
Aku tidak akan berada di tempat dimana aku tidak di hargai, aku akan memilih untuk pergi sehingga aku bisa membuat matamu terbuka dan merasakan bagaimana rasanya hidup tanpa aku dan anakmu
Itulah kertas yang di tulis oleh Rebecca sebelum ia pergi. Yoga meremas kertas itu, tatapannya tertuju pada sebuah kertas berwarna putih dan ada gambar buram buram hitam di sana.
" Hasil USG." Gumam Yoga memandanginya.
" Apa maksud semua ini? Apa ini hasil kemarin saat Rebecca mengalami keguguran? Anakku telah tiada dari sini, dan sekarang kau pergi meninggalkan aku. Rebecca... Kenapa kau melakukan ini padaku? Apa sebesar ini kemarahan dan kebencianmu padaku? Kenapa kau tidak percaya padaku jika aku akan merubah sikapku kepadamu? Aku akan memperlakukanmu dengan baik Rebecca. Kembalilah! Aku mohon!" Monolog Yoga sedih.
" Aku akan menanyakan alamat tantenya Rebecca pada Tian. Aku harus meneleponnya sekarang." Ujar Yoga mengambil ponselnya.
Yoga segera menelepon Tian, telepon tersambung tinggal menunggu Tian mengangkatnya.
" Halo Ga, ada apa?" Tanya Tian di sebrang sana.
" Kirimkan alamat tantenya Rebecca yang kemarin Rebecca bilang, aku mau menyusulnya." Ujar Yoga.
" Tante Tanti maksudmu? Aku tidak tahu dimana rumahnya. Kemarin memang Rebecca memintaku untuk mengantarnya tapi aku belum di kasih tahu dimana alamatnya." Ujar Tian.
" Astaga.. Aku kira kamu tahu. Rebecca pergi Yan." Ucap Yoga menarik kasar rambutnya.
" Bagaimana Rebecca bisa pergi? Bukankah kalian masih di rumah sakit?" Tanya Tian.
" Tadi aku ke minimarket untuk membeli air putih, di sana aku bertemu dengan kawan lama. Karena sudah lama tidak bertemu, akhirnya kami ngobrol sampai hampir satu jam. Saat aku kembali ke ruangan Rebecca, dia sudah tidak ada. Aku harus mencari dimana Tian? Aku mohon bantu aku!" Terang Yoga.
" Aku akan membantumu, tapi satu pesanku untukmu. Jangan kau paksakan Rebecca untuk kembali bersamamu, biarkan dia menenangkan diri dulu! Kau bisa kembali mengambil hatinya pelan pelan." Ujar Tian memberi nasehat.
" Aku akan melakukan apa yang kau katakan Tian, apa kau sedang bersama Yeshi?" Tanya Yoga.
Tian melirik Yeshi yang sedang bersandar di bahunya.
" Aku ada di sini Ga, ada apa?" Tanya Yeshi sambil mengelus dada Tian.
" Aku minta tolong minta Rodeo untu melacak keberadaan Rebecca." Ujar Yoga.
" Apa dia membawa ponselnya?" Tanya Yeshi.
" Sepertinya begitu." Sahut Yoga.
" Baiklah, aku akan meminta Rodeo untuk melacaknya." Ucap Yeshi.
" Tapi tidak gratis." Sambung Yeshi.
__ADS_1
" Apa yang kau inginkan dariku?" Tanya Yoga.
" Aku mau kau membelikan aku rujak dengan sepuluh macam buah." Sahut Yeshi.
" Apa saja buah itu?" Tanya Yoga lagi.
Yeshi nampak sedikit berpikir.
" Bengkoan, jambu air, nanas, kedondong, delima, belimbing, mentimun, mangga, sama apa lagi ya... " Ujar Yeshi.
" Semangka." Sahut Tian.
" Ah tidak tidak, aku tidak suka semangka buat rujakan." Ujar Yeshi.
" Yoga, pokonya itu lah buahnya ya. Dan ya... Belikan sepuluh semangka non biji yang oval buat cuci mulut." Ujar Yeshi.
" Baiklah, sesuai keinginanmu aku akan membelikannya. Cepat hubungi Rodeo sebelum Rebecca pergi lebih jauh lagi." Ucap Yoga.
" Hei apa kau lupa? Akan sulit melupakan orang dalam perjalanan. Biarkan Rebecca sampai ke tempat tujuannya dulu baru Rodeo bisa melacaknya dan memberitahumu." Ujar Yeshi.
" Iya kau benar, baiklah aku akan aku tunggu. Aku belikan pesananmu dulu, terima kasih mau membantuku." Ucap Yoga.
" Hmm." Sahut Yeshi menutup sambungan teleponnya.
" Apa kau tidak akan memberitahu keberadaan Rebecca kepada Yoga?" Tanya Tian.
