
Hari ini Tian dan Yeshi di perbolehkan pulang oleh dokter. Luka Tian sudah mulai kering, ia hanya perlu rawat jalan saja. Yeshi membawa Tian pulang ke rumah tuan Reno. Setelah turun dari mobil, mereka masuk ke dalam.
" Akhirnya kalian pulang juga sayang, Om kangen sama kamu Yeshi." Ujar Tuan Reno.
" Aku juga kangen sama Om." Sahut Yeshi memeluk tuan Reno.
" Nggak usah manja! Kamu udah gedhe, udah punya suami juga." Cibir Rean.
" Iri aja jadi orang." Yeshi menjulurkan lidahnya mengejek Rean.
Tuan Reno menatap Tian yang berdiri di belakang Yeshi.
" Tian kau juga sudah sembuh rupanya, kau tidak perlu kursi roda lagi. Om senang melihatnya." Ujar tuan Reno.
" Iya Om terima kasih, semua ini berkat Yeshi." Sahut Tian menatap Yeshi.
" Bukan, semua itu berkat mbak Rebecca. Kalau mbak Rebecca tidak melukaiku kau tidak akan nekat berlari menghampiriku." Sahut Yeshi.
Tian menghela nafasnya pelan.
" Aku ke kamar ya Om mau istirahat." Ucap Yeshi.
" Silahkan." Sahut tuan Reno.
Yeshi menaiki tangga menuju kamarnya di ikuti Tian dari belakang. Keduanya masuk ke kamar, Yeshi merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia menatap langit langit kamar.
" Yeshi, bagaimana kalau nanti malam kita makan di luar." Ujar Tian duduk di tepi ranjang.
" Tumben ngajak aku makan di luar." Sahut Yeshi.
" Ya sekali kali kan nggak pa pa donk." Sahut Tian.
" Gimana? Mau nggak? Harus mau lah, aku sudah reservasi ruangan VIP di resto xx." Ujar Tian membuat Yeshi terkejut. Ia menatap Tian.
" Dalam rangka apa kamu memesan ruangan VIP? Apa ada hal istimewa hari ini?" Tanya Yeshi.
" Ya, aku akan membuat malam ini sebagai malam yang paling istimewa di dalam hidup kita. Nanti kau akan tahu apa istimewanya malam ini. Jadi berdandanlah yang cantik, aku sudah menyiapkan gaun spesial untuk kau pakai." Ucap Tian.
" Baiklah, semoga malam ini merupakan malam yang membawa kebahagiaan untukku." Ujar Yeshi di balas senyuman oleh Tian.
" Sekarang istirahatlah Mas! Aku akan membangunkanmu saat makan siang nanti. Kau harus banyak istirahat kan." Ujar Yeshi.
" Baiklah." Sahut Tian naik ke tas ranjang.
Tian tiduran sambil telungkup karena luka di punggungnya masih terasa sakit. Yeshi menatapnya dengan perasaan entah.
" Sebenarnya apa yang kau rencanakan untukku Mas? Aku jadi merasa takut, takut kau meninggalkan aku. Atau kau mau mengungkapkan perasaanmu padaku? Mungkinkah itu terjadi? Sepertinya tidak... Mas Tian masih mencintai mbak Rebecca." Batin Yeshi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam yang di nanti pun akhirnya tiba. Yeshi sedang bersiap, ia merias wajahnya dengan make up natural. Rambut di sanggul ke atas menampakkan leher jenjangnya membuatnya nampak begitu cantik.
Tian menatapnya tanpa berkedip membuat Yeshi salah tingkah.
__ADS_1
" Mas jangan menatapku seperti itu! Aku merasa tidak percaya diri kalau kau menatapku begitu." Ujar Yeshi.
" Kau sangat cantik Yeshi." Ucap Tian tanpa sadar.
" Aku cantik dari dulu Mas, kenapa baru nyadar sekarang?" Tanya Yeshi.
" Eh apaan sih." Ucap Tian malu malu.
" Ya udah ayo kita berangkat Mas! Aku sudah tidak sabar kejutan apa yang akan kau berikan padaku." Ucap Yeshi mengapit lengan Tian.
" Baiklah ayo!" Sahut Tian.
Mereka turun ke bawah menuju mobilnya. Tian segera melajukan mobilnya menuju resto xx. Lima belas menit kemudian mereka sampai di sana.
Tian menggandeng tangan Yeshi masuk ke dalam menuju ruangan VIP nomer satu.
Ceklek....
Tian membuka pintunya, keduanya masuk ke dalam.
Ruangan nampak gelap dan hanya di terangi oleh cahaya lilin. Di tengah tengah ruangan nampak meja bundar berisi dua piring dan dua gelas jus anggur. Bunga dan lilin membuatnya menjadi sangat indah.
" Ayo sayang." Tian menuntun Yeshi mendekati meja.
" Silahkan duduk!"
Yeshi duduk berhadapan dengan Tian. Entah kenapa jantungnya berdetak dengan kencang.
" Mas ini kamu yang menyiapkan semuanya?" Tanya Yeshi.
" Terima kasih Mas." Ucap Yeshi di balas senyuman oleh Tian.
Mereka makan dengan khidmat. Sesekali mereka saling mencuri pandang membuat jantung keduanya semakin berdesir.
