
Sampai di rumah sakit, Yoga segera berlari ke ruangan Rebecca setelah mendapat informasi dari petugas.
" Santa maria nomer enam, yah ini dia." Gumam Yoga saat tiba di depan ruangan Rebecca.
Ceklek....
Dengan tangan gemetar Yoga membuka pintunya, ia menatap Rebecca yang sedang berbaring lemah di atas ranjang. Nampak Rebecca menatap langit langit dengan tatapan kosong.
Dengan langkah perlahan, Yoga menghampirinya.
" Re.. Rebecca." Ucap Yoga.
Rebecca menoleh sebentar lalu ia memalingkan wajahnya ke luar jendela.
" Aku minta maaf, aku tidak tahu jika keadaanmu seperti ini. Tadi Yeshi meneleponku dan memberitahuku tentang masalah ini. Aku juga minta maaf karena telah mengabaikanmu selama ini." Ucap Yoga.
Rebecca tidak bergeming, ia malah berbaring memunggungi Yoga. Yoga menghela nafasnya pelan.
" Bagaimana keadaan anak kita? Apa dia baik baik saja?" Tanya Yoga.
Rebecca meremas erat sprei mencoba meredamkan emosi. Ingin rasanya ia marah, membentak bahkan mencakar Yoga hingga kukunya menancap di tubuh Yoga, namun baginya percuma saja ia lakukan karena tidak akan berpengaruh pada Yoga. Hanya akan membuang tenaganya saja. Ia akan membalas Yoga dengan kebenciannya di sisa hidupnya.
Ceklek...
Seorang suster datang menghampiri Rebecca.
" Nona Rebecca ini obat yang harus anda minum sampai habis untuk pemulihan. Setelah tiga hari anda di perbolehkan pulang." Ujar suster meletakkan sebungkus obat di atas nakas.
" Suster bagaimana keadaan istri dan anak saya? Apa mereka baik baik saja?" Tanya Yoga menatap suster.
" Istri anda mengalami keguguran Tuan."
Jeduar....
Bagai di sambar petir di siang bolong, tubuh Yoga terasa kaku.
" Nona Rebecca mengalami pendarahan hebat karena terlambat dalam penanganan. Seandainya nona Rebecca datang lebih cepat mungkin kami bisa menyelamatkannya, tapi semua sudah takdir dari kuasa Tuan, saya turut berduka cita." Ucap suster berlalu dari sana.
__ADS_1
Yoga menatap tubuh Rebecca dengan gemetar. Anaknya telah tiada di saat ia menyadari perasaannya. Apakah Rebecca mau memaafkanya? Atau malah meninggalkannya? Tidak... Yoga tidak mau sampai itu terjadi. Yoga mencintai Rebecca, namun ia selalu mengelaknya selama ini.
" Hiks.. Ya Tuhan anakku... " Isak Yoga tanpa sadar. Yoga mendekati Rebecca, ia berdiri di depan Rebecca.
" Rebecca aku minta maaf." Ucap Yoga menggenggam tangan Rebecca.
Rebecca segera menarik tangannya.
" Aku minta maaf! Aku tidak bermaksud membuatmu seperti ini. Aku tidak bermaksud membuat anak kita pergi. Sebenarnya aku juga menyayangi anak kita Rebecca, tapi aku tidak bisa mengutarakannya dengan ekspresi. Aku baru menyadari perasaanku setelah aku menolak panggilanmu. Di saat aku ingin memperbaiki semuanya, di saat aku ingin lebih dekat dengannya, kini dia sudah tiada. Semuanya sudah terlambat. Maafkan kegoisanku selama ini! Aku menyesalinya Rebecca. Aku sangat menyesalinya." Ucap Yoga dengan penuh air mata.
Rebecca masih tidak bergeming, ia menahan pedih di hatinya sekuat mungkin agar ia tidak menunjukkan sisi lemahnya di hadapan pria yang selama ini mengabaikannya.
" Setelah ini kau pasti membenciku, kau pasti marah padaku. Aku akan terima kemarahan dan kebencianmu padaku tapi aku tidak akan membiarkan kau meninggalkan aku." Ucap Yoga membuat Rebecca terkejut.
Bagaimana Yoga bisa menebak pikirannya?
Ceklek....
Yeshi masuk ke dalam mendekati Rebecca di ikuti Tian di belakangnya.
" Mbak aku turut berduka, Mbak yang sabar ya! Yakinlah bahwa Tuhan sedang menyiapkan rencana terindah untukmu Mbak." Ucap Yeshi menggenggam tangan kanan Rebecca.
Hati Yoga mencelos mendengarnya. Betapa bodoh dirinya yang tidak tanggap akan kesulitan istrinya. Istri yang kini di cintainya.
Tak terasa air mata menetes di pipinya.
