Dendam Si Cantik "Kembalinya Istri Buruk Rupa"

Dendam Si Cantik "Kembalinya Istri Buruk Rupa"
Kesempatan


__ADS_3

Setelah mencuatnya berita hoax yang melibatkan Shara Indar dan Zif, Gerald mengatur konferensi pers bersama dengan kuasa hukum Shara agar membantunya membuat klarifikasi sekaligus melayangkan tuntutan terhadap tersangka kasus penyiraman air keras.


Namun.


Tiga hari ini Gerald justru tak menampakkan batang hidung pada Shara-nya, bahkan setelah membantu gadis itu meluruskan masalah, Gerald masih tak mau pulang ke rumah utama.


Shara selalu bertanya pada Jho, Garry dan yang lainnya "Di mana Bang Gerald?" Tapi tak ada yang mau menjelaskan di mana Abang kesayangannya.


Malam yang merindu, di temani Kitty si kucing lucu, Shara berjalan mondar-mandir di depan pintu kamarnya, bimbang, gamang, gelisah, gundah, gulana, merana, itu yang dia rasakan.


"Kitty. Tiga hari setelah aku meragukan nya, Bang Gerald gamau pulang ke rumah. Mungkin dia tidak benar-benar menyukai ku, makanya sekarang dia mencari cewek cantik yang baru, mungkin di klab malam." Gumamnya curiga.


Masih penasaran dengan lelaki yang dia rindukan tanpa sadar, Shara keluar dari kamar, menuruni anak tangga.


Sudah jam sepuluh, sepertinya malam ini pun Gerald takkan pulang lagi ke rumah utama.


Untuk itu Shara memutuskan mengunjungi kamar pribadi milik Gerald yang jarang sekali dia datangi.


Mumpung yang empunya tidak ada, Shara ingin mencari tahu bagaimana sebenarnya kehidupan Gerald selama ini, mungkin saja di kamarnya akan ada buku diary atau sejenisnya yang bisa membuat Shara tak lagi meragu.


Shara sempat menoleh ke kanan dan kiri memastikan tidak ada yang melihatnya, setelah di rasa aman, Shara kembali yakin untuk masuk ke dalam kamar pribadi milik Gerald.


Dia tutup kembali pintunya perlahan agar tak menimbulkan suara, lalu mengedarkan pandangannya ke segala arah, Shara berjalan-jalan di semua sisi tempat yang sangat rapih.


Membuka laci nakas, sampai memasuki ruang ganti khusus milik Gerald, Shara berjalan di antara lemari-lemari kaca yang di penuhi jas hitam, celana jeans, sepatu mahal, sabuk kulit, dan dasi beraneka warna.


Shara tersenyum "Ternyata Bang Gerald suka sekali mengoleksi pakaian mahal? Dia benar-benar berondong kelas elit." Gumamnya.


Shara membuka laci berisikan aksesoris dari jam tangan sampai cincin berlian, ada cincin berlian yang pernah dia pakai. Shara mengambilnya untuk di pandang kemudian meletakkannya kembali.


"Jangan sampai dia mendengar ku." Shara menutup laci itu pelan-pelan, berkeliling kembali melihat-lihat koleksi lainnya.


Di sudut tempat, tak sengaja matanya menangkap setelan baju piyama tidur berwarna biru, Shara mengerut kening menatap ke arah lemari kaca di ujung sana.


"Baju itu." Shara langkah kan kakinya menuju onggokan baju piyama yang tidak asing baginya "Ini bukanya, piyama rumah sakit ku?" Katanya lirih.


Shara termangu, menatap lekat setelan piyama rumah sakitnya, rupanya Gerald masih saja menyimpan baju piyama miliknya, baju yang dia pakai saat pertama kali mereka bertemu.


...••••••••••••...


Di tempat lain, Gerald baru saja turun dari mobil sport miliknya, lelah, letih, lesu, yang dia rasakan, beberapa hari ini, dia sibuk mengurus hal yang harus dia urus.

__ADS_1


Apa lagi jika bukan urusan perceraian dan keadilan hak yang musti di dapatkan adiknya. Gerald juga masih sibuk mengurus tuntutannya terhadap Tuan Hardika Prabaswara.


Selain itu, akhir-akhir ini Gerald juga lebih banyak menghabiskan waktu di kantor.


Gerald termasuk seseorang yang tidak memiliki kesinambungan kompetensi pendidikan dengan bidang pekerjaan yang dia tekuni saat ini.


Lulusan kedokteran yang bekerja di perusahaan kontraktor, maka dia juga perlu kelas khusus untuk memperdalam ilmu bisnis nya.


Tak ada waktu untuk berleha-leha seperti dulu lagi, tanpa di sadari semenjak pertemuannya bersama Shara, Gerald menjadi lelaki yang penuh tanggung jawab.


Quick....


Setelah mengunci mobilnya, Gerald berjalan gontai memasuki pintu masuk utama rumah ayahnya, langkahnya berlanjut sampai ke kamar miliknya, sempat terpikir untuk menilik adiknya terlebih dahulu tapi tiga hari ini dia sedang tidak mood berkomunikasi dengan wanita labil itu. Di ragukan ketulusannya, Gerald tak menyukai cara Shara memandang dirinya.