" Ya Tuhan apa yang aku rasakan ini? Hatiku tidak henti hentinya berdesir. Jantungku berdetak begitu cepat. Apakah malam ini Mas Tian mau menembakku? Apakah dia mau mengungkapkan cintanya seperti di film film itu? Ah so sweet... Aku nggak menyangka kalau Mas Tian bisa seromantis ini." Ujar Yeshi dalam hati.
Selesai makan, Tian mengajak Yeshi berdansa. Dengan di iringi alunan musik keduanya berdansa layaknya pasangan suami istri lainnya. Tidak henti hentinya Yeshi menatap mata Tian, begitupun sebaliknya. Rasa bahagia menyeruak di dalam hatinya.
Setelah musik berhenti, Tian menggenggam tangan Yeshi. Ia menatap Yeshi dengan tatapan penuh cinta.
" Yeshi."
" Iya Mas." Sahut Yeshi.
" Malam ini aku ingin mengatakan banyak hal kepadamu. Aku ingin mengungkapkan bagaimana perasaanku padamu dan apa yang aku rasakan selama hidup bersamamu beberapa bulan ini." Ucap Tian.
" Jujur aku merasa bahagia berada di sampingmu. Perhatian, cinta, dan kasih sayang yang kau berikan kepadaku membuat aku nyaman. Ketulusanmu membuat hatiku merasa teduh. Berulang kali aku mengelak tentang perasaanku tapi perasaan itu justru semakin kuat melekat dalam hatiku. Hingga akhirnya aku menyadari jika aku mencintai..." Tian menjeda ucapannya. Entah mengapa hatinya merasa kacau. Perasaan tak enak tiba tiba menjalar dalam hatinya.
" Rebecca." Gumam Tian.
Deg....
Jantung Yeshi terasa berhenti berdetak. Dunianya seakan runtuh begitu saja saat itu. Untuk apa Tian menyiapkan semua ini jika untuk mengakui cintanya pada Rebecca. Inikah yang di katakan istimewa? Pikir Yeshi.
__ADS_1
Yeshi melepas tangannya. Ia berjalan menuju pintu keluar.
" Yeshi tunggu! Aku.. "
Drt... Drt....
Belum selesai Tian bicara, teleponnya berdering tanda panggilan masuk. Ia segera mengangkatnya.
" Halo."
.........
" Apa? Rebecca kecelakaan?" Pekik Tian menghentikan langkah Yeshi.
........
" Baiklah saya akan ke sana sekarang juga." Ucap Tian menutup panggilan teleponnya.
" Yeshi Rebecca kecelakaan, kondisinya parah dan aku harus ke sana sekarang juga. Tidak ada waktu untuk mengantarmu pulang, bagaimana kalau...
" Aku naik taksi saja Mas. Kau pergilah ke rumah sakit! Mbak Rebecca lebih membutuhkanmu. Kalau ada apa apa segera hubungi aku." Ucap Yeshi memotong ucapan Tian.
" Baiklah, maafkan aku!" Ucap Tian meninggalkan Yeshi sendirian.
" Hiks... " Isak Yeshi.
Yeshi menatap meja yang masih terlihat indah. Ia mendekatinya lalu...
" Arghhhh.... "
Pyar....
Yeshi menyapu seisi meja membuat piring dan gelas berjatuhan ke lantai.
" Kenapa kau lakukan ini padaku Mas? Kenapa?" Teriak Yeshi hilang kendali.
" Hanya untuk menekankan aku jika cintamu hanya untuk mbak Rebecca kau harus membuat makan malam indah seperti ini. Apa tidak cukup kau melukai hatiku selama ini? Hiks.... Apakah yang aku lakukan selama ini padamu tidak mampu mengukir cinta di dalam hatimu? Apa perbuatan mbak Rebecca tidak mampu membuatmu berpaling kepadaku? Hiks.... Sakit.... Hiks... Papa.. Mama... Rasanya sakit.... Hiks... Aku tidak kuat menahan rasa sakit ini hiks... Aku tidak kuat... Jika aku tahu mencintainya sesakit ini, aku tidak akan membiarkan hatiku memilihnya. Aku tidak akan membiarkan cintaku tumbuh subur untuknya. Hiks.... Ya Tuhan.... Bunuh dan hilangkan cinta ini dari hatiku. Aku menyerah, aku tidak mau lagi berada di dekatnya. Aku mau pergi jauh darinya dan melupakan semua yang terjadi." Ucap Yeshi sambil terisak.
Yeshi mengusap air matanya.
" Ya... Aku harus kembali ke Singapura. Aku tidak mau hatiku tambah sakit lagi. Aku akan memesan penerbangan untuk besok pagi." Ujar Yeshi.
Yeshi segera mengambil ponselnya. Ia memesan tiket penerbangan ke negara tetangga tapi sialnya penerbangan tersedia dua hari lagi. Entah apa penyebabnya.
" Dua hari lagi, tidak pa pa. Aku akan terbang dua hari lagi. Dua hari itu akan aku gunakan untuk mengurus surat perpisahanku dan Mas Tian. Maaf Mas, aku tidak mampu lagi bertahan. Seharusnya aku melakukan ini sejak lama." Monolog Yeshi.
Nah loh Yeshi pergi....
Tekan like koment vote dan kasih 🌹yang banyak biar Yeshi nggak jadi pergi.
Terima kasih untuk readers yang telah mensuport author semoga sehat selalu...
Miss U All...
__ADS_1
TBC....