
Jam dinding menunjukkan pukul tujuh malam. Yeshi sedang lembur di ruangannya di temani oleh Rean sedangkan Tian sudah pulang ke rumah karena merasa tidak enak badan.
Yeshi menyandarkan punggungnya ke kursi kebesarannya sambil menghembuskan kasar nafasnya.
" Kenapa aku pusing ya Yan? Melihat angka nol banyak begini membuat mataku buram." Ujar Yeshi memijat pelipisnya.
Rean terkekeh mendengarnya.
" Ya udah istirahat aja dulu! Atau kau mau pulang saja biar aku yang menyelesaikannya." Ujar Rean.
" Nggak usah lah biar aku aja, bentar lagi selesai kok." Sahut Yeshi.
" Kalau begitu biar nggak pusing, aku beliin kopi gimana?" Tawar Rean menatap Yeshi.
" Boleh deh." Sahut Yeshi.
" Coffe latte ya." Sambung Yeshi.
" Oke siap. Kamu tunggu di sini ya." Sahut Rean meninggalkan ruangan Yeshi.
Yeshi kembali menyelesaikan pekerjaannya. Tak lama terdengar langkah kaki mendekatinya.
Tap tap tap
Yeshi menoleh ke asal suara.
" Arnold, ngapain kamu di sini?" Tanya Yeshi menatap Arnold yang sedang berjalan menghampirinya.
" Aku mau menemanimu di sini. Kasihan kan wanita cantik lembur sendirian. Apa ada yang bisa aku bantu?" Tanpa basa basi Arnold duduk di depan Yeshi seperti tamu saja.
" Tidak perlu repot repot Arnold, aku bisa menyelesaikan pekerjaanku sendiri." Sahut Yeshi.
" Lagian ada Rean yang akan membantuku." Sambung Yeshi.
" Rean? Aku barusan melihat mobil Rean keluar dari tempat parkir. Sepertinya dia sedang terburu buru mau pergi ke suatu tempat, atau mungkin terjadi sesuatu dengan papanya." Ujar Arnold.
" Benarkah?" Tanya Yeshi.
" Iya benar, kalau kau tidak percaya telepon saja." Sahut Arnold.
Yeshi segera menelepon Rean.
" Halo."
" Halo Rean, kamu dimana?" Tanya Yeshi.
" Sorry Yesh aku pulang duluan, barusan bi Sari meneleponku katanya papa masuk rumah sakit karena penyakit jantungnya kambuh." Ujar Rean.
" Astaga om Reno, di rumah sakit biasanya kan? Aku akan menyusul ke sana setelah pekerjaanku selesai." Ucap Yeshi.
" Oke, kau tidak perlu buru buru, utamakan keselamatanmu." Ujar Rean.
__ADS_1
" Siap." Sahut Yeshi mematikan sambungan teleponnya.
" Om Reno masuk rumah sakit lagi?" Tanya Arnold.
" Iya. Aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku." Sahut Yeshi kembali fokus pada komputernya.
" Tidak perlu terburu buru! Kau membutuhkan ketelitian di sini." Ujar Arnold.
" Hmm." Gumam Yeshi.
" Yeshi ruanganmu nyaman sekali. Aku jadi betah tinggal di sini." Ujar Arnold mengedarkan pandangannya ke setiap sudut.
" Kalau begitu menginaplah di sini. Aku akan sangat berterima kasih kalau kamu mau jadi security di ruanganku ini." Ucap Yeshi.
" Kalau kamu mau menemani, aku tidak keberatan bermalam di sini bersamamu." Ujar Arnold menatap Yeshi.
" Benar benar tidak waras." Cebik Yeshi tersenyum remeh.
Arnold tersenyum melihatnya.
" Melihatmu bekerja keras seperti ini membuatku merasa kasihan padamu, seharusnya yang berada di sini sekarang adalah suamimu bukan kamu. Kalau aku jadi suamimu aku tidak akan membiarkan istriku bekerja apalagi lembur sendirian seperti ini." Ucap Arnold.
" Diamlah Arnold! Kau mengganggu konsentrasiku." Titah Yeshi.
" Baiklah aku akan diam." Sahut Arnold mengeluarkan ponsel dari saku jasnya.
Arnold menatap tangan kiri Yeshi yang berada di atas meja, tanpa Yeshi sadari Arnold menggenggam tangan Yeshi sebentar lalu melepasnya lagi.
" Hasil jepretan yang sangat bagus." Batin Arnold.
Jam setengah sembilan akhirnya Yeshi menyelesaikan pekerjaannya.
" Apa kamu mau langsung ke rumah sakit?" Tanya Arnold.
" Hmm." Gumam Yeshi keluar dari ruangannya di ikuti Arnold dari belakang.
" Aku akan mengantarmu, sekalian menjenguk om Reno." Ujar Arnold.
