
Tiga bulan berlalu..
Pagi ini keluarga Yoga sedang sarapan bersama. Tiba tiba...
" Shh.. " Desis Rebecca sambil mengelus perutnya.
" Sayang kamu kenapa?" Tanya Yoga menyentuh bahu Rebecca.
" Perutku sakit Ga, shh... Rasanya pegal sekali." Sahut Rebecca mencengkeram lengan Yoga.
" Yoga sepertinya istrimu mau melahirkan." Ucap nyonya Hana.
" Benarkah Ma?" Tanya Yoga.
" Iya Nak, mending kamu bawa Rebecca ke rumah sakit sekarang." Ujar nyonya Hana.
" Ayo sayang kita ke rumah sakit." Ucap Yoga.
" Iya." Sahut Rebecca.
Yoga menggendong Rebecca menuju mobilnya. Setelah itu ia melajukan mobilnya menuju rumah sakit bersalin.
" Yoga perutku sakit banget. Shhh ya Tuhan... Kenapa rasanya sesakit ini?" Desis Rebecca. Keringat dingin menetes di keningnya sebesar biji jagung.
" Tenanglah sayang! Sebentar lagi sampai. Tarik nafas dalam dalam lalu hembuskan lewat mulut. Ulangi hingga beberapa kali supaya kamu tenang dan tidak panik." Ucap Yoga memberi arahan.
Rebecca melakukan seperti apa yang Yoga perintahkan. Sesekali ia mengusap keringatnya sambil mengelus perutnya.
Sesampainya di rumah sakit, Yoga segera membawa Rebecca ke UGD untuk di periksa dokter. Yoga di minta untuk menunggunya di luar.
" Ya Tuhan lancarkan persalinan istriku, selamatkan istri dan anakku ya Rob." Ucap Yoga memanjatkan doa.
Tak lama dokter keluar dari ruangan. Yoga segera menghampirinya.
" Bagaimana keadaan istri saya Dok?" Tanya Yoga menatap dokter Sinta. Dokter spesialis kandungan yang selama ini menangani Rebecca.
" Detak jantung bayi up normal Tuan, kami takut bayinya mengalami keracunan kehamilan di dalam, dan kami tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Untuk itu kami harus melakukan operasi cesar untuk segera mengambil bayi anda. Kami butuh persetujuan anda Tuan Yoga." Terang dokter Sinta.
Tubuh Yoga terasa lemas mendengar semua itu. Ia takut salah satu dari mereka tidak terselamatkan.
" Lakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya Dok. Saya berharap dua duanya bisa selamat." Ucap Yoga.
" Kami akan berusaha semaksimal mungkin Tuan, berdoalah semoga operasinya berjalan lancar." Ucap dokter Sinta.
__ADS_1
" Amin, semoga saja Dok." Sahut Yoga.
" Silahkan anda mengurus syarat syaratnya dan menandatangani surat persetujuan operasi di bagian kassa." Ucap dokter Sinta.
" Baik Dok." Sahut Yoga.
Setelah Yoga menandatangani surat persetujuan operasi, Rebecca langsung di geledek menuju ruang operasi. Yoga menunggu di depan ruang operasi sambil terus berdoa selama operasi berlangsung.
Satu jam, dua jam dan tiga jam telah terlewati. Tak lama setelah itu dokter Sinta keluar menemuinya.
" Bagaimana operasinya Dok? Apa anak dan istri saya baik baik saja?" Tanya Yoga.
" Operasinya berjalan lancar Tuan, selamat anak anda perempuan. Tapi maaf kami harus menyampaikan kabar buruk ini. Nyonya Rebecca mengalami pendarahan hebat, dan tiba tiba tekanan darahnya tinggi hingga menyebabkan beliau belum sadarkan diri sampi sekarang. Hal ini bisa menyebabkan Nyonya Rebecca koma Tuan."
Deg...
Ucapan dokter seakan membuat jantung Yoga berhenti berdetak.
" Apa Dok? Koma?" Tanya Yoga memastikan.
" Iya Tuan, berdoa saja semoga ada keajaiban Tuhan sehingga nyonya Rebecca bisa segera sadar. Kami akan memindahkan nyonya Rebecca ke ruang ICU, sedangkan putri anda kami pindahkan ke ruang bayi. Dia butuh perawatan lebih lanjut Tuan." Ucap dokter Sinta.
Yoga duduk lemas di kursi tunggu. Ia tidak menyangka jika Rebecca akan mengalami semua ini. Ini benar benar menakutkan bagi Yoga. Bagaimana jika Rebecca tidak sadar dari komanya? Atau kemungkinan terburuknya Rebecca tiada? Siapa yang akan mengurus putri kecilnya? Bagaimana ia dan putrinya hidup tanpa Rebecca? Berbagai pikiran buruk berkecamuk di kepala Yoga.
" Yeshi.... Aku harus mengabari Yeshi dan mama." Ujar Yoga tiba tiba mengingat keluarganya.
