
" Kamu siapa?"
Jeduarrrrr......
Bagai di sambar petir di siang bolong, tubuh Tian terasa kaku.
" Yeshi, jangan bercanda! Ini tidak lucu!" Ucap Tian menatap Yeshi.
" Yeshi? Namaku Yeshi?" Tanya Yeshi.
" Ya namamu Yeshi." Sahut Tian.
" Siapa aku?"
Tian mengerutkan keningnya.
" Siapa aku bagimu?" Tanya Yeshi lagi.
" Kau istriku, kau belahan jiwaku, kau cintaku, kau pemilik hatiku dan kau segalanya untukku." Jawab Tian dalam hati. Ingin sekali ia mengatakan itu pada Yeshi namun Tian ingin memberikan kejutan pada Yeshi setelah Yeshi pulang dari rumah sakit.
" Kau istriku." Sahut Tian membuat Yeshi merasa sedikit kecewa.
" Yah kau benar, aku istrimu yang tidak akan bisa memiliki hatimu." Lirih Yeshi menundukkan kepala.
" Kau... " Tian menjeda ucapannya.
" Ya, aku tidak amnesia. Aku hanya ingin menggodamu saja." Sahut Yeshi.
Tian bernafas lega mendengarnya.
" Nakal kamu ya." Tian mencubit pelan hidung Yeshi.
" Awh sakit Mas." Ucap Yeshi.
" Iya maaf!" Ucap Tian.
" Aku panggil dokter dulu." Ucap Tian memencet tombol nurses.
Tak lama dokter pria yang menangani keduanya datang. Ia segera memeriksa Yeshi.
" Tidak ada yang serius dengan luka anda Nona. Istirahat yang cukup, makan makanan yang bergizi dan minum obat secara teratur. Itu semua akan membantu pemilihan anda." Terang dokter.
" Baik Dok, terima kasih." Sahut Yeshi.
Dokter menatap Tian.
" Bagaimana dengan luka anda Tuan? Apa masih terasa nyeri?" Tanya Dokter.
" Luka?" Yeshi mengerutkan keningnya.
" Iya Nona, Tuan Christian terkena tusukan pisau di punggungnya." Ucap dokter.
__ADS_1
Tian memejamkan matanya, ia lupa meminta dokter untuk tidak memberitahu Yeshi saat ini.
" Apa??" Pekik Yeshi turun dari ranjangnya. Ia baru menyadari jika Tian juga menjadi pasien di sana.
" Hati hati sayang!" Ucap Tian saat Yeshi terhuyung ke depan. Beruntung Yeshi bisa menjaga keseimbangannya.
" Mana yang luka Mas? Kenapa bisa begini?" Tanya Yeshi melihat punggung Tian.
" Kalau begitu saya permisi." Ucap dokter undur diri.
Setelah kepergian dokter, Yeshi kembali bertanya pada Tian.
" Kenapa bisa seperti ini Mas? Apa ini perbuatan mbak Rebecca?" Selidik Yeshi.
" Iya, Rebecca mau melukaimu tapi aku menghadangnya." Ujar Tian.
" Tapi kau jangan khawatir! Aku baik baik saja kok." Sambung Tian.
" Bagaimana kamu bisa bilang baik baik saja? Lukamu parah Mas, bahkan kamu mendapat jahitan sebanyak ini. Ini pasti sakit sekali, aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya Mas." Ujar Yeshi meneteskan air mata.
" Maafkan aku! Karena aku kamu jadi begini. Karena aku kami jadi sering terluka Mas. Harusnya kau biarkan saja aku tiada. Jangan mempertaruhkan nyawamu demi aku Mas.. Hiks... " Isak Yeshi tak tega melihat lukaTian.
" Stttt." Tian menangkup wajah Yeshi. Ia mengusap air mata yang membasahi pipi mulus Yeshi.
" Jangan berkata seperti itu lagi Yeshi! Kau istriku, ini sudah menjadi kewajibanku untuk melindungimu. Apapun akan aku lakukan untukmu seperti apa yang kau lakukan untukku selama ini." Ujar Tian lembut.
" Kenapa kau melakukan ini Mas? Pasti ada alasannya kamu melakukan semua ini untukku." Ujar Yeshi.
" Baiklah." Sahut Yeshi kembali ke ranjangnya.
Yeshi naik ke atas ranjang ia memejamkan matanya menahan air mata yang siap kembali menetea dari mata indahnya.
" Mas Tian melindungiku hanya karena kewajibannya padaku bukan karena dia mempunyai rasa untukku. Entah kenapa rasanya sakit... Aku begitu berharap kalau dia melakukannya karena rasa cintanya padaku, tapi sepertinya semua itu hanya angan angan saja. Mas Tian hanya mencintai mbak Rebecca terlepas apapun yang mbak Rebecca lakukan padanya." Ujar Yeshi dalam hati.
