Dendam Si Cantik "Kembalinya Istri Buruk Rupa"

Dendam Si Cantik "Kembalinya Istri Buruk Rupa"
Bersalin


__ADS_3

"Di mana pengantin pria nya?" Bram kesal, karena sampai acara mau dimulai Jho masih belum juga sampai.


Gerald bilang, Jho dan Margens sedang dalam perjalanan, hari ini resepsi pernikahan Jho dan Shandra.


Akad nikah sudah dilakukan dua hari lalu.


Setelah menyicipi istrinya, Jho kembali sibuk mengurusi Margens dan Hanum seperti janjinya, ia sampai harus telat menuju hotel tempat acaranya di gelar.


"Niat nggak sebenarnya Jho ini, Dylan!" Bram memandang remeh pemilik Jack group itu.


"Sebenarnya yang Istri Jho kamu, apa putrimu? Kenapa ribut sekali!" Dylan menimpali ketus.


"Jho di sini! Hadir!" Jho berkeringat, setelah berlari dari parkiran ke kamar pengantinnya.


Bibirnya tersenyum menatap Shandra yang sangat cantik seakan meminta dinafkahi lahir batin.


"Kalo gitu kita keluar menyambut tamu-tamu, biar Shandra nanti keluar sama Jho." Dylan mengatur.


"Iya Om." Shandra mengangguk, lalu Bram dan Dylan pergi dari kamar pengantin ini.


Jho menutup pintu bahkan menguncinya, sementara Shandra meraih jas putih dari atas meja, ia sendiri yang akan memakaikan pada suaminya setelah dengan telaten merancangnya.


"Ka Jho buka dulu bajunya." Shandra membuka cover jasnya.


Jho tersenyum menurut menanggalkan kemejanya, bukan untuk mengganti pakaian melainkan mendaratkan ciuman memabukkan.


"Kak!" Shandra menghalau penempelan bibir mereka dengan menahan dada bidang suaminya.


"Hmm?" Jho berkerut kening. Sekarang Shandra istrinya, tapi masih rajin menolak. "Sayang keberatan?" Katanya memelas.


Shandra menggeleng. "Shandra sudah pake gaun pengantin. Aku takut bablas kayak tadi pagi."


Pemuda gagah seperti Jho tak mungkin sebentar jika sudah memakainya. "Nanti saja yah." Pintanya.


Jho menggeleng protes. "Tapi kita sudah halal kan? Lama aku menunggu momen ini." Lirihnya merengek. "Kita main dulu sebelum keluar, please!" Tambahnya.


Lagi-lagi wajah memelas suaminya meruntuhkan segalanya. "Iya deh."


"Terima kasih." Jho menjatuhkan bibirnya setelah anggukan kepala istrinya.


Prakkkk.....


Shandra sibuk meladeni serangan dari suaminya hingga jas putih Jho tergeletak begitu saja.


Persetan dengan lecek, daripada wajah Jho yang kusut lebih baik jas nya saja. Ingat kata Sachi, servis area bawah lebih di utamakan supaya suami tidak selingkuh mencari istri simpanan.


"Ough." Gaun putih itu tergulung hingga terangkat ke atas, Jho membuka gesper lalu menurunkan resleting.


"Langsung saja yah?" Nanar, Shandra menatap memelas suaminya.


"Iya. Nggak apa-apa, sebentar pun nggak jadi masalah daripada enggak sama sekali." Jho menyengir.


Tanpa cukup pemanasan, Jho yang sudah tegas segera menenggelamkan ujung miliknya.


Pelan, tongkat itu masih perlu banyak waktu untuk bisa tenggelam sempurna. "Ka!"


"Hmm." Bulir keringat mulai menghiasi dahinya. Jho fokus pada bagian bawahnya. Sudah bertaut tapi belum menyatu.


Napas mulai bergemuruh.


"Yang kemarin masih sakit kah?" Jho bertanya setelah mendapati ringisan kesakitan istrinya.


"Udah enggak terlalu sih, Shandra masih baik-baik saja kok." Menggigit bibir bawahnya, Shandra menerima dorongan yang perlahan merobek dan menghentak.

__ADS_1


"Ka Jho!"


"Maaf, tapi ini caranya biar cepat selesai. Katanya Sayang mau cepat."


"Iya." Shandra mengangguk. Tubuhnya bergetar, merasai hujaman nikmat yang luar biasa dari suami tampan nya.


