DERITA ORANG KETIGA

DERITA ORANG KETIGA
KEHILANGAN


__ADS_3

Setelah mendapat kabar duka kematian Rebecca, Yoga segera mengurus pemakamannya. Melihat jasad sang istri di masukkan ke liang lahat membuat Yoga hanya bisa diam dan diam saja. Entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini hanya dia yang tahu.


Tidak ada air mata yang menetes di pelupuk matanya, tapi jiwanya benar benar terguncang. Kesedihan yang mendalam tidak mampu membuatnya berkata kata. Ucapan bela sungkawa dan doa yang di berikan dari para pelayat hanya bisa ia balas dengan anggukan kepala saja.


" Sabar Ga! Yakinlah jika yang terjadi ini adalah yang terbaik untuk Rebecca. Jika dadamu terasa sesak, menangislah! Keluarkan rasa sesak itu supaya kau merasa lega. Jangan kau pendam seperti ini! Ini akan melukai psikismu." Ujar Tian menepuk bahu Yoga.


" Sesak pasti ada Yan, tapi aku berusaha untuk ikhlas agar tidak memberatkan kepergiannya. Aku ingin dia tenang di sana, maka aku harus menunjukkan sikap tegar di depannya kan? Walaupun pada kenyataannya aku sangat rapuh, aku sangat kehilangan, dan seakan akan jiwaku ikut tiada bersamanya." Sahut Yoga.


" Jangan seperti itu! Yang pergi biarlah pergi. Ingatlah ada putri kecil yang membutuhkan kasih sayangmu. Kau harus kuat, kau harus tegar, kau harus baik baik saja demi dia." Ujar Tian.


Yoga baru tersadar jika ada seseorang yang sangat membutuhkan kehadirannya. Putri kecilnya, buah hatinya, malaikat kecilnya yang Rebecca tinggalkan untuknya.


" Kau benar Yan, aku harus baik baik saja demi putri kecilku. Terima kasih." Ucap Yoga di balas anggukkan kepala oleh Tian.


Selesai pemakaman para pelayat beranjak pulang, namun Yoga masih setia duduk di depan gundukan tanah merah sambil terus menatapnya.


" Tidurlah dengan tenang sayang, kau sudah tidak merasakan sakit lagi kan? Tuhan lebih menyayangimu sehingga dia membebaskanmu dari rasa sakit itu. Maafkan aku jika selama ini aku belum bisa membuatmu bahagia berada di sampingku. Tapi aku yakin Tuhan akan membuatmu bahagia di sampingNya. Aku akan menjaga putri kita dengan baik, aku akan merawat dan menyayanginya dengan sepenuh hati. Doakan semoga aku bisa menjadi ayah sekaligus ibu yang baik untuknya. Aku pulang sayang, besok aku akan kembali lagi." Ucap Yoga beranjak meninggalkan pemakaman.


Sampai di rumah, Yoga membersihkan dirinya di dalam kamar mandi. Terdengar suara tangisan putri kecilnya dari lantai bawah yang begitu memekakkan telinga. Ia segera mempercepat kegiatannya.


Setelah selesai memakai baju, Yoga segera berlari menuruni anak tangga menghampiri nyonya Hana yang sedang menenangkan cucunya.


" Ma kenapa Rere menangis seperti ini?" Tanya Yoga menatap putri kecilnya yang terus menangis.


" Mama juga tidak tahu Ga, sepertinya dia lapar. Tapi Mama kasih susu dia nggak mau. Kamu sih bandel, udah di bilang Rere masih butuh perawatan di rumah sakit malah kamu bawa pulang. Sekarang begini kan jadinya." Keluh nyonya Hana.


" Maafkan aku Ma, aku hanya ingin memberikan yang terbaik buat Rere, aku pikir jika kita membawa pulang dia dia bisa merasa dekat dengan kita." Ucap Yoga.


" Sini aku gendong Ma." Ucap Yoga mengambil alih gendongan Rere.


Oek... Oek... Oek...

__ADS_1


Rere terus menangis tanpa henti, seluruh tubuhnya berwarna merah warna khas bayi baru lahir. Putri yang baru saja masuk bersama temannya berlari menghampirinya.


" Rere kenapa Kak?" Tanya Putri menatap Rere.


" Mungkin dia merasa kehilangan ibunya seperti aku jadi dia menangis." Sahut Yoga.


Oek... Oek..


" Shhh shh shh sayang jangan menangis lagi ya, kamu mau apa hmm? Kenapa tidak mau minum susu? Susunya enak lhoh." Ucap Yoga menimang bayi mungil itu.


