DERITA ORANG KETIGA

DERITA ORANG KETIGA
MALAM PERTAMA


__ADS_3

Selama perjalanan Tian terus menggenggam tangan Yeshi. Sesekali ia menciumi nya membuat Yeshi terus tersenyum bahagia.


" Mas belok kiri!" Ucap Yeshi.


" Mau kemana?" Tanya Tian mengerutkan keningnya.


" Sudah ikuti saja." Sahut Yeshi.


" Baiklah." Tian membelokkan mobilnya ke kiri.


Setelah lima meter Yeshi meminta Tian membelokkan mobilnya ke kanan masuk pintu gerbang rumah mewah yang menjulang tinggi. Halaman yang luas, serta taman bunga dan kolam ikan kecil menambah indah rumah itu.


" Rumah siapa sayang?" Tanya Tian menghentikan mobilnya di halaman depan.


" Rumah kita." Sahut Yeshi.


Tian langsung menatap Yeshi.


" Kamu membeli rumah lagi? Terus rumah yang lama?" Tanya Tian.


" Yang lama udah aku jual Mas, aku tidak mau ada kenangan orang lain di sana. Bukankah kau menjadikan aku istrimu satu satunya?"


Tian menganggukkan kepala.


" Oleh sebab itu aku membeli rumah ini. Di sini hanya akan ada kenangan kita dan anak anak kita nanti." Ucap Yeshi.


" Terima kasih sayang kau telah memberikan yang terbaik untukku. Maafkan aku karena aku tidak bisa memberikan apa apa untukmu. Aku hanya orang biasa yang hanya memberikanmu cinta." Ujar Tian.


Yeshi menangkup wajah Tian dengan kedua tangannya.


" Mas, walaupun aku hidup susah sekalipun, aku tidak butuh banyak harta, uang, permata ataupun yang lainnya. Yang aku butuhkan hanya cinta dan kasih sayangmu. Aku ingin selalu mendampingimu dan menua bersamamu. Apa kau bisa memberikannya untukku?" Tanya Yeshi.


" Aku berjanji akan memberikan seluruh cinta dan kasih sayangku untukmu sayang. Aku mencintaimu." Ucap Tian.


" Aku juga mencintaimu Mas." Sahut Yeshi.


Yeshi memajukan wajahnya lalu,


Cup..


Yeshi mengecup bibir Tian membuat jantung Tian berdetak sangat kencang. Setelah itu Yeshi turun dari mobil meninggalkan Tian yang masih terpaku di sana.


" Ayo Mas Turun!" Ucap Yeshi.


" Nakal ya." Kekeh Tian turun dari mobilnya.


Yeshi menggandeng Tian masuk ke dalam rumahnya. Ruang tamu yang luas, serta sofa mewah menambah indahnya tatanan ruangan itu.

__ADS_1


" Kau pintar menata tempat sayang." Ujar Tian.


" Harus donk!" Sahut Yeshi tersenyum.


" Di sini hanya ada satu kamar utama di lantai atas, sedangkan kamar tamu ada di bawah semua." Ucap Yeshi.


" Di lantai atas hanya ada satu kamar? Terus yang lain di pakai buat apa sayang?" Tanya Tian polos.


" Ada ruang kerja aku, ruang kerja kamu, ruang gym, bioskop mini, terus dua kamar untuk anak kita nanti, serta ruang bermain." Terang Yeshi.


" Rupanya kau telah mempersiapkan semuanya. Benar benar istri idaman." Ucap Tian mencium pipi Yeshi.


" Mas.. " Ucap Yeshi menyentuh pipinya.


" Apa sayang?" Tanya Tian.


" Tau ah." Sahut Yeshi membuat Tian tersenyum.


" Ayo kita lihat kamar kita!" Yeshi menggandeng Tian menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Ceklek...


Yeshi membuka pintu kamarnya, keduanya masuk ke dalam. Tian nampak kagum dengan kamar yang akan ia huni nantinya. Kamarnya tiga kali lebih luas dari kamar di rumah lama. Ranjang dengan ukuran besar, ruang ganti dan empat almari, sofa besar, kamar mandi yang sangat elite.


" Kamar kita seperti hotel bintang lima sayang." Ujar Tian.


" Kau pasti menghabiskan semua uangmu untuk membeli rumah ini. Aku jadi merasa rendah di hadapanmu." Ucap Tian.


" Mas aku tidak bermaksud merendahkanmu. Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untukmu dan anak anak kita nantinya. Kalau kamu tidak suka, aku akan membeli rumah yang lebih kecil dari itu. Rumah yang sesuai dengan keinginanmu. Aku...