Keadaan rumah sudah sepi, pasti semua orang telah tertidur. Gerald membuka pintu kamar miliknya, dan langsung menuju kamar mandi.


Seperti biasa, Gerald selalu melakukan pembersihan diri sebelum memasuki alam mimpi. Tak ada dua puluh menit Gerald sudah keluar dengan handuk di setengah badannya.


Gerald melangkah ke ruang ganti sembari mengeringkan rambut basahnya dengan handuk kecil, dia bersiul, bersenandung dengan suara merdu turunan ayahnya.


"Aacchhim!" Gerald berkerut kening menoleh spontan pada salah satu deretan lemari pakaian miliknya "Siapa?" Gumamnya pelan.


Gerald melangkah perlahan menuju tempat yang barusan mengeluarkan suara bersin seorang gadis "Cantik." Panggil nya.


"Aacchhim!" Baru saja melangkah pergi Gerald mendengar suara bersin yang sama kembali.


Gerald tersenyum kecil memindai satu lemari transparan yang di isi dengan jas-jas eksekutif miliknya, sepertinya ada seseorang di balik pakaian mahalnya, terlihat jelas kaki mungil seorang gadis menyembul di bawah sana.


"Keluar lah, aku tahu kamu di sana!" Titah Gerald yang tak mendapat satu pun jawaban.


"Apa kau tidak takut Shara, dulu, di kamar ini pernah di temukan tengkorak manusia, orang bilang itu tengkorak pasangan suami istri yang bunuh diri di si, ..."


"Aaaaa!" Belum selesai bualan Gerald, Shara sudah lebih dulu keluar dari lemarinya "Jangan Abang, jangan ceritakan itu!" Katanya seraya memeluk Gerald dengan lompatan takutnya.


Gerald terkikik geli, hanya saja sedikit ia tahan


"Aku paling takut cerita seperti itu, jangan ceritakan lagi, ku mohon!" Racau Shara. Shara tak menyadari bahwa gerakan gusarnya mengeraskan sesuatu di balik handuk abangnya.


"Ah aw!" Gerald berkeluh menggigit bibir bawahnya "Kau menyentuhnya Shara." Bisiknya.


"Hah?" Shara terdiam mematung, matanya membulat menyadari hal yang terasa aneh di bawah sana "Abang." Panggil nya lirih.

__ADS_1


"Hmm?"


"Abang bangun?" Tanya Shara polos.


Gerald mengangguk "Emm, kau yang membangun kan nya." Bisik nya di telinga Shara.


Sontak saja Shara melerai pelukannya, segera ia membalikkan badan berniat kabur, sayangnya Gerald sudah lebih cepat meraihnya dari belakang. Seperti kucing yang menemukan makanannya, Gerald tak mau menyia-nyiakan kesempatan.


"Mau kemana hmm?" Gerald satukan tubuh intinya dengan gundukan padat milik Shara "Setelah membangunkannya, kau berusaha kabur begitu?" Tanyanya menyeringai.


Shara menggeleng "Emmh, S-shara harus keluar sekarang juga Abang, Daddy memanggil ku barusan. Iya Daddy! Shara datang." Shara berpura-pura menyahut panggilan ayahnya tapi Gerald semakin mempererat pelukannya.


Terasa hangat tusukan benda yang sepertinya sangat keras bak pesawat roket terbesar di dunia milik SpaceX.


"Kamar ini kedap suara, tidak akan ada satupun yang terdengar dari luar. Termasuk teriakan mu barusan." Ucap Gerald berbisik.


Shara menggeliat kecil, sedikit meremang merasakan bisikan yang menggelitik "Lepas Abang, aku kebelet pipis." Kilahnya beralibi.


"Bagus dong, gimana kalo kita pipis sama-sama hmm." Gerald membalikkan tubuh Shara secara tiba-tiba, dan menyatukan bibir keduanya.


Greettt!!


"Aaaww!" Gerald meringis sembari menutup mulutnya mendapati gigitan di bibirnya "Sakit sayang!" Geramnya saat protes. Baru saja Shara mendorong tubuh bidangnya hingga terlepas darinya.


"Shara!" Gerald membetulkan simpul handuknya sembari mengejar gadis yang berlari keluar dari ruang gantinya "Jangan pergi!" Titahnya.


Gerald tarik lengan Shara kemudian ia jatuhkan tepat di ranjang miliknya "Jangan pergi." Gerald menindih tubuh gadis kesayangannya.


Shara menggeleng "M-mau apa Abang hah?" Tanyanya ketakutan.


"Kau yang mau apa di kamar ku?" Gerald bertanya balik.


"Iseng saja." Sergah Shara "Lagi pula bukannya tiga hari ini Abang tidak pulang, aku tidak sengaja melihat baju piyama ku di lemari mu, jadi aku pikir kau juga menyimpan pakaian dalam ku! Aku tidak menyangka, ternyata Abang messum!"


Gerald mengernyit "Sejak kapan kau memiliki sesuatu? Ingat Shara, semua yang kau pakai ini adalah milikku!" Gerald menyapu kan jari telunjuk nya pada seluruh tubuh Shara.


"Kalau aku mau, aku bisa saja mencabut semua fasilitas yang ku berikan padamu. Termasuk pakaian yang sekarang kau pakai." Gerald tersenyum iblis.


.


...••••••Bersambung••••••...

__ADS_1


.


.


__ADS_2