
Shandra keluar dari kamar dan sosok tinggi nan tampan pemilik hatinya berdiri menyandar pada dinding.
Jho baru tahu kalau ternyata di dalam kamar milik calon istri sang Tuan ada Shandra kekasih tak sampai nya.
"Ka Jho?" Shandra tersenyum.
Jho tak mengindahkan sapaan gadis itu, dia melengos pergi lalu kemudian Shandra menarik pergelangan tangannya "Tunggu, mau sampai kapan Ka Jho mengacuhkan aku begini?" Tanyanya.
Jho menoleh, terdiam sejenak menatap wajah ayu desainer cantik itu "Sampai aku bisa melupakan penolakan mu." Jawabnya dingin.
Shandra meredup kan tatapan "Sebenci itu kah?"
Tanpa mau berlama-lama melakukan konfrontasi Jho berucap kembali "Permisi, aku harus pergi." Dia melanjutkan langkah meninggalkan Shandra-nya.
"Nanti malam Daddy mau menjodohkan ku dengan orang lain, ..." Shandra menyeletuk, menghentikan langkah Jho. Sungguh tak ada lagi harapan mereka bersama tapi untungnya Jho sudah siap akan hal itu.
"Bagus, ..." Jho membalikkan badannya menatap Shandra yang menundukkan wajah sesalnya "Selamat menempuh hidup baru bersama pilihan orang tua mu." Ucapnya getir.
Setelah melihat ke diaman Shandra, kembali Jho melanjutkan niatnya pergi dari tempat itu, bisa di pastikan Shandra akan menerima perjodohan ini, Shandra bukan wanita yang mampu melawan titah keluarganya apa lagi ayahnya.
Cukup sudah Jho mengharapkan cinta yang tak akan pernah bisa bersatu, Jho mantapkan niat untuk membujang seumur hidup, mungkin dengan mengabdikan diri sebagai orang kepercayaan keluarga besar pemilik Jack group.
Gerald yang baru saja keluar dari kamar Shara berkerut kening mendapati Shandra bergeming di tempatnya.
"Shan!" Panggil Gerald.
Shandra menoleh "Iya, ..." Sekuat tenaga gadis itu beranjak dari lamunan yang entah sampai mana. Dia tatap muka Gerald seperti tidak terjadi apa-apa "Jadi gimana?" Tanyanya.
"Kamu buat lagi gaun pengantin istri ku, usahakan dua Minggu lagi bisa di pakai." Titah Gerald.
"Emmh, tentu saja." Angguk Shandra. Sejenak saja Shandra ingin melupakan kisah cinta tak sampainya dengan penggarapan kedua gaun cantik milik Cantik.
Mungkin dengan begitu, dia tak lagi merasakan sakitnya di acuh kan oleh Jho dan merana nya di jodohkan dengan seseorang yang tidak dia cintai. Shandra berusaha melupakan kisah pelik nya.
...----------------...
__ADS_1
...Visual Zif....
BRAK!!
Di kediaman utama keluarga Hardika Prabaswara. Tepatnya dalam kamar pribadi milik Zif. CEO tampan itu melemparkan gelas wine pada permukaan dinding hingga hancur berkeping-keping.
Seharian ini dia terus bergumul dengan minuman memabukkan, karena hanya dengan begitu dia bisa melayangkan pikiran yang tak mampu berhenti mengingat si mantan.
"Huuaaaarrrggh, brengsek!" Teriaknya mengumpat. Untuk yang ke empat kali, baru saja Shara memblokir kembali nomornya.
Dia duduk menghadapi beberapa botol koktail dan wine di atas meja sofa miliknya, dada bidangnya mengembang kempis, menahan buncahan amarah yang kian meledak, lolos sudah bendungan kesabaran yang selama ini di tangguhkan nya.
"Aku bisa gila jika terus seperti ini Shara." Ucapnya lirih. Matanya terpejam menikmati kegagalan cinta untuk yang pertama kali.
"Bisa kah aku mati sekarang?" Zif meraih satu botol berisikan pil Fluoxetine 'anti depresan' dan mencoba menenggak semua pil nya.
"Zif!" Mei berlari seraya menampik botol obat milik putra tirinya "Sudah gila kamu hah?" Pekiknya melotot.
Mei menggeleng "Tidak hancur putraku, kamu masih punya keluarga, punya Mamah, punya tanggung jawab yang lainnya, satu perempuan tidak akan pernah bisa menghancurkan putra tangguh Mamah." Tuturnya.
Zif menggeleng "Zif gagal menjadi suami yang baik Mah, semua ini salah Zif!" Air mata terurai tanpa di buat-buat. Zif benar-benar kehilangan harapan.
