
" Suami saya kenapa Dok? Apa yang terjadi dengannya? Kenapa dia sulit berbicara?" Tanya Yeshi cemas.
" Suami anda mengalami stroke ringan Nona."
Lagi lagi Yeshi terkejut mendengar kabar yang menurutnya begitu menyakitkan.
" Apa? Stroke? Jadi suami saya tidak bisa bicara begitu? Bagaimana ini bisa terjadi Dok?" Tanya Yeshi memastikan.
" Iya Nona. Sepertinya ada penyumbatan pada pembuluh darah di otaknya. Dan saya yakin ada anggota tubuh lain yang susah di gerakkan. Saya akan memeriksanya dulu." Ucap dokter Richard memeriksa organ vital Tian dari kepala, tangan dan kakinya.
" Kedua tangannya normal Nona, coba gerakkan kaki anda Tuan!" Titah dokter Richard.
Tian mencoba menggerakkan kakinya tapi tidak bisa. Ia mencoba lagi namun tetap tidak bisa. Akhirnya ia menggelengkan kepalanya tanda tidak mampu.
" Ya Tuhan.... Apa ini? Kenapa kaki Mas Tian tidak bisa di gerakkan? Itu berarti Mas Tian mengalami kelumpuhan." Ucap Yeshi menatpa dokter Richard.
" Dengan terpaksa saya mengatakan iya. Tuan Christian mengalami kelumpuhan Nian, hanya tangannya saja yang bisa bergerak normal." Sahut dokter Richard.
"Kenapa di saat aku hendak pergi meninggalkannya justru kau membuat suamiku seperti ini Tuhan.. Ini artinya aku tidak bisa meninggalkannya saat ini. Aku harus menunggunya sembuh. Mampukah aku bertahan selama itu? Kasihan sekali kamu Mas." Ujar Yeshi dalam hati.
Tian menatap Yeshi begitupun sebaliknya. Tidak mau membuat Tian salah paham dengan ucapannya, Yeshi mendekati Tian lalu menggenggam tangannya.
" Tetap semangat Mas! Aku akan selalu ada bersamamu. Maafkan aku jika aku mengingkari janjiku, aku berjanji setelah kau sadar aku akan pergi dari hidupmu. Tapi keadaanmu tidak memungkinkan aku untuk meninggalkanmu saat ini. Sekarang lebih baik aku fokus pada kesembuhanmu saja." Ujar Yeshi di balas anggukkan kepala oleh Tian.
" Jangan pernah meninggalkan aku Yeshi, aku menginginkanmu untuk selalu bersamaku. Jika keadaanku membuatmu mengurungkan niatmu, aku ikhlas menerimanya." Batin Tian.
" Maaf Nona jika saya lancang, saya memang tidak tahu ada masalah apa dengan kalian. Tapi saya sarankan, berilah semangat untuk Tuan Christian agar dia cepat sembuh Nona. Jangan meninggalkannya dalam keadaan terpuruk seperti ini. Saya mendoakan untuk kesembuhan Tuan Christian." Ujar dokter Richard.
" Terima kasih Dok." sahut Yeshi.
" Istirahat cukup dan minum obat teratur bisa mempercepat kesembuhannya Nona. Nanti akan ada suster yang akan mengirimkan makanan dan obatnya, sekalian kursi rodanya. Saya permisi." Ucap dokter.
" Silahkan Dok." Sahut Yeshi.
Dokter Richard meninggalkan mereka berdua.
Yeshi menatap Tian yang masih menatapnya juga.
" Kau mau mandi Mas? Sudah tiga hari ini kamu tidak mandi sama sekali, aku lap aja ya badannya biar nggak lengket." Ujar Yeshi.
Tian menganggukkan kepalanya.
" Aku akan mengambil air hangatnya dulu dan menyiapkan baju gantimu." Ucap Yeshi.
Setelah mendapatkan apa yang ia butuhkan, Yeshi membantu Tian duduk bersandar pada kepala ranjang. Tak lupa ia mengunci pintunya agar tidak ada yang masuk.
__ADS_1
" Buka dulu bajunya Mas!" Ucap Yeshi.
Yeshi membuka baju Tian perlahan. Jantungnya berdebar kencang saat melihat dada bidang suaminya itu. Untuk pertama kalinya Yeshi melihat kulit putih polos milik Tian. Tanpa sadar ia mengelus dada Tian.
Tian memejamkan matanya, ada gelenyar aneh dalam hatinya. Semakin Yeshi menggerakkan tangannya, semakin membara pula rasa aneh yang membakar tubuh Tian. Tak terasa ada yang tegak namun bukan keadilan.
Tiba tiba Tian memegang tangan Yeshi membuat Yeshi tersadar dengan apa yang ia lakukan.
" Ah maaf Mas." Ucap Yeshi salah tingkah.
Yeshi membasahi washlap dengan air hangat lalu mengusap tubuh Tian dengan tangan gemetaran karena jantungnya terus berdetak dengan kencang. Tian tersenyum melihat itu.
