
Makan siang Yeshi kali ini nampak begitu istimewa. Ia memakan masakan Tian dengan lahap.
" Masakanmu enak Mas, apa kamu sudah biasa melakukannya?" Tanya Yeshi menatap Tian.
" Iya, Rebecca tidak bisa memasak, dia hanya memasak di saat dia ingin saja. Jadi mas yang selalu memasak untuknya." Sahut Tian membuat Yeshi sedikit cemburu karena Tian mengungkit kebersamaannya bersama Rebecca.
" Maaf sayang!" Ucap Tian menyadari kesalahannya.
Yeshi hanya membalasnya dengan anggukkan kepala tanpa tersenyum sama sekali.
" Kamu cemburu?" Tanya Tian.
" Ya, aku cemburu saat suamiku menyebut nama wanita lain." Sahut Yeshi.
Tian tersenyum menatap Yeshi.
" Baiklah Mas tidak akan menyebut nama wanita lain lagi." Ucap Tian.
Mereka melanjutkan makannya.
" Oh ya sayang, Rebecca mengundang kita ke pernikahannya." Ujar Tian.
Yeshi mendongak menatap Tian.
" Katanya nggak mau menyebut nama wanita lain." Ucap Yeshi cemberut.
" Sayang jangan cemberut gitu donk! Mas malah jadi bingung mau ngasih tahu gimana? Memang mantan istriku mengundang kita ke pernikahannya sayang. Apa kamu mau datang? Kalau tidak juga tidak apa apa." Ucap Tian duduk di samping Yeshi.
Yeshi tersenyum menatap Tian. Ia memeluk perut Tian lalu menyandarkan kepalanya di bahu Tian.
" Cemburu itu artinya sayang Mas, aku tidak mau sampai kehilanganmu. Berjanjilah padaku apapun yang terjadi kau akan tetap berada di sampingku. Kau akan menemani sampai hati tua nanti." Ucap Yeshi.
" Tentu sayang, Mas akan selalu berada di sampingmu dan mencintaimu sepenuh hatiku." Ucap Tian mencium kening Yeshi. Yeshi tersenyum menatap Tian.
" Sekarang kita lanjutkan makan ya, setelah itu kita istirahat. Mas juga harus menyiapkan keperluan untuk bekerja besok." Ujar Tian.
" Iya Mas." Sahut Yeshi.
Mereka melanjutkan makan siang sampai selesai. Setelah itu keduanya beristirahat di kamar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi ini Yeshi bersiap menuju kantor begitupun dengan Tian.
" Sini Mas aku pakaikan." Yeshi memasang dasi di kerah leher Tian.
" Terima kasih sayang." Ucap Tian tersenyum menatap Yeshi.
" Udah selesai Mas." Ujar Yeshi mendongak.
Tatapan mereka bertemu, Tian menundukkan wajahnya.
Cup...
Tian mencium bibir Yeshi. Ia *****@* lembut bibir Yeshi mengekspos setiap inchinya. Tak mau kalah, Yeshi pun membalas ciuman Tian. Mereka saling membelitkan lidah dan menikmati asyiknya bertukar saliva di pagi hari.
__ADS_1
Setelah keduanya kehabisan pasokan oksigen, Yeshi melepas pagutannya lebih dulu. Tian mengusap lembut bibir Yeshi dengan jempolnya.
" Lipstikmu mahal, itu sebabnya tidak luntur." Ucap Tian.
" Hmm.. Ya udah kita berangkat sekarang Mas. Kita akan bertemu saat makan siang di kantor nanti." Ujar Yeshi.
" Iya sayang." Sahut Tian.
Keduanya berangkat ke kantor menggunakan mobil yang sama. Di kantor tidak ada yang tahu jika mereka berdua sudah menikah kecuali Rean dan tuan Reno.
" Mas turun di sini saja sayang, kamu lanjutkan nyetir sampai ke parkiran." Ujar Tian menepikan mobilnya di perempatan dekat perusahaan Yeshi.
" Mas, kenapa kau turun di sini? Mereka tidak akan curiga dengan hubungan kita, mereka akan mengira kalau kau sopir aku kan." Ucap Yeshi.
" Ah iya kau benar sayang, Mas yang terlalu percaya diri." Sahut Tian.
" Mas kenapa kau tidak ingin mereka tahu kalau kamu suamiku? Bukankah akan lebih baik jika mereka mengetahuinya?" Tanya Yeshi menatap Tian.
" Mas ingin bekerja dengan tenang sayang, mereka akan enggan berada di dekat Mas kalau mereka tahu kalau Mas suamimu." Ujar Tian.
" Mulai hari ini kamu belajar menghandle perusahaan, lambat laun mereka akan mengetahui semuanya." Ucap Yeshi.