Yoga segera mengabari Yeshi dan nyonya Hana. Ia butuh seseorang untuk menguatkan dirinya.
Tiga puluh menit kemudian Yeshi, Tian, Putri dan nyonya Hana sampai di rumah sakit. Mereka berjalan menghampiri Yoga yang saya ini sedang duduk lemas di depan ruang ICU.
" Ga bagaimana keadaan mbak Rebecca?" Tanya Yeshi.
Yoga mendongak menatap Yeshi. Ia beranjak berhadapan dengan Yeshi, tiba tiba...
Grep...
Yoga memeluk Yeshi dengan erat.
" Rebecca, Yeshi Hiks.... Yeshi, Rebecca... " Yoga kembali menangis di dalam pelukan Yeshi.
Dengan ragu Yeshi membalas pelukannya.
" Dokter baru saja mengabarkan jika Rebecca mengalami koma. Saat aku bertanya sampai kapan, dokter bilang tidak tahu. Bahkan dokter menjelaskan kemungkinan terburuknya adalah Rebecca tiada. Hiks... Yeshi aku tidak bisa hidup tanpanya, bagaimana putri kami bisa tumbuh tanpa ibunya hiks... Yeshi aku harus bagaimana? Katakan Yeshi apa yang harus aku lakukan." Ujar Yoga membuat semua orang sedih.
__ADS_1
" Aku juga tidak tahu Yoga, aku juga pasti tidak bisa berpikir jika aku berada di posisimu. Yang bisa kita lakukan adalah pasrah kepada Tuhan dan ikhlas. Kita berdoa semoga mbak Rebecca baik baik saja. Jika memang hal buruk terjadi padanya, kita pasrahkan saja kemana Tuhan akan membawa takdirmu Yoga. Ikhlaskan semua yang terjadi dan yang akan terjadi kepada mbak Rebecca. Jika memang kepergiannya memang yang terbaik untuknya, kita bisa apa. Yang jelas kau harus yakin jika rencana Tuhan lebih indah dari yang kita bayangkan. Tuhan tidak akan memberikan masalah tanpa solusi, yakinlah jika apa yang akan terjadi itulah yang terbaik untuk kalian semua." Ucap Yeshi.
Yoga mencoba memahami ucapan Yeshi. Ia mengerti jika memang hanya satu kunci untuk menjalani semua ini yaitu ikhlas.
" Kau benar Yeshi, aku akan berusaha ikhlas mulai sekarang. Jika memang kami di takdirkan untuk bersama pasti kami akan bersama bagaimanapun jalannya, tapi jika tidak.... " Yoga menjeda ucapannya.
" Kau harus ikhlas meskipun itu terasa berat." Sahut Yeshi menepuk pundak Yoga.
" Terima kasih telah memberikan support padaku, sekarang aku sedikit tenang." Ucap Yoga melepas pelukannya.
" Sebagai teman hanya itu yang bisa aku lakukan." Ucap Yeshi.
" Anakmu perempuan?" Tanya Yeshi memastikan.
" Iya, walaupun aku belum melihatnya tapi aku yakin pasti dia cantik seperti Rebecca." Sahut Yoga.
" Itu pasti, rencananya mau kamu kasih nama siapa?" Tanya Yeshi lagi berharap bisa mengalihkan perhatian Yoga walaupun hanya beberapa derik saja.
" Rebecca sudah menyiapkan nama untuknya, dia ingin memberi nama putrinya dengan nama Rega Christiana. Kami akan memanggilnya dengan nama Rere." Sahut Yoga bersedih mengingat hal itu.
" Nama yang bagus, aku berdoa semoga mbak Rebecca baik baik saja." Ucap Yeshi.
" Amin." Ucap semua orang.
Tiba tiba seorang suster dan dokter berlari masuk ke ruang ICU, sepertinya suster yang menjaga Rebecca menelepon mereka. Yoga dan yang lainnya segera mendekat ke arah pintu. Yoga melihat dokter yang sedang menangani Rebecca dari lubang kaca yang ada di pintu. Nampak Rebecca kejang kejang, dokter berusaha menyelamatkannya. Mereka yang ada di dalam nampak panik.
Yoga menangis melihat itu semua, ia takut menghadapi hal buruk setelah ini. Tian memeluknya seolah memberikan kekuatan padanya.
" Bersabarlah Yoga! Ikhlaskan semua walaupun terasa sangat berat, tapi dengan ikhlas kau bisa tenang menjalani semua ini. Ingatlah! Ada putri yang sangat membutuhkanmu." Ucap Tian.
" Terima kasih." Ucap Yoga.
Yoga kembali melihat ke dalam lewat kaca, nampak dokter menggelengkan kepala kepada dia suster di dalam. Sepertinya dokter telah menyerah.
Deg deg deg....
Bau bau tamat nggak sih? Bau ya...
Jangan lupa like koment vote dan mawar yang banyak buat author...
Terima kasih...
TBC....
__ADS_1