Dendam Si Cantik "Kembalinya Istri Buruk Rupa"

Dendam Si Cantik "Kembalinya Istri Buruk Rupa"
Duarr!!


__ADS_3

"Ini pilihan mu, jangan salahkan aku menyakiti mu!" Zif melepas kaos t-shirt miliknya hingga menampilkan ke bidangan dadanya.


Shara mundur saat Zif melepas gesper kulitnya, sungguh tatapan predator Zif terlihat menyeramkan "Jangan Zif, jangan!" Dia menggeleng.


Tak sedikitpun terpikirkan oleh Shara melakukan hal ini sementara ia ingin menggugat cerai suaminya. Mungkin dahulu pernah berkhayal bercumbu mesra bersama Zif-nya tapi tidak sekarang. Rasa itu musnah seiring dengan kesakitan yang Zif berikan.


"Kita masih suami istri Yank, aku tidak memperkosa mu, aku berhak menyentuh mu!" Zif menarik paksa kaki jenjang istrinya lalu menurunkan tubuhnya hingga menyatu keduanya.


"Zif!" Shara meremang merasakan sentuhan paksa yang sebenarnya nikmat tapi karena kebenciannya semua itu menjadi tidak berarti apa-apa "Hentikan Zif!" Pekiknya.


"Hahhhh, Zif." Keras sudah tongkat di bawah sana, Shara mampu merasakan ganjalan di pahanya. Wajahnya terus menggeleng menghindari Zif yang terus mengincar bibirnya.


Zif mampu menguasai pergerakan kedua tangan Shara hanya dengan sebelah tangannya saja.


"Ingat lagi kenangan kita Yank, kenangan saat kita membayangkan sentuhan seperti ini bersama-sama di kamar kita masing-masing, lihatlah, sekarang ini nyata, aku menyentuh mu, dan kau harus menikmatinya."


Zif tuju leher Shara sementara sebelah tangannya berusaha melepas resleting miliknya. Ada sesuatu yang perlu di bebaskan saat ini juga.


"Jangan Zif. Ku mohon." Tak ada kata yang Zif dengar, lelaki itu terus melanjutkan aksinya.


"Akrhh!" Zif berkeluh saat Shara sengaja menggigit telinganya, Zif menghentikan sejenak aktifitas nya untuk menatap protes istrinya "Menurut lah Yank!" Bentaknya.


...••••••••••••...


Bersamaan dengan percekcokan Zif dan Shara, Gerald, dan Margens berlari menaiki helikopter, sementara Jho memasuki mobilnya. Jho berniat mengambil sela dari arah lain.


"Arah kan ke kanan!" Instruksi Margens pada sang pilot. Pesawat itu bergerak lambat berangsur cepat ke arah yang Margens arahkan.


Margens sengaja mengajak Gerald menggunakan helikopter, tujuannya agar tidak terlalu di curigai antek-antek Zif yang berjaga di dalam bangunan.


Jho benar, akan sulit jika harus melewati puluhan antek-antek Zif, tiada mungkin mereka bertiga mampu menembus lantai atas dengan cepat, bukannya bisa menolong mereka justru di jadikan sandera.


Pesawat sempat memutari rumah besar berlantai empat itu sampai pada akhirnya ada satu kamar yang berdinding kaca transparan dan menampilkan pergumulan ranjang yang tidak nyaman di pandang mata.


"Di sini. Tepat di sini!" Margens memerintahkan pilot untuk terbang di tempat. Ini lah kemudahan helikopter bisa di atur sesuka hati.


Sulit menjangkau kamar Shara sebab baling-baling pesawat harus berputar tanpa halangan sementara untuk mendekati dinding dia harus berada di atas genteng bangunan.


Margens tak kalah akal, ia melepaskan tali kemudian berniat menuruninya, Gerald mencegah "Biar aku saja!" Katanya.

__ADS_1


"Kita berdua saja Gerald! Dulu kita paling handal naik turun genteng bukan?" Margens menyela.


"Tapi ini dinding kaca bodoh! Bukan genteng!" Sanggah Gerald, masih sempat-sempatnya mereka bertengkar.


"Bersiaplah, setelah aku tembak kacanya, baru Tuan muda masuk ke dalam!" Aba-aba dari Jho yang entah berada di mana, sepertinya Jho pandai membidik dari kejauhan.


"Ok." Setelah memakai sarung tangan khusus, Gerald menuruni tali tambang, tak lupa pula membawa HT milik Margens agar lebih mudah berkomunikasi.


Perlahan Gerald bergelantungan hingga sampai ke titik dimana ia bisa menatap nyalang pria yang kini asyik dengan kegiatan pemaksaan nya.


"Lebih dekat lagi!" Menggunakan HT Gerald memerintahkan pilot untuk lebih membawa dirinya menepi ke dinding kaca transparan.


Zif dan Shara terjatuh ke lantai tertutup oleh ranjang, sehingga tak menyadari keberadaan Gerald di sana "Bajingan gila!" Umpatnya.


