
" Sekarang potong kuenya Mas, aku akan memberikan penjelasan padamu nanti." Ucap Yeshi.
Tian memotong kuenya.
" Potongan pertama untuk istri tercinta." Tian menyuapi Yeshi setelah itu gantian Yeshi menyuapi Tian dengan kue yang sama. Suara tepuk tangan mengiri kebahagiaan mereka.
Para tamu undangan bergantian mengucapkan selamat kepada Tian. Yeshi naik ke podium untuk menyampaikan rasa terima kasihnya.
" Malam ini bukan hanya perayaan ulang tahun suami saya saja, tapi malam ini merupakan malam perayaan pengalihan jabatan saya kepada suami saya. Jadi mulai sekarang CEO dari perusahaan YC Group adalah tuan Christian Charlos yang tak lain suami saya sendiri. Beliau akan di bantu oleh wakil direktur untuk menyelesaikan pekerjaannya. Saya harap kalian semua mau bekerja sama dengannya. Terima kasih." Ucap Yeshi membuat Tian melongo.
Suara tepuk tangan kembali meriuhkan ruangan itu. Yeshi kembali menghampiri Tian, ia menatap suami tercintanya dengan penuh kasih sayang.
" Sayang apa ini tidak terlalu terburu buru?" Tanya Tian.
" Tidak Mas, aku melakukan ini karena aku ingin fokus pada program kehamilanku. Bukankah kau ingin aku cepat cepat hamil supaya hubungan cinta kita semakin kuat dari sebelumnya? Aku akan mewujudkannya Mas. Aku harap setelah aku hamil nanti, Arnold tidak akan mengganggu kita lagi." Ujar Yeshi.
" Tentang video itu, apa kau percaya pada Mas sepenuhnya?" Tanya Tian menangkup wajah Yeshi.
" Aku percaya padamu sepenuhnya Mas. Hanya dengan kepercayaan hubungan ini akan langgeng, aku percaya penuh padamu." Ucap Yeshi.
" Terima kasih sayang." Ucap Tian memeluk Yeshi.
" Udah pelukannya nanti saja! Sekarang mari kita berpesta. Teman teman kita sudah menunggu, minumlah sedikit dengan kami." Ucap Rean menarik tangan Tian menghampiri teman teman kerjanya.
Yeshi terkekeh melihat sikap Rean. Ia duduk bersama tuan Reno di sofa sudut ruangan.
" Apa keputusanku sudah benar Om?" Tanya Yeshi menatap Tian yang sedang di paksa minum alkohol oleh teman temannya.
" Semoga saja. Om harap Tian mampu memimpin perusahaan dengan baik. Minta padanya untuk berhati hati! Om tidak mau kelemahannya di manfaatkan oleh pesaing bisnis kita. Kau tahu sendiri kan jika kemampuan Tian belum sebanding dengan kemampuanmu, bukannya Om meremehkan dia tapi dia belum berpengalaman luas dalam dunia bisnis. Selalu bimbing dia dan minta dia teliti jika akan menandatangani sesuatu." Ujar tuan Reno.
" Baik Om, aku mohon kepada Om untuk memberikan doa terbaik untuk kami." Ujar Yeshi.
" Tentu sayang." Sahut tuan Reno.
Mereka melanjutkan mengobrol membahas seputar perusahaan yang akan di pimpin Tian esok hari. Yeshi menatap Tian yang nampak sudah mabuk.
" Sepertinya Mas Tian sudah mabuk Om, aku akan membawanya ke kamar." Ucap Yeshi.
" Baiklah, Om juga mau istirahat." Sahut tuan Reno.
Yeshi menghampiri Tian dan teman temannya, tepatnya teman Rean karena mereka lebih dekat dengan Rean.
__ADS_1
" Mas kamu udah mabuk, kau tidak perlu minum lagi." Ucap Yeshi mengambil gelas di tangan Tian.
" Sayang kepala Mas rasanya berputar putar, semuanya berputar sayang." Ucap Tian.
" Ayo kita ke kamar, ini untuk yang pertama dan terakhir kalinya kamu minum. Sudah tahu tidak bisa minum masih saja mau di kerjain sama Rean." Ujar Yeshi.
Yeshi memapah Tian menuju kamarnya. Sampai di kamar Yeshi mendudukkan Tian di ranjang.
" Sayang Mas pengin muntah." Ucap Tian.
" Kita ke kamar mandi Mas." Ujar Yeshi membawa Tian ke kamar mandi.
Huek... Huek..