" Itu urusan belakangan sayang, yang penting sekarang Mas harus fokus pada pekerjaan Mas tanpa adanya bisik bisik dari mereka semua." Ujar Tian.
" Baiklah terserah kau saja Mas. Senyamanmu aja!" Ujar Yeshi.
Tian kembali melajukan mobilnya, ia menghentikan mobilnya di parkiran khusus petinggi perusahaan. Ia membukakan pintu untuk Yeshi.
" Terima kasih Mas." Ucap Yeshi senang mendapat perlakuan seperti itu.
" Ada apa dengan mereka? Kenapa mereka menatapku seperti itu? Seperti tatapan meremehkan." Batin Tian.
Sampai di ruangan Yeshi, Yeshi membuka pintunya.
" Terima kasih sudah mengantarku Mas, semangat ya!" Yeshi mengangkat tangannya memberikan semangat kepada Tian.
" Semangat juga untukmu. Mas ke ruangan dulu!" Ucap Tian berlalu dari sana.
Sampai di ruangannya, Tian segera. menduduki kursi yang cukup lama ia tinggalkan. Ia menoleh ke arah Rudi, teman satu devisinya.
" Pagi Rud." Sapa Tian.
" Pagi." Sahut Rudi malas tidak seperti biasanya dia akan menanyakan kabar Tian jika Tian cuti kerja.
" Apa ada yang salah denganku? Kenapa sepertinya kau bersikap beda padaku?" Tanya Tian penasaran.
" Tidak ada! Lanjutkan bekerja! Kau sudah lama membebankan pekerjaanmu padaku." Sahut Rudi membuat hati Tian mencelos.
" Baiklah, maaf mengganggumu." Ucap Tian.
Sampai di jam makan siang, Tian mengajak Rudi ke kantin namun ia tidak mau.
" Kenapa Rud?" Tanya Tian.
" Kami tidak pantas makan bersama suami bos besar seperti kamu." Sahut Rudi.
__ADS_1
" Apa maksudmu?" Tanya Tian mengerutkan keningnya.
" Tidak usah berlagak sok polos Tian! Kami sudah tahu bagaimana sifatmu sebenarnya." Ujar Tora.
" Aku benar benar tidak tahu Tora, ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi selama aku pergi?" Tanya Tian.
" Banyak yang terjadi Tian. Kau rela menceraikan istrimu demi bisa menikahi Nona Yeshi kan? Kau benar benar munafik Tian. Aku tidak menyangka kau bisa berbuat serendah ini." Ucap Rudi menohok hati Tian.
" Kau salah paham Rudi. Aku...
" Salah paham bagaimana? Benar kan kau menikah dengan Nona Yeshi?" Tanya Tora menatap Tian.
Tian tidak bergeming, ia hanya diam saja.
" Kenapa diam? Bukankah kau punya jawaban?" Ujar Rudi.
" Jawab saja iya, aku memang menikahi Nona Yeshi karena aku menginginkan kemewahan. Aku bosan hidup susah selama ini, aku juga ingin menikmati hidupku dengan baik. Itulah sebabnya aku meninggalkan Rebecca demi Nona Yeshi." Timpal Tora tersenyum remeh.
" Bukan begitu kejadiannya Rudi, Tora. Aku melakukan ini karena aku...
" Kenapa kau repot repot memberikan penjelasan kepada mereka Mas?" Yeshi masuk ke dalam membuat teman teman Yeshi ketakutan.
" No.. Nona Yeshi." Gumam Tora menundukkan kepala.
" Maafkan kami Nona Yeshi, kami hanya meluapkan kekecewaan kami saja kepada Tian. Tidak ada maksud lain." Ujar Rudi.
Yeshi menatap Rudi.
" Memangnya apa hakmu menghakimi suami saya? Siapa yang memberikan hak itu padamu Tuan Rudi Toharo." Ucap Yeshi menekan kata terakhirnya.
" Maafkan saya Nona. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Ucap Rudi.
Rudi mendekati Tian begitupun dengan Tora.
" Tian maafkan kami. Kami telah menyakitimu." Ucap Rudi.
" Iya Tian, maafkan kami!" Ucap Tora.
" Kau sudah tidak di hargai di sini Mas! Segera pindah ke ruangan barumu Mas!" Ucap Yeshi menayap Tian.
Tian menatap Yeshi, ia segera berlalu dari sana tanpa mengatakan apa apa.
" Mas tunggu!" Ucap Yeshi mengejar Tian.
Yeshi mengira kalau Tian akan ke ruangan barunya namun ternyata Tian turun ke lantai bawah.
" Mau kemana kamu Mas?" Tanya Yeshi dalam hati.
Kira kira kemana ya?
Jangan lupa tekan like koment vote dan hadiahnya...
Jangan lupa mampir di karya baru author ya..
__ADS_1
TBC...