" Nggak usah senyum senyum gitu deh Mas! Aku tahu kalau kamu sedang menertawakan aku. Aku gugup Mas menyentuhmu karena baru pertama kali ini aku dekat dengan pria. Aku takut salah megang tau nggak." Ujar Yeshi.
Tian mengacungkan dua jarinya tanda berdamai.
" Aku memaafkanmu." Ucap Yeshi paham dengan kode yang Tian berikan.
" Aku sudah mengabari mbak Rebeca saat kau kecelakaan Mas, tapi sampai sekarang dia belum menjengukmu." Ucap Yeshi menatap mata Tian.
Ada yang aneh, tatapan Tian tidak menyiratkan perasaan terluka atau pun kecewa.
" Tapi kalau kau ingin bertemu dengan mbak Rebeca, aku akan meneleponnya nanti dan memintanya untuk datang ke sini." Ujar Yeshi.
Tian menggelengkan kepalanya.
Tian menggelengkan kepalanya.
" Apa kau tidak kangen dengannya?"
Tian menggelengkan kepalanya lagi.
" Jadi aku tidak perlu menelepon mbak Rebeca untuk ke sini?" Tanya Yeshi menyakinkan.
Lagi lagi Tian menggelengkan kepalanya.
" Baiklah jika itu kemauanmu, aku akan menurutinya. Lagian mbak Rebeca juga melimpahkan tanggung jawabnya kepadaku. Aku akan mengurusmu dengan baik sampai sembuh Mas." Ujar Yeshi melanjutkan kegiatannya.
Yeshi mengelap seluruh tubuh bagian atas. Setelah selesai ia memakaikan baju ganti.
" Sekarang tinggal bagian bawah Mas, buka celana.... " Yeshi menjeda ucapannya.
" Apa tidak usah ganti saja Mas? Aku malu kalau menyentuh bagian bawahmu." Ujar Yeshi terus terang.
Tian menunjukkan tatapan kecewanya. Ia menunjuk celana ganti seolah berkata aku ingin menggantinya.
__ADS_1
" Baiklah aku akan menggantinya, maaf jika nanti aku salah pegang." Ucap Yeshi.
Yeshi menutupi tubuh bagian bawah Tian dengan selimut, lalu ia membuka celana yang di pakai Tian dengan pelan takut menyakiti kakinya. Setelah terlepas Yeshi mengelap kaki Tian lebih dulu.
" Aku berharap kaki ini bisa menyangga tubuhmu lagi Mas. Aku berdoa semoga kakimu cepat sembuh dan kau bisa berjalan dan berbicara normal lagi." Ujar Yeshi sedikit memberikan pijatan di kaki Tian.
Setelah selesai, Yeshi segera memakaikan celana Tian yang baru. Ia memakaikan lotion pada tangan dan kaki Tian agar wangi.
" Sekarang suamiku sudah tampan dan tidak bau asem lagi. Tinggal menyisir rambut saja." Ujar Yeshi menyisir rambut Tian dengan pelan.
" Selesai." Ucap Yeshi.
Tok tok...
" Aku akan membuka pintu, itu pasti suster yang mengirim sarapan untukmu Mas." Ujar Yeshi.
Yeshi membukakan pintu, dan benar saja seorang suster membawa nampan berisi makanan dan obat yang harus di minum oleh Tian. Satu suster menyusul di belakangnya dengan membawa sebuah kursi roda.
" Nona sarapan untuk tuan Christian, dan jangan lupa minum obatnya sesuai anjuran yang ada." Ujar suster memberikan nampan berisi makanan kepada Yeshi.
" Terima kasih Sus." Ucap Yeshi.
" Sama sama Nona, kami permisi." Ucap suster undur diri.
Yeshi menghampiri Tian, ia duduk di kursi samping ranjang.
" Sekarang kamu sarapan dulu Mas! Setelah itu minum obatnya." Ucap Yeshi.
Yeshi menyuapi Tian dengan telaten, setelah habis ia membantu Tian meminum obatnya.
" Sekarang istirahatlah Mas! Aku mau mandi dulu, nanti sore aku akan mengajakmu jalan jalan ke taman rumah sakit biar kamu nggak bosan hanya duduk diam di ruangan ini." Ucap Yeshi di balas anggukkan kepala oleh Tian.
Yeshi masuk ke kamar mandi. Sepuluh menit ia keluar dari sana dengan berpakaian rapi dan wajah lebih segar dari sebelumnya. Tak henti hentinya Tian menatapnya dengan perasaan yang semakin mendalam.
" Ternyata cinta Yeshi kepadaku benar benar tulus tidak seperti Rebeca. Aku sangat berterima kasih padamu Rebeca, kau telah memberikan istri yang sempurna untukku. Aku tidak akan menyia-nyiakan Yeshi demi dirimu. Maafkan aku jika aku berubah setelah ini, semua ini kau sendiri yang membuatnya." Ujar Tian dalam hati.
Penasaran gak nih kelanjutannya?
Tekan like dulu donk...
Terima kasih untuk readers yang telah mensuport author semoga sehat selalu...
Miss U All...
TBC....
__ADS_1