Rere tetap menangis tanpa mau berhenti. Putri mencoba menggendongnya namun tetap saja ia tidak berhenti menangis.


" Maaf Mas, bolehkah saya mencoba menggendongnya?" Tanya perempuan berhijab bernama Zahra yang tak lain teman putri.


" Tidak." Sahut Yoga cepat.


" Aku tidak mau putriku berdekatan dengan orang asing sepertimu." Sambung Yoga menohok hati Zahra.


" Tapi Mas aku ingin mencoba menenangkannya, kasihan dia kalau terus menangis seperti ini. Badannya akan sakit semua dan dadanya akan terasa sesak. Apa Mas tidak kasihan padanya? Siapa tahu dia bisa berhenti menangis dalam gendonganku." Ujar Zahra lembut membuat Yoga bungkam.


" Boleh Ra, silahkan!" Putri memberikan Rere pada Zahra.


Zahra mencium pipi mungil Rere sambil tersenyum.


" Tenanglah sayang! Ada Aunti di sini. Ayo kita bersholawat." Ucap Zahra menimang Rere.


" Sholallahu 'alla Muhammad....


Zahra melantunkan sholawat sambil menimang Rere, perlahan Rere berhenti menangis. Entah karena kelembutan Zahra atau karena memang sudah lelah, Rere memejamkan matanya.


Yoga, Putri dan nyonya Hana nampak terkejut melihat semua itu.

__ADS_1


" Wah Zahra, kau hebat. Kau bisa menenangkan Rere bahkan sampai Rere tertidur pulas. Good job Zahra, kau sudah pantas menjadi seorang ibu." Ucap Putri senang.


" Kamu bisa aja." Ucap Zahra sambil tersenyum manis.


Nyonya Hana tersenyum sedangkan Yoga menatap sinis ke arah Zahra. Entah mengapa ia tidak rela putrinya nyaman bersama orang asing. Walaupun Zahra temannya Putri namun Yoga baru pertama ini melihatnya. Zahra menatap Yoga sehingga tatapan mereka bertemu namun Zahra segera memutus pandangannya.


Tidak tahu harus berbuat apa, Yoga segera meninggalkan mereka semua menuju kamarnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam ini Yeshi duduk bersandar di atas ranjangnya sambil menonton tutorial merawat bayi yang benar. Tian yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya kini menghampirinya, ia duduk di samping Yeshi.


" Lagi nonton apa sih sayang?" Tanya Tian mengelus kepala Yeshi.


" Lihatlah Mas! Aku sedang mempelajari bagaimana merawat babby yang benar. Supaya aku tidak melakukan kesalahan saat merawat anak kita nanti." Sahut Yeshi sambil mengelus perutnya yang terlihat buncit.


" Terima kasih telah berniat memberikan yang terbaik untuk anak kita. Kau memang ibu dan istri terbaik di dunia." Ucap Tian mencium kening Yeshi.


" Ngomong apa sih kamu Mas, nggak usah kegedean memuji aku gitu, aku tidak sempurna itu kali Mas. Aku masih banyak kekurangan yang harus aku sempurnakan. Di sini aku juga masih belajar untuk menjadi istri dan ibu yang baik." Ucap Yeshi.


" Apapun itu yang jelas Mas sangat bahagia memilikimu sayang, tetaplah bersama kami! Jangan pernah kau tinggalkan kami seperti apa yang Rebecca lakukan pada Yoga. Berjanjilah kau akan berjuang sekuat tenaga dalam posisi dan kondisi apapun. Berjuanglah untuk kami." Ucap Tian sendu.


Ia tidak bisa membayangkan apa yang Yoga rasakan saat ini. Kehilangan seseorang yang sangat kita cintai itu sangat menyakitkan. Yeshi menggenggam tangan Tian, ia menatap Tian sambil tersenyum.


" Apapun yang terjadi kepadaku nanti itu semua sudah kehendak Tuhan Mas. Anggap saja sebagai ujian dimana jika kita bisa lulus mengerjakan ujian itu maka Tuhan akan memberikan yang lebih dari yang kita terima sebelumnya. Dan yakinlah setelah turun hujan akan ada pelangi, dan setelah penderitaan akan ada kebahagiaan." Ucap Yeshi.


" Mas menyayangimu sayang." Ucap Tian mencium kening Yeshi.


" Aku juga menyayangimu Mas." Sahut Yeshi memeluk perut Tian.


TBC...

__ADS_1


Rencana Author akan membuat cerita Rangga di lain novel ya... Setelah novel ini tamat silahkan lanjut ke sana. Author tunggu dukungan kalian semua.



__ADS_2