
Pagi ini Yeshi datang ke gudang tempat Tian di sekap, ia masuk ke dalam mencari Tian di dalam sana. Padahal Rean melarangnya pergi sendiri namun Yeshi tidak sabar jika harus menunggu Rean yang sedang menyusun rencana. Ia tidak mau sampai Arnold melukai suami yang sangat ia cintai.
" Mas Tian." Teriak Yeshi memanggil Tian, barang kali akan ada sahutan namun tidak ada sahutan sama sekali.
" Mas kamu dimana?" Yeshi berteriak lagi.
" Dimana dia menyekap mas Tian? Sepertinya sepi, apa mungkin Arnold melukai mas Tian? Tidak tidak... Jangan sampai itu terjadi." Gumam Yeshi mengedarkan pandangannya.
" Mas kamu dimana?" Teriak Y shi sekali lagi.
Tap tap tap...
Terdengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya. Yeshi menoleh ke asal suara.
" Rupanya kau sudah datang sayang, mana surat yang aku minta?" Arnold menatap Yeshi.
" Aku tidak akan memberikan apa yang kau mau Arnold, sampai kapan pun aku tidak akan berpisah dengan Mas Tian. Jadi kubur dalam dalam keinginanmu itu!" Ucap Yeshi.
" Jangan keras kepala sayang, lakukan apa yang aku inginkan maka suamimu akan selamat. Tapi jika kau tidak mau maka jangan salahkan aku jika aku melakukan hal yang lebih buruk kepada suamimu." Ancam Arnold.
" Lakukan saja! Apapun yang akan kau lakukan aku tetap pada pendirianku." Sahut Yeshi.
" Rupanya kau menantangku Yeshi, baiklah kau akan melihat bagaimana aku menyiksa suamimu." Ucap Arnold mengambil remot di saku kemejanya.
Arnold memencet remot itu ke dinding hingga menampakkan gambar Tian yang sedang duduk terikat di kursi yang sudah usang.
" Mas Tian!!!" Teriak Yeshi histeris saat melihat gambar Tian yang babak belur. Bahkan di sudut bibirnya menetes darah segar.
" Kau apakan suamiku Arnold! Beraninya kau melukai suamiku, dasar baj!ngan." Bentak Yeshi menarik kerah Arnold.
" Aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan Yeshi, semua adil dalam cinta dan perang. Sekarang tanda tangani surat perpisahanmu atau aku akan melakukan yang lebih dari ini kepada Tian." Ucap Arnold.
" Setelah kau melakukan semua itu pada suamiku, apa kau pikir aku mau menuruti kata katamu hah!" Teriak Yeshi menatap nyalang.
" Aku tidak sudi menuruti kata katamu. Akan aku pastikan kau akan membayar mahal semua ini." Ucap Yeshi penuh penekanan.
Arnold mencet salah satu tombol pada remot tiba tiba...
Plak...
Yeshi menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat melihat anak buah Arnold menampar pipi Tian.
Bugh.... Bugh... Bugh...
Anak buah Arnold memukul Tian dengan membabi buta. Tian nampak lemah tak berdaya, bahkan wajah tampannya saat ini sudah tidak terlihat lagi.
__ADS_1
" Hentikan!!" Teriak Yeshi.
" Hiks... hiks.." Tubuh Yeshi luruh ke lantai. Ia tak kuasa melihat keadaan suaminya saat ini.
" Aku mohon hentikan! Jangan lakukan lagi! Hiks... " Isak Yeshi.
Arnold menatap iba pada Yeshi, namun ia segera membuang perasaan itu.
" Mau menyerah atau masih mau keras kepala? Hal paling terburuknya adalah kematian Tian." Ucap Arnold.
Yeshi mendongak menatap Arnold.
" Kenapa kau melakukan ini padaku Arnold. Dulu kau sendiri yang membuangku, kau sendiri yang membuat aku memutuskan hubungan. Tapi kenapa sekarang kau justru mengejarku bahkan demi mendapatkan aku kau tega melakukan hal serendah ini. Kau tega memisahkan aku dengan suamiku." Ucap Yeshi.
Arnold berjongkok di depan Yeshi. Ia mengusap air mata yang mengalir di pipi Yeshi.
" Aku melakukannya karena aku sangat mencintaimu Yeshi. Yang aku lakukan dengannya bukanlah cinta tapi kesenangan sesaat. Hatiku hanya mencintaimu bukan yang lainnya." Ucap Arnold.
" Ini bukan cinta Arnold, yang kau tunjukkan padaku adalah obsesi." Ucap Yeshi.
" Aku melakukan hal yang sama denganmu Yeshi, bukankah kau dulu juga terobsesi dengan Tian? Kau bahkan rela memberikan seluruh hartamu kepada istri pertamanya Tian. Hari ini itulah yang coba aku lakukan padamu."
