DERITA ORANG KETIGA

DERITA ORANG KETIGA
TENTANG MASA LALU


__ADS_3

Selesai meeting Arnold mendekati Yeshi.


" Yeshi, maukah kau makan siang bersamaku? Sudah lama kita tidak jalan berdua." Ucap Arnold menatap Yeshi.


" Maaf Tuan Arnold, aku tidak bisa. Sebentar lagi suamiku menjemputku." Sahut Yeshi.


" Tidak perlu berbicara formal seperti itu Yeshi, kita tidak seasing itu. Apa kau lupa dengan kebersamaan kita?" Pertanyaan Arnold memancing ingatan Yeshi akan hal itu.


" Ya aku ingat. Bagaimana aku lupa jika aku memiliki seseorang pengkhianat sepertimu Arnold?" Yeshi tersenyum smirk.


" Sebenarnya aku tidak berkhianat darimu sayang, tapi dia yang merayuku. Dia melempar tubuhnya ke ranjangku, sebagai seorang pria dewasa aku tidak mampu menolaknya Yeshi. Harusnya kau paham akan hal itu." Ujar Arnold.


" Lagian aku juga sudah minta maaf padamu, aku khilaf saat itu, aku mengaku salah Yeshi. Jika kau menghukumku, hukum aku sekarang juga! Tapi bisakah kita kembali seperti dulu?" Arnold menatap Yeshi penuh harap.


" Kau gila Arnold, aku sudah menikah. Dan aku mencintai suamiku." Sahut Yeshi.


" Kenapa kau bangga menjadi yang kedua Yeshi?"


Deg...


Pertanyaan Arnold menohok hati Yeshi. Yeshi menatap tajam mata Arnold.


" Aku tidak menyangka rupanya kau begitu jauh menyelidikiku Arnold. Asal kau tahu kalau sekarang akulah istri satu satunya suamiku. Kami saling mencintai dan tidak akan terpisahkan oleh siapapun." Ucap Yeshi.


" Kau begitu percaya diri dengan cinta suamimu. Aku ingin melihat bagaimana dia mengurus wanita berkelas sepertimu." Ucap Arnold.


" Terserah kau saja! Tidak ada gunanya memberitahumu tentang bagaimana kehidupanku yang sekarang. Aku permisi." Sahut Yeshi.


Yeshi berjalan melewati Arnold tiba tiba kakinya tersandung kaki Arnold dan...


Brugh...


Yeshi jatuh ke pangkuan Arnold, tanpa membuang waktu Arnold mengunci tubuh Yeshi dengan memeluk pinggangnya.


" Lepas Arnold! Ini di kantor, jangan macam macam! Kau benar benar tidak punya sopan santun." Ucap Yeshi memberontak namun Arnold semakin mengeratkan pelukannya.


" Biarkan seperti ini sayang, aku sangat merindukanmu. aku masih sangat mencintaimu." Ucap Arnold.


" Jangan kurang ajar Arnold!" Cebik Yeshi.


Tian yang baru sampai segera menuju ruangan rapat. Saat ia membuka pintu tiba tiba...


Deg...


Jantung Tian berdetak begitu kencang. Ada sesuatu yang menyayat hatinya melihat kedekatan Yeshi dengan pria lain. Apakah Yeshi menhkhianatinya? Tidak... Tian segera menepis pikirannya.

__ADS_1


" Sayang." Panggil Tian.


Yeshi dan Arnold menoleh ke asal suara.


" Mas." Ucap Yeshi turun dari pangkuan Arnold.


" Mas jangan salah paham dulu, tadi aku tersandung dan tanpa sengaja aku jatuh ke pangkuannya." Jelas Yeshi. Tian tersenyum ke arahnya.


" Oh ini dia si pria tidak tahu malu." Ucap Arnold berdiri di depan Tian. Ia memindai penampilan Tian sambil tersenyum meremehkan.


" Baju yang kau pakai pasti Yeshi yang membelinya, karena pria miskin sepertimu tidak akan mampu membelinya dengan uangmu sendiri."


" Arnold jangan keterlaluan!" Ucap Yeshi.


" Kenapa Yeshi? Bukankah ucapanku benar?" Tanya Arnold menatap Yeshi.


" Aku baru menyadari kemunafikannya setelah melihat wajahnya Yeshi. Pria mana yang tidak akan rela meninggalkan istrinya demi mendapatkan gadis kaya sepertimu. Dia tidak hanya akan mendapatkan kebahagiaan, tapi dia juga akan mendapatkan kemewahan yang tidak akan pernah ia dapatkan sampai kapan pun. Dia tidak perlu repot repot bekerja keras untuk menghidupimu karena kau sudah punya segalanya." Ujar Arnold memandang rendah Tian.


" Itu bukan urusanmu Arnold, berhentilah menghinanya!" Ujar Yeshi.


Yeshi beralih menatap Tian yang hanya diam saja.


" Jangan dengarkan perkataannya Mas, ayo kita pulang!" Yeshi menarik tangan Tian.


Arnold mendekat ke arah Tian.


" Jika kau tahu diri, seharusnya kau melepaskan Yeshi bahagia bersama pria yang setara dengannya. Di lihat dari manapun kau tidak pantas berdampingan dengan Yeshi. Kalian bagai langit dan bumi yang terhalang jarak yang sangat jauh. Pikirkan baik baik! Apakah Yeshi akan bahagia bersamamu atau tidak."


" Arnold!!!" Bentak Yeshi tak tahan lagi dengan hinaan yang Arnold ucapkan.