Gaun pengantin menjadi saksi, betapa kurang waras nya suami istri ini. Apakah harus sekarang juga menanam benih? Gila lu Jho!


"Ka Jho ganteng." Shandra memuji ketampanan suaminya. Ada buliran keringat yang melintasi ujung bibir Jho. Dan itu terlihat sangat seksi.


"Ah sial, ..." Jho mengumpat kesempitan surganya para kaum hawa.


Kening Shandra mengerut tipis, meski terlihat kesakitan, ia masih setia menerima hentakan demi hentakan dari gagahnya sang suami.


"Ka, ..."


"Hmm?" Napas mereka bersahutan bersamaan dengan pekikan parau keduanya.


"Sakit?"


"Sedikit, tapi Shandra baik-baik saja."


Jho mengecup lembut bibir kenyal istrinya. Mungkin, ini akan membantu Shandra agar lebih menikmati lagi kegiatan romansa nya.


"Mau berapa lama hmm?" Tawar Jho. Sesekali melirik arloji yang melingkari pergelangan tangannya. "Keluar sekarang?"


"Jangan dulu, tunggu Shandra yah." Seperti biasa, semakin lama, rasa yang Jho berikan kian menambah kadar nikmatnya. Awalnya Shandra ingin sekejap, tapi tak rela di lepas setelah nyaman.


Jho menyeringai. Istrinya polos tapi menggoda. "Aku sangat mencintaimu." Bisikan parau Jho membuat Shandra semakin candu.


...••••••••••••...


Di lantai bawah, Gerald sudah tampil rupawan dengan pakaian bangsawan. Semua keluarga Jackson dan Van Houten berkumpul.


Ralat, keluarga Jackson minus Ethan Erland Jackson yang sampai saat ini masih belum diketahui keberadaannya.


"Bang Dylan pasti cemas. I-then benar-benar nekad lari dari Indonesia." Menenteng gelas heels, Gerald mengalihkan pandangan pada ketua mafia yang berdiri di sisinya.


"Ngomong-ngomong. Anak buah mu sudah dikerahkan juga kan?"


Margens mengangguk. "Sudah, tapi sulit dijangkau. Menurut informasi terakhir, I-then pergi ke Rusia. Dan sepertinya dia di sembunyikan salah satu orang berpengaruh di sana."


"Maksud mu?" Kejut Gerald.


Margens terkekeh. "Jaringan Margens luas Ger! Tapi setitik pun, mereka tidak bisa menemukan putra kedua pemilik kerajaan Jack group, aku yakin I-then menjadi simpanan dari salah satu orang berpengaruh di negara itu."


"Apa sesulit itu menembus mereka?" Gerald ketus, bukankah Jack group dan kawanannya memiliki banyak orang-orang handal. Tapi menemukan Ethan saja tidak bisa.


"Sebenarnya apa masalah I-then?" Margens menyesap wine dari gelas heels miliknya.


"Apa lagi? Selain dia yang belum bisa move on dari Sachi, terlebih lagi, sekarang Juhie menikah dengan pria lain karena Bang Dylan tidak pernah mau melamar Juhie untuknya." Sergah Gerald.


"Aku masih yakin I-then juga menyukai Juhie, tapi karena Juhie lahir dari mantan suami Ka Jeje, makanya Bang Dylan tidak merestui, sekarang, I-then pergi dari rumah bahkan ke Rusia, ini berita luar biasa." Getir Gerald.


Berusaha menenangkan, Margens menepuk punggung sahabatnya. "Relaxe Ger, aku yakin tidak akan ada yang tega melenyapkan laki-laki setampan I-then. Santai saja. I-then manusia bebas yang berbakat. Dia pasti pandai menjaga diri di mana pun tempatnya." Ujarnya.


"Semoga saja." Gumam Gerald lirih.


"Abang!" Gerald membalik tubuhnya, seketika suara Shara terdengar. Wanita hamil itu cantik dengan balutan gaun pesta berwarna putih.


"Sayang." Kecupan ringan mendarat di kening Shara. "Pengantinnya mana?"


Shara menggeleng. "Belum keluar, nggak tahu juga, dari tadi lama banget keluarnya, padahal sudah banyak tamu penting."

__ADS_1


"Mungkin nabung dulu." Margens terkikik.


"Hayys." Gerald mendengus. Ternyata Jho yang sok alim pun gatal juga.


Hari bahagia ini, berlalu dengan begitu indah. Semua orang menikmati acaranya, meski Dylan Jackson kehilangan putra keduanya.


