
Jam sebelas malam Yeshi melajukan mobilnya menuju rumah Rebecca. Ia memarkirkan mobilnya di gang yang lumayan jauh dari rumah Rebecca agar kedatangannya tidak di ketahui oleh Rebecca. . Ia rela berjalan kaki untuk sampai di rumah Rebecca.
" Semoga saja mbak Rebecca tidak ada di rumah, aku harus membawa Mas Tian pergi dari wanita kejam itu secepatnya. Aku harap Mas Tian mau bekerja sama denganku. Semoga dia tidak menolak ajakanku karena bodoh akan cintanya pada mbak Rebecca. Semoga kau tidak menuruti mbak Rebecca dengan menikahinya Mas. Aku tidak rela jika Mas Tian menjadi milik orang lain." Gumam Yeshi terus berjalan.
Tok tok...
Yeshi mengetuk pintu dengan pelan. Ia menunggu sesaat, tak lama pintu pun terbuka.
Ceklek....
Nampak Tian duduk di kursi rodanya membuka pintunya. Yeshi menatap Tian begitupun sebaliknya.
" Yeshi.... Alhamdulillah ya Rob karena Engkau telah mengabulkan doaku... Ternyata dugaanku benar, cinta kita mampu membuatmu kemari Yeshi. Semoga kau mengerti perasaanku dan membawaku pergi dari sini Yeshi. Aku ingin bersamamu.
" Batin Tian.
" Mas aku akan membawamu pergi dari sini, nanti akan aku jelaskan alasannya yang penting sekarang kita harus pergi sebelum mbak Rebecca melihatnya." Ucap Yeshi.
Tian menganggukkan kepalanya. Yeshi menghela nafasnya lega, setidaknya tidak ada drama yang di lakukan oleh Tian.
Yeshi segera mendorong kursi roda Tian. Saat ia membalikkan badannnya tiba tiba....
Prok prok prok....
Yeshi dan Tian menatap ke asal suara.
" Mbak Rebecca." Gumam Yeshi.
" Mau kau bawa kemana suamiku, Yeshi?" Tanya Rebecca menatap tajam ke arah Yeshi.
" Dia juga suamiku. Aku akan membawanya bersamaku karena kau tidak bisa mengurusnya. Bahakan dengan tega kau akan memberikannya pada wanita lain." Sahut Yeshi.
" Wah... Hebat sekali! Aku tidak menyangka secepat itu kau tahu tentang rencanaku Yeshi. Tapi sayangnya aku tidak akan membiarkanmu membawa Tian bersamamu, dia tetap akan menikah dengan Nona Kuang besok pagi." Ucap Rebecca mendekati Yeshi.
" Aku tidak peduli, Aku tetap akan membawa Mas Tian bersamaku. Aku tidak akan membiarkanmu memberikannya pada Nona Kuang. Karena Mas Tian bukan barang yang bisa sesuka hatimu di penjual belikan." Sahut Yeshi.
Rebecca mendekati Yeshi lalu...
" Rupanya kau ingin aku berbuat kasar padamu Yeshi. Baiklah jika itu maumu, aku akan menurutinya." Ucap Rebecca.
" Awh... " Teriak Yeshi saat Rebecca menjambak kasar rambutnya.
" Lepas!!" Bentak Yeshi mencoba mendorong Rebecca namun tidak berhasil.
Rebecca semakin menarik rambut Yeshi membuat Yeshi memekik kesakitan. Yeshi membalas Rebecca dengan menjambak rambutnya lalu menariknya dengan keras.
" Sialan lo Yeshi." Teriak Rebecca.
" Aku akan memberikan pelajaran padamu." Geram Rebecca.
Keduanya terlibat dalam perkelahian perempuan. Saling jambak saling tampar hingga pada akhirnya Rebecca mendorong keras Yeshi hingga tubuhnya terjungkal ke belakang. Dan....
__ADS_1
Brugh....
" Awh... " Kepala Yeshi membentur batu besar yang ada di depan rumah Rebecca hingga membuat darah mengalir di kepalanya.
" Yeshi!!!!" Teriak Tian tanpa sadar berlari menghampiri Yeshi.
" Bangun Yeshi!" Tian memeluk Yeshi sambil menepuk pelan pipi Yeshi.
Yeshi membuka matanya, ia tersenyum menatap Tian.
" Mas.. Kamu sudah sembuh? Kamu bisa berjalan dan bicara lagi. Aku bahagia melihatnya Mas." Lirih Yeshi.
" Iya Yeshi, aku sembuh berkat dirimu. Bertahanlah Yeshi! Aku akan membawamu ke rumah sakit." Ujar Tian.
" Ma... af... " Yeshi memejamkan matanya.
" Yeshi bangun! Jangan tinggalkan aku! Aku mohon Yeshi! Bertahanlah untuk diriku!" Ucap Tian kembali menepuk pipi Yeshi.
" Tian kau harus ikut aku! Atau aku akan melenyapkan Yeshi sekarang juga." Ucap Rebecca menarik tangan Tian.
Tian menatap tajam ke arah Rebecca. Ia beranjak lalu berdiri di hadapan Rebecca.
" Kau benar benar wanita ibl!s Rebecca!" Bentak Tian menunjuk wajah Rebecca.
" Hanya karena harta kau bisa berbuat sekejam ini padaku dan Yeshi. Kau sudah di butakan oleh kilauan dunia Rebecca. Kau menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang kau mau tanpa memikirkan perasaanku ataupun yang lainnya Maaf Rebecca! Aku tidak sudi menjadi suami lagi. Mulai detik ini aku menceraikanmu, kau bukan lagi istriku begitupun sebaliknya. Aku harap kau tidak akan pernah mengusik hidupku lagi!" Ucap Tian penuh penekanan.
