. Mereka sempat satu universitas, bedanya Adelin melanjutkan studinya di Amerika, menjalani program pendidikan spesialis bedah sedang Gerald tidak.


"Duduk." Gerald menawarkan sofa pada Adelin dan wanita sepantaran Gerald itu duduk di sisinya.


Adelin justru melirik ke arah Shara yang masih diam mengusap ingus "Dia siapa Om?" Tanyanya pada Garry.


"Oya sampai lupa, kenalkan. Dia Shara adik Gerald." Jawab Garry tersenyum.


"Oh. Salam kenal." Adelin menyatukan kedua tangan tersenyum ramah pada Shara yang masih menatapnya datar saja.


"Salam kenal juga." Ucap Shara irit.


Adelin tersenyum tipis, sesungguhnya dia tahu berita tentang Shara baru-baru ini. Hanya saja, Adelin memilih berpura-pura tidak tahu.


"Jadi kalian tinggal bertiga?" Tanya Adelin.


Gerald mengangguk "Iya, tapi sebentar lagi, tinggal berempat." Katanya tersenyum.


"Oya? Siapa lagi?" Sela Adelin, apa mungkin akan ada yang di angkat menjadi anggota keluarga lagi?


"Kamu!"


Shara memutar bola mata "Kenapa rasanya pengen muntah!" Gerutunya pelan.


"Bisa saja kamu!" Sambung Adelin. Gerald, Adelin dan Garry tertawa kecuali Shara.


Kitty si kucing lucu melompat pada tubuh Shara, memeluk, menggesek kan kepalanya pada leher gadis itu, suara miao nya sedikit menentramkan hati panas Shara. Sepertinya kucing kecil itu tahu bahwa sang Nona sedang merasa cemburu.


"Shara sakit yah, alangkah baiknya, tidak berhubungan langsung dengan binatang dulu." Ujar Adelin memperingati. Dia dokter, hanya melihat satu kali raut kemerahan Shara, Adelin tahu Shara flu.


"Oya, terimakasih perhatian mu dokter, tapi aku akan lebih sakit tanpa dukungan seseorang." Shara menyahut datar dan terdengar aneh.


Adelin tertawa kecil "Kucing bukan orang Shara." Tampik nya.


"Kitty bukan orang, tapi Kitty lebih baik dari pada orang. Aku nyaman bersamanya. Kitty setia padaku, tidak seperti seseorang yang hanya pandai mengatakan tapi tidak membuktikan." Sindir Shara.


Adelin, Garry dan Gerald mengangkat alis, mendengar ucapan Shara yang terkesan aneh.


"Kamu mau kemana?" Garry bertanya saat Shara beranjak dari duduk dan membereskan selimut tebal serta menggendong Kitty.


"Shara bosan di sini Daddy, Shara mau keluar cari angin segar." Pamit Shara.


"Jangan terlalu lama di luar Shara, angin malam tidak bagus. Kamu masih sakit." Kata Garry.

__ADS_1


"Iya Daddy." Shara berjalan perlahan, keluar dari sofa itu, bahkan sengaja menendang kaki Gerald saat melewatinya, untung ada Adelin, maka Gerald sedikit menahan berang nya meskipun sempat mengernyit protes pada adiknya.


Langkah Shara berlanjut sampai ke pintu utama. Tiba di luar, Shara kembali menggontai kaki ke arah bangku taman bunga halaman depan.


Udara malam menyergap menyelimuti wajahnya yang kian memerah. Hidung sumbat nya semakin menjadi jadi.


Ada beberapa penjaga bersiaga di sisi mana saja, setelah kejadian penculikan Shara, Gerald memperketat pengamanan rumahnya.


Shara duduk di bangku taman, bergulung dengan selimut tebal sedang Kitty dia peluk dengan manja. Sesekali bersin saat udara malam menusuk saraf olfaktori nya.


Shara menghela dalam "Kitty. Ternyata calon Bang Gerald sangat cantik, pintar, juga kaya, sekolah di luar negeri lagi." Gumamnya menggerutu merengut.


"Apalah daya ku Kitty, hanya debu jalanan, tak mungkin bisa di sejajarkan dengan biskuit Monde." Katanya lirih.


Ada rasa panas yang menyengat jantung hatinya. Cemburu dengan kata basa-basi Gerald pada Adelin barusan.


Shara memang belum menjawab perasaan Gerald, bukan karena tak ingin hanya masih takut memulai hubungan baru dengan laki-laki lain.


Fitrahnya wanita yang pernah di sakiti pasti mengalami trauma akan kegagalan, apa lagi pria tampan yang meminta cintanya adalah seorang playboy anak dugem kelas elit, mungkin wajar Shara masih meragu.


Alaminya wanita memiliki benteng pertahanan diri yang cukup tinggi, di saat tersakiti, otomatis dia akan mengunci pintu hatinya untuk beberapa orang yang ingin singgah. Sekedar untuk memberikan penyembuhan dari luka lamanya.


Shara memutar bola mata pilu, sembari menyentuh kalung liontin berbentuk bulat yang kini melingkar di lehernya "Aku selalu sendiri. Dari kecil sampai sebesar ini."