...••••••••••••...


^^^Beberapa bulan kemudian.^^^


"Ahh."


Desah yang terdengar parau menggema dalam ruangan. Shara meremas pucuk bantal yang menjadi pelampiasan geramnya.


"Abang! Hiks!" Menetes air mata kesakitan dari sudut-sudut netra nya.


"Kenapa?" Gerald panik hingga rela ia menghentikan aktivitas berpahala nya.


Selembar selimut Gerald tarik demi menutupi tubuh hamil istri tercintanya yang polos tanpa sehelai benangpun. "Sayang kontraksi?" Tanyanya.


"Emmh." Secara cepat Shara mengangguk.


Seperti kata Nathan, Gerald mencoba cara ini untuk memancing keluarnya dua bayi kembar yang masih setia berada di rahim istrinya.


"Kak Gabby segera ke sini!" Cepat-cepat Gerald raih ponselnya, berusaha tak panik ia layangkan panggilan telepon pada sepupunya. "Shara mau melahirkan Kak!"


📞 "Iya, tunggu sebentar!" Telepon tertutup. Mungkin Gabby tengah bersiap keluar dari ruangannya.


Sengaja Gerald menginap di rumah sakit keluarganya, supaya cepat mendapat penanganan saat Shara mau melahirkan.


Sudah hampir melewati hari perkiraan lahir tapi bayi kembar Gerald masih betah, sama seperti kasus bayi pertama Nathan dulu.


Gerald meraih pakaiannya. Satu persatu ia memakainya sebelum kemudian ia membuka pintu ruangan presidential suite miliknya.


Berwajah cemas, Gebby berlari masuk, setelah memakai sarung tangan medis, dokter itu memeriksa pembukaan Shara, rupanya masih belum ada tiga bukaan.


Namun, dilihat dari kontraksi yang Shara alami sudah mengarah ke tanda-tanda ingin melahirkan.


"Kita bawa ke ruangan bersalin!" Gebby mengajak adik sepupunya memindahkan Shara ke ruangan lain.


Brankar itu Gebby dorong. Cemas, Gerald genggam tangan Shara yang terus melenguh tak tertahankan. Sepertinya Shara sudah tidak keruan.


"Sabar Sayang, demi Baby kembar kita. Sabar." Kata lembut itu yang menjadi satu-satunya sumber kekuatan Shara.


Hanya Gerald yang ia punya, bahkan ayahnya yang ternyata benar masih hidup saja, tidak mau menemuinya.


Sekilas ingatan Shara kembali saat Jho menyampaikan informasi padanya beberapa bulan yang lalu.


Benar dugaan Shara, bahwasanya Risha adalah adik kembarnya, dan benar adanya kedua kalung berinisial itu peninggalan dari mendiang ibunya yang malang.


Beliau meninggal saat perjalanan dari Bali menuju Surabaya. Lahirnya Shara dan Risha hanya sebuah petaka. Lalu, akan seperti itu selamanya.


Risha dan Shara adalah kesalahan fatal seorang Tian Adiguna bersama Miryam ibunya.


Seharusnya seorang Tian tak pernah menikah dengan gadis biasa seperti Miryam. Sampai pada akhirnya, Tian mendapatkan pasangan baru yang sesuai kriteria, lalu membagi Shara dan Risha adalah keputusan terakhir mereka.


Menuruni Miryam ibunya, putra Shara pun kembar. Semoga tampan seperti ayahnya.


Shara menyaring setiap kata-kata Jho. Intinya adalah, Tian memilih tidak pernah bertemu dengan putrinya lagi.


Air mata meluncur deras mengingat kembali bagaimana sulitnya Miryam sang ibu mempertaruhkan nyawa sementara yang membuatnya hamil menikah lagi dengan wanita lain.


"Tolong jangan tinggalkan aku seperti laki-laki jahanam itu!" Shara berucap menghiba pada suaminya. Ada trauma tersendiri ketika kisah ibunya terputar di otaknya.

__ADS_1


"Ssuutt." Lembut, Gerald seka lelehan air mata istrinya. Berusaha menguatkan wanita itu dengan kepeduliannya. "Aku di sini untukmu, hanya untuk mu Shara." Bisiknya.


Shara tersenyum pilu, setidaknya dibalik kemalangan hidupnya, Shara bernasib mujur seketika memiliki Gerald Van Houten.


__ADS_2