" Tidak perlu sayang, aku suka kok. Yang penting kamu bahagia dan senang aku juga bahagia. Kita akan membuat anak yang banyak biar rumah sebesar ini menjadi ramai dengan tawa mereka." Ucap Tian.


" Tentu Mas, aku akan melahirkan enam anak untukmu." Sahut Yeshi.


" Enam?" Tian mengerutkan keningnya.


" Iya enam, apa kurang banyak?" Tanya Yeshi.


" Tidak sayang, enam juga cukup." Sahut Tian.


" Gimana kalau kita mulai menyicil membuat satu?" Ujar Tian menaik turunkan alisnya.


" Nggak mau ah, masih siang." Sahut Yeshi merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


" Nggak mau tapi mapan gitu." Ujar Tian.


" Aku mau tidur Mas, capek mengemasi barang barang, terus ke Bandara, belum lagi menunggu kamu balik ke mobil menghabiskan waktu lebih dari satu jam lamanya." Ucap Yeshi.

__ADS_1


" Ya maaf sayang, aku kan nggak tahu kalau kamu nungguin di mobil. Nggak calling sih kamunya." Ujar Tian.


" Ya kalau aku calling namanya bukan surprise lah Mas. Yang ada kamu udah nggak terkejut melihat aku di dalam mobil." Ujar Yeshi.


" Iya kau benar, terima kasih sayang." Ucap Tian berbaring di samping Yeshi lalu memeluknya.


Keduanya istirahat siang bersama.


Malam harinya selesai makan malam, Tian dan Yeshi kembali ke kamarnya. Setelah melakukan ritual sebelum tidur, Yeshi segera naik ke ranjang menghampiri Tian yang duduk bersandar sambil memainkan ponselnya.


" Mas." Yeshi menyandarkan kepalanya di bahu Tian.


Tian meletakkan ponselnya. Ia mengelus kepala Yeshi dengan lembut.


" Sudah siap?" Tanya Tian.


" Siap ngapain?" Yeshi balik bertanya.


" Unboxing... Malam ini akan menjadi malam pertama kita sayang, apa kau sudah siap memberikan hakku malam ini?" Bisik Tian di telinga Yeshi.


Tian menggigit telinga Yeshi dengan pelan membuat tubuh Yeshi meremang. Tian sedikit memainkan lidahnya di sana, Yeshi bergerak gerak karena merasa geli.


" Geli tahu Mas." Ujar Yeshi.


" Di nikmati saja sayang. Aku akan memberikan pelayanan yang terbaik untukmu." Ujar Tian.


" Harus beda! Aku tidak mau kamu menyentuhku sama seperti saat kamu menyentuh mbak Rebecca Mas. Aku cemburu." Ucap Yeshi.


" Tentu sayang, aku akan melakukan beda dari yang lainnya. Kau adalah Yeshiku bukan Rebecca. Aku akan menjadikanmu seseorang paling istimewa di hatiku." Ujar Tian.


" Terima kasih Mas." Ucap Yeshi.


Tian kembali melancarkan aksinya. Kali ini tangannya mulai bergerilya kemana mana sampai berhenti pada dua gundukan kembar milik Yeshi. Ia meremasnya dengan pelan membuat Yeshi mendesis merasakan panas dingin yang menjalar di tubuhnya.


" Mas.. " Lirih Yeshi.


Tian menindih tubuh Yeshi, ia mencium bibir Yeshi dengan lembut. Ciuman Tian turun ke leher Yeshi, ia membuat beberapa stempel kepemilikan di sana. Lagi lagi Yeshi mengeluarkan suara *#**!nya.


Entah siapa yang melakukannya lebih dulu, kini keduanya sama sama polos. Tidak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuh mereka. Tian memainkan lidahnya pada salah satu gundukan kembar milik Yeshi. Tubuh Yeshi menggeliat seperti cacing kepanasan.


Setelah cukup lama melakukan foreplay, Tian menuntun senjatanya menuju goa sempit milik Yeshi.


" Awh.. " Pekik Yeshi saat bagian intinya merasakan sakit.


Tian kembali mencium bibir Yeshi mencoba mengalihkan perhatian Yeshi. Tanpa Yeshi sadari kini senjata Tian terbenam sempurna di tempat yang seharusnya.


Tian mulai memacu tubuhnya dengan pelan di atas Yeshi. Suara erangan dan des@h@n memenuhi kamar mereka. Malam ini di kamar ini, menjadi saksi penyatuan cinta mereka. Tian dan Yeshi nampak bahagia bisa saling mengungkapkan perasaan melalui olahraga panas yang cukup menguras tenaga. Keduanya berharap akan ada Tian junior di tengah tengah mereka.

__ADS_1


TBC....


__ADS_2