
Ceklek....
Gerald menoleh pada gadis yang berdiri di ambang pintu sana. Sudah lima kali dia menyuruh calon istrinya mengganti pakaian.
Ternyata apa pun yang Shara pakai, selalu terlihat menggoda.
"Gimana sama yang ini?" Tanya Shara sembari menunjukkan gaun indahnya.
Bahkan di gaun ke enam nya Gerald masih tak setuju "Ini masih terlalu seksi, biar Abang saja yang pilih kan!" Gerald masuk ke dalam kamar menggandeng calon istrinya memasuki ruang ganti.
Shara mendengus tapi berusaha lebih sabar lagi menghadapi sikap pencemburu calon suaminya "Terus yang mana lagi?" Tanyanya.
Gerald mengedar pandangan, mengamati setiap gaun yang berjejer rapi di lemari-lemari kaca "Ini, tidak, ini juga tidak, ini apa lagi, kau pasti lebih menggoda memakai yang ini!" Gerutu nya sembari melemparkan satu persatu gaun-gaun itu serampangan.
"Astaga, harus dengan apa aku menutupi tubuh dan kecantikan mu hah?" Rutuk nya seraya mencari.
Shara tersenyum "Abang yang terlalu berlebihan, perasaan aku biasa saja!" Ucapnya.
Gerald mengerling sipit "Jadi kau meragukan selera ku? Meragukan pandangan ku hmm?" Tanyanya.
"Tidak juga." Geleng Shara menyengir. Di posesif kan seperti ini, Shara justru merasa lebih berharga.
Gerald kembali mengobrak abrik lemari pakaian, cukup lama sampai pada akhirnya ada juga yang dia suka.
Setelah menemukan gaun yang pantas Gerald memberikannya pada Shara "Pakai ini. Abang tunggu di bawah." Titahnya lagi.
Shara mengangguk "Janji ini terakhir, aku capek gonta-ganti mulu!" Protesnya.
Cup!
Gerald hanya menjawabnya dengan kecupan manis di bibirnya sebelum melangkah keluar dari ruangan tersebut.
Menatap punggung Gerald, Shara tersenyum, meraba bibir tebalnya, merasakan getaran jantung yang meningkat "Aku sudah pernah di cintai. Tapi cinta mu berbeda dari Zif, Abang." Gumamnya.
...••••••••••••...
Rapih dengan gaunnya, kembali Shara keluar dari kamar, menuruni anak tangga menuju ballroom villa milik keluarga suaminya.
__ADS_1
Shara tersenyum saat Gerald menyambutnya dengan sunggingan senyum manis "I love you." Ucap Gerald.
"Love you too." Jawabnya.
Gerald meraih tangan mulus calon istrinya, menempatkan Shara tepat di sisinya, dia meminta atensi para tamu undangan dengan bertepuk tangan "Kalian semua dengar kan aku." Katanya.
Semua tamu menatap ke arah Gerald dan calon istrinya, tak terkecuali Garry, Dylan dan para tetua lainnya yang ikut bahagia dengan tahap penyatuan ini.
"Hari ini kalian menjadi saksi, pertunangan kami, bulan depan, kalian juga harus menyaksikan pernikahan kami yang akan di langsungkan di atas kapal pesiar, dalam perjalanan menuju Eropa." Lugas Gerald.
Dylan abangnya, memberikan jaminan fasilitas itu pada Gerald, tentu saja, setelah sekian purnama menanti, akhirnya Gerald mau menikah juga. Maka biaya pernikahan pun tak tanggung-tanggung mereka keluarkan.
"Khaaa?" Shara menutup mulut yang seketika ternganga, tak percaya "Kapal pesiar Abang?" Tanyanya.
Perjalanan romantis yang tak pernah Shara pikirkan akan dia lalui bersama suami di pernikahan ke duanya. Shara terkesiap.
"Iya, ..." Jawab Gerald tersenyum.
"Wuuhuuhh!" Satu celetukan dari tamu undangan bertepuk tangan "Akhirnya, teman kita menikah juga!" Katanya bahagia.