Tap!! Gerald menghentakkan tapak sepatunya pada kaca tersebut namun saking tebalnya dia tak mampu menembus dinding transparan itu.


"Siap-siap Tuan muda, dalam hitungan ke tiga, Tuan muda mengayun mundur! Dan langsung masuk setelah kaca terpecah!" Instruksi Jho kembali.


"Hemm!" Tangan Gerald mulai pedih bertumpu pada tali tambang yang kasar, setelah bersiap Jho menghitung dari tempatnya "Satu, Dua, tiga, ...."


Tap!! Kembali Gerald menghentakkan tapak sepatunya pada permukaan dinding agar tubuhnya mengayun ke belakang.


Duarr!!


BRAK!!


Gerald tercampak di atas pecahan beling yang berserakan, melicinkan lantai marmer "Aakhh!" Ringis nya.


"Bangsat!" Zif menyambutnya dengan meraih kerah jaket jeans milik Gerald lalu mendaratkan pukulan "Beraninya kamu masuk ke dalam rumah ku!" Teriaknya.


Bugh! Satu lagi pukulan mengenai wajah tampan Gerald "Abang!" Shara histeris sembari menutup tubuh setengah polosnya dengan selimut, untung saja belum sampai jebol gawang.


Gerald yang masih lemah setelah terjatuh belum sanggup melawan pukulan Zif "Abang!" Shara khawatir.


Zif menoleh pada Shara, sungguh miris hatinya melihat raut cemas gadis itu, sebenarnya siapa suaminya, kenapa orang lain yang di khawatirkan.


Lagi, Zif meraih kerah jaket Gerald namun, belum sempat melambungkan bogem, Gerald sudah lebih dulu menendang lututnya hingga terjungkal ke belakang "AKrh!" Keluh Zif dan Gerald bersamaan.


Shara membetulkan baju kemeja yang sempat acak-acakan karena ulah suaminya, berniat turun dari ranjang tapi kemudian Gerald dan Zif memekik "Jangan turun!" Titahnya bersamaan.

__ADS_1


Shara urung, dia menatap ke bawah, rupanya banyak pecahan beling yang mungkin bisa saja membuat kaki mulusnya berdarah. Shara mundur dengan teratur.


"Urusan kita belum selesai!" Gerald menyerang Zif dengan menduduki perutnya, memberikan jotosan yang mengalirkan darah segar di sudut bibir Zif "Jangan pernah berpikir untuk menyentuh calon istri ku!" Pekiknya.


"Bajingan! Beraninya kau mengganggu ketenangan rumah tangga ku." Tak mau kalah, Zif mengambil alih posisi, kini Gerald yang di gulingkan dan di duduki olehnya "Aku tidak akan pernah menceraikan kan nya, bodoh!" Teriaknya.


"Kau yang tidak tahu malu, setelah membuang begitu saja istri mu, sekarang berlagak menjadi laki-laki yang terdzolumi. Cih!" Cibir Gerald.


Kembali Gerald dan Zif berkonfrontasi, pukulan ringan hingga yang terberat saling mereka lempar satu sama lain.


Shara hanya berdiam diri meringkuk di pojokan ranjang, ketakutan "Sudah Zif, Abang, sudah. Kalian bisa sama-sama terluka." Racau nya.


Gerald menoleh nyalang "Siapa yang kamu khawatirkan Cantik, aku atau suami gila mu?" Masih sempat pemuda itu protes, cemburu.


Duarr!!


Terdengar suara letusan dari lantai bawah, Zif mendelik "Jadi kalian menyerang kediaman ku hah!" Pekiknya.


Gerald mendorong tubuh Zif hingga terlepas jauh darinya "Berani macam-macam padaku, kau tahu sendiri akibatnya bukan? Jangankan hanya rumah mu. Aku bisa mengobrak-abrik seluruh keluarga mu Zif!" Ancamnya.


"Keluar dari kamar Tuan muda, kita bawa Nona Cantik lewat pintu utama!"


Gerald mendengar aba-aba dari Jho, sepertinya bala tentara Jack group yang telat datang seperti polisi India telah berhasil memporak-porandakan orang-orang bayaran Zif.


Gerald tendang sekali lagi dada Zif hingga terjatuh ke lantai lalu meringkus tubuh Shara agar tak mengenai pecahan kaca "Kita keluar dari sini!" Ajaknya.


Zif beranjak dari posisinya "Berhenti, jangan pergi bajingan!" Titah nya.


Duarr!!


Sebuah letusan menghentikan langkah Zif, ia mematung di tempatnya, membiarkan Gerald keluar membawa istrinya.


"Jangan bergerak Tuan muda Zif Prabaswara, atau aku tidak segan meledakan kepala mu!" Dari luar Margens menyerukan ancaman dengan megafon bermerek TOA. Raja mafia itu duduk asyik di jok helikopternya sembari menodongkan pistol kearah Zif.


...Bersambung..... Yang punya group mohon share novel ini yah.....😍...


.


.

__ADS_1


__ADS_2