" Jangan menangis lagi! Aku tidak mampu melihatmu bersedih. Turuti keinginanku, aku akan menebus kesalahanku di masa lalu dengan membuatmu bahagia." Ucap Arnold.
" Tanda tangani ini lalu pergilah bersamaku." Arnold memberikan stopmap itu pada Yeshi.
Dengan tangan gemetar Yeshi menerimanya. Ia membuka kertas perpisahan yang tertulis namanya dan Tian. Ia menatap gambar Tian di depan sana. Tian bahkan sudah tidak sadarkan diri.
Byurrr...
Anak buah Arnold mengguyur Tian dengan seember air membuat Tian membuka matanya.
" Hiks.... Hiks... " Yeshi membungkam mulutnya dengan telapak tangannya. Rasanya sangat sakit sekali melihat pria yang kita cintai di perlakukan seperti seekor hewan.
" Jangan mengukur waktu Yeshi! Segera tanda tangani suratnya! Waktu kita tidak banyak, jet sudah menunggu kita." Ucap Arnold.
" Setelah aku menandatanganinya kau mau membawaku kemana?" Tanya Yeshi.
" Kemana saja, kita akan membuka lembaran baru dengan status baru di sana. Sekarang tanda tangani atau anak buahku akan kembali menyiksa Tian." Ucap Arnold mengancam.
" Baiklah."
Dengan berat hati Yeshi menandatangani surat perpisahannya dengan Tian.
"Maafkan aku Mas, aku lemah jika menyangkut keselamatanmu. Jika kita memang berjodoh pasti kita akan bersatu. Entah kapan waktunya aku yakin hari itu pasti akan datang." Batin Yeshi.
__ADS_1
" Berikan padaku surat itu!" Titah Arnold.
" Lepaskan dulu mas Tian! Setelah itu aku akan memberikan ini padamu." Ucap Yeshi menunjukkan kertas di tangannya.
" Aku ingin melihat surat ceraimu dulu, baru aku akan melepasnya." Ucap Arnold.
Dengan terpaksa Yeshi memberikan surat perpisahan yang sudah ia tanda tangani. Arnold tersenyum senang melihatnya.
" Sekarang lepaskan suamiku!" Ucap Yeshi.
" Aku akan melepaskannya setelah aku berhasil membawamu pergi. Kau harus menikah denganku."
Jeduarr...
" Tidak! Aku tidak mau menikah denganmu." Ucap Yeshi.
" Kau tidak punya pilihan Yeshi." Ucap Arnold.
Arnold mendekati Yeshi lalu ia menarik tangan Yeshi untuk mengikutinya.
" Lepas Arnold! Kau mau membawaku kemana? Lepaskan mas Tian dulu!" Yeshi berusaha memberontak namun tenaga Arnold lebih kuat.
" Aku akan membawamu ke tempat dimana tidak akan ada orang yang mengenali kita. Kita akan hidup sebagai sepasang suami istri." Sahut Arnold.
" Aku mohon jangan sakiti aku Arnold. Sudah cukup kau menyakitiku dengan perpisahan ini. Aku mohon lepaskan aku! Biarkan aku tetap tinggal di sini!" Ucap Yeshi.
" Kau tenang saja, aku mencintaimu Yeshi jadi tidak akan aku biarkan kau terluka. Tapi aku juga tidak akan membiarkanmu di sini. Aku tidak mau sampai kau kembali apsa Tian karena kau hanya milikku. Milik Arnold seorang." Sahut Arnold.
" Arnold aku mohon jangan bawa aku! Aku tidak mau ikut denganmu, aku mohon." Ucap Yeshi menghiba.
" Baiklah jika kau keras kepala." Arnold melepaskan tangan Yeshi.
" Aku akan meminta anak buahku untuk melenyapkan Tian sekarang juga." Ucap Arnold penuh penekanan.
" Mau kau apakan lagi suamiku Arnold? Jangan berani macam macam atau kau akan sangat menyesal. Aku tidak akan membiarkanmu melenyapkan suamiku begitu saja." Tekan Yeshi.
" Baiklah. Aku tidak akan melakukan apa apa sayang, sekarang ikutlah denganku! Kita akan hidup bahagia bersama." Ujar Arnold mengelus pipi Yeshi.
" Jangan sentuh aku!!" Bentak Yeshi.
" Kau sangat kasar sayang, ayo ikut aku!" Arnold kembali menarik tangan Yeshi menuju mobilnya.
" *Ya Tuhan tolong aku, seseorang tolong aku! Aku tidak mau pergi bersama Arnold. Aku mau mas Tian... Tolong aku! Siapapun tolong aku! Aku mohon! Rean..."
TBC*...
__ADS_1