
Rean, Yeshi dan Yoga pergi ke rumah Tian. Sampai di sana mereka di sambut hangat oleh Tian. Mereka bertiga duduk di sofa ruang tamu. Yeshi mencuri pandang ke arah Tian, begitupun sebaliknya.
Deg deg deg
Jantung keduanya berdetak sangat kencang.
" Aku sangat merindukanmu Mas. Ingin sekali aku memelukmu untuk meluapkan rasa rindu ini. Andai saja kau memberiku hak itu Mas, pasti aku akan melakukannya. Semoga setelah kau mengetahui kebenaran yang akan di sampaikan oleh Yoga, kau mampu berpaling kepadaku. Aku masih sangat mencintaimu Mas." Ujar Yeshi dalam hati.
" Yeshi sejujurnya aku sangat merindukanmu. Tapi saat ini aku tidak bisa berbuat apa apa. Aku harap kau bisa menunggu waktu yang aku sendiri juga tidak tahu sampai kapan aku memendam perasaan ini." Batin Tian.
" Tian, sebelumnya aku minta maaf padamu. Aku ke sini karena ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu mengenai kehamilan Rebecca. Anak yang di kandung Rebecca adalah milikku bukan milikmu. Semasa dia bersamamu dia memasang kontrasepsi, dan dia melepasnya saat dia bersamaku. Hubungan kami sangat dekat Tian, tapi maaf! Aku hanya bersenang senang saja dengannya. Tapi sekarang aku kemari untuk mempertanggung jawabkan semuanya." Ucap Yoga menatap Tian menantikan bagaimana reaksi Tian saat mendengarnya.
Tian nampak biasa saja. Yeshi mengerutkan keningnya melihat Tian yang seperti itu.
" Mas, kamu tidak terkejut? Kamu tidak marah? Apa sebelumnya kamu sudah mengetahui hubungan mereka?" Tanya Yeshi memberikan ponselnya pada Tian.
Tian nampak mengetikkan sesuatu di sana.
Aku tahu semuanya Yeshi, Rebecca sudah memberitahuku sebelumnya. Tapi aku tidak masalah dia anak siapa. Yang jelas akulah ayah yang akan membesarkannya. Aku dan Rebecca tidak akan berpisah. Dan tolong bilang pada pria itu kalau Rebecca tidak butuh tanggung jawabnya. Rasa cintaku lebih besar dari rasa kecewaku padanya. Aku menerima Rebecca bagaimanapun kondisinya. Karena hanya dia wanita yang aku cintai.
Tian memberikan ponselnya pada Yeshi. Alangkah terkejutnya Yeshi membaca tulisan itu. Lagi lagi hatinya sakit, perih.
Tes...
Tak terasa air mata menetes begitu saja di pipi Yeshi. Ia tidak menyangka jika Tian tetap memilih Rebecca daripada dirinya.
" Ternyata memang tidak ada cinta di hatinya sedikitpun untukku. Percuma saja aku menguak semua ini karena semua yang aku lakukan tidak dapat membantu apa apa, yang ada hanya rasa sakit, kecewa dan sakit lagi. Bodoh kau Yeshi..." Batin Yeshi.
" Yeshi ada apa? Kenapa kau menangis sayang?" Tanya Rean menatap Yeshi.
Yeshi menatap Yoga.
__ADS_1
" Kita pulang saja Ga, percuma kita ada di sini karena Rebecca tidak membutuhkan tanggung jawabmu. Mas Tian sudah tahu semuanya dan dia menerima Mbak Rebecca apa adanya. Termasuk anak dalam kandungannya." Ucap Yeshi keluar dari rumah itu.
Rean mendekati Tian lalu menatapnya dengan tajam.
" Ternyata bukan hanya tubuhmu saja yang lumpuh. Tapi mata dan hatimu juga buta. Kau tidak bisa membedakan mana manik manik dan mutiara. Kau menghancurkan hati Yeshi tanpa membiarkan dia mengatakan apa tujuannya datang kemari. Tapi aku akan tetap berdoa semoga kau bahagia bersama Rebecca dan aku akan menggantikan posisimu untuk membahagiakan Yeshi." Ucap Rean segera berlalu dari sana. Tian mengepalkan erat tangannya menahan emosi di dalam dadanya.
Sekarang gantian Yoga yang mendekati Tian.
" Terima kasih Bro, berkat kemurahan hati lo, gue jadi terbebas dari Rebecca. Kau tenang saja, walaupun gue tidak menikahi Rebecca tapi gue akan mengirim biaya hidup anak gue setiap bulannya. Gue tidak akan membebankan semua itu pada lo. Sekarang saatnya gue mengejar Yeshi lagi." Ucap Yoga menyusul Yeshi dan Rean ke mobilnya.
Tian menatap kepergian mereka dengan perasaan yang entah. Ia sendiri tidak tahu. Emosi, ketakutan, khawatir menjadi satu.
" Maafkan aku yang telah menyakiti hatimu Yeshi, aku terpaksa melakukan ini untuk melindungimu dari ancaman Rebecca. Untuk saat ini hanya ini yang bisa aku lakukan karena aku ingin menjadi pria yang selalu melindungimu. Doakan supaya aku cepat sembuh dan bisa menyelesaikan semuanya. Aku yakin kita akan bersatu suatu hari nanti." Ujar Tian dalam hati sambil mengusap air mata yang menetes di sudut matanya.