" Sebenarnya aku ingin sekali memberitahunya Mas, tapi aku harus menepati janjiku pada mbak Rebecca kan? Dia percaya jika aku bisa menyimpan rapat rahasia ini, bagaimana aku bisa mengkhianatinya. Jangankan memberitahu Yoga, memberitahumu saja aku tidak bisa." Ujar Yeshi.
" Kau benar benar orang yang sangat amanah sayang, Mas bangga memilikimu sebagai pendamping hidup Mas." Ucap Tian mencium pucuk kepala Yeshi.
" Rujak sepuluh buah itu sebenarnya siapa yang minta sayang? Kamu atau anak kita hmm?" Tanya Tian mengelus perut rata Yeshi.
" Sepertinya anak kita Mas." Sahut Yeshi.
" Kenapa tidak memintanya pada Mas hmm? Kenapa malah mintanya sama Yoga? Ini keinginanmu yang pertama lhoh sayang, Mas kehilangan kesempatan untuk menjadi orang yang memenuhi keinginan pertamamu." Keluh Tian.
Yeshi menatap Tian dengan seksama. Ada raut sedih dan kecewa di wajahnya.
" Mas maaf! Aku tidak menyadari akan hal itu. Entah mengapa tadi aku malah bicara seperti itu pada Yoga. Mungkin anak kamu inginnya Yoga yang membelikannya Mas, he he." Yeshi nyengir memamerkan deretan giginya.
" Ya sudah tidak apa apa, mungkin keinginan debaynya gitu. Yang penting Semua keinginanmu bisa terpenuhi biar anak kita tidak encesan." Ujar Tian.
__ADS_1
" Iya Mas, terima kasih sudah sabar menghadapiku." Ucap Yeshi.
" Kamu lebih sabar dariku sayang. Karena kesabaranmu Mas bisa merasakan kebahagiaan ini." Sahut Tian mencium kening Yeshi.
" Aku juga bahagia Mas." Sahut Yeshi memeluk perut Tian.
" Apa mau seperti ini terus sampai nanti?" Tanya Tian terkekeh.
" Iya, aku tidak mau sampai kamu jauh jauh dariku Mas. Aku pengin peluk kamu terus." Ujar Yeshi.
" Hmm manjanya istri Mas satu ini." Ucap Tian mencubit hidung Yeshi dengan pelan.
" Emngnya istri Mas ada berapa? Cuma satu kan?" Ujar Yeshi.
" Ya, cukup satu saja yaitu kamu." Sahut Tian memeluk tubuh Yeshi.
Tak lama Yoga datang dengan membawa pesanan Yeshi. Yeshi dan Tian segera menemuinya di ruang tamu.
" Ini semua pesananmu, aku berikan gratis untuk menyambut kehadiran calon keponakanku." Ucap Yoga memberikan sekantong plastik putih berisi sterefoam.
" Thank you." Sahut Yeshi.
" By the way siapa yang memberitahumu kalau aku sedang hamil?" Tanya Yeshi menatap Yoga.
" Kemarin Tian yang bilang." Sahut Yoga.
Yeshi menatap Tian dengan tajam.
" Eh bukan Mas sayang, Yoga ngarang ih. Kapan aku ngomong sama kamu?" Ujar Tian tidak terima.
" Ha ha ha.. Tidak Yeshi, Tian tidak bilang apa apa sama aku, saat kau memintaku memberikan rujak aku menebak kalau saat ini kamu pasti sedang hamil Dan terbukti kan?" Ujar Yoga terkekeh.
" Maaf Ga, di saat kamu sedang mengalami musibah malah aku mendapatkan kebahagiaan dengan kehamilanku ini." Ucap Yeshi.
" Tidak masalah Yesh, semua sudah di takdirkan Tuhan untuk menjalani kehidupan masing masing. Aku turut bahagia dengan berita ini. Semoga kau dan bayimu sehat sampai persalinan nanti." Ucap Yoga.
" Amin, terima kasih Ga." Sahut Yeshi.
" Doakan semoga aku bisa menemukan Rebecca, dan aku bisa kembali mengambil hatinya. Aku juga ingin hidup bahagia seperti kalian berdua. Aku harap kalian berdua bisa membantuku untuk menemukannya." Ujar Yoga sedih.
" Kami pasti akan membantumu, kalau kau ingin tahu dimana istrimu sekarang, kau tanyakan saja pada Yeshi. Demi kebahagiaan kalian berdua Yeshi pasti mau memberitahumu." Ujar Tian menatap Yeshi.
__ADS_1
"Sial... Mas Tian malah menjebakku. Bagaimana ini? Apa aku harus memberitahu Yoga? Atau aku harus tetap diam? Astaga... Kau membuat posisiku semakin sulit Mas. Awas aja akan aku beri hukuman untukmu." Batin Yeshi.
TBC....