" Tidak perlu! Aku naik taksi saja." Sahut Yeshi.
" Yeshi tidak baik naik taksi sendirian malam malam begini. Apalagi kamu tidak tahu dengan jelas daerah sini kan? Kalau sopir taksi itu berniat jahat padamu gimana?" Uajr Arnold.
" Benar juga ya, apa aku telepon mas Tian aja suruh jemput kali ya? Tapi dia kan sedang sakit, nggak usah lah. Aku bareng Arnold aja, akan aku kirim pesan untuk mas Tian." Batin Yeshi.
Yeshi mengeluarkan ponsel dari tasnya dan sialnya ponselnya mati karena seharian tidak di cash.
" Ya ampun ponselku mati, mana nggak bawa charger lagi. Gimana aku ngasih tahu mas Tian kalau aku mau menjenguk om Reno. Ah nanti aja deh pinjem ponsel Rean buat ngabarin mas Tian." BatinYeshi.
" Gimana? Mau bareng aku?" Tanya Arnold.
" Ya udah deh, terpaksa." Sahut Yeshi membuat Arnold tersenyum.
__ADS_1
Sampai di parkiran Arnold membukakan pintu untuk Yeshi. Setelah itu ia melajukan mobilnya menuju rumah sakit dengan kecepatan sedang. Di dalam perjalanan nampak Arnold yang berceloteh ria, sesekali Yeshi menimpalinya jika di tanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di rumah Tian, saat ini Tian sedang duduk bersandar sambil menunggu kedatangan Yeshi.
Ting..
Ponselnya berbunyi tanda pesan masuk. Ia melihat id pengirim pesan yang tidak tersimpan di ponselnya.
" Siapa ya? Kok kirim foto. Mana profilnya nggak terlihat lagi." Gumam Tian.
Tian segera membukanya.
Deg...
Jantung Tian berdetak sangat kencang, ia melihat beberapa foto yang di kirimkan oleh orang tidak di kenal. Foto pertama di dalam ruangan Yeshi mereka nampak berpegangan tangan. Tian sangat mengenal salah satu tangan dalam foto itu karena terdapat cincin pernikahannya.
Foto kedua dimana Yeshi berjalan di samping seorang pria.
" Siapa pria ini? Kalau di lihat dari postur tubuhnya bukan tubuh Rean. Lalu Yeshi berjalan dengan siapa? Bukankah katanya Yeshi lembur bersama Rean?" Gumam Tian sedikit berpikir.
Tian membuka gambar ketiga dimana foto Yeshi masuk ke dalam mobil dengan seorang pria berdiri di sampingnya. Ia yakin pria itu yang membukakan pintu untuk Yeshi.
Ting...
Sebuah chat masuk di whatsappnya.
Kau terlalu membanggakan cintamu bung... Buktinya Yeshi mau jalan bersamaku. Aku ingin menikmati waktu berdua dulu dengan istrimu, please jangan ganggu!
" Arnold." Gumam Tian.
" Ya aku yakin dia pasti Arnold. Kenapa Yeshi mau pergi bersamanya? Bukankah Yeshi tahu kalau aku sedang sakit? Apa Yeshi mulai tertarik dengan Arnold lagi? Atau karena alasan lainnya? Aku harus menelepon Yeshi dan menanyakannya kebenarannya." Ujar Tian.
Tian segera menelepon Yeshi namun nomernya tidak aktif. Lalu ia menelepon Rean menanyakan keberadaan Yeshi, Rean menjawab jika Yeshi ada di kantor. Tak mau berpikir buruk tentang istrinya, Tian menelepon satpam yang betugas malam ini. Pak Satpam mengatakan jika Yeshi sudah pulang bersama Arnold dari tadi. Tian semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
" Kenapa kau lakukan ini sayang? Kau beralasan lembur hanya untuk pergi berdua bersama Arnold. Apa kau begitu merindukannya sehingga kau berbohong padaku? Apa kau ingin mengulang masa masa kebersamaan kalian berdua? Apa kau lupa kalau aku sedang sakit di sini Yeshi... Tapi kenapa kau tidak peduli padaku? Aku merasa kau sama saja dengan Rebecca. Kau mulai berubah Yeshi. Aku tidak menyangka ternyata nasibku seperti ini. Aku hanya di permainkan oleh wanita saja." Monolog Tian.
Hatinya terasa sakit seperti di sayat sembilu mengetahui kenyataan yang ada.
" Aku harus bersikap tegas pada Yeshi, aku tidak mau kegagalanku mengatur Rebecca terulang pada Yeshi. Aku akan memberikan Yeshi pengertian dan sedikit pelajaran agar dia tidak mengulangi kesalahan lagi." Ujar Tian.
Di sini cinta keduanya sedang di uji ya..
Sangat mengharapkan like, koment vote dan hadiah dari para readers tercinta.
Terima kasih
Miss U All
TBC
__ADS_1