"Berarti, bulan madunya langsung di Eropa dong ini?" Tanya Ethan menyengir.
Sepertinya ide ini akan dia praktekan juga saat menikah nanti. Entah siapa yang akan mau menjadi ibu dari Baby Valery nya, perjaka beranak satu ini masih belum menemukan pasangan sejati.
"Yah, bulan madu di Eropa, tapi malam pertama di kapal, haha!" Sahut Margens tergelak. Dia paling hapal dengan situasi malam pertama. Entah sudah berapa gadis yang dia jadikan wanita. Margens mafia dalam segala hal.
"Terus saja kau bayangkan malam pertama ku! Bajingan tengik!" Umpat Gerald menatap cibir teman nakal nya.
"Aku membayangkan, saat istri mu, memakai gaun tipis!" Margens menyengir. Dia sengaja menyulut kecemburuan temannya.
"Iya, suruh Bang Jho pasang CCTV tersembunyi, kita liat bagaimana perang dingin mereka di atas kapal?" Bisik Ethan di telinga Margens yang juga di dengar Gerald
"Hayyyss. Sial!" Gerald menendang kaki keponakannya sampai tertekuk. Sementara Ethan dan Margens hanya tertawa renyah membuat Gerald sebal semakin gerah.
Shara melongo polos, sejatinya dirinya tak tahu apa yang ketiga pria nakal itu bicarakan.
"Selamat yah Tante! Semoga langgeng, pernikahan nya lancar sampai ke pelaminan, punya baby yang tampan dan cantik setelah itu, aamiin." Menantu perempuan Dylan memberikan cipika-cipiki pada Shara.
__ADS_1
"Terimakasih." Ucap balik Shara tersenyum.
"Selamat Gerald, Shara." Giliran Shandra yang memberikan cipika-cipiki pada Gerald dan Shara.
"Terimakasih." Sejujurnya, Shara masih canggung dengan anggota keluarga besar Gerald. Maka tak terlalu banyak sapaan akrab yang dia lontarkan, sebab masih bingung dan belum mengenal.
Gerald berbisik di telinga Shara "Yang ini, kasih tak sampai nya Bang Jho." Jelasnya sembari melirik Shandra.
Shara ternganga "Benar kah? Jadi ini yang Bang Jho igau kan namanya tiap tidur?" Bisiknya kembali.
"Hmm. Shandra namanya." Sambung Gerald. Astaga, keduanya malah asyik ngerumpi. Mereka memang pasangan kepo.
Sementara laki-laki yang di gosip kan justru asyik siaga dengan ponsel di tangannya, masih ada kasus Damar yang belum dia selesaikan.
Tujuan utama Jho adalah menumbangkan Hardika agar di tambah masa hukumannya.
Kejahatan melenyapkan nyawa seseorang, harus mendapat ganjaran yang setimpal. Itu untuk pelajaran bagi Hardika bahwa hukum karma alam tak pernah meleset dari sang Tuan.
"Ekm ekm." Shandra mendekat memberikan dahaman, mencari pengindahan.
Jho menoleh dingin pada gadis yang dulu menolak cintanya, Shandra masih terlihat sangat cantik di matanya namun sudah lain saat harapan bersama tak lagi ada "Kenapa? Nona mau minum? Haus?" Tanyanya.
Shandra menggeleng "Tidak, aku hanya."
Klik....
Satu pesan masuk menggetarkan ponsel Jho, dia memindai gawai tipis miliknya lalu kembali menoleh pada Shandra "Aku permisi, masih ada urusan." Ucapnya seraya pergi.
"Pergilah, terus saja menghindari ku." Menatap punggung Jho Shandra bergumam lirih, merasakan hawa dingin pria tampan nan genius itu.
Melihat raut sendu Shandra, Gerald menepuk pundak gadis itu "Sabar, Bang Jho memang lagi sibuk sama kasus Damar, jadi maklum kalo dia tidak terlalu respon padamu." Ujarnya.
Shandra menoleh "Bukan itu Gerald, Ka Jho memang sengaja menghindari ku." Ucapnya lirih.
...••••••••••••...
Bersambung.....
__ADS_1