
Hari berganti, yah begitulah tabiat alam ini. Meski demikian rusaknya bumi ia masih sanggup berputar pada porosnya yang murni.
Malam ini Gerald berdiri manyun di depan meja makan. Kelakuan istri hamilnya mulai macam-macam. Sore minta gado-gado, cilok, cireng, martabak, seblak, otak-otak, tapi tidak ada satupun yang dia makan.
Sekarang, Shara justru kembali meminta nasi goreng, gudeg Jogja dan wingko babat, Gerald di buat mengelus dada. Bukan tidak mau menuruti, ini sudah terlalu malam bahkan memasuki dini hari.
"Di mana ada jual gudeg malam-malam begini Sayang? Banyak orang ngidam tapi nggak macem-macem deh, Sachi saja nggak ngidam loh Yank." Gerald menatap Shara yang cemberut menatapnya.
"Kok Abang gitu sih? Bandingin Shara sama Sachi! Dia kan sudah dua kali hamil Bang, mungkin ngidamnya sudah di kehamilan pertama. Abang kan bisa cari di aplikasi delivery order. Ini juga ulah mu yang bikin Shara ngidam."
"Ulah kita Yank, kan kamu juga suka." Sela Gerald. Mereka saling menikmati lalu giliran begini ulah Gerald katanya. Shara luar biasa.
"Ya Shara sudah hamil, jadi impas dong kalo Abang yang nurutin kemauan Shara." Tukasnya.
"Iya sih, tapi malam begini gudeg Jogja enggak ada yang buka, mungkin besok baru ada Yank."
"Ya sekarang Abang bikin dong, kok nggak ada usahanya banget sih, bisanya ngerayu pas bikinnya doang, di bela-belain Shara nahan mules sama mual kalo pagi, yang jadi suami malah gitu."
"Ya ampun, bukan gitu, tapi Abang enggak bisa bikinnya Sayang."
"Ya udah, kalo enggak bisa biar Shara bikin sendiri aja deh, dari pada Baby nya ngiler."
Gerald menghela napas panjang. Jika sudah begini ya mau bagaimana lagi? Harus sudi ia terima lebih dan kurangnya istri tercinta.
"Iya deh, Abang saja yang buatin, nanti kalo kenapa kenapa, Abang juga yang nyesel, jadi lebih baik Sayang diem ajah di situ, tapi Abang buatnya di ajarin Mbak yah?"
Shara menyengir. "Nah gitu dong, kan tambah ganteng jadinya." Dia cubit pipi jambang tipis milik Gerald.
Gerald membalas nyengir. "Iya. Tapi setelah ini boleh yah, kan sudah dari satu bulan yang lalu kita nggak celupin Gerald junior."
"Kan takut Bang, masih rawan loh kandungan Shara."
"Pelan-pelan, Abang bisa pelan-pelan kok, yang penting Gerald junior seneng deh, jadi boleh yah?" Rengek Gerald membujuk.
__ADS_1
"Ya tergantung enak apa enggak gudeg nya, kalo enak plus bikinnya pake goyang gergaji, ngebor, ngecor sama kayang di tambah salto, boleh minta jatah malam ini."
"Ya Tuhan, gimana caranya bikin gudeg sambil goyang alat bangunan Yank?"
"Coba ajah dulu, baru protes."
"Kenapa ngidamnya jadi aneh-aneh sih? Perasaan bikinnya nggak aneh-aneh." Gerutu Gerald pelan.
"Nggak aneh-aneh apaan, nggak nyadar apa, Shara sampe masuk angin di ajakin main di kolam renang lah, di kamar mandi lah, semua spot kapal di jelajahi. Masih bilang nggak aneh-aneh, heran." Balas Shara merutuki suaminya.
Di sudut tempat Garry hanya menggeleng ringan. Kedua anaknya memang tidak pernah satu pendapat meski sudah menikah.
Di lain pihak, Garry bersyukur mereka saling menyayangi satu sama lain. Shara mampu mengubah hidup Gerald menjadi lebih baik dan berguna.
Terlebih, Shara masih baik-baik saja meskipun wajahnya hasil operasi. Sejauh ini, Gerald tak pernah protes dengan apa yang Shara miliki.