Tian menatap Yeshi.
" Maafkan aku Yeshi! Aku belum bisa mengatakan tentang isi hati ku yang sebenarnya padamu sekarang, aku ingin membuat pengakuan cintaku begitu istimewa di dalam hatimu. Setelah kita pulang aku akan menyiapkan kejutan untukmu. Semoga Tuhan memudahkan jalannya." Ucap Tian dalam hati.
Keduanya tidur dalam kondisi hati yang berbeda. Tian tidur dalam keadaan bahagia karena ia bisa menyadari perasaannya kepada Yeshi. Sedangkan Yeshi merasa sedih karena ia merasa cintanya masih bertepuk sebelah tangan.
Pagi hari Yeshi bangun lebih dulu daripada Tian. Ia segera masuk ke dalam kamar mandi sambil mendorong tiang infusnya. Selesai mandi ia keluar, tatapannya bertemu dengan tatapan Tian yang duduk bersandar pada tumpukan bantal.
" Kamu sudah bangun Mas? Aku bantu mengelap tubuhmu ya." Ujar Yeshi.
" Biar aku sendiri saja!" Sahut Tian.
" Tidak bisa Mas, biar aku saja. Lagian aku sudah mendingan kok. Nanti aku mau meminta suster untuk melepas infusku ini." Ujar Yeshi.
Yeshi masuk ke dalam. Ia membawa waslap dan air hangat menggunakan gayung. Dengan telaten ia membantu Tian mengelap tubuhnya. Ia menatap dada bidang Tian dengan hati berdebar.
" Kenapa menatapnya? Apa kau ingin menyentuhnya?" Tanya Tian.
__ADS_1
Yeshi mendongak menatap Tian.
" Apa kau memberikan gak itu padaku?" Yeshi balik bertanya.
" Aku.. Aku...
" Aku sudah tahu jawabanmu Mas. Tubuhmu, cintamu, hatimu dan bahkan hidupmu hanya untuk mbak Rebecca bukan aku." Sahut Yeshi memotong ucapan Tian.
" Kenapa kau bisa berpikir seperti itu Yeshi? Kalau yang kau pikirkan itu benar, lalu untuk apa aku melakukan semua ini sampai aku harus di rawat di sini?"
" Seperti yang kau ucapkan tadi, semua kau lakukan sebagai bentuk tanggung jawabmu sebagai suami. Bukankah itu kewajibanmu?" Ujar Yeshi.
" Yeshi bukan begitu...
" Sudah lah Mas tidak perlu di bahas, sekarang pakai bajunya! Badanmu sudah bersih, sisa sisa darah di punggungmu juga sudah tidak ada. Terima kasih telah mengorbankan nyawamu demi menyelamatkan aku." Ucap Yeshi masuk ke kamar mandi.
"Sepertinya aku harus secepatnya mengungkapkan perasaanku pada Yeshi agar dia tidak salah paham denganku. Aku tidak perlu menunggu waktu lebih lama lagi." Batin Tian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di dalam ruangan yang gelap, Rebecca duduk di kursi dengan tangan dan kaki terikat. Ia nampak gelisah karena rasanya dadanya sangat sesak berada di ruangan itu.
" Tolong! Siapapun Tolong aku! Aku di kurung oleh orang jahat di sini." Teriak Rebecca berharap akan ada yang mendengar dan menolongnya.
Tap tap tap...
Rodeo berjalan menghampirinya.
" Kau tidak usah berteriak Nona, karena sekeras apapun teriakanmu tidak akan ada yang mendengarnya. Gudang ini terletak di tengah tengah hutan belantara Nona. Kau justru akan memancing lara penghuni hutan ke sini." Ujar Rodeo membuat Rebecca semakin takut.
" Aku mohon lepaskan aku! Aku mau pulang, aku harus bertemu dengan Nona Kuang untuk membicarakan hal ini." Ucap Rebecca.
" Kau memang tidak tahu malu Nona, di saat seperti ini kau masih saja memikirkan bisnis ilegalmu itu." Ucap Rodeo.
" Tidak perlu banyak bicara, sekarang lepaskan aku!" Bentak Rebecca.
" Kau bukan tawananku, aku hanya menjagamu saja. Jadi aku tidak berhak melepaskanmu dari sini." Sahut Rodeo.
" Sialan." Umpat Rebecca.
Rebecca mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan sampai ke langit langit.
" *Aku harus bisa kabur dari sini. Aku tidak akan membiarkan diriku kalah begitu saja." Batin Rebecca.
Apakah Rebecca berhasil kabur?
Jangan lupa tekan like untuk mensuport karya author...
Terima kasih...
Miss U All...
__ADS_1
TBC*....