Kemarin dia mendatangi kontrakan lamanya berniat mengambil benda itu. Ternyata sang pemilik kontrakan mengatakan, bahwasanya Zif telah mengambil semua barang miliknya, maka itu, Shara mendatangi kantor Zif dan meminta barang-barang nya kembali.


Cukup lama Shara terdiam, di temani Kitty si kucing lucu, menatap sendu bintang-bintang di langit sana. Bergulung dengan selimut tebal dan lilitan syal di lehernya.


Beberapa pelayan menjemput, untuk masuk dan ikut makan malam bersama Adelin, tapi Shara tak beringsut barang secuil. Dia setia melakukan geming nya.


Malam semakin larut, dinginnya desiran angin mulai memeluk kecemburuan sebelum kemudian sayup terdengar beberapa derap langkah kaki dari arah kanan.


Shara melirik ke teras, rupanya Gerald mengantar Adelin ke mobilnya.


"Makasih sudah datang ke sini. Besok biar aku yang mengantar mu ke rumah sakit. Sekalian ikut sarapan pagi di sana." Ucap Gerald sambil tersenyum.


"Beneran?" Adelin bertanya memastikan dan dijawab dengan anggukan kepala Gerald.


"Ya sudah, aku pulang." Adelin menjingkat tumit berusaha memberikan kecupan di pipi Gerald, namun, pemuda itu sedikit memberi jarak, menolak secara halus "Hati-hati." Ucapnya.


Shara menaikan ujung bibir "Baru di pertemukan udah main nyosor ajah! Begitu yang katanya dokter? Cih!" Decih nya sinis.


Shara membalikkan badan, berusaha tak menatap Gerald dan Adelin di teras sana. Semakin melihat semakin panas di buatnya.


"Bye Gerald."

__ADS_1


"Bye!" Shara hanya mendengar ucapan salam perpisahan keduanya tapi tetap saja dogol masih membingkai hatinya.


Setelah mobil Adelin keluar dari pekarangan rumah, ada suara langkah menujunya, Shara tahu Gerald mendekati dirinya tapi masih acuh saja yang dia presentasi kan.


"Kenapa tidak masuk? Ini sudah malam, sebentar lagi hujan!" Gerald memandang langit hitam yang mendung.


"Aku masih suka di sini." Ketus Shara.


Gerald mendengus "Masuk, lemot!" Dia raih tangan Shara namun di tepis.


"Aku masih mau di sini!" Berang Shara kekeh.


"Ya Tuhan. Dia keras kepala sekali, belum satu tahun punya adik begini, sudah darah tinggi, gimana kalo dari bayi, astaga." Gerald memutar bola matanya menggerutu.


Shara menoleh sinis "Dari pada menyuruh ku masuk, mending Abang yang masuk, tidur, bukannya besok udah janjian sama dokter luar negeri itu!" Sungut nya menyindir.


Gerald terkekeh "Kenapa memangnya? Gak suka?" Tanyanya mengompori.


Shara berpaling "EGP!"


"Dih, EGP," Gerald menautkan alisnya heran "Kalo gamau di perhatikan ya sudah, males juga lama-lama ngurusin kamu, mending tidur, besok subuh bangun, nganterin calon istri." Ucapnya memanasi.


Shara menggertak kan giginya "Hiihhh! Ngeselin!" Gumamnya.


"Bye, jomblo!" Gerald melebarkan senyum datar sembari memutar tubuhnya.


"Tunggu!" Shara memanggil Abang nya seraya naik dan berdiri di bangku taman.


"Hmm?" Baru saja Gerald menoleh pada Shara, sebuah kecupan menyerang bibirnya.


"Emmm." Gerald membelalak terkejut. Tangannya merangkum spontan pinggang Shara agar tak terjatuh dari bangku.


Suara kecupan terdengar liar, menyesap dan mentransfer saliva. Shara memang menguasai permainan kali ini sementara Gerald hanya menerima pasrah serangan gadis itu.


Uluran indera perasa yang menyisir barisan gigi Gerald lumayan membuat bagian inti mereka berdenyut meminta lebih.


Berulang kali Shara cecap lalu melepas kemudian dia isap lagi. Cukup lama sampai Gerald di buat meremang, meremas pinggang ramping Shara. Di saksikan seluruh penjaga rumah besar itu.


Setelah puas membuat basah bibir merona Gerald, Shara melepasnya, lalu menatap abangnya dengan seringai di ujung bibir.


"Sudah cukup. Aku transfer kuman padamu. Biar besok Abang gak bisa nganterin calon istri mu! Makan tuh kuman flu!" Shara turun dari bangku taman, lalu meraih selimut dan Kitty untuk di bawa masuk ke dalam rumah.


Sementara Gerald membulatkan mata, tergagu menatap gerak tubuh wanita itu "Transfer kuman?" Gumamnya tak habis pikir, jadi Shara mengecup bibirnya hanya untuk mentransfer kuman saja?


"Astaga, adik kurang akhlak!" Gerald mengelus dada, mencoba sabar menghadapi wanita itu.

__ADS_1


...••••••••••••...


...Bersambung..... Terimakasih partisipasi komentar nya.... Like selalu.... Semoga kalian sehat jasmani, rohani dan ekonomi nya....😘...


__ADS_2