Cerewet nya, manjanya, ngaturnya, semuanya Gerald terima, Gerald juga rela meninggalkan tempat dugem untuk hidup bahagia bersama Shara. Masalah cemburu dan posesif, Gerald masih paling-paling.
...••••••••••••...
Usai sudah Jho sibuk dengan urusan hatinya, sekarang waktunya menjalankan tugasnya kembali. Pernikahan masih dua Minggu lagi, sebelum itu Jho harus berhasil memecahkan teka-teki terakhir Risha dan Shara.
Kali ini Jho melangkah gontai menuju sebuah hunian mewah. Dan rumah klasik modern milik Margens, the king of mafia yang Jho satroni. Jho harus mengajaknya pergi mengunjungi kota Bali kembali.
Ting tong!
Bel rumah itu Jho bunyikan, lelaki tampan ini berdiri tegap menatap pintu tinggi berwarna putih.
Ceklek!
Tak lama kemudian pintu pun terbuka, rupanya pemilik rumah inilah yang membukanya sendiri.
"Bang Jho." Wajah Margens lesu tak bercahaya, sepertinya sedang tidak enak hati.
__ADS_1
"Kenapa kamu?" Jho melangkah masuk kemudian duduk menyilang kaki pada kursi ruang tamu.
Margens mendengus, bahunya turun saat ikut duduk di sofa lainnya. "Biasa, sore ini Hanum menolak lamaran ku lagi. Kayaknya aku harus miskin dulu kalo mau bersamanya." Lirihnya.
Jho mengernyit. "Maksudnya?"
"Dia bilang, dia mungkin mau menerima lamaran ku, tapi dia memberikan syarat, dia mau aku menafkahinya dengan cara halal, tapi gimana bisa coba? Bang Jho tahu sendiri kan, apa pekerjaan ku?" Terang Margens.
"Ya kalau memang niat menikahinya tinggalin dunia gelap seperti mau Hanum mu, tapi kalau hanya sekedar untuk napsuu sesaat, mending pikir lagi. Menikah bukan untuk di permainkan, apa lagi Hanum masih gadis, dia perempuan baik-baik. Sementara kamu?"
Margens mendengus tersudut. "Aku juga sadar diri, tapi jangan membuat ku semakin insecure dong Bang Jho!" Katanya.
"Dari pada pusing. Sekarang ikut aku. Aku butuh bantuan mu." Ujar Jho.
"Apa lagi?"
"Di group chat kan sudah di bahas Margens, aku mau ke Bali, mau menyelidiki siapa orang tua Risha." Jelas Jho kesal.
"Mana sempat aku buka GC, pikiran ku isinya Hanum, Hanum, Hanum terus. Kayaknya aku sudah ternganu-nganu oleh bayangan wajah cantik Hanum, ya Tuhan, dia sangat mempesona, bibirnya, alisnya, matanya, kebaikan hatinya, semuanya, Hanum definisi wanita sempurna. Mungkin aku bisa gila keseringan di tolak sama dia, oleng aku Bang Jho." Rutuk Margens seperti orang setengah waras.
"Udah makanya sekarang hibur diri dengan ikut aku. Nanti setelah itu, aku bantu kamu melamar Hanum." Kata Jho yang berhasil membuat Margens menyengir.
"Beneran ni Bang Jho hah?" Saking antusiasnya Margens sampai bangkit dari duduk dan menggoyangkan dada Jho seperti anak gadis. "Benar kan Bang Jho, hah? Enggak PHP kan?"
"Iya."
Margens melompat kegirangan. "Beres, kalo gitu aku mandi sama ganti baju dulu." Pamitnya seraya berlari menaiki anak tangga.
"Jangan lama-lama!" Peringat Jho berteriak.
"Nggak janji, Gue udah lama nggak ngelubangin sabun soalnya!" Margens sengaja meledek bujangan akut yang sudah di lingkari cincin pertunangan itu.
"Sialan!" Umpat Jho. "Mafia nggak sadar diri." Gerutunya.
__ADS_1
...••••••••••••...