Dua Minggu lagi pernikahan Shara di gelar sementara dirinya masih belum bisa move dari satu wanita kesayangannya "Parahnya lagi. Aku juga gagal melupakannya!" Lirihnya.
Melihat ketidakberdayaan Zif, Mei beranjak ke kamar mandi, mengambil waslap basah lalu menghampiri putranya kembali, ia duduk di sisi sofa menghadap lelaki tampan itu.
Di lap nya dahi, ubun-ubun juga wajah kecewa putranya penuh kesabaran "Semua pasti akan baik-baik saja, secepatnya kau bisa melupakannya, Mamah yakin, kamu bisa, yang sudah pergi, biar saja pergi." Ujarnya lembut.
"Tidak bisa Mah." Lirih Zif tanpa menyinggir matanya, berat rasanya membuka kedua netra yang telah lengar oleh minuman memabukkan "Zif tidak bisa mengikhlaskan Shara menikah dengan bajingan itu." Tambahnya.
"Sudah Zif, Shara mu sudah bahagia, biarkan dia mencari kebahagiaannya sendiri, dia bukan jodoh mu Zif. Dia jodoh orang lain." Cegah Mei menuturi.
"Jodoh, jodoh mantan Mamah begitu?" Zif membuka mata dan menatap tajam ibunya "Gerald mantan kekasih mu kan?" Tudingnya.
__ADS_1
"Zif." Mei terkesiap, ternyata Zif sudah tahu hubungan nya bersama Gerald "Kami cuma pernah dekat saja, tidak lebih." Sanggah nya.
"Terserah apa pun hubungan mu dengan Gerald dulu, Zif tidak peduli, yang pasti Zif yakin Shara tidak akan pernah bahagia hidup bersama play boy sepertinya! Hanya aku, hanya aku yang mampu mencintainya dengan tulus. Kau tahu sendiri kan Mah, aku setia padanya!" Lagi Zif meracau sembari menepuk dadanya berkali-kali.
"Zif akan datang ke pesta nya, akan ku ambil Shara ku kembali. Mereka tidak boleh bahagia di atas penderitaan ku Mah." Sesak sekali rasa yang Zif cecap, saat terkasih mulai bisa beranjak dari hatinya sementara ia masih asyik memikirkan satu wanita itu saja.
"Akan Zif pisahkan mereka. Bila perlu, menyiram kembali wajah Shara dengan air keras, biar dia tahu, aku masih akan mencintainya dalam keadaan apa pun Mah." Kalut Zif.
Mei menggeleng "Jangan bicara begitu. Kamu terlalu banyak minum Zif. Istirahat lah, ..." Ujarnya.
"Aku minum karena Shara Mah, biasanya bukanya Shara yang melarang ku minum? Shara yang bawel padaku, 'Zif jangan ini, Zif jangan itu, aku gak suka Zif' begitu kan Mah?" Imbuh Zif menirukan gestur bicara Shara.
"Sudah hentikan, istirahat lah, sekarang Mamah yang melarang mu." Ucap Mei.
Mei melanjutkan mengelap wajah putranya. Putra yang tak pernah mampu dia tebak seperti apa sikapnya. Terkadang marah, terkadang bersedih. Sedari dulu Zif membutuhkan seseorang untuk meredam kesakitan nya.
Mungkin karena kurangnya kasih sayang dari orang tuanya. Sebelumnya Zif pemuda kurang pergaulan yang dingin, tertutup, tak pernah bisa terbuka dengan siapa pun, tapi kehangatan Mei mampu membuat Zif lebih mencair.
"Temani Zif di sini Mah." Zif berkata lirih sembari meraih sebelah tangan ibunya, sepertinya dia mulai mengantuk.
Mei mengusap lembut puncak kepala putranya "Tidur lah." Ucapnya.
Tak berapa lama Mei membuat Zif tertidur, Mei menyelimuti tubuh Zif kemudian meraih ponsel dari saku rok span nya. Dia layangkan pesan teks pada kontak bertuliskan Gerald VH.
📨 "Di mana pun kau dan Shara berada, di mana pun kalian merayakan resepsi pernikahan, tolong perketat pengamanan. Jaga dirimu terutama Shara mu. Selamat menempuh hidup baru, dan semoga kalian bahagia, Tante Mei." Tulis nya dan terkirim.
Mei mendengus lemah "Tak mudah merelakan mu Gerald, tapi ini yang terbaik untuk semua, semoga Zif bisa segera melupakan Shara." Ucapnya dalam harap.
...••••••••••••...
Bersambung..... Hai kakak, terimakasih banyak bagi yang sudah mau mampir di cerita ku yang ini..... Semoga kalian sehat selalu, dari jasmani rohani dan ekonomi nya..... Aamiin..... Selamat sahur..... 🥰
_
_
__ADS_1
_