" Tidak bisa Tian! Kau masih suamiku. Dan sekarang saatnya kau pergi dengan calon istri barumu. Dia akan membuatmu bahagia tanpa kekurangan apapun Tian." Ucap Rebecca menarik tangan Tian.
" Sialan kau Tian, baiklah jika ini maumu. Aku akan melenyapkan Yeshi sekarang juga." Ucap Rebecca semakin terpancing emosi.
Rebecca mengeluarkan sebilah pisau dari dalam tasnya. Ia mengarahkan pisau itu pada Yeshi yang masih tergeletak di tanah.
" Tidak Rebecca, jangan lakukan itu!" Teriak Tian mendekati Yeshi.
Sebelum Rebecca sampai, Tian memeluk tubuh Yeshi sampai..
Jleb....
" Ahhhhh." Teriak Tian saat pisau itu menancap di punggungnya membuat punggungnya berlumuran darah.
" Tian." Ucap Rebecca menutup mulutnya. Ia tidak menyangka jika Tian rela mengorbankan nyawanya demi Yeshi.
Tidak mau berurusan dengan polisi atau yang lainnya, Rebecca segera meninggalkan itu. Namun belum jauh ia melangkah seseorang menarik tangannya.
" Mau pergi kemana wanita laknat? Kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu kepada adikku. Jika sampai adiku kenapa napa maka kau harus membayarnya dengan nyawamu saat itu juga." Ucap Rean menekan tangan Rebecca ke belakang.
" Siapa kau? Lepaskan aku!! Aku tidak punya urusan denganmu. Aku bilang lepaskan aku!!" Teriak Rebecca.
" Rodeo urus wanita ini! Aku akan membawa Yeshi dan Tian ke rumah sakit." Titah Rean.
" Baik Bos." Sahut Rodeo.
__ADS_1
Rodeo membawa Rebecca ke mobilnya. Ia mengikat tangan dan kaki Rebecca agar tidak kabur. Sedangkan Rean segera membawa Yeshi dan Tian ke rumah sakit.
Di dalam perjalanan.
" Terima kasih telah menolong kami." Ucap Tian.
" Oke, apa kau tidak pa pa? Sepertinya lukamu cukup parah hingga masih mengeluarkan darah begitu. Apa kau masih bisa menahan kesadaranmu sampai rumah sakit?" Tanya Rean menatap Tian melalui kaca tengah.
" Aku masih kuat, jangan pikirkan aku! Yang terpenting sekarang adalah keselamatan Yeshi." Ucap Tian.
" Yeshi sangat mencintaimu, itu sebabnya dia ingin membawamu pergi dari sana. Tapi bodohnya dia malah ke sana sendirian tanpa mengajakku. Untung aku segera menyusulnya setelah Rodeo melacak keberadaannya." Ujar Rean.
" Maafkan aku yang telah melukai adikmu." Ucap Tian.
" Itu bisa kita bicarakan nanti. Akan ada hukuman sendiri akan hal itu." Sahut Rean.
" InsyaAllah aku akan menerimanya." Sahut Tian.
Sesampainya di rumah sakit, Yeshi dan Tian mendapat perawatan intensif. Mereka di tempatkan dalam satu ruangan. Punggung Tian mendapat empat jahitan sedangkan Yeshi hanya mendapat pengobatan di dahinya yang bocor.
Saat ini Tian duduk bersandar pada kepala ranjang sambil terus menggenggam tangan Yeshi yang belum sadarkan diri.
" Yeshi sadarlah! Aku merindukanmu saat ini. Terima kasih, berkat dirimu aku bisa sembuh. Kau membawa keajaiban dalam hidupku Yeshi. Tapi kesembuhan ini tidak ada apa apanya tanpa kehadiranmu. Aku ingin kita hidup bersama selamanya. Aku mohon bangunlah Yeshi! Ada sesuatu yang harus aku beritahu padamu. Sesuatu itu pasti akan membuatmu bahagia jika kau mendengarnya." Ucap Tian menciun tangan Yeshi.
" Asal kau tahu, kau telah menungguku selama bertahun-tahun lamanya. Kau mencari dan mengharap kedatanganku selama ini. Kini aku ada di sampingmu Yeshi. Cowok tampan dan Chris yang berjanji akan menikahimu setelah kita dewasa waktu itu. Aku ada di sini Yeshi. Bagunlah! Buka matamu dan peluk aku sebagai satu orang yang sama. Sama sama kau cintai dan kau harapkan." Sambung Tian berharap Yeshi segera sadar, namun sepertinya usahanya belum membuahkan hasil.
Tak terasa air mata Tian menetes begitu saja. Ia segera mengusapnya. Ia tak kuasa melihat wanita yang ia cintai terbaring lemah seperti ini.
" Bangunlah sayang, aku mencintaimu." Ucap Tian.
Tak lama Yeshi membuka matanya perlahan. Hal itu membuat Tian sangat bahagia.
" Yeshi kamu sudah sadar?" Pekik Tian menatap Yeshi. Begitu pun sebaliknya.
" Yeshi apa kau butuh sesuatu?" Tanya Tian.
Yeshi mengerutkan keningnya menatap Tian.
" Yeshi... " Panggil Tian.
" Kamu siapa?"
Jeduarrrrr.....
Nah loh... Ada apa dengan Yeshi?
Jangan lupa tekan like, koment dan kasih 🌹yang banyak buat author...
Terima kasih...
Miss U All...
__ADS_1
TBC....