" Tenanglah sayang! Jangan buang tenagamu hanya untuk meladeni hinaan receh seperti ini sayang." Ucap Tian menggenggam tangan Yeshi.


" Kau lihat ini!" Tian mengacungkan genggaman tangannya.


" Kau benar, Yeshi sudah punya segalanya. Lalu untuk apa aku memberikannya materi? Bukankah dia sudah punya segalanya?" Tanya Tian menatap Arnold.


" Yeshi tidak membutuhkan materi tapi Yeshi membutuhkan cinta dan kasih sayang. Dan Yeshi hanya mau cinta dan kasih sayangku Tuan Arnold. Bahkan Yeshi rela menukar semua hartanya hanya demi cintanya padaku. Lalu aku harus bagaimana?" Pertanyaan Tian membuat Arnold bungkam.


" Kebahagiaan tidak hanya tentang materi Tuan Arnold. Apalah artinya harta jika kita tidak mendapatkan cinta? Aku yakin hidup kita tidak akan bahagia, seperti yang kau rasakan saat ini." Ucap Tian menohok hati Arnold.


" Kau banyak uang, tapi kau tidak bahagia karena tidak mendapatkan cinta Yeshi kan? Itulah pentingnya cinta Tuan Arnold. Renungkanlah kata kata dari pria miskin sepertiku Tuan Arnold. Terima kasih atas hinaan yang Anda berikan kepada saya. Hinaan anda tidak akan menjatuhkanku tapi justru akan motivasi untukku." Ucap Tian.


" Ayo sayang!" Tian menggandeng tangan Yeshi keluar ruangan. Arnold menatapnya sambil mengepalkan erat tangannya.


" Kau bangga dengan cintamu Christian? Aku akan menghancurkan cintamu itu." Ucap Arnold.

__ADS_1


Tian membuka pintu mobil untuk Yeshi.


" Terima kasih Mas." Ucap Yeshi di balas anggukkan kepala oleh Tian.


Tian segera melajukan mobilnya menuju rumah.


" Mas kita ke resto xx makan siang ya." Ucap Yeshi.


" Mas sudah memasak di rumah sayang."


" Apa? Kamu memasak?" Tanya Yeshi memastikan.


" Iya, spesial untukmu." Sahut Tian.


" Lain kali jangan memasak ataupun mengerjakan pekerjaan yang lain Mas. Itu tugasku sebagai istrimu. Aku tidak mau jadi istri durhaka karena merendahkanmu." Ujar Yeshi membuat Tian bangga.


" Maaf sayang bukan begitu maksudku. Mas hanya gabut aja tadi di rumah sendirian tidak melakukan apa apa. Saat Mas buka kulkas ada bahan bahan makanan ya Mas masak aja. Siapa tahu kamu suka." Ujar Tian.


" Tapi kalau suka jangan suruh Mas masak tiap hari ya." Sambung Tian terkekeh.


" Enggak lah Mas. Mengurus dapur itu bukan tugasmu jadi biarkan aku yang melakukannya." Sahut Yeshi.


" Kita menikah untuk saling memahami dan saling melengkapi sayang, jadi tidak ada tugas suami ataupun tugas istri. Yang ada tugas kita berdua." Ucap Tian menoleh sekilas ke arah Yeshi.


" So sweet." Sahut Yeshi terkekeh.


" Oh ya sayang, kalau boleh tahu ada hubungan apa kamu dengan tuan Arnold?" Tanya Tian.


" Saat di Singapura, aku di jodohkan dengannya. Karena tidak ada pria yang bisa memikat hatiku akhirnya aku mau. Aku pikir mungkin dia jodoh yang Tuhan kirimkan untukku. Tapi baru beberapa bulan dekat, dia malah mengkhianatiku dengan sahabatku sendiri. Aku memutus hubungan dengannya lalu kembali ke sini." Terang Yeshi.


" Dan aku tidak pernah menyangka jika sampai sini aku langsung jatuh cinta padamu." Sambung Yeshi.


" Tapi sayangnya cintaku bertepuk sebelah tangan. Aku mencoba bersabar untuk mendapatkan cintamu hingga kesabaranku membuahkan hasil. Terima kasih telah menerimaku dan mencintaiku seperti sekarang ini." Ucap Yeshi.


" Aku yang seharusnya berterima kasih kepadamu sayang, karena perhatian dan ketulusanmu aku bisa membedakan mana yang baik dan tidak. Jika kau tidak hadir dalam hidupku maka selamanya aku tidak akan tahu pengkhianatan Rebecca di belakangku." Ucap Tian.


" Tapi mbak Rebecca begitu karena aku Mas. Seandainya aku tidak menawarkan harta kepadanya mungkin sampai saat ini kau dan mbak Rebecca masih bersama." Ucap Yeshi merasa bersalah.


" Kau salah sayang, sebenarnya pengkhianatan Rebecca bukan yang pertama kalinya. Dulu di awal pernikahan kami dia pernah mengkhianatiku, tapi dua tahun ke belakang dia sudah berubah atau memang aku yang tidak tahu. Pada dasarnya sifat pengkhianat sudah tertanam di hatinya, jadi dia sendirilah yang bersalah akan hal ini bukan orang lain." Ucap Tian membuat Yeshi tercengang. Ia tidak percaya jika Rebecca pernah melakukan itu sebelumnya.


" Ya sudah Mas, yang lalu biar berlalu. Sekarang lebih baik kita pikirkan masa depan kita." Ujar Yeshi.


" Iya sayang." Sahut Tian fokus pada jalanan.


TBC....

__ADS_1


__ADS_2