" Aku merasa Tuhan telah menghukumku tanpa sisa karena aku telah menyia-nyiakan orang sebaik Tian. Sejak aku mengkhianatinya hidupku menjadi suram seperti ini. Aku menyesali perbuatanku di masa lalu Yeshi." Ucap Rebecca menohok hati Yoga.
" Tidak perlu hidup dalam penyesalan karena itu akan membuat kita menderita Mbak. Ikhlaskan semua yang telah terjadi, Tuhan pasti sedang menyiapkan kebahagiaan lain untukmu." Ucap Yeshi.
Rebecca menatap Tian begitu pun sebaliknya.
" Tian aku ingin pulang ke rumah bibi Tanti, apa kau bisa mengantar aku ke sana besok pagi?"
Ucapan Rebecca membuat Yoga terkejut. Ia menatap Rebecca dengan tajam.
" Aku sudah bilang kalau aku tidak akan membiarkan kamu meninggalkan aku. Apa kau tidak mendengarnya Rebecca?" Ucap Yoga penuh penekanan. Rebecca tidak mempedulikannya.
__ADS_1
" Yoga tidak mengijinkan kamu pergi Rebecca, jadi tetaplah di sini bersamanya." Ucap Tian.
" Apa jika Yoga tidak mengijinkan aku hidup, kau juga akan membunuhku karena perintahnya?"
Semuanya melongo menatap Rebecca.
" Aku tidak sekejam itu Rebecca, aku akui kalau aku salah, selama ini aku telah mengabaikanmu. Aku tidak menginginkan kehadiranmu di sisiku, tapi aku sadar Rebecca. Aku tidak bisa hidup tanpamu, aku.. Aku baru menyadari perasaanku jika aku mencintaimu." Ucap Yoga.
" Semuanya sudah terlambat, tidak ada yang bisa di pertahankan lagi sekarang. Kau sudah cukup membuatku menderita selama ini. Aku ingin mengakhiri penderitaanku dan hidup bahagia seperti saat aku bersama Tian." Sahut Rebecca tanpa menatap Yoga.
" Aku akan memperbaiki semuanya, aku akan berubah. Aku akan menyayangi dan mencintaimu sepenuh hatiku. Aku akan membuatmu bahagia Rebecca, jadi tetaplah bersamaku." Ujar Yoga.
" Kebahagiaanku sekarang adalah menjauh darimu. Aku tidak mau berdebat lagi, kita menikah karena kau memaksa dan mengancamku dan sekarang kau juga melakukan hal yang sama untuk menahanku. Aku tidak bisa menuruti perintahmu kali ini. Hatiku telah mati bersama gugurnya calon bayiku. Aku mohon jangan menjajikan harapan palsu lagi kepadaku. Aku tidak sanggup menerimanya, aku akan mengirimkan surat gugatan cerai secepatnya. Biarkan aku hidup bahagia bersama orang orang yang tulus mencintaiku." Ucap Rebecca memberikan keputusan.
" Aku tidak mau berpisah denganmu Rebecca, kita bisa membuka lembaran baru tanpa harus berpisah. Kesalahanku hanya mengabaikanmu saja, selama ini aku tidak pernah mengkhianatimu. Jadi aku rasa kesalahanku masih bisa di maafkan." Ucap Yoga.
" Aku akan memaafkanmu, tapi untuk kembali bersama aku tidak bisa. Ini sudah menjadi keputusanku, jangan halangi aku lagi." Ucap Rebecca.
Yoga mengacak rambutnya, ia tidak tahu harus bagaimana. Menurutnya Rebecca memang sangat keras kepala.
" Aku akan melihat kehancuranmu Yoga.. Kau yang membuat hidupku seperti ini, jadi kau harus menanggung akibat perbuatanmu ini. Sekarang gantian aku yang akan menghancurkan hidupmu. Kau akan menerima kebencian dariku setiap harinya." Batin Rebecca.
" Baiklah jika itu keputusanmu, aku akan menerimanya. Biarkan aku yang mengantarmu ke sana." Ucap Yoga.
" Itu lebih baik, ya sudah kami pulang dulu Rebecca. Kau jaga diri baik baik." Ucap Tian.
Rebecca hanya bisa menganggukkan kepalanya saja.
Tian menggandeng tangan Yeshi keluar dari ruangan Rebecca. Yoga duduk di kursi samping ranjang.
" Istirahatlah! Aku akan menemanimu di sini." Ucap Yoga.
" Lebih baik kau pulang saja. Aku bisa bersama perawat di sini." Sahut Rebecca.
" Tidak, aku akan menemanimu." Sahut Yoga.
Rebecca memejamkam matanya. Ia merasa lelah dan lemas pada tubuhnya. Yoga menatapnya dengan perasaan bersalah, Ia mengusap air mata di sudut matanya.
__ADS_1
" Aku akan membawamu pulang ke rumah untuk bertemu keluargaku, aku berharap setelah bertemu mereka kau akan merubah keputusanmu. Aku berjanji akan membuatmu bahagia Rebecca." Ujar Yoga dalam hati.
TBC.....