Tian memuntahkan seisi perutnya di wastafel kamar mandi. Setelah di rasa mendingan, Yeshi membantu Tian kembali ke ranjangnya. Tian berbaring di kasur empuk, Yeshi segera membuka kemeja Tian.
" Shh kepala Mas sakit sekali sayang." Rintih Tian meminta kepalanya sendiri.
" Aku akan membuatkan jus lemon untukmu Mas, kau tunggu di sini ya." Ujar Yeshi.
Yeshi turun ke bawah membuatkan jus lemon untuk Tian. Setelah itu ia kembali ke kamarnya. Ia menghampiri ranjang yang ternyata kosong.
" Tidak ada, kemana dia?" Tanya Yeshi pada dirinya sendiri.
Tatapan Yeshi terpaku pada sebuah kertas di atas nakas. Ia segera mengambilnya.
Jika kau ingin Tian selamat, datang ke gudang tua di jalan xx dengan membawa surat perceraian kalian. Kalau tidak kau tidak akan pernah bertemu dengannya lagi
Deg..
Jantung Yeshi berdetak sangat kencang. Ia meremas kertas itu dengan perasaan yang entah.
" Siapa yang berani melakukan ini padaku?" Ujar Yeshi.
" Arnold... Ya hanya satu makhluk hidup itu yang selalu mengusik hidupku sejak dulu. Baiklah jika kau ingin bermain main denganku, aku akan meladeninya. Kau ingin surat perpisahan? Akan aku berikan tapi aku tidak bisa menjamin jika perpisahan itu akan terjadi. Kau menggunakan cara licik maka aku juga bisa Arnold." Monolog Yeshi.
" Setelah rencanamu berhasil kau membuat rencana lainnya, kau perlu di acungi jempol Arnold. Kau mencoba membuktikan cintamu padaku, tapi aku semakin yakin jika ini bukan cinta melainkan obsesi semata."
" Bersabarlah Mas! Aku pasti akan menjemputmu." Ujar Yeshi.
Yeshi kembali ke lantai bawah untuk menemui Rean. Teman teman Rean yang sudah mabuk menatap lapar ke arah Yeshi. Rean mengikuti arah pandang mereka.
__ADS_1
" Jaga pandangan kalian! Dia adikku, jangan berani macam macam!" Ucap Rean membuat mereka semua menundukkan kepalanya.
" Aku ingin berbicara padamu, ayo!"
Yeshi menarik tangan Rean menuju ruang kerja. Di sana ia duduk di meja depan Rean.
" Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Rean menatap Yeshi.
" Mas Tian di culik."
" Apa??"
" Ha ha ha." Tian tertawa lepas sambil memegangi perutnya.
" Diam Rean! Bantu aku mencarinya bukannya malah ketawa begitu." Ujar Yeshi.
" Yeshi, Tian itu sudah tua. Dia bukan anak. kecil lagi yang bisa di iming imingi permen. Dia tidak mungkin di culik, paling dia pergi kemana." Ujar Rean.
" Baca!" Yeshi memberikan kertas lusuh peninggalan penculik itu.
Rean membacanya sambil membulatkan matanya.
" Jadi beneran Tian di culik, tapi siapa yang melakukan semua ini. Penjagaan di rumah ini lumayan ketat." Ujar Rean.
" Aku rasa ini perbuatan Arnold Yan. Aku mohon bantu aku bagaimanapun caranya. Siapkan surat perpisahanku dengan Mas Tian!"
" Jangan gila Yesh! Kau jangan mudah terpancing hanya karena tulisan di kertas ini!" Ujar Rean.
" Lalu aku harus apa Rean? Mas Tian dalam bahaya di sana, bagaimana aku bisa menyelamatkannya? Pelaku minta syarat itu Rean. Aku lebih baik berpisah daripada melihat Mas Tian terluka. Setidaknya aku masih bisa melihatnya dari jauh." Ujar Yeshi.
" Tidak! Aku tidak akan melakukannya. Kita bisa dapat solusi lainnya." Ucap Rean.
" Aku tidak bisa berpikir jernih saat ini." Ucap Yeshi mondar mandir di ruangan itu.
" Kau tenanglah! Aku akan membantu menyelamatkan Tian. Sekarang kau istirahatlah! Tenangkan pikiranmu! Jangan tergesa gesa membuat keputusan." Ucap Rean.
" Baiklah, terima masih." Sahut Yeshi keluar ruangan.
Rean menatap kepergian Yeshi sambil tersenyum smirk.
TBC...
__ADS_1