Rebecca keluar dari kamarnya menghampiri Tian. Ternyata sedari tadi ia ada di dalam.
" Bagus Tian. Kau melakukan apa yang aku mau. Aku tidak tahu kau melakukan ini karena kau mencintaiku atau karena kau mencintai Yeshi. Yang jelas ingat satu hal Tian! Jika kau tidak menurut padaku maka aku akan mencelakai Yeshi. Dan aku yakin dengan kondisimu yang seperti ini kau tidak bisa melindunginya." Ucap Rebecca.
" Aku akan bernegosiasi dengan wanita yang akan memberimu hadiah lebih mahal dari Yeshi. Kau memang membawa keberuntungan untukku Tian. Kau cacat saja banyak yang mau. Apalagi kalau kau sudah sembuh nanti. Sayangnya kau akan di bawa jauh olehnya jadi selama dia membutuhkanmu aku tidak bisaemberikanmu pada orang lain." Sambung Rebecca meninggalkan Tian sendirian.
" Ya Tuhan.. Aku berharap bisa segera sembuh sebelum Rebecca memberikan aku pada wanita lain. Yeshi tolong aku!.... Aku sangat berharap kau bisa merasakan jika saat ini aku sangat membutuhkan pertolonganmu. Aku yakin pada cinta kita yang akan membuatmu mengerti. Aku yakin cinta kita akan membawamu kemari untuk menolongku dari kejahatan yang akan Rebecca lakukan. Ku mohon tolong aku Yeshi! Jauhkan aku dari wanita seperti Rebecca." Batin Tian.
" Mas Tian." Gumam Yeshi yang masih dalam perjalanan.
" Kenapa Yeshi?" Tanya Rean menoleh Yeshi sekilas.
" Entah mengapa aku merasa kalau Mas Tian dalam bahaya Yan, aku merasa Mas Tian terpaksa melakukan semua itu. Apa dia di bawah tekanan mbak Rebecca ya? Apa mungkin mbak Rebecca mengancamnya?" Ujar Yeshi menatap Rean.
" Masa' sih? Aku rasa itu karena Tian sangat mencintai Rebecca. Bukankah hal apapun akan kita lakukan untuk orang yang kita cintai? Mungkin itu hanya perasaanmu saja karena kau terlalu berharap padanya." Sahut Rean.
" Iya kau benar, mungkin aku yang terlalu berharap." Sahut Yeshi.
__ADS_1
Yeshi menatap pemandangan luar. Hatinya merasa gusar dan tak karuan.
" Aku harus menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi dengan Mas Tian untuk memastikan jika dugaanku salah. Aku akan meminta Rodeo untuk mengawasi mereka berdua terutama pergerakan mbak Rebecca." Batin Yeshi.
Yeshi mengambil ponselnya lalu menghubungi Rodeo lewat pesan. Rodeo salah satu anggota intelegent kepercayaan tuan Reno yang bekerja di perusahaannya. Yeshi yakin Rodeo dapat dengan cepat mendapatkan informasi yang ia minta.
Sampai di kantor Yeshi segera masuk ke ruangannya. Ia duduk bersandar pada kursi kebesarannya.
Ting...
Ponsel Yeshi berbunyi tanda pesan masuk. Ia segera membukanya.
" Mbak Rebecca di cafe menemui anak presdir dari Kuang corporation? Darimana dia bisa mengenal wanita itu? Atau jangan jangan.... " Yeshi menjeda ucapannya.
" Tidak tidak... Tidak mungkin kan dia menawarkan Mas Tian pada wanita itu? Ya Tuhan... Apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka?" Gumam Yeshi.
Ting..
Kali ini Rodeo mengirim sebuah rekaman suara. Yeshi segera memutarnya.
Nona Kuang terima kasih atas kerja samanya. Saya sangat beruntung memiliki madu seperti anda, walaupun saya harus jauh dengan suami saya. Kapan anda akan membawa Tian terbang ke Beijing bersama anda?
Jeduarrrrr.....
Bagai di sambar petir di siang bolong, tubuh Yeshi merasa kaku. Emosinya memuncak begitu saja mendengar semua itu.
" Kau memang bukan manusia mbak, tega teganya kau menawarkan suamimu pada orang lain. Rupanya kau ingin bermain main denganku, kau tidak tahu saja siapa aku. Baiklah akan aku tunjukkan siapa aku sebenarnya. Aku akan membawa Mas Tian pergi darimu sebelum nona Kuang membawanya pergi. Kau akan merasakan apa yang akan aku lakukan padamu wanita gila harta. Pantas saja kau mengembalikan semua yang aku berikan, ternyata kau dapat mangsa yang lebih dariku." Ucap Yeshi Geram.
" Aku harus bisa membawa Mas Tian nanti malam." Ujar Yeshi.
Berhasilkah Yeshi membawa Tian dari Rebecca? Nantikan kelanjutannya di bab berikutnya..
__ADS